.

Aroma “jual diri” tampaknya bagai gayung bersambut antara politisi dan media massa. Sehingga ada “presiden” yang hanya dalam survey media massa belaka.

Fenomena ini dicium oleh orang-orang yang bernalar, dan sejatinya cukup memuakkan. Hanya saja sihir-sihir media massa sering menjadikan masyarakat terkecoh, sehingga pilihan mereka pun  bukan orang yang diharapkan. Bahkan ketika terpilih justru menyakiti. Contohnya, ucapan-ucapan Ahok yang mendapatkan protes dari masyarakat karena bohong dan jauh dari kepentingan masyarakat.

Agar tidak terlalu senantiasa jadi korban media massa, maka di antara orang yang kritis kadang mengingatkan masyarakat atas tingkah politisi yang kongkalikong dengan media massa, bagai saling “jual diri”.

Inilah berita dan sorotannya.

***

Menjijikkan dan Sumpek, Media Massa untuk Pencitraan Politisi

JAKARTA, AKSI KUBUR BADAN. Seorang aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (BENDERA) Merah Putih asal Surabaya Suparno melakukan aksi mengubur badannya hingga sebatas leher di bekas kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Jakarta Pusat, Kamis (6/8). Aksi tersebut guna memprotes pelaksanaan Pemilu Presiden 2009 yang dianggap diwarnai kecurangan serta dugaan keterlibatan intelijen negara asing. FOTO ANTARA/Andika Wahyu/ED/pd/09.

MAKASSAR – Jelang pemilu kesumpekan semakin bertambah-tambah mengitari sekitar ruang publik masyarakat. Media massa salah satunya, yang seharusnya berfungsi sebagai cek and balances, hari ini tak. Para pemilik media mainstream yang notabene kapitalis tulen menjadi pemain dalam percaturan politik 2014 ini.

“Menjelang perhelatan politik 2014, Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif, temperatur politik sudah mulai memanas sementara media menjadi mediator pertarungan politisi,” kata Ketua Panitia Diskusi Akhir Tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Makassar Amir, lansir Antara Jumat (27/12/2013).

Dibandingkan Pemilu 2009, Pemilu 2014 sudah bergeser, karena politisi tidak hanya memakai mesin politik partai, melainkan juga memanfaatkan media massa untuk pencitraan mereka.

Sejumlah politisi mendirikan media massa untuk mendukung kepentingan politiknya.

Menurutnya, para politisi berasumsi, pihak yang menguasai informasilah yang akan menjadi pemenang, sehingga dana hingga triliunan rupiah bukan jumlah besar untuk digelontorkan demi kepentingan itu.

Sementara politisi yang tak memiliki media sendiri, akhirnya banyak mendekati media dan jurnalis. Mereka rela mengucurkan banyak duit agar terus tampil di media.

“Celakanya, kepentingan politik praktis ini bergayung sambut karena ada media dan jurnalis yang rela menanggalkan independensinya,” ucapnya. Musibah, wal ‘iyadzu billah. (azm/arrahmah.com) A. Z. MuttaqinJum’at, 23 Safar 1435 H / 27 Desember 2013 14:41

***

Jokowi Hanya Presiden Survey Kompas Belaka

JokowowIlustrasi/ situsberita2terbaru

  • Survey media Kompas menempatkan Jokowi sebagai presiden masa depan Indonesia yang sudah tidak ada bandingnya lagi.
  • Tapi, faktanya juga tidak seindah kicauan para “buzzer“, yang sudah kebelet ingin Jokowi segera dilantik menjadi presiden Indonesia, karena fakta-fakta, sejatinya Jokowi bukanlah manusia ajaib. Jokowi manusia yang biasa-biasa saja, hanya para tukang ”kibulnya” yang hebat, melalui media sosial, mereka berhasil mengibuli rakyat dengan begitu menarik, dan membuat tokoh yang baru meninggalkan Solo, langsung moncer, seperti meteor di langit.
  • Padahal, kini ketika Jokowi jadi Gubernur DKI Jakarta, mungkin yang spektakuler, hanya mengangkat Lurah Lenteng Agung, perempuan dan beragama Nasrani.
  • Efek “Jokowi” ternyata hanya kosong melompong. Pilkada-pilkada yang didukung Jokowi dan PDI tidak otomatis langsung menang. Jokowi sejatinya hanya citra yang diciptakan media, diantaranya seperti Kompas. Tidak lebih.
  • Maka, rakyat Indonesia jangan lagi mau dibodohi dan ditipu oleh media yang penuh dengan konspiratif, dan siapa sejatinya dibelakang Jokowi itu?

 

Jakarta- Betapa Jokowi sebagai manusia“dadakan” yang sudah digadang-gadang menjadi presiden Indonesia. Jokowi seperti dipaksakan, dan harus menjadi pemimpin dan presiden, menggantikan dan mengalahkan calon partai-partai politik.

Survey yang dibuat oleh Kompas, menempatkan posisinya paling atas, dan  seolah-olah Jokowi itu manusia “sakti mondroguno”, manusia “segala-galanya”, sehingga sekarang ini berhasil diciptakan demam ”Jokowi” di mana-mana.

Kalau Jokowi menjadi presiden semua pasti beres. Semua persoalan alias 1001 masalah semua akan selesai. Begitu dahsyatnya hembusan lewat para ”buzzers” (tukang gelembung suara) yang terus menggelembungkan sosok Jokowi lewat kicauan mereka di media sosial, tanpa henti dan jeda.

Mereka berusaha menampilkan Jokowi sebagai manusia paripurna. Manusia akhir zaman yang dapat menyulap masalah berubah menjadi berkah.

Berbagai sumber yang dapat dipercaya, Jokowi juga membuat “cyber army”, dan lebih dari 1500 ”buzzers”, yang terus berkicau setiap saat, dan membuat citra Jokowi terus menggelembung. Termasuk survey media Kompas yang menempatkan Jokowi sebagai presiden masa depan Indonesia yang sudah tidak ada bandingnya lagi.

Tapi, faktanya juga tidak seindah kicauan para “buzzer“, yang sudah kebelet ingin Jokowi segera dilantik menjadi presiden Indonesia, karena fakta-fakta, sejatinya Jokowi bukanlah manusia ajaib. Jokowi manusia yang biasa-biasa saja, hanya para tukang ”kibulnya” yang hebat, melalui media sosial, mereka berhasil mengibuli rakyat dengan begitu menarik, dan membuat tokoh yang baru meninggalkan Solo, langsung moncer, seperti meteor di langit.

Padahal,selama menjadi walikota Solo, tak banyak yang bisa dibanggakan dari Jokowi. Tidak ada perubahan yang sangat luar biasa, pembangunan ataupun kehidupan rakyatnya. Semua biasa-biasa saja. Pasar Klewer tetap suntuk, dan tidak ada pembangunan yang nampak begitu luar biasa  yang bisa langsung dirasakan rakyat.

Kemenangan Jokowi  di DKI, tidak amat-amat hebat. Karena, hanya mendapat dukungan suara 53,18 persen belaka. Sedang, Foke mendapatkan suara 47 persen. Tetapi, jangan lupa, Golput di DKI, jumlahnya lebih 45 persen. Jadi tidak perlu menggelembungkan Jokowi sebagai “superman”.

Selama menjadi Gubernur, tidak spektakuler gebrakannya di DKI. Paling-paling lelang pejabat di DKI, seperti lurah, camat, dan pejabat lainnya, yang sebagian besar, 85 persen, masih wajah lama. Mungkin yang spektakuler, hanya mengangkat Lurah Lenteng Agung, perempuan dan beragama Nasrani.

Jakarta tetap macet. Banjir tetap banjir. Kumuh tetap kumuh. Kalau ada perubahan di Pluit, yang mereka tinggal dipinggir-pinggir danau Sunter, digerus, dan  sudah hilang, entah  kemana mereka.

Konon mereka sudah tinggal di Rusun (rumah susun). Tetapi, masih begitu banyak rakyat yang “jembel”, yang sekarang entah bagaimana nasibnya.

Kartu Sehat mendapat penolakan rumah-rumah sakit, karena Pemda DKI, tidak lancar menggantinya, dan banyak rumah sakit, yang akhirnya menolak. Sekolah-sekolah dengan berbagai cara tetap memungut bayaran. Tidak ada yang gratis. Mungkin yang digembar-gemborkan tentang keberhasilan menggusur pedagang kaki lima di Tanah Abang yang sekarang ini bersih.

Belakangan, Jokowi  kerap kali ditunjuk menjadi juru kampanye bagi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dari PDI Perjuangan, dan gagal.

Efek “Jokowi” ternyata hanya kosong melompong. Pilkada-pilkada yang didukung Jokowi dan PDI tidak otomatis langsung menang. Sosok Jokowi yang katanya merakyat ternyata tidak bisa otomatis menarik simpati rakyat jelata. Jokowi sejatinya hanya citra yang diciptakan media, diantaranya seperti Kompas. Tidak lebih.

Saat pemilihan gubernur Jawa Barat, Jokowi menjadi juru kampanye Rieke-Teten, begitu juga saat Pilgub Sumatera Utara, Jokowi berjuang untuk Effendi Simbolon dan Jumiran. Namun nasib berkata lain, dua pasangan itu kalah. Di Jawa Timur, Jokowi menjadi jurkam Bambang DH, semuanya yang mendapatkan dukungan Jokowi ”jontor”, dan kalah. Di Bali, Jokowi yang sudah kampanye untuk pasangan Puspayoga-Sukrawan, kalah. Jokowi effect kembali gagal mendongkrak suara pasangan TB Suwendi Dedi Gumelar (Miing) – Suratno dalam pilkada Kota Tangerang 2013.

“Masyarakat kan sudah pada pintar, meskipun Jokowi jadi jurkam, tapi tetap saja yang dipilih bukan calon yang didukung Jokowi, jadi Jokowi sifatnya hanya membantu,” ujar seorang pengamat.

Jokowi … , begitu hebat pasukannya, yang terus menggerakkan jari-jari mereka, setiap hari, siang dan malam, sebagai “buzzers”, yang terus berkicau di media sosial, dan mengkampanyekan sosok Jokowi, sebagai pemimpin masa depan, yang unggul, paripurna, merakyat, dan solutif, ternyata semuanya hanyalah fatamurgana.

Fatamurgana, bagi mereka yang dahaga, seperti melihat air, semakin didekati semakin jauh, dan semakin dikejar, semakin tak nampak, serta akhirnya yang mendekati dan mengejar itu, semuanya mati.

Mereka para “buzzers”, setiap hari terus menaikkan citra Jokowi, dan tanpa mengenal lelah, dan henti, sambil membully (mengejek) bagi mereka yang mengkritik manusia yang dianggap super itu.

Ketika tahun 2004, bagaimana media-media menggelembungkan SBY, dan mengejek Megawati, dianggap gagal dan tidak becus. Sekarang mereka yang menggelembungkan SBY, hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, dan menggigit jarinya.

Pemerintahan SBY penuh borok, lingkaran, dan partainya terjebak dalam permaian korupsi, yang sangat mengerikan. Termasuk elite Partai Demokrat, tak lepas dari jeratan korupsi. Partai yang mengatakan “tidak” kepada korupsi ternyata, Demokrat “embahnya” korupsi di Indonesia.

Maka, rakyat Indonesia jangan lagi mau dibodohi dan ditipu oleh media yang penuh dengan konspiratif, dan siapa sejatinya dibelakang Jokowi itu? Apa target mereka, para  pendukung, dan orang-orang yang berada di belakang dan sekitar Jokowi yang sekarang ini all out menggolkannya? af/hh, (voa-islam.com)  Ahad, 01 Sep 2013.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.283 kali, 1 untuk hari ini)