SUASANA DI DALAM MASJID MUJAHIDIN. (FOTO: BAGUS PUTRA/RADAR SURABAYA)


Dari awal berdiri sampai saat ini, ketua takmir masjid ini selalu dijabat warga keturunan Bugis, suku dari Sulawesi Selatan.

========================
BAGUS PUTRA PAMUNGKAS
Surabaya
========================

SIANG itu, usai salat zuhur. Pengurus masjid yang terletak di Jalan Perak Barat, Surabaya, Jawa Timur, ini berbincang satu sama lain. Bukan dialek Jawa, melainkan dialek Bugis.

Takmir Umum Masjid Mujahidin, Adnan Yusuf, mengatakan, hal tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Hal itu berkaitan erat dengan sejarah pembangunan masjid, di mana masjid berusia 62 tahun ini dibangun warga asli Sulawesi.

“Saat itu pembangunan masjid diprakarsai Anggota TNI AL, Djakmar Yasman. Beliau merupakan warga asli Sulawesi, tepatnya warga Makassar,” ujarnya kepada Radar Surabaya (FAJAR Group).

Hal itulah yang membuat pengurus masjid selalu didominasi warga keturunan Sulsel secara turun temurun. Tak hanya ketua takmir, hampir seluruh pengurus masjid juga merupakan warga berdarah Sulsel. “Termasuk saya juga asli Sulawesi. Saya asli dari Bone,” ungkap Adnan Yusuf.

Ia mengaku, dirinya sudah mulai merantau ke Surabaya sejak tahun 1983 dan baru menjadi takmir sejak 2003.
Ia menambahkan, saat ini posisi ketua takmir diisi oleh Sugiharta. “Beliau juga merupakan warga asli Sulawesi,” ujar Adnan.

Adnan mengaku, para takmir yang memiliki darah Sulsel memang mayoritas tinggal di daerah Perak. Kebanyakan dari mereka merupakan pengusaha kapal. “Kapal nelayan yang berlayar di daerah Perak sini untuk mencari ikan, kebanyakan milik warga Sulawesi. Selain itu, ada juga beberapa yang merupakan pedagang pengumpul hasil laut,” lanjutnya dengan logat Bone yang kental.

Adnan menuturkan, banyaknya warga Sulsel yang bermukim di Surabaya bukan hal yang baru. Sebab, selama ini warga Sulsel memang memiliki jiwa merantau yang kuat. Jika sukses, mereka pasti akan menandai dengan membangun masjid di tanah perantauan. “Contohnya ya, masjid Mujahidin ini,” jelasnya.

Namun meski diurus warga Sulsel, Adnan mengatakan bahwa pihaknya sangat toleran. Tak ada jarak antara jemaah yang mayoritas dari suku Jawa dengan takmir yang didominasi warga Sulsel.

Bahkan, pengurus takmir juga tak pernah menentukan golongan dari jemaah. Menurutnya, semua jemaah yang ada di Masjid Mujahidin, tak ada perbedaan dan memiliki satu tujuan yang sama, yakni untuk beribadah kepada Allah swt. “Jadi masjid ini bukan untuk NU atau Muhammadiyah. Kami semua lebur jadi satu dalam Masjid Mujahidin ini. Kami semua adalah umat muslim. Itu yang membuat masjid kami beda dengan yamg lainnya,” pungkas Adnan.

Pada awal Masjid Mujahidin berdiri tahun 1955 oleh Djakmar Yasman, bangunannya cukup sederhana. Hampir tak ada yang istimewa. Saat itu, desain bangunan sama dengan masjid kebanyakan. Bangunan masjid juga tidak luas, sebab pembangunan dilakukan dengan dana yang tak besar.

“Yang penting, tujuan utamanya saat itu adalah bagaimana mendirikan masjid bagi para tentara yang beragama Islam yang bertugas di kawasan Perak. Jadi, dibangun tidak begitu wah,” ujar Adnan.

Namun, semua berubah pada awal tahun 1990. Saat itu, jumlah jemaah makin membeludak. Jemaah yang datang selalu memenuhi ruangan ibadah yang ada di dalam. Bahkan sampai meluber hingga ke halaman masjid.

Proses renovasi berlangsung selama satu tahun. Hampir semua bangunan masjid dipugar, semuanya diperbarui. Namun, masih ada satu yang dipertahankan, yakni kubah yang terpasang di atas masjid.

“Semuanya diubah. Bangunan lebih modern. Kecuali kubah yang memang dibiarkan asli,” katanya.

Setelah masjid dipugar, bangunan tampak lebih indah. Bahkan, sejak saat itu Masjid Mujahidin mampu menampung 3.000 jemaah sekaligus. Bahkan saat salat Id, jumlah jemaah yang datang ke Masjid Mujahidin mencapai 6.000 orang. (*/fo/fajar)

Sumber : fajar.co.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 318 kali, 1 untuk hari ini)