Jakarta (SI Online) – Fakta saat ini, suka tidak suka, media massa ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa kepada masyarakat. Karena pengaruhnya itu media dapat membuat sesuatu yang kecil menjadi besar dan sebaliknya.

“Media dapat membuat seekor naga atau ular yang hebat menjadi seekor cacing dan sebaliknya dapat membuat cacing menjadi ular yang hebat,” ujar jurnalis senior Asro Kamal Rokan dalam diskusi “Menghadapi Tirani Media Massa” di Markas Besar Partai Bulan Bintang (PBB), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin sore (10/11).

Sembari mengutip hasil survei Edelman Trust Barometer 2013, Asro mengungkapkan tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia pada media sangat tinggi, yakni sebesar 77 persen. Sementara kepercayaan masyarakat terhadap institusi bisnis hanya 74 persen, pemerintah 47 persen dan LSM 51 persen.

“Survei yang sama dilakukan di 26 negara. Hasilnya, kepercayaan terhadap media di Indonesia lebih tinggi dibanding negara lain, yang rata-rata 57 persen,” ungkap mantan Direktur Lembaga Kantor Berita ANTARA itu.

Yang lebih mencengangkan, ungkap Asro, dari hasil survei diketahui saat ini media online dipercaya 76 persen, sementara media tradisional seperti koran, majalah, radio dan televisi dipercaya 75 persen, media sosial 68 persen dan media milik perusahaan 67 persen.

Kepercayaan publik terhadap media demikian tinggi karena dianggap lebih obyektif, netral dan tidak bias. “Kualitas konten juga menentukan,” kata mantan Pemred Republika itu.

Tingginya kepercayaan terhadap media sosial melebihi seluruh negara di dunia, sebesar 68 persen. Kepercayaan pada media sosial itu, jelas Asro, disebabkan kultur orang Indonesia yang lebih suka dialog dengan kerabat dan kawan sejawatnya. “Orang kita suka gosip,” katanya.

Asro menunjukkan hasil “ciptaan” media massa terhadap seseorang. Jokowi, Susi Pudjiastuti, dan Ahok, kata Asro, adalah orang-orang yang namanya dilambungkan oleh media dalam waktu singkat. Jokowi hanya dua tahun menjadi media darling, hingga kemudian menjadi Presiden.

“Susi, siapa itu Susi tiba-tiba menjadi idola?. Ironis nggak, orang yang tatoan, merokok, hanya lulusan SMP itu bisa menjadi idola,” katanya. Pun demikian seorang Ahok. “Siapa Ahok?”, kata Asro.

Asro juga menyebut nama Andi Widjajanto, putra mendiang Mayjen (purn) Theo Syafe’i yang sekarang berada di lingkaran utama kepresidenan. Saat itu masyarakat tahunya Theo adalah salah satu jendral yang anti Islam. “Dulu Media Dakwah dengan gencar memberitakan siapa itu Theo Syafe’i saat kasus Ambon,” ungkap mantan Pemred Media Dakwah ini.

Namun, Asro mengingatkan, orang yang melambung karena media, bila tidak bisa memenuhi harapan masyarakat nanti pada waktunya akan kembali lagi bahkan bisa dijatuhkan. “SBY dulu popularitasnya jauh lebih tinggi dari Jokowi pada 2004. Lambat laun masyarakat tahu,” ungkapnya.

red: shodiq ramadhan, Selasa, 11/11/2014 06:01:27

(nahimunkar.com)

(Dibaca 575 kali, 1 untuk hari ini)