Said Aqil Siradj bergandeng tangan

lustrasi Said Aqil Siradj bergandeng tangan bahkan diapit tokoh-tokoh gereja/ foto rmolco

Sesungguhnya para pemilik aqidah kufur Wihdatul Wujud di dalam sejarah Islam telah divonis mati oleh para ulama terdahulu. Hanya saja datang Jemaat Islam Nusantara (JIN) berupaya keras untuk menyebarluaskan dan menghidupkan kembali aqidah kufur tersebut dari kuburannya.

Bukti kedustaan Islam Nusantara yang mengaku sebagai penerus Dakwah Walisongo, namun sejatinya aqidah kufur Islam Nusantara adalah musuh bagi dakwah Muslim Nusantara (Walisongo) di mana pemilik aqidah ini oleh para wali songo di hukum mati.

SAS menyebarkan kesesatannya lewat buku dan ceramah/ video

Said Aqil Siraj (SAS) dalam bukunya, memasukkan Syiah sebagai Ahlus Sunnah dan tidak sesat. Said (SAS) juga membela Ahmadiyah yang telah difatwakan murtad oleh para ulama internasional dan MUI.

Faham yang membahayakan aqidah itu SAS sebarkan lewat bukunya berjudul “ Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi”, setebal 472 halaman.

Di samping itu Said (SAS) juga membela faham sesat liberal, dengan menampilkan pendapat bahwa semua agama sama. Namun ketika ditanyakan kepada Said (SAS), dia berkilah, bahwa dia itu hanya mengutip Ibnu Arabi tokoh tasawuf yang dia sanjung. Sebagaimana tokoh tasawuf sesat lainnya yang Said (SAS) sanjung yaitu Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar yang kedua-duanya telah dihukum mati oleh para ulama (di Baghdad dan di Jawa) karena kesesatannya, namun dijunjung oleh Said lewat bukunya.

Perlu diketahui, Al-Hallaj, tokoh tasawuf sesat dibunuh di Baghdad tahun 309H/ 922M atas keputusan para ulama, karena Al-Hallaj mengatakan anal haqq (aku adalah al-haq/ Allah). Lontaran pendapat Al-Hallaj itu merusak Islam, maka dihukumi dengan hukum bunuh.

SAS dalam membela kesesatan, bukan hanya dituangkan dalam buku, namun juga dalam ceramah yang divideokan. Pernah videonya menggegerkan karena berisi fitnah.

https://www.nahimunkar.org/awas-buku-said-aqil-siradj-menimbulkan-dampak-negatif-terhadap-akidah/

Beredarnya video video Said Aqil Siradj (SAS) Ketum PBNU Ceramah Maulid 11 Januari 2015 di Sidoarjo Jawa Timur telah menimbulkan heboh. Karena isinya menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah dari Makkah ke Madinah lantaran ingin punya tanah air. Di samping itu, SAS menebar fitnah pula terhadap lembaga-lembaga Islam.

Ternyata kini ada yang membedah kembali, lebih dari itu justru ceramah itu mengandung aqidah kufur wihdatul wujud.

Videonya masih dapat diakses di berita berikut ini, dan di bagian bawah ada transkrip dan pembedahan tentang aqidah kufurnya.

Selamat menyimak.

***

Video: Said Aqil Siradj Anggap Rasulullah Hijrah karena Ingin Punya Tanah Air

Beredar video Said Aqil Siradj (SAS) Ketum PBNU Ceramah Maulid 11 Januari 2015 di Sidoarjo Jawa Timur. Dalam ceramahnya, SAS mengatakan, Mengapa Rasulullah mati-matian hijrah pindah dari Makkah ke Yatsrib Madinah…, karena ingin punya tanah air. (lihat menit ke 29.02 dst).

Ceramah SAS di acara Maulid di PP Ahlus Shofa wal Wafa Sumo Ketawang Wono Ayu Sidoarjo Jawa Timur itu dapat diakses di link ini:
https://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=KcLdtRujRig

Di antara isi ceramah itu terdapat fitnah yang tampaknya perlu dipertanggung jawabkan, memojokkan lembaga-lembaga Islam di berbagai kota dengan isu negatif. Hingga SAS menyebut sebuah yayasan yang dikatakan dipimpin oleh seorang yang kemudian dipenjara; padahal apa yang diucapkan SAS itu tidak sesuai kenyataan, dan sudah pernah dibantah di media. Rupanya SAS tidak kapok membuat fitnah murahan semacam itu. https://www.nahimunkar.org/video-said-aqil-siradj-anggap-rasulullah-hijrah-karena-ingin-punya-tanah-air/

***

MENGENAL AQIDAH SANG KETUA PBNU MBAH SAID AQIL SIRADJ

Di dalam beberapa waktu lalu telah muncul vidio dalam ceramah Maulid 11 Januari 2015 di Sidoarjo.

Bagaimana hakikat aqidah sang ketua PBNU Mbah Said Aqil Siradj. Dan mungkin sebagian pengguna jejaring sosial tidak membuka vidio tersebut, maka kami menyalin perkataan yang ada di dalam vidio tersebut.

Transkrip:
“Kita ini sebenarnya tidak ada, kita ini diadakan oleh yang ada. Yang ada sebelum kata ada itu ada. Kita menggunakan kata ada karena ada yang ada. Kita menggunakan kata tidak ada karena ada yang ada. Maka semua adalah ada, tidak ada itu tidak ada. Ahmad tidak ada di masjid, Ahmadnya tidak ada tapi tidak adanya Ahmad, ada. Gelas kosong, airnya yang tidak ada, kosongnya? Ada. Oleh karena itu yang ada hanyalah yang ada.

Kita buktikan…kita buktikan…
Kita menggunakan kata ganti dhamir, pronoun ana, anta, huwa. Aku, engkau, dia. Bisa dipakai siapa saja, aku Ahmad, aku Hasan, aku Husein, aku Maryam, aku Zainab, aku Fathimah, engkau Ahmad, engkau Hasan, engkau Husein, engkau Zainab, engkau Maryam, engkau Fathimah. Dia Ahmad, dia Hasan, dia Husein, dia Fathimah, dia Zainab, dia Maryam, kan ngoten nggih (demikian kan)?

Kalau sudah mati semua, kalau kita sudah mati semua, kemana aku, engkau, dia yang pernah kita gunakan itu? Kemana aku, engkau, dia yang dulu pernah kita gunakan untuk si Ahmad, si Husein, si Khalid, si Abubakar, si Toto… kemana?

Tinggal Aku satu yang tidak akan mati! Laa ilaaha illa ana. Ai laa wujuda illa ana, ai laa ana illa ana. Tiada tuhan kecuali aku kata Allah. Artinya tidak ada yang wujud kecuali aku, atau tidak ada aku kecuali aku.
Paham mboten? Paham mboten? Alaaaa mboten patek paham niku!

Ketika kita sudah mati semua, kemana kembalinya engkau? Engkau Ahmad, engkau Abubakar, engkau Hasan, engkau Zainab wis mati kabeh lha nang ndi iku? Tinggal satu engkau yang hidup selama-lamanya……

Laa ilaaha illa anta, tiada tuhan kecuali Engkau
Laa wujuda illa anta, tidak ada yang ada kecuali Engkau
Laa anta illa anta, tidak ada Engkau kecuali Engkau…… paham mboten?

Dia, dia Ahmad, dia Hasan, dia Abubakar, dia Khalid sudah mati semua..
Dia Zainab, dia Fathimah, dia Maryam sudah mati semua sudah…
Tinggal Dia yang tidak akan mati selamanya
laa ilaaha illa huwa, tiada tuhan kecuali dia
Ay laa wujuda illa huwa, tidak ada yang wujud kecuali dia
Laa huwa illa huwa, tidak ada dia kecuali dia……

Jadi hakekatnya aku, engkau, dia adalah…. Allah. Hakekatnya aku Allah, hakekatnya engkau Allah, hakekatnya dia adalah….Allah.

Syaikh Siti Jenar, namanya Abdul Jalil, puteranya Pangeran Darusela dari Caruban Cirebon, bukan orang Sidoarjo, orang Cirebon itu. Syaikh Siti Jenar orang mana? Cirebon namanya Abdul Jalil. Beliau ngaji pada Syaikh Dzatul Kahfi yang kuburannya di Gunungjati itu. Rupanya ngajinya feqih terus, haram, halal,wajib, sunnah, makruh, bosen. Akhirnya budhal (berangkat) ke Palembang mendapatkan guru namanya Abdullah al Habsyi atau al Haddad, lupa saya. Setelah itu pergi haji. Pulang dari haji Syaikh Abdul Jalil ngomong, “Anallah…Aku Allah… Aku Allah “, ditangkep, diadili oleh pengadilan, Ketua pengadilannya, Ketua Majelis hakimnya Syaikh Ja’far Shadiq bin Utsman al Hamadani alias Sunan Kudus.

Vonisnya, keputusannya bahwa Siti Jenar harus dipancung! Harus dibunuh! Karena mengatakan ANALLAH.
Padahal KALAU WAKTU ITU ADA SAYA, SAYA BELAIN PAK! SAYA BELAIN!
Ketika Siti Jenar ngomong AKU ADALAH ALLAH… BENER! NGGAK NGGAK SALAH! ANALLAH… AKU ALLAH! Apa artinya? Yang sebenar-benarnya aku itu…. Allah. Adapun aku Jenar, aku Abdul Jalil nggak ono iki (tidak ada ini), paling-paling pitungpuluh (70) tahun. Tapi yang sebenar-benarnya aku selama-lamanya adalah…. Allah.

Kalau waktu itu ada saya, SAYA MENJADI ADVOKAT SAYA, SAYA MENJADI PEMBELANYA APA PENGACARANYA, SAYANG SAYA BELUM LAHIR WAKTU ITU.
Kalau saya ada, “Benar, Siti Jenar ngomong Aku itu Allah benar! Artinya satu-satunya aku adalah… Allah. Aku Ahmad, aku Khalid, aku Hasan… pinjeman. Kulo panjenengan yen ditakoni (saya, anda kalau ditanya), “Iki montore sopo yo, mobile sopo yo kok apik iki (ini montornya siapa, mobilnya siapa ya kok bagus begini)? Mobilku, ojo banter-banter (jangan keras-keras)ngomong -ku, sopo weruh engko bengi gak iso ngomong (siapa tahu nanti malam tidak bisa bicara) -ku. …..”
-selesai penukilan-

***

Maka sangat jelas ya….kaum muslimin bahwa aqidah Sang Ketua PBNU adalah Wihdatul Wujud.

Sesungguhnya para pemilik aqidah kufur Wihdatul Wujud di dalam sejarah Islam telah divonis mati oleh para ulama terdahulu. Hanya saja datang Jemaat Islam Nusantara (JIN) berupaya keras untuk menyebarluaskan dan menghidupkan kembali aqidah kufur tersebut dari kuburannya.

Telah kita saksikan bersama bukti kedustaan Islam Nusantara yang mengaku sebagai penerus Dakwah Walisongo, bahkan aqidah kufur Islam Nusantara adalah musuh bagi dakwah Muslim Nusantara (Walisongo) di mana pemilik aqidah ini oleh para wali songo di hukum mati.

Dan banyak sekali para ulama ahlussunnah membantah aqidah kufur ini (wihdatul wujud), tetapi kami bawakan sedikit saja bantahan terhadap aqidah kufur wihdatul wujud,

Yaitu biasanya mereka menggunakan dalil firman Allah di dalam surat al-Hadid ayat 5, padahal para ulama telah bersepakat bahwa kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya tersebut artinya ilmu Allah meliputi keberadaan mereka, bukan Dzat Allah menyatu bersama mereka.

Imam ath-Thilmanki rahimahullah berkata:

“Kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa makna firman Allah yang artinya: “Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana kalian berada” adalah ilmu-Nya””.
[Dar’ut Ta’arudh, 6/250]

Adapun yang dimaksud dengan lafadz “kami” di dalam surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah para malaikat pencatat-pencatat amalan. Hal ini ditunjukkan sendiri oleh konteks ayat setelahnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan para ulama yang lainnya. Sedangkan ath-Thilmanki dan al-Baghawi memilih pendapat bahwa yang dimaksud lafadz “lebih dekat” adalah ilmu dan kekuasaan-Nya lebih dekat dengan hambanya-Nya dari pada urat lehernya sendiri.

Imam ath-Thufi ketika mengomentari hadits Qudsi tersebut menyatakan bahwa ulama telah bersepakat kalau hadits tersebut merupakan sebuah ungkapan tentang pertolongan dan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Bukan hakikat Allah sebagai anggota badan hamba tersebut sebagaimana keyakinan Wihdatul Wujud.
[Fathul Bari]

Bahkan Imam Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan bahwa barangsiapa mengarahkan pembicaraannya di dalam hadits ini kepada Wihdatul Wujud maka Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari itu.
[Jami’ul Ulum wal Hikam hal. 523-524 bersama Iqadhul Himam]

Wallahu a’lam


Dimas Rianto

***

Penjelasan Tentang Aqidah Wihdatul Wujud

Penjelasan Terhadap Aqidah Wahdatul Wujud, berikut kami kutipkan dari tulisan Ustadz Muhammad Ashim bin Musthafa dari situs almanhaj.or.id (http://almanhaj.or.id/content/2769/slash/0)

HAKIKAT KEYAKINAN WIHDATUL WUJUD DAN PELOPORNYA

Keyakinan wihdatul wujud, merupakan pemahaman ilhadiyah (kufriyah) yang muncul setelah dipenuhi dengan keyakinan hulul. Yaitu, dalam istilah Jawa disebut manunggaling kawula lan gusti. Artinya, bersatunya makhluk dengan Tuhan, pada sebagian makhluk. Tidak ada keterpisahan antara keduanya. Muaranya, segala yang ada merupakan penjelmaan Allah Azza wa Jalla. Tidak ada wujud selain wujud Allah. Hingga akhirnya berpandangan, tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini, kecuali Allah. Pemikiran sesat seperti ini, tidak lain kecuali berasal dari keyakinan Budha dan kaum Majusi.[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, bahwa mereka (orang-orang yang berkeyakinan dengan aqidah wihdatul wujud) telah melakukan ilhad (penyimpangan) dalam tiga prinsip keimanan (iman kepada Allah, RasulNya dan hari Akhirat). Menurut Syaikhul Islam, dalam masalah iman kepada Allah, mereka menjadikan wujud makhluk merupakan wujud Pencipta itu sendiri. Sebuah ta’thil (penghapusan sifat-sifat Allah) yang sangat keterlaluan.[2]

Pemahaman seperti ini sungguh sangat nista dan kotor. Karena, konsekwensinya berarti seluruh keburukan, binatang-binatang najis, kejahatan, iblis, setan dan perihal buruk lainnya merupakan jelmaan Allah. Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang mujrimin (berbuat kejelekan).

Keyakinan seperti inilah yang menjadi landasan aqidah Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Arabi Abu Bakr al Hatimi. Dia lebih dikenal dengan nama Ibnu ‘Arabi [3]. Lahir tahun 560 H di Andalusia dan meninggal tahun 638 H. Menurut adz Dzahabi, ia (Ibnu ‘Arabi) sebagai kiblat orang-orang yang menganut paham aqidah wihdatul wujud [4]. Simak dua bait syair yang tak pantas ini :

Tidaklah anjing dan babi kecuali sesembahan kami…Dan bukanlah Allah, kecuali seorang pendeta di gereja! [5]

Lebih jauh Syaikhul Islam menjelaskan bahwa, keyakinan seperti ini diadopsi dari pemikiran para filosof, seperti Ibnu Sina dan lain-lain. Yang kemudian dikemas dengan baju Islam melalui tasawuf. Kebanyakan terdapat dalam kitab al Kutubul Madhnun biha ‘Ala Ghairi Ahliha.[6]

SYUBHAT SEPUTAR UNGKAPAN KUFUR IBNU ‘ARABI

Kitab Fushulul Hikam dan al Futuhat al Makkiyah, dua karya Ibnu ‘Arabi yang sangat terkenal ini, sarat dengan perkataan-perkataan tentang wihdatul wujud, penafian perbedaan antara Khaliq (Pencipta) dengan makhlukNya, dan penetapan penyatuan antara keduanya. Sangat jelas, dari dua buku ini, betapa rusak aqidah penulisnya dan orang-orang yang mengikutinya.

Sebagai contoh, misalnya dalam sebuah penggalan syairnya, Ibnu ‘Arabi berkata:

الْعَبْدُ رَبٌّ وَالرَّبُّ عَبْدٌ يَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُ

Hamba adalah Rabb, dan Rabb merupakan hamba. Aku bingung, siapa gerangan yang menjadi mukallaf.

Ia juga mengatakan :

عَقَدَ الْخَلَائِقُ فِيْ الْإلِه عَقَائِدَ وَأَنَا اعْتَقَدْتُ جَمِيْعَ اعْتَقَدُوهُ

Semua makhluk berkeyakinan tentang ilah (sesembahan) dengan berbagai keyakinan. Dan aku berkeyakinan (tentang ilah) dengan seluruh yang mereka yakini itu.[7]

Begitu juga dengan perkataannya :

Dia menyanjungku, aku pun memujiNya. Dia menyembahku, dan aku pun menyembahNya.

Dalil yang ia catut untuk mendukung argumentasinya, yaitu firman Allah dalam an Nur/24 ayat 39 :

وو جد الله عنده

“Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya”.

Juga dengan mengusung hadits palsu berikut :

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

“(Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Rabb-nya)”.

Mengenai argumentasi yang dibawakan ini, Dr. Ghalib ‘Awaji memberikan komentar : “Ini merupakan istidlal (pengambilan dalil) yang sangat aneh dan mungkar yang diucapkan oleh seseorang. Bagaimana mungkin mengatakan al Qur`an dan Sunnah mengajak ilhad dan kekufuran kepada Allah? Oleh karenanya, Ibnu Taimiyah mengatakan, kekufuran mereka lebih parah daripada kekufuran Yahudi dan Nashara serta kaum musyrikin Arab” [9]. Adapun Ahlu Sunnah menetapkan, sebagaimana dikatakan Ibnul Abil ‘Izz rahimahullah [10] : “Ahlu Sunnah bersepakat, tidak ada sesuatu pun menyerupai Allah, baik pada dzatNya, sifatNya maupun af’al (perbuatan-perbuatan)Nya”.

Mengenai keimanan kepada hari Akhir, Ibnu ‘Arabi berpendapat, bahwa penghuni neraka juga merasakan kenikmatan di neraka, sebagaimana yang dinikmati oleh penghuni jannah di jannah. Karena adzab (yang berarti siksaan), disebut demikian, lantaran kenikmatan rasanya (‘udzubatu tha’mihi, dari kata adzbun yang berarti lezat).

Sementara itu, tentang keimanan kepada para rasul, penganut wihdatul wujud juga melakukan penodaan yang tidak ringan terhadap gelar terhormat para rasul. Menurut mereka, penutup para wali Allah itu lebih berilmu daripada penutup kenabian. Mereka berpendapat, para nabi -termasuk pula Nabi Muhammad- mengambil ilmu dari celah wali terakhir.

Tentu, pendapat seperti ini, sangat jelas melanggar nash-nash agama dan cara berpikir yang . Seperti sudah dimaklumi, orang yang datang di akhir, ia akan mengambil manfaat dari orang yang berada di depannya. Bukan sebaliknya. Dalam perspektif agama, wali Allah yang paling utama, ialah orang-orang yang mengambil ilmu dari nabi yang mulia. Dan wali Allah yang paling mulia dari umat ini adalah, orang-orang shalih yang menyertai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu’min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”. [at Tahrim/66 : 4].

Menurut kesepakatan para imam salaf dan khalaf, wali Allah yang paling afdhal adalah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu kemudian ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu.

Berbeda dengan pandangan orang-orang mulhid tersebut (Ibnu Arabi dkk), mereka lebih mengutamakan ahli filsafat ketimbang seorang nabi. Ibnu ‘Arabi sendiri mengatakan : “Sesungguhnya penutup para wali mengambil langsung dari piringan logam yang diambil oleh malaikat untuk diwahyukan kepada nabi”. Pernyataan ini sangat nampak pelanggarannya terhadap al Kitab, as Sunnah dan Ijma’.[11]

MEREKA LEBIH BODOH DARI FIR’AUN [12]

Orang-orang yang mengklaim telah mencapai tingkatan tahqiq, ma’rifah, dan wilayah yang memegangi aqidah wihdatul wujud, asal-muasal perkataan mereka merujuk pernyataan Bathiniyah, dari kalangan kaum filosof, Qaramithah dan semisalnya. Mereka sejenis dengan Fir’aun, namun lebih bodoh darinya. Fir’aun, memang sangat keras pengingkarannya, tetapi ternyata, ia tetap meyakini keberadaan Pembuat alam semesta (Allah) yang berbeda dengan alam semesta. Fir’aun memperlihatkan pengingkaran, tidak lain karena demi meraih kharisma, dan bermaksud menunjukkan jika perkataan Musa sama sekali tidak ada hakikatnya. Lihat al Qur`an surat al Mu’min/40 ayat 36-37.

Sedangkan penganut wihdatul wujud, meski meyakini adanya Pembuat alam semesta ini, tetapi mereka tidak menetapkan wujudNya yang berbeda dengan alam ini. Mereka berpendapat, wujudNya sama dengan wujud alam semesta. Bahkan menjadikan Dia menyatu dengan alam semesta. Sungguh suatu pandangan batil yang sangat menyimpang. Bagaimana mungkin al Khaliq sama dengan makhlukNya dari segala sisi? Allah berfirman:

“… Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [asy Syura/42 : 11].

Al Imam ath Thahawi mengatakan: “Persangkaan-persangkaan tidak bisa sampai kepada (hakikat)Nya. Pemahaman-pemahaman pun tidak akan mencapai (hakikat)Nya”. Ibnu Abil ‘Izzi menambahkan pernyataan al Imam ath Thahawi ini dalam syarahnya dengan mengatakan : “Dan Allah Ta’ala tidak diketahui bagaimana dzatNya, kecuali Dia sendiri Subhanahu wa Ta’ala . Kita mengenalNya hanyalah melalui sifat-sifatNya” [14]. Syaikhul Islam juga mengatakan : “Aqidah yang dibawa para rasul dan yang termuat pada kitab-kitab yang Allah turunkan, serta sudah menjadi kesepakatan Salaful Ummah dan para tokohnya, yaitu penetapan pencipta yang berbeda dengan ciptaannya, dan Dia berada di atasnya (ciptaanNya)”. [15]

Demikian ditinjau dari aspek agama (dalil). Sedangkan dari aspek aqli (logika), sungguh tidak mungkin pencipta menyerupai yang dicipta. Apalagi kalau semua makhluk adalah juga pencipta. Tentu sangat mustahil.

PENGUSUNG AQIDAH WIHDATUL WUJUD LAINNYA

Selain Ibnu ‘Arabi, ada beberapa tokoh yang ikut mengusung pemikiran wihdatul wujud. Di antaranya adalah Ibnul Faridh. Dalam kumpulan syairnya yang populer, yaitu Ta`iyyah, ia mengungkapkan hakikat aqidahnya. Dia menyatakan dirinya sebagai mumatstsil kabir lillah (penjelma Allah yang besar) dalam sifat dan perbuatanNya.

Abdul Qadir al Jili, penulis kitab al Insanul Kamil, guru Abdul Qadir al Jailani. Dalam salah satu selorohannya, ia berkata : “Dan sesungguhnya aku adalah Rabb bagi alam. Dan penguasa seluruh manusia itu sebuah nama. Dan akulah orangnya”.

Abu Hamid al Ghazali, dalam kitab Ihya` Ulumuddin, saat menjelaskan maratibut tauhid (tingkatan-tingkatan tauhid) yang keempat, ia mengatakan : “Tingkatan tidak melihat dalam alam ini kecuali satu wujud saja”.

Untuk menjawab kebingungan orang yang mempermasalahkan bagaimana bisa dikatakan satu, padahal banyak hal yang terlihat dan berbeda-beda? Maka ia menjawab: “Ketahuilah, itulah puncak mukasyafat dan rahasia-rahasia ilmu. Tidak boleh dituangkan dalam sebuah kitab. Orang-orang yang arif berkata,’Membeberkan rububiyah adalah kufur’.”

Jawaban ini mengandung tuduhan kepada Allah dalam menjelaskan aqidah, karena secara implisit dari jawabannya berarti Allah belum menerangkannya dengan sejelas-jelasnya, demikian juga Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. tidak diketahui kecuali orang-orang yang sudah mencapai tingkatan kasyf dalam wacana sufi. [16]

Jalaluddin ar Rumi, penyair dari Persia (Iran) ini, dalam kumpulan puisinya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Arab, ia mengatakan: [17]

Bila di dunia ini ada orang mukmin, orang kafir atau pendeta Nashrani, maka aku adalah dia. Aku hanya punya satu tempat ibadah, baik itu masjid, gereja ataupun candi.

WIHDATUL AD-YAN (PENYATUAN AGAMA-AGAMA) SALAH SATU KONSEKWENSI DARI WIHDATUL WUJUD

Dengan pemikiran yang telah dipaparkan di atas, keyakinan Wihdatul Wujud, juga melahirkan wacana, yang kini telah digagas para pengekornya, yaitu usaha untuk mempersatukan agama-agama. Sebuah anggapan bahwa semua agama adalah benar, memiliki tujuan yang sama. Yaitu menyembah tuhan yang sama, hanya berbeda dalam cara. Pandangan sesat seperti ini, tidak diragukan lagi merupakan kekufuran yang sangat nyata.[18]

Tak ayal, pemikiran ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan Orientalis dan musuh-musuh Islam lainnya. Karena, pada gilirannya berarti semua keyakinan adalah benar, tidak ada perbedaan antar-manusia. Seluruh agama kembali kepada satu keyakinan, karena semuanya jelmaan dari Tuhan.

Dikatakan oleh Allen Nicholson, diantara konsekwensi pemikiran wihdatul wujud, yaitu pernyataan mereka tentang kebenaran semua aqidah dalam agama-agama, apapun bentuknya.

Lebih jauh ia mengatakan : “Sebenarnya al Ghazali lebih toleran terhadap sebagian sufi Wihdatul Wujud, semisal Ibnu ‘Arabi dan lain-lainnya dari kalangan sekte sufi yang menjadi kawan-kawan kami dalam agama liberal itu, dengan seluruh maknanya”.[19]

Sudah pasti Islam berlepas diri dari pemikiran yang sangat menyimpang ini. Pemikiran ini telah mencampur-adukkan antara yang benar dan batil. Sehingga dapat menyebabkan hilangnya identitas kaum Muslimin, meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan jihad di jalan Allah.

Oleh karena itu, kaum Orientalis memberikan perhatian yang besar terhadap keyakinan rusak ini. Yaitu dengan lebih memperdalam mengkaji tentang tashawwuf. Karena, tashawwuf ini mendukung sebagian tujuan mereka. yakni untuk melupakan kaum Muslimin dengan ajaranya, dan juga unutk memecah-belah kaum Muslimin. Dengan pemikiran Wihdatul Wujud, orang-orang Orientalis merasa memiliki sarana yang tepat untuk menyebarkan berbagai kekufuran.

KISAH ORANG YANG BERTAUBAT DARI AQIDAH IBNU ‘ARABI

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengisahkan : Ada seseorang yang tsiqah (terpercaya) telah bertaubat dari mereka. Ketika ia mengetahui rahasia-rahasia mereka, maka ada (penganut wihdatul wujud) yang membacakan buku Fushul Hikam karya Ibnu ‘Arabi.

Orang yang tsiqah ini berkata : “Bukankah ini menyelisihi al Qur`an”.

Orang itu menjawab,”Memang al Qur`an semuanya berisi kesyirikan. Tauhid hanya ada pada pernyataan kami saja,”

Maka ia (orang yang tsiqah ini) kembali bertanya : “Kalau semua itu sama saja, mengapa putrimu diharamkan atasku, sementara istriku halal untukku?”.

Orang itu menjawab,”Dalam pandangan kami, tidak ada bedanya antara istri dan anak perempuan. Semua halal (untuk dinikmati).” [20]

Itulah sekilas tentang pemikiran Wihdatul Wujud. Masih banyak fakta-fakta sesat lainnya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pemikir ini. Bisa dijumpai dalam kitab-kitab yang mengkritisi alirah tashawwuf secara umum. Sebagian sudah ada yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tema ini diketengahkan, supaya seorang muslim sadar dan berhati-hati terhadap aqidah yang sesat ini.

Wallahul hadi ila shirathil mustaqim.

Maraji :

  • Ar Risalah ash Shafadiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H), tahqiq Abu Abdillah Sayyid bin ‘Abbas al Hulaimi dan Abu Mu’adz Aiman bin ‘Arif ad Dimasyqi, Adhwau as salaf, Riyadh, Cetakan I, Th. 1423H.
  • Bayanu Mauqifi Ibnil Qayyim min Ba’dhil Firaq, Dr. ‘Awwad bin Abdullah al Mu’tiq, Maktabah ar Rusyd, Riyadh, Cetakan, III, Th. 1419H.
  • Da’watut-Taqribi Bainal Ad-yan, Dr. Ahmad bin Abdir Rahman bin ‘Utsman al Qadhi, Darul Ibnil Jauzi, Dammam, Cetakan I, Th. 1422H.
  • Firaq Mu’ashirah Tantasibu Ilal Islam, Dr. Ghalib ‘Awaji. Al Maktabah al ‘Ashriyyah adz Dzahabiyyah Jeddah. Cet. V. Th. 1426 H – 2005 M.
  • Hadzihi Hiyash Shufiyah, Abdur Rahman al Wakil, tanpa penerbit dan tahun.
  • Syarhul ‘Aqidatith-Thahawiyah, ‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi, tahqiq sejumlah ulama, takhrij Syaikh al Albani, al Maktabul Islami, Beirut, Cetakan IX, Th. 1408H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi (07-08)/Tahun X/1427/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

_______
Footnote
[1]. Firaq Mu’ashirah, halaman 994.
[2]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 247.
[3]. Agar tidak timbul salah persepsi, perlu dibedakan antara Ibnu ‘Arabi dengan Ibnul ‘Arabi. Nama yang kedua diawali dengan alif lam ta’rif (Ibnu al ‘Arabi). Beliau adalah seorang ulama Malikiyah yang terkenal, dengan nama lengkap Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdillah t (468-543 H). Di antara karyanya, Ahkamul Qur`an.
[4]. Dinukil dari Da’watut Taqrib, 1/339.
[5]. Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 64.
[6]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 265. Kitab tersebut milik al Ghazali.
[7]. Fushushul Hikam, halaman 345. Dinukil dari Da’watut Taqrib, 1/386.
[8]. Al Fushush, halaman 83. Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah hlm. 43.
[9]. Firaq Mu’ashirah 3/994
[10]. Syarhul ‘Aqidatit-Thahawiyah, halaman 98.
[11]. Ar Risalah ash Shafadiyah, 251.
[12]. Ar Risalah ash Shafadiyah, Ibnu Taimiyah, 262.
[13]. Maqamat (tingkatan-tingkatan religi) dalam perspektif kaum Sufi.
[14]. Syarhul ‘Aqitatith-Thahawiyah, halaman 117.
[15]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 263.
[16]. Firaq Mu’ashirah Tantasibu Ilal Islam, 3/1002. Penulis kitab ini menukil keterangan Syaikh Abdur Rahman al Wakil perihal taubat al Ghazali yang berbunyi : “As Subki berupaya membebaskan peran al Ghazali (dalam aqidah ini) dengan dalihnya, bahwa ia (al Ghazali) menyibukkan diri dengan al Kitab dan as Sunnah di akhir hayatnya. Namun demikian, kaum Muslimin harus tetap diperingatkan dari warisan-warisan pemikiran al Ghazali yang terdapat pada kitab-kitab karyanya”. Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 52. Pembahasan tentang Imam al Ghazali, pernah kami angkat pada edisi 7/Th. VI/1423H/2002M.
[17]. Dinukil dari Da’watut Taqrib (1/388-389).
[18]. Lihat Mauqifu Ibnil Qayyim, halaman 141; Hadzihi Hiyash Shufiyah, halaman 93; Da’watut Taqrib, 1/381-405.
[19]. Fit Tashawuf al Islami, Dinukil dari Hadzihi Hiyash Shufiyah, 50.
[20]. Ar Risalah ash Shafadiyah, halaman 247.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 32.961 kali, 2 untuk hari ini)