kompasiana_8235462374

Inilah contoh beritanya.

***

Inilah 12 Tulisan Terpopuler 2012 di Kompasiana

REP | 28 December 2012 | 23:35

Sebagai suguhan akhir tahun, Kompasiana menyajikan 12 tulisan kompasianer yang dianggap terpopuler dari jumlah pembaca (most read post) perbulannya. Rata-rata keterbacaan tiap tulisan melebihi 30 ribu pembaca bahkan menembus ratusan ribu pembaca.

Sebagai pembuka di awal tahun 2012, tulisan Kurnia Septa per 18 Januari dengan judul Cara Cepat Mendapatkan Banyak Follower di Twitter mampu menyedot perhatian 53106 pembaca. Jika twitter Anda masih saja sepi follower, tak ada salahnya mencoba beberapa tips yang ditawarkan dalam tulisannya. Dijamin, bukan cara biasa, tapi beberapa trik semisal menuntun pembaca menggunakan fasilitas promosi gratis melalui twiends, sampai pada perbaikan konten tweet. Namun dari segi komentar, dia menuai lima komentar saja.

***

Lewat My Idiot Brother, duet kaka beradik dengan nama pena Agnes Davonar ini, mampu memukau pecinta fiksiana di bulan Februari. Cerita ini menyabet 154994 pembaca dan dinilai inspiratif oleh 4 dari 7 pembaca. Meski jumlah komentar jauh lebih sedikit ketimbang jumlah pembacanya, namun cerita ini mampu mengobok-obok sisi emosional pembaca. Dikisahkan, Angel tak terima dengan keadaan Hendra sang kaka yang terkena syndrome down semacam kecenderungan lamban berpikir. Bahkan, Angel sendiri tak sungkan memanggil Hendra dengan sebutan idiot. Karena gengsi, tak sekalipun Angel ingin dijemput ibu dan kakanya di sekolah, alasanya malu punya kaka idiot. Dari sini, haru biru kisah ini dimulai, mengajak kita merenungi arti cinta sebenarnya. Meski begitu, sedikit menggelitik di akhir tulisan, seorang kompasianer memprotes pecial greeting ditujukan pada Aji, bukan pada Hendra sang kaka.

***

Bergeser ke bulan Maret, kontestasi politik pada Pilgub Jakarta mulai santer dibincangkan, didiskusikan bahkan didebatkan di kompasiana. Sebagian kompasianer silih memoles image sang kandidat yang didukung. Tak sedikit simpatisan dan mungkin juga tim kampanye yang berseliweran di kompasiana, mencoba mengonstruksi citra sang kandidat pilihan  mereka, perbincangan pun semangit menghangat. Memanfaatkan momentum Pilkada DKI Jakarta, Sutarno menggebrak penikmat kanal politik dengan tulisan 7 Alasan Menolak Jokowi Menjadi DKI 1 yang dibaca 87591. Tulisan ini secara logika terbalik, justru memunculkan sifat dan cara kerja jokowi yang disukai rakyat.

***

Pada bulan April, tulisan Umar Dani di Fiksiana berjudul Cerita Dewasa Part 1 (Siswa Baru yang Cantik) dibaca 538009. Dari judul tulisan, sekilas dapat membuat kompasianer salah kaprah dan mungkin saja terjebak untuk membacanya. Tapi, isi tulisan justru berbalik, bukannya berbau seks malah ngebodor. Sedangkan di bulan Mei, kehebohan jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak Bogor pada penerbangan ujicoba pertama di Indonesia, juga mendapat perhatian serius dari banyak kompasianer. Salah satunya, tulisan Seand Munir berjudul Ternyata Para Penumpang Sukhoi Itu Mengaktifkan HPnya di Pesawat langsung dikerubuni 1050771 pembaca. Namun, tulisan ini dibantah banyak kompasianer dengan perkembangan data terbaru.

***

Bulan Juni, Abbah Jappy menjadi kompasianer dengan pembaca terbanyak pada tulisannya berjudul Ciri-ciri ABG yang Telah Melakukan Hubungan Seks Pra-nikah berjumlah 80396 pembaca. Tulisan ini mengulas beberapa tanda-tanda ABG yang sudah melakukan seks pranikah. Di bulan Juli, ada Anita Tahmid yang ikut meramaikan isu politik jelang Pilgub Jakarta dengan tulisan berjudul Pandangan Saya sebagai Orang Islam terhadap Ahok lebih mendukung Ahok karena dinilai mampu memimpin Jakarta. Tulisan ini seakan membantah anggapan sebagian orang terkait penolakan Islam terhadap pasangan Cagub Jokowi-Ahok. Sekitar 112381 orang membaca tulisan ini dan 67 orang memberi ratting aktual.

***

Sementara tulisan berjudul Membuka Kebohongan & Fitnah dari Ceramah Rhoma Irama tentang Singapura di bulan Agustus milik Hans Liem langsung dibaca 153921 orang. Komentar tulisan ini juga banyak sekitar 118 komentar. Tulisan ini juga ditunjang fakta faktual yang menjelaskan kekeliruan ceramah Rhoma Irama. Di bulan September, saat Pilgub Jakarta kian menghangat dengan debat kandidat, kompasianer Daniel H.t. pun tak luput membungkusnya ala perspektif warga dengan judul Bang Foke, yang Kurang Ajar Itu, Ahok atau Nara? Dibaca 71645 dan komentarnya sebanyak 71, sedang 22 orang pembaca menilai aktual.

***

Berlanjut ke bulan Oktober, kompasiana diramaikan dengan ragam perspektif mengenai kasus Novie Amalia yang menabrak 7 orang pengguna jalan lainnya. TulisanFoto dan Status-status Novie Amalia, Gadis Penabrak 7 Orang, Sebelum Bekasi karya Harja Saputra mendapat 153 komentar dari 30319 pembaca. Kelanjutan kisah Novie ini dibingkai rapi mulai dari kronolodi peristiwa hingga tweet sang model. Tak butuh waktu lama, selang satu bulan saja Daniel H.t. kembali menyabet pembaca terbanyak di angka 340159 dengan tulisan berjudul Rhoma Irama Mendadak Capres: Dagelan di “Mata Najwa” dan mendapat 192 komentar di bulan November. Tulisan ini mengulas beberapa peristiwa yang dianggap sebagau blunder Rhoma Irama saat tanya-jawab di kursi panas “Mata Najwa“.

***

Terakhir, sebagai pendatang baru pada 1 Desember lalu, tulisan perdana Bernharth Rumkorem langsung diganjar HL, dan tulisan keduanya mendapat perhatian pembaca dengan tulisan berjudul OPM (Dibantu Asing?) Vs Masyarakat Papua dan Seluruh Warga Negara RI (Pemerintah RI Apakah Mendukung Warganya) menuai 22823 pembaca. Tulisan ini mengulas pemberontakan OPM yang sampai saat ini belum mampu dibendung pihak berwenang dalam penyelesaiannya. (SR)

Sumber:  http://blog.kompasiana.com, tanpa menyertakan ilustrasi dan semacam pengantar beritanya.

***

Komen NM:

Dalam berita itu ditulis:

Di bulan Juli, ada Anita Tahmid yang ikut meramaikan isu politik jelang Pilgub Jakarta dengan tulisan berjudul Pandangan Saya sebagai Orang Islam terhadap Ahok lebih mendukung Ahok karena dinilai mampu memimpin Jakarta. Tulisan ini seakan membantah anggapan sebagian orang terkait penolakan Islam terhadap pasangan Cagub Jokowi-Ahok. Sekitar 112381 orang membaca tulisan ini dan 67 orang memberi ratting aktual.

Perlu dicermati, ada gejala manusia berani bicara agama (Islam) menurut pandangan dirinya. Kemudian banyak pula yang terpengaruh dan bahkan memujinya. Padahal, cara itu tidak benar menurut agama (Islam) yang dia akui dia peluk. Kalau memang benar pengakuannya sebagai orang Islam, mestinya apa yang diperintahkan Islam dipatuhi, dan apa yang dilarang maka dihindari. Jadi memandang apapun, rujukannya adalah Islam itu sendiri. Apa kata Islam (yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah /Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dijadikan rujukan dan dipatuhi. Bila al-Qur’an dan As-Sunnah melarangnya, maka harus ditinggalkan atau dijauhi, dihindari.

Ketika yang dijadikan ukuran adalah pandangan orang, siapapun orangnya, bila tidak berlandaskan Islam itu sendiri (Al-Qur’an dan As-Sunnah itu tadi), maka seandainya benar (sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah) tetap saja salah. Karena cara memahami dan memperlakukan Islam sudah salah. Yakni seharusnya merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi malah merujuk pada pandangan orang atau bahkan dirinya sendiri. Apalagi kalau salah atau tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka jelas lebih salah lagi.

Dalam kasus ini, cara yang salah itu yakni mengandalkan pandangannya (bukan merujuk kepada Islam dalam menilai sesuatu, dan cukup mengandalkan bahwa dirinya sebagai orang Islam berpandangan begini dan begitu) ketika dipasarkan kepada umum lewat media, ternyata banyak orang yang terseret kepadanya, dan bahkan memujinya.

Itulah di antara bahayanya media massa yang kemungkinan di balik itu sejatinya mengandung unsure tidak suka kepada Islam, wahai saudara-saudaraku! Harap waspada saja!

Tipuan secara halus, dapat mengakibatkan yang ditipu sama sekali tidak merasa.

Ingat, ada tokoh di Indonesia yang selama 40-an tahun “digarap’ oleh media massa tertentu, hingga walau dari lingkungan yang kental Islamnya, namun akhirnya sampai pihak yahudi mengakuinya sebagai mitra sejati. Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jadi penutan Islam justru akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi.

Itulah contoh nyata, ditipu namun tidak merasa. Hingga sampai posisinya berbalikan arah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak merasa, lantaran halusnya tipuan, penggarapan yang sampai memakan waktu lima windu alias 40 tahun.

Menggarap yang tingkat tinggi saja sudah pengalaman dan sangat sukses, apalagi hanya kita-kita… maka sekali lagi, waspadalah wahai saudara-saudaraku… jangan bangga ya. Ditipu malah bangga… kasihan kan?

Ketahuilah, bahwa termasuk orang yang paling rugi adalah orang yang sebenarnya dibodohi, ditipu, dan bahkan disesatkan; namun justru merasa bangga.

Kata pepatah, sesal dahulu… pendapatan, sesal kemudian… tak berguna.

Peringatan ini adalah untuk mengingatkan, agar jangan sampai seperti contoh yang digarap tersebut. Mumpung nasi belum jadi bubur. Kalau jasad sudah di liang kubur, tentu saja tinggal penyesalan, dan tidak bisa lagi untuk bertobat. Betapa ruginya. Itu saja!

Salam.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.357 kali, 1 untuk hari ini)