Masjid Dihancurkan_8473652374

Ilustrasi/ fui sumut

  • Meminta aparat Kepolisian agar menangkap pelaku penghancuran Mesjid Raudhatul Islam dengan menggunakan Buldozer, belum lama ini.
  • Meminta kepada Pemko Medan untuk tidak menjadi antek-antek pengembang yang akan menghancurkan mesjid-mesjid.
  • Aksi  ini dilakukan untuk meminta pertanggungjawaban dari pihak perusahaan pengembang, karena secara semena-mena telah menghancurkan Masjid Raudhatul Islam. Perubuhan masjid sama artinya telah menghalang-halangi Umat Islam untuk melaksanakan ibadah.
  • “Inikan diskriminatif terhadap umat Islam. Masjid Al Khairiyah dirobohkan sementara rumah kebaktian di sebelahnya tidak dirobohkan. Tentu saja ini memancing kemarahan Umat Islam yang selama ini diam saja dan masih menahan diri.”
  • Massa pembela Masjid Raudhatul Islam ini menurut hariansumutpos.com,  terdiri dari Lembaga Muslim Indonesia (LMI) Sumut, Laskar Merah Putih Sumut, Forum Umat Islam (FUI) Sumut, Majelis Mujahidin BKM Raudhatul Islam, Muhammadiyah, Laskar Ababil, Partai Buruh Muslim Indonesia (PBMI), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan berbagai ormas Islam lainnya.
  • Sebelumnya, bentrokan juga sempat terjadi terkait Masjid Raudhatul Islam. Pada Rabu (23/1) lalu, ormas Islam terlibat perang batu dengan Ikatan Pemuda Karya (IPK) terkait pembangungan tembok yang akan menutup akses ke masjid. Perkara masjid wakaf ini memang telah berulang menimbulkan bentrok.
  • Pada 11 April 2011 lalu masjid itu telah dirobohkan pihak PT Jatisamindo. Warga melawan, masjid itu berstatus wakaf. Artinya, tidak bisa dirobohkan dan dipindahkan. Kasus ini telah dikasuskan dan hingga kemarin belum ada penyelesaian.
  • Pada 15 Juli 2012, warga pun membangun kembali masjid yang telah dirobohkan tersebut. Namun, pada 10 Januari 2013, pihak pengembang malah ingin memindahkan dan membangun masjid itu ke jarak 100 meter dari posisi awal. Sontak hal itu kembali membangkitkan amarah warga. (mag-19/ial) hariansumutpos.com

Inilah beritanya.

***

Massa Aliansi Umat Islam Desak PT Jatimasindo Kembalikan Masjid Raudhatul Islam

Medan, Ratusan Massa yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam, menggelar aksi unjuk rasa di depan Hotel Emerald Garden, Jumat (27/1) sekitar pukul 13.30 WIB.

Dalam aksinya para pengunjuk rasa ini meminta agar pihak PT Jatimasindo segera kembalikan Mesjid Raudhatul Islam yang telah dirobohkan oleh PT Jatimasindo sebagai pengembang.

Dalam Orasinya, Koordinator aksi Amirullah Hidayat meminta agar pihak pengembang untuk tidak melakukan tindakan SARA di Kota Medan dengan menghancurkan Mesjid Raudhatul Islam di Jalan Putri Hijau Medan.Selain itu Amirullah juga meminta aparat Kepolisian menangkap pelaku penghancuran Mesjid Raudhatul Islam dengan menggunakan Buldozer, belum lama ini. Pihak pengunjuk rasa juga mengatakan meminta kepada Pemko Medan untuk tidak menjadi antek-antek pengembang yang akan menghancurkan mesjid-mesjid.

Selain melakukan orasi, para pengunjuk rasa ini juga membakar ban di depan Hotel Emerald Medan, tepat didepan pintu masuk hotel mengakibatkan para pengunjung hotel menjadi panik. Pihak Kepolisian dari satuan sabhara Polresta Medan dan polsekta Medan Barat turun ke lokasi untuk mengamankan jalannya unjuk rasa.

Sempat terjadi sedikit keributan saat seorang pengunjuk rasa membawa tabung gas 3 Kg dan diletakkan di jalan Putri Hiju Medan, selain itu juga terjadi ketegangan saat petugas mencoba memadamkan api pembakaran ban di depan pintu hotel, dan saat mobil water Cannon milik polisi mencoba masuk ke dalam pekarangan hotel. Namun keributan ini bisa dihindari dan pengunjuk rasa kembali melakukan orasi.

Sementara itu ketua Aliansi Umat islam Leo Himsyar saat dikonfirmasi mengatakan,  aksi  ini dilakukan untuk meminta pertanggungjawaban dari pihak perusahaan pengembang, karena secara semena-mena telah menghancurkan Masjid Raudhatul Islam. Perubuhan masjid sama artinya telah menghalang-halangi Umat Islam untuk melaksanakan ibadah.

Selain meminta pertanggungjawaban penghancuran Masjid Rauhdatul Islam, Aliansi Ormas Islam juga meminta pertanggungjawaban tersebut yang telah menghancurkan Masjid Al Khairiyah yang letaknya di komplek perumahan Emerald Garden. Masjid Al Khairiyah dihancurkan, sementara rumah ibadah yang letaknya bersebelahan dengan masjid tersebut malah tidak dihancurkan.

“Inikan diskriminatif terhadap umat Islam. Masjid Al Khairiyah dirobohkan sementara rumah kebaktian di sebelahnya tidak dirobohkan. Tentu saja ini memancing kemarahan Umat Islam yang selama ini diam saja dan masih menahan diri,” sebut Leo.Setelah melakukan sholat Ashar berjamaah di Halaman Parkir Emereald Garden Hotel, rencananya para pengunjuk rasa ini akan membubarkan diri.(DON/MBB) Starberita – Jumat, 27 Januari 2012 19:20

***

Warga Temukan Kejanggalan Permohonan Perubuhan Masjid

Tribun Medan – Rabu, 22 Juni 2011 19:09 WIB

Laporan Wartawan Tribun Medan/M Azhari Tanjung

TRIBUN–MEDAN.com, MEDAN – Warga Kelurahan Silalas, Medan Barat dan Forum Umat Islam (FUI) Sumatera Utara (Sumut) menemukan beberapa kejanggalan dalam surat permohonan pemindahan dan perubuhan Masjid Raudhatul Islam Jalan Yos Sudarso/Jalan Adam Malik, Gang Pertempuran.

Armein D. Lubis, 52, warga Jalan Adam Malik, Kelurahan Silalas mengatakan kejanggalan yang ditemukannya antara lain nama pewakif dalam surat permohonan pemindahan dan perubuhan masjid tertanggal 3 Agustus 2003, bukan ahli waris langsung dari Haji Djafar dan Haji Bachrumsyah Nasution yang telah melakukan ikrar wakaf 1991 lalu. Sebab yang tertera sebagai wakif dalam surat tersebut atas nama M. Ishak Parinduri dan Arief.

“Mereka bukan anaknya, bukan ahli waris langsung. Ishak itu hanya cucu, sementara Arief kami tidak tahu siapa. Kedua pewakif memang sudahmeninggal dunia tapi anak-anak mereka masih ada,” kata Armein salah seorang jamaah Masjid Raudhatul Islam itu kepada wartawan di Medan, rabu (22/6).

Artinya surat permohonan yang dipakai masih menggunakan surat lama yaitu tahun 2003. Sementara surat tersebut sudah pernah ditolak warga yang akhirnya batal dieksekusi. Namun surat itu dipakai kembali pada 2009 untuk permohonan izin pemindahan dan perubuhan masjid ke Menteri Agama. Sedangkan yang bermohon sudah meninggal dunia.

Ketua Harian FUI Sumut Indra Suheri menegaskan kalau pemindahan dan perubuhan Masjid Raudhatul Islam dari sisi hukum apapun tidak sah dilakukan. Karena masjid telah memiliki sertifikat wakaf yang sah dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Medan tertanggal 14 Juli 2000 lalu dengan nomor sertifikat 02.01.01.04.1.00704.

Pergantian Masjid Raudatul Islam memang telah dilakukan oleh pengembang perumhan yang terletak di Jalan Sekata, Kelurahan Sei Agul. Meskipun berdiri lebih besar dan megah dari masjid sebelumnya namun letaknya sangat jauh sekitar 1 kilometer dari lokasi sebelumnya serta sudah berbeda kelurahan. Sementara di lokasi masjid yang baru dibangun tersebut juga terdapat Masjid Syarifah Rahman. (ari/tribun-medan.com)

Penulis : M Azhari Tanjung

Sumber : Tribun Medan

http://medan.tribunnews.com/2011/06/22/warga-temukan-kejanggalan-permohonan-perubuhan-masjid

(nahimunkar.com)

(Dibaca 494 kali, 1 untuk hari ini)