Silakan baca ini sampai tuntas.

***

 Profil Enam Tokoh Muhammadiyah Peraih UMM Award

» Kamis, 04 September 2014

BERIKUT profil singkat enam tokoh Muhammadiyah peraih UMM Award. Adapun informasi tentang UMM Award dapat dibaca di sini.

  1. Dr (Hc) HM Lukman Harun

Dr (Hc) HM Lukman Harun
Lukman Harun lahir di Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 6 Mei 1934 dan menutup usia di Jakarta, 8 April 1999 pada umur 64 tahun. Selain sebagai tokoh Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai diplomat ulung dan aktivis Islam internasional. Di antaranya, Ia pernah menjabat sekretaris jenderal Asian Conference on Religion and Peace (ACRP).

Di penghujung Orde Lama, Lukman adalah aktivis yang cukup vokal mengganyang Partai Komunis Indonesia (PKI), di mana saat itu ia menjadi ketua pengerah massa Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu. Karena sejumlah kiprahnya itu, ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong mewakili Muhammadiyah pada 1967-1971.

Keterlibatan Lukman di Muhammadiyah membuat organisasi ini berkembang pesat dalam hal hubungan luar negeri. Hal itu lantaran Lukman sangat aktif menjalin lobi dengan kalangan internasional, terutama dunia Islam. Karena perannya, Muhammadiyah sering diundang menghadiri konferensi dunia untuk berbicara tentang perkembangan Islam. Saat dipimpin AR. Fakhruddin, Lukman adalahsatu-satunya orang yang selama sepuluh tahun menjadi juru bicara Muhammadiyah.

  1. KH Drs Ahmad Azhar Basyir MA

KH Drs Ahmad Azhar Basyir MA
Ahmad Azhar Basyir lahir di Yogyakarta, 21 November 1928 dan meninggal di kota yang sama pada 28 Juni 1994 di umur 65 tahun. Pada masa revolusi, Azhar Basyir bergabung dengan kesatuan TNI Hizbullah, Batalion 36 Yogyakarta. Tokoh kharismatik dan pejuang perang Sabil ini dikenal sebagai sosok perpaduan antara ulama dan intelektual. Azhar dikenal sederhana, namun memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang mendalam.

Berkat kelebihannya itu, Azhar dipercaya menjadi ketua Pemuda Muhammadiyah tatkala lembaga ini baru didirikan pada 1954. Jabatannya mendapat pengukuhan kembali pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Palembang tahun 1956. Tak lama setelah itu, Azhar mendapat beasiswa untuk belajar di Jurusan Sastra, Universitas Baghdad serta meraih gelar master di bidangIslamic Studies pada Universitas Kairo.

Sekembalinya di Indonesia, ia lantas menjadi dosen Universitas Gadjah Mada, menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) 1990-1995 serta anggota MPR-RI periode 1993-1998. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1995, Azhar Basyir terpilih sebagai ketua Muhammadiyah menggantikan KH AR Fakhruddin. Azhar juga dipercaya memimpin lembaga fiqih Islam pada Organisasi Konferensi Islam (OKI).

  1. HS Prodjokusumo

HS Prodjokusumo
Soedarsono Prodjokusumo lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 22 Agustus 1922 dan tutup usia di Jakarta, 31 Juli 1996. Pada 1950, ia mengikuti kursus administrasi militer pada Nederlands Militerire Missie (NMM) di Bandung. Pada akhir 1952 ia ditugaskan di Kementerian Pertahanan RI sebagai Perwira Muda di Jakarta dan menetap di Kebayoran Baru. Di tempat itulah kiprahnya di Muhammadiyah sangat terlihat. Bersama orang-orang Betawi, Prodjokusumo mempelopori berdirinya Muhammadiyah Cabang Kebayoran Baru.

Perhatian Prodjokusumo pada pendidikan Muhammadiyah sangat besar. Pada 1957, ia menginisiasi kerjasama dengan Departemen Agama RI dalam pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang pada 1858 melebur menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Pada 1965 FKIP UMJ lantas berdiri sendiri dengan nama IKIP Muhammadiyah Jakarta, dan mulai 1997 dinamai Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka).

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, setelah Muktamar Muhammadiyah 1985 Prodjokusumo membentuk Dewan Pembina Perguruan Muhammadiyah. Selain di bidang pendidikan, ia juga pencetus berdirinya Ikatan Karyawan Muhammadiyah (IKM), Ikatan Seniman dan Budayawan (ISB) pada 1965. Ia juga mempelopori dibentuknya Unit Santunan Duka Kebayoran Baru serta Pembina Kesehatan Umat (PKU) Taman Puring.

  1. Drs H Sutrisno Muhdam

Drs H Sutrisno Muhdam
Sutrisno Muhdam lahir di Klaten, Jawa Tengah, 14 Oktober 1938 dan menutup usianya di Yogyakarta, 12 Desember 2012. Ketokohan Sutrisno begitu kuat bukan saja karena pernah menduduki sejumlah jabatan penting di Muhammadiyah, melainkan juga karena ia merupakan saksi sejarah persyarikatan yang menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya.

Semasa kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta (sekarang UHAMKA), Sutrisno menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia juga terlibat dalam pembentukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ia merupakan ketua PP Pemuda Muhammadiyah selama dua periode, yaitu 1975-1980 dan 1980-1985. Ia juga masuk jajaran PP Muhammadiyah dalam rentang cukup panjang, yaitu mulai 1985 hingga 2000.

Sutrisno termasuk tokoh Muhammadiyah yang memelopori bergabungnya ABRI dalam pembentukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) untuk melawan G.30.S PKI. Ia juga menjadi salah satu anggota Komite Reformasi sembilan tokoh Islam yang hadir memenuhi undangan Soeharto ke istana pada 18 Mei 1998 berkaitan dengan pernyataan pertama lengser dari presiden dan agenda reformasi. Pada 1997-1998, Sutrisno menjadi anggota MPR RI utusan golongan, dan pada 1998-2002 ia tercatat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung komisi Ekuin.

  1. dr Muhammad Suherman

dr Muhammad Suherman
Muhammad Suherman lahir di Ngawi, 26 Desember 1926 dan menutup usia di Surabaya, 5 Maret 1987. Suherman bisa disebut sebagai salah satu legenda dalam sejarah Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim). Selain sebagai figur dokter yang dikenal merakyat, ia juga memiliki totalitas dalam memperjuangkan persyarikatan Muhammadiyah, khususnya dalam bidang pendidikan.

Sewaktu kuliah, Suherman merupakan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang disegani di Jatim. Selepas lulus kuliah dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) pada 1960, ia langsung didapuk sebagai dosen di almamaternya sekaligus membuka praktek dokter di Krian dan Surabaya. Selama menjadi dokter, ia mendapat julukan “dokter rakyat” karena dikenal sangat peduli pada pasien dari kalangan tidak mampu.

Totalitasnya terhadap persyarikatan mulai terlihat saat ia keluar dari PNS pada 1978 agar bisa aktif di Muhammadiyah. Padahal, saat itu ia tengah dipromosikan sebagai direktur pada salah satu unit di Unair. Di persyarikatan, ia berjasa besar dalam pendirian IKIP Muhammadiyah Surabaya pada 1981, demikian pula Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) pada 1985 di mana ia lantas menjadi rektornya.

Pada 1978-1985 Suherman menjabat wakil ketua II PWM Jatim yang membidani Majelis Pengajaran dan Kebudayaan (kini Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah). Semasa diberi amanah, perannya tampak sangat menonjol dalam pengembangan amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan. Saat itu ia juga bersinergi dengan Dr Mutadi sebagai wakil ketua III PWM yang membidani Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umum (PKU). Sinergi dua dokter itu ditandai dengan berdirinya poliklinik Muhammadiyah di hampir seluruh kabupaten di Jawa Timur.

  1. Drs HM Djazman Al-Kindi

Drs HM Djazman Al-Kindi
Djazman Al-Kindi adalah salah satu tokoh kunci di balik berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 1964. Sebelum berdirinya IMM, anak-anak muda Muhammadiyah yang berada dalam dunia perkuliahan masih tergabung dalam Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah.

Sejak 1961, Djazman yang saat itu kuliah di UGM bersama sejumlah tokoh-tokoh muda lainnya dari berbagai kampus menggulirkan gagasan agar melepaskan diri dari Pemuda Muhammadiyah dan membentuk organisasi sendiri. Gagasan tersebut lantas menuai hasil tiga tahun kemudian dengan berdirinya IMM.

Pada 1979, Djazman yang saat itu menjabat Rektor IKIP Muhammadiyah Surakarta memprakarsai berdirinya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan menggabungkan IKIP Muhammadiyah Surakarta dan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Surakarta. UMS lantas resmi berdiri pada 1981 dengan turunnya SK dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Djazman juga menjadi aktor sejarah terbentuknya Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (MPTPP) PP Muhammadiyah pada 1986. Semula, majelis itu bernama Majelis Pendidikan dan Pengajaran (MPP). Namun, mengingat Perguruan Tinggi Muhammadiyah saat itu terus berkembang pesat, maka namanya berubah menjadi MPTPP di mana Djazman mejadi ketuanya di periode pertama, yaitu pada 1986-1990. (han)

umm.ac.id

***

Wafat pada hari Jum’at dan dishalati di masjid terkemuka

Di antara tokoh-tokoh itu yang tercatat wafatnya di hari Jum’at dan dishalati di Masjid terkemuka ada dua yakni Drs Lukman Harun, dan Drs. HM. Djazman Al Kindi.

Wafatnya Drs. HM. Djazman Al Kindi ada yang menulis sebgai berikut:

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN

Telah pulang salah satu putra terbaik Kauman :
Bp. Drs. HM. Djazman Al Kindi (62 th)

pada hari Jum’at, 19 Ramadhan 1421 H/ 10 November 1990 pukul 07.00 wib
di RS PKU Muh. Yk.

Jenazah dimakamkan siang harinya (sesudah sholat Jum’at)
berangkat dari Mesjid Gedhe Kauman Yogyakarta./

groups.yahoo.com/neo/groups/kauman-yk/conversations/topics/543

Dikenal di Indonesia dan Dunia Islam

Drs Lukman Harun, beliau wafat di hari Jum’at di Jakarta, 8 April 1999. Dari kediamannya di Jl Sukabumi Manggarai Jakarta Selatan, jenazah dibawa ke Masjid Istiqlal Jakarta untuk dishalati ba’da shalat Jum’at. Khatib dan imam saat itu KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i. Ribuan umat Islam menshalati jenazah tokoh Islam yang banyak dikenal umat Islam di Indonesia dan dunia Islam ini.

Sampai kini mungkin belum ada tokoh Islam Indonesia yang semasa hidupnya secara pergaulan benar-benar dikenal oleh Muslimin Indonesia dan Dunia Islam seluas pergaulan tokoh yang satu ini (Lukman Harun).

Sekadar bukti, ketika sang tokoh ini mengadakan walimah pengantin anaknya, betapa banyaknya tamu yang hadir di Gedung Manggala Wanabhakti Slipi Jakarta, hingga di dalam gedung penuh dan masih banyak yang ngantri di luar dan bahkan jalan raya. Tamu-tamunya bukan hanya Muslimin dalam negeri namun banyak diplomat dan tokoh Islam dari berbagai negara Dunia Islam.

Hampir tidak ada wartawan yang biasa meliput keislaman di Jakarta yang tidak dia kenal namanya. Jadi bukan hanya wartawan yang kenal dia tapi dia juga hafal.

Contoh kegigihannya.

Dia dengan modal ayat Lakum Diinukum waliyadiin, berani lantang menyuarakan haramnya mengucapkan selamat natal dan semacamnya ke mana-mana. Dan setiap ada peristiwa penzaliman dari pihak Yahudi terhadap Islam, dia paling pertama bersuara lantang. Hingga suaranya itu bukan hanya jadi perhatian di Indonesia namun juga sampai ke dunia Islam. Karena dia menyuara bukan hanya di dalam negeri namun juga keliling ke berbagai negara. Mungkin ada yang terbersit. Kalau benar demikian, tokoh sekaliber itu, kenapa kini tidak ada yang mengkeramatkan kuburannya? (Hus! Ngaco aja). Karena dia tidak pernah ada tanda-tanda mengajarkan perlunya pengkeramatan kuburan. Lagi pula umat Islam yang pro dia sudah faham, pengkeramatan kuburan itu bukan dari ajaran Islam.

Tokoh yang pergaulannya begitu luasnya dan segesit dia ini entah siapa yang menggantikannya. Dan kini tinggal kenangan. Diam-diam, kadang Umat Islam Indonesia sepertinya hampir-hampir tidak direken. Karena perjuangan orang yang senampak itu pun belum tentu orang sini mau merekennya, akibatnya ketika belum muncul penggantinya, ya dunia Islam tidak mereken orang sini, walaupun menurut jumlah, Indonesia ini paling banyak umat Islamnya di dunia. Impas kan? Kata orang Arab, al-jazaa’ min jinsil ‘amal. Kata orang sini, siapa menanam mengetam. Lhah sekarang orang sini tidak mau menanam, ya mau mengetam apa?

Semoga saja dengan kasus ini, umat Islam Indonesia mulai menghargai perjuangan umat Islam walau sekecil apapun, apalagi yang besar dan nyata. Tidak terasa ternyata kita sudah lama kufur ni’mat. Dalam hal ini tidak menghargai perjuangan orang yang berjuang Islam. Dan anehnya, belum sadar-sadar juga bahwa akibat tidak syukur itu, telah dituruni sebagian azab. Contoh yang menyakitkan, umat Islam yang besar jumlahnya ini tidak direken. Oleh orang-orang kafir dan munafik di sini maupun orang Muslim di Dunia Islam. Semoga kini dengan munculnya Musa, anak kecil yang hafal Al-Qur’an hingga membawa nama harum umat Islam Indonesia itu kita mulai mau bersyukur. Agar ni’mat Allah tidak dilanjutkan untuk dicabut dari sini.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.084 kali, 2 untuk hari ini)