Masjid Agung Syuhada Kelurahan Eka Sapta, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur / foto edyraguapo

Siapapun yang mengusik masjid alias rumah Allah maka tergolong sebagai pengikut Abrahah (dengan tentaranya bergajah), yang telah dihinakan dengan dihancurkan oleh Allah Ta’ala karena mereka mau menghancurkan Ka’bah Baitullah (Rumah Allah) di Makkah.

Tragedi dihancurkannya Abrahah dengan wadyabalanya yang berkendaraan gajah itu diabadikan dengan Firman Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an Surat Al-Fiil. Maka siapa saja yang coba-coba mengikuti jejak mereka, pasti akan memperoleh kehinaan di dunia dan akherat.

Perlu difahami, masjid adalah tempat terbaik di bumi dan paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«خَيْرُ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ، وَشَرُّهَا الْأَسْوَاقُ».

Sebaik-baik tempat adalah masjid-masjid dan seburuk-buruk  tempat adalah pasar-pasar(HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3271)

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

“Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya , dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

[671] قَوْلُهُ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا لِأَنَّهَا بُيُوتُ الطَّاعَاتِ وَأَسَاسُهَا عَلَى التَّقْوَى قَوْلُهُ وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا لِأَنَّهَا مَحَلُّ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ وَالرِّبَا وَالْأَيْمَانِ الْكَاذِبَةِ وَإِخْلَافِ الْوَعْدِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِي مَعْنَاهُ …

 “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya”, karena masjid adalah rumah ketaatan dan asas pondasinya adalah ketakwaan. Sedangkan maksud “dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya”, karena pasar adalah tempat kecurangan, penipuan, riba, sumpah dusta, mengingkari janji, tidak berzikir, dan perbuatan lain yang semakna dengannya. . .” (Lihat Syarah Muslim li al-Nawawi no. 671)

***

Masjid merupakan tempat yang paling Allah cintai, hingga yang pantas memakmurkan masjid pun telah Allah sebutkan:

{ مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ (17) إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ } [التوبة: 17، 18]

  1. Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka
  2. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk [At Tawbah,17-18]

Sebaliknya, karena masjid adalah tempat yang paling Allah cintai, maka siapapun yang mengusiknya, menghalanginya, mengganggunya, menyulitkannya, memata-matainya, ingin merobohkannya dan sebagainya; maka tingkat kejahatannya terhitung sazalim-zalimnya manusia. Maka betapa tinggi tingkat kejahatannya bila menjadikan masjid-masjid sebagai incaran untuk dijadikan sasaran, misal untuk dirobohkan dan dijadikan pasar modern, mall-mall dan sebagainya, atau semisalnya demi kepentingan dunia, kekuasaan, kelompok, geng dan sebagainya.

Allah Ta’ala menegaskan:

{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ } [البقرة: 114]

114.Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya?[1] mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat[Al Baqarah114]

[1] Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang melarang dzikrullah di masjid-masjid Allah, seperti melarang orang yang shalat, orang yang membaca Al Qur’an dan melarang orang lain menjalankan ibadah. Terlebih ditambah dengan usaha untuk merobohokannya atau melarang kaum mukmin masuk ke dalamnya.

Usaha merobohkannya menurut Syaikh As Sa’diy dalam tafsirnya ada dua; Hissiy (inderawi) dan Maknawi. Yang Hissiy misalnya menghancurkannya, merusaknya dan mengotorinya. Sedangkan yang Maknawi adalah melarang orang-orang yang menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya.

Ayat di atas adalah umum mencakup kepada semua yang memiliki sifat tersebut, termasuk ke dalamnya As-habul Fiil (para tentara bergajah di bawah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah), kaum Quraisy yang menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah, kaum Nasrani yang menghancurkan Baitul Maqdis dan lain-lain, maka Allah membalas mereka dengan menghalangi mereka masuk ke dalam masjid baik secara syara’ maupun taqdir (ketentuan)-Nya kecuali dalam keadaan takut dan hina.

Ketika mereka membuat takut hamba-hamba Allah, maka Allah membuat hati mereka takut. Kaum musyrik yang menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tidak lama, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengizinkan Beliau menaklukkan Makkah dan melarang kaum musyrik mendekati rumah-Nya (lihat surat At Taubah: 28). Sebelum mereka adalah As-habul Fiil, Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia (baca kisahnya di surat Al Fiil), sedangkan orang-orang Nasrani yang merobohkan Baitul Maqdis akhirnya dikalahkan oleh kaum mukmin. Oleh karena itu, siapa saja yang coba-coba mengikuti jejak mereka, pasti akan memperoleh kehinaan.

Jika tidak ada orang yang paling zalim daripada orang yang menghalangi orang lain menjalankan ibadah di dalamnya, dan berusaha merobohkannya; berarti tidak ada orang yang paling besar imannya daripada orang yang berusaha memakmurkan masjid-Nya baik Hissiy (seperti membangunnya dan membersihkannya) maupun maknawi (seperti mengumandangkan azan, mengadakan shalat jama’ah, mengadakan ta’lim, membaca Al Qur’an di sana dan melakukan ibadah-ibadah lainnya di sana)./ http://tafsir.ayatalquran.net/2013/01/tafsir-al-baqarah-ayat-114

(nahimunkar.org)

(Dibaca 927 kali, 4 untuk hari ini)