Jakarta (SI Online) – Media-media arus utama, yang selama ini dikenal umat Islam sebagai media liberal atau sekuler terbukti selama ini bertindak zalim terhadap umat Islam. Fakta yang membuktikan hal ini sangatlah banyak. Karena itu langkah untuk melakukan revolusi media harus dilakukan.

“Revolusi media tidak akan terjadi di media massa arus utama. Dia lahir dari pinggir dan dilakukan oleh sekelompok orang yang dianggap tidak ada,” kata mantan produser di sebuah stasiun televisi nasional, M Fadhilah Zein dalam pelatihan jurnalistik di kantor tabloid Suara Islam, Jakarta Selatan, Sabtu (15/11).

Fadhil, panggilan akrabnya, membeberkan sjumlah bukti kezaliman media liberal terhadap Islam. Mulai dari kasus terorisme, FPI, GKI Yasmin, Ciketing, bahkan dalam pemberitaan kasus Ambon dan Poso.

Soal terorisme misalnya, Fadhil mencontohkan terjadinya demonstrasi besar-besaran di sejumlah kota pada Ahad (23/09/2012) yang menolak pemberitaan Metro TV “Rohis Sarang Teroris”, yang sama sekali tidak dimuat oleh koran nasional. “Hanya Republika yang menaikkan berta foto. Itu pun di belakang,” kata alumni Sastra Arab UNJ ini.

Menyinggung soal penyergapan terduga teroris di Temanggung, Jawa Tengah, pada 2009, Fadil menyebutnya sebagai reality show. “Liputan ekslusif penyergapan Temanggung 2009 lebih kepada reality show ketimbang tugas jurnalistik,” kata mantan jurnalis Rakyat Merdeka ini.

Sementara untuk kezaliman terhadap FPI, contohnya sangatlah banyak. Pada 2008, misalnya, atas terjadinya Insiden Monas 1 Juni 2008, koran Tempo kemudian memuat foto Panglima Laskar Islam (KLI) Munarman yang disebut sedang mencekik anggota AKKBB. Padahal, yang dipegang lehernya oleh Munarman adalah anak buahnya sendiri.

Pada 2012, FPI juga kembali dizalimi melalui pemberitaan ditolaknya kedatangan sejumlah petinggi FPI di Kalimantan Tengah.  “Media massa mainstream menggiring opini bahwa FPI ditolak di seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya.

Aksi yang dilakukan ribuan umat Islam di Jakarta, termasuk FPI,  pada 9 Maret 2012, juga disebut oleh salah satu media online terkemuka diikuti hanya 150 orang saja. 

“FPI menjadi korban sinisme media massa arus utama karena menolak Irshad Manji dan Lady Gaga,” kata Fadil.

Untuk kasus-kasus di daerah, seperti GKI Yasmin, Gereja HKBP di Ciketing, konflik Sunni-Syiah di Sampang, konflik Ambon dan Poso, media massa juga terang-terangan berada pada pihak yang memushi Islam. “Karena pemred dan struktur orang di dalam itu Liberal. Karena itu jangan jadi reporter, jadilan pemimpin redaksi atau pemilik media,” katanya sambil tersenyum.

red: shodiq ramadhan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 354 kali, 1 untuk hari ini)