• Ketahuilah penyebabnya
  • Ketahui pula solusinya

Berikut ini pertanyaan dan jawaban dari keadaan yang mereka alami

Blue Berwyn

Kenapa orang-orang sekarang lebih banyak ngeluh kepada Facebook,Twitter,BBM ketika bersedih atau apapun,kenapa?

  • 4 minggu lalu

Ciewlan

Jawaban Terbaik – Dipilih oleh Penanya

karena sifat narsisme dan cari perhatian alias caperrr yang berlebihan… tiap orang yang punya masalah selalu show off lewat media, entah itu twitter ato facebooknya… padahal bukan solusi yang didapat, orang hanya berbondong2 me-like status kita, menanyakan kenapa ada apa kok bisa,,, tapi hanya 0,00001 persen yang memberikan solusi yang benar2 dibutuhkan… kadang yang ada, curhat di media malah menambah masalah baru… dengan S-P-O-K (subjek-predikat-objek-keterangan) maupun tanpa S-P-O-K… contohnya kasus karena curhat di media menambah masalah baru adalah kasusnya Prita (dia adalah korban karena curhat dengan SPOK, alias mencantumkan nama alamat siapa dan kenapa di media pribadinya, dia mendapat masalah sampe melibatkan pihak berwajib, serem kan kalo jadi seperti itu)… contoh lainnya, kasus tanpa SPOK: seringkali kita nemuin ada orang marah2 lewat facebooknya, gak jelas dia marahnya sama siapa, kenapa, eh tau2 dia marah marah gak jelas di facebooknya, ngomong kasarlah, menyindir siapalah, ngomongin siapalah tanpa menyebutkan nama, yang ada, teman2 facebook kan jadi risih juga, terus ya jangan marah nanti kalo tiba2 teman2 kita memblokir kita gara2 curhatan/marah2 kita menyinggung atau bagaimana di media itu…
Sooo, jangan curhat sembarangan melalui media… hati2 deh…. bukannya menyelesaikan masalah, bisa2 kena masalah baru…

  • 4 minggu lalu

Penilaian Penanya:

Komentar Penanya:

Awesome,,,jawaban yang bagus,tapi sebenarnya ada yang kurang…seharusnya Kepada TUHAN lah kita mengeluh,right.

Jawaban Lain (8)

Karena pada saat kita membtuh kan teman curhat, dan pada saat itu tidak ada yg bsa di percya maka langkah lainnya dngan memberi keluhan di berbgai media masa, dengan kata lain dia ingn menenangkan pikirannya ataupun menghlangkan sgala bebn yg ada, ataupun jangan2 ia ingn sekali menyinggung langsung trhadap orang yg bersangkutan dngan kata2 yg baik maupun sampai benar2 kasar

Karena memang itulah salah satu kegunaanya. Selain untuk sekadar berbagi kegembiraan juga untuk tmpat curhat.

karena mereka tidak punya tempat pelarian yang tepat 🙂

  • 4 minggu lalu
  • Edi

Karena itu lebih mudah

kemajuan teknologi… klo di fb/bbm/twitter, mereka merasa bs mengekspresikan diri sepuas2nya — pdhl ini sebenernya ga bagus loh…. paling bagus ngeluh/curhat tuh langsungsm teman di dunia nyata, jgn di dunia maya… ada tipe org yg emang bnr2 pengen ngeluh ato nyindir di dunia maya, tp ada jg org yg cuma cari sensasi, ngeluhhhh trs spy ditanyain tmn2nya tppppp lama2 org jg bete n kesel kale sm org kaya itu yah….

  • 4 minggu lalu
Simple,karena semua jaringan sosial dan pertemanan menghubungkan orang yang satu dengan yang lain,mereka ingin melampiaskan,namun karena terbatas waktu dan tempat,mereka melampiaskannya ke internet dengan tujuan membuat orang berempati terhadap masalahnya.

gaya hidup kali

karena mereka BODOH. jangan tersinggung, itu mmg kenyataan.

materi referensi:

kenyataan

  • 4 minggu lalu

Sumber: http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120205120426AAomUgK

***

Ada dua hal sangat penting yang dilupakan

Gejala itu menunjukkan ada dua hal sangat penting yang dilupakan.

  1. Lupa bahwa Allah Ta’ala adalah yang paling tepat untuk mengadukan segala macam persoalan. Sehingga kisah sedih yang amat sedih yang diderita Nabi Ya’qub ayah Nabi Yusuf pun di dalam Al-Qur’an disebutkan hanya mengadu kepada Allah Ta’ala:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ [يوسف : 86]

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (QS Yusuf: 86).

 

  1. Lupa bahwa setiap yang diperbuat, baik itu perbuatan, perkataan, tulisan maupun perbuatan apa saja yang dilakukan secara sadar (akalnya waras dan tidak dalam keadaan dipaksa, dan bukan sedang tidur), itu semua dicatat dan kelak di akherat akan dimintai pertanggungan jawabnya. Tentang Malaikat pencatat itu ditegaskan dalam Al-Qur’an:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ  [ق : 17 ، 18]

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ [ق : 18]

 (yaitu) ketika dua Malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS Qaf/50: 17, 18).

Gejala yang ada sekarang, manusia banyak yang lupa. Lupa mengingat Allah Ta’ala, dan lupa kehidupan akherat, sehingga rangkaiannya adalah lupa terhadap diri sendiri bahwa segala sesuatu yang diperbut itu dicatat oleh Malaikat, kemudian kelak akan dipertanggung jawabkan di akherat. Karena telah lupa, maka pada saatnya nyawa dicabut dari raga, tahu-tahu tidak punya bekal apa-apa, sedang perbuatan-perbuatan selama hidup di dunia hanya berupa catatan yang tidak ada nilainya apa-apa bahkan dosa-dosa. Paling kurang adalah dosa karena telah lupa, lalai, hingga ni’mat-ni’mat yang seharusnya disyukuri itu tiada yang disyukuri. Adanya hanya keluh kesah, itu saja bukan kepada Allah Ta’ala. Maka setelah mati –sedang mati itu bukan waktu untuk berbuat tetapi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan, maka adanya juga hanya hasil dari yang diperbuat di dunia. Kalau tadinya di dunia hanya keluhan belaka… hasilnya setelah mati, yang jadi balasan ya keluhan belaka… na’udzubillahi min dzalik. Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

Makanya, mumpung kini masih ada umur, perlu kita sadari, jangan sampai menjadi orang yang lupa di dunia ini. Yakni lupa ingat kepada Allah Ta’ala, dan lupa akherat.

Bagaimana caranya untuk ingat kepada dua hal sangat penting itu?

Ya dengan mengikuti perintah-perintah Allah Ta’ala, itulah ingat kepada Allah. Dan menjauhi larangan-laranganNya, itulah ingat dan takut akan siksa neraka di akherat kelak, sehingga tidak melanggarnya.

Kalau sudah terkena dua lupa itu (lupa kepada Allah Ta’ala dan lupa akherat, hingga tidak peduli terhadap perintah-perintahNya dan tidak menjauhi larangan-larangan-Nya) maka seakan hidup ini bebas-bebas saja, tidak bertanggung jawab, dan bahkan tidak ada tujuan, hingga ketika menemui problem, tidak tahu bagaimananya. Itu saja di dunia. Belum di akherat. Jadi, mari kita kembali mengingat Allah Ta’ala dan mengingat betapa dahsyatnya siksa Allah Ta’ala di akherat kelak. Dengan begitu, insya Allah kita akan menjadi orang yang bertanggung jawab, beriman dengan istiqamah alias teguh pendirian sesuai dengan aturan Allah Ta’ala, hingga tidak sembarang mengeluh. Kalau toh mengadu hanya kepada Allah Ta’ala saja, sebagaimana dituntunkan dalam Al-Qur’an itu tadi.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 857 kali, 1 untuk hari ini)