The Jakarta Post yang sudah memproklamirkan dirinya mendukung Jokowi sebagaimana Kompas, pasti mengerti dan paham maksud memberi gambar tengkorak terhadap bendera hitam dengan kalimat ‘Laa Ilahaa IllaLlah” itu.

Sejatinya sikap itu, berarti sudah mendeklarasikan perang terhadap umat Islam dan kaum Muslimin. Komunitas Katolik yang diwakili Kompas itu, selama ini mendengungkan tentang toleransi beragama, tetapi sejatinya telah melakukan sikap permusuhan yang sangat keji terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Bukankah dengan film ‘Fitnaa’ yang terbit di Belanda telah menimbulkan aksi protes seluruh dunia, dan berbagai gejolak politik.

Allah Maha Kuasa untuk membalas makar mereka, kalau memang itu untuk menghadapi Islam. Dan Umat Islam pun mampu untuk bersikap terhadap siapa saja yang mengusik Umat Islam. Karena Allah telah memerintahkan :

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ } [التوبة: 73]

73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS At-Taubah: 73).

Sesuai dengan petunjuk dari Allah Ta’ala itu, ternyata kini muncul reaksi keras dalam bentuk sejumlah protes dari Umat Islam, di antaranya sebagai berikut.

***

The Jakarta Post Anaknya Kompas Sudah Menistakan Kalimat Tauhid!

JAKARTA (voa-islam.com) – The Jakarta Post bukan hanya menghina Nabi Shallahu alaihi wassalam, tetapi sudah menistakan Allah Rabbul Alamin, dan kalimat tauhid ‘ Laa Ilaaha IllaLlah’ diberi gambar tengkorak. The Jakarta Post yang menjadi anak kandung harian Katolik Kompas itu, membuat opini bukan tidak dengan sengaja dan tanpa tujuan.

The Jakarta Post ingin menunjukkan kepada publik bahwa ‘bendera’ hitam dengan kalimat tauhid ‘Laa Ilaaha IllaLlah’ yang menjadi bendera Nabi Shallahu alaihi wassalam, penuh dengan kematian atau pembantaian. Kalimah tauhid benar-benar di nistakan dengan gambar tengkorak.

The Jakarta Post yang sudah memproklamirkan dirinya mendukung Jokowi sebagaimana Kompas, pasti mengerti dan paham maksud memberi gambar tengkorak terhadap bendera hitam dengan kalimat ‘Laa Ilahaa IllaLlah” itu.

Sejatinya sikap itu, berarti sudah mendeklarasikan perang terhadap umat Islam dan kaum Muslimin. Komunitas Katolik yang diwakili Kompas itu, selama ini mendengungkan tentang toleransi beragama, tetapi sejatinya telah melakukan sikap permusuhan yang sangat keji terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Bukankah dengan film ‘Fitnaa’ yang terbit di Belanda telah menimbulkan aksi protes seluruh dunia, dan berbagai gejolak politik.

Cara-cara kotor dan sangat nista telah dijalankan oleh ‘Grup Kompas’ yang menyakitkan dan penuh permusuhan terhadap kaum Muslimin. Sejatinya sikap toleransi yang selalu didengungkan oleh Kompas, terbukti palsu dan bohong. Justru, sekarang kedoknya terbuka dengan karikatur di The Jakarta Post itu.

Dengan sangat gamblang tidak ada lagi toleransi dari kalangan Katolik terhadp Islam dan kaum Muslimin. Hal itu, juga ditunjukkan oleh Romo Franz Magnis Suseno yang mengancam, bila Jokowi kalah akan terjadi ‘chaos’.

Sangat layak, jika Ketua Majelis Fatwa PP Mathlaul Anwar, Teuku Zulkarnain mengecam keras dimuatnya karikatur di surat kabar Jakarta Post. Ia menegaskan karikatur itu telah melecehkan Islam dan umat Islam.

Pada edisi 3 Juli 2014 lalu, surat kabar The Jakarta Post menampilkan karikatur yang bermaksud menyindir deklarasi yang dilakukan oleh kelompok pejuang Islamic State of Iraq and Sham (ISIS). Karikatur itu menampilkan gambar seorang komandan kelompok penjuang yang tengah menaikan bendera jolly roger (bendera hitam bergambar tengkorak khas bajak laut).

Dalam bendera itu, terdapat tulisan kalimat tauhid “Laa Ilaha Illallah” dan di dalam tengkoran dituliskan kata “Allah” serta “Muhammad”. Sementara tidak jauh dari gambar orang mengerek bendera, terdapat gambar seorang pejuang siap mengeksekusi 5 orang tawanan.

“Ini sudah sangat melecehkan dan menghina Islam. Mereka menyamakan Islam dengan orang-orang kejam dan tidak berperikemanusiaan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (7/7/2014).

Teuku Zulkarnain mempertanyakan apa alasan Jakarta Post menuliskan kalimat tauhid tersebut. Padahal jika memang mau menyindir tidak perlu menuliskan kalimat tersebut atau membawa simbol-simbol Islam.

“Sebab kalimat itu bukan hanya dimiliki dan diucapkan oleh orang-orang disana (Iraq) saja. Tapi juga di Indonesia dan seluruh umat Islam di dunia. Jadi karikatur mereka (Jakarta Post) telah menyindir semua umat Islam di dunia,” tegasnya. Ia menambahkan atas dimuatnya karikatur tersebut, pihaknya akan melakukan upaya hukum.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Kami tidak mau Islam menjadi sasaran penghinaan. Seperti Pilpres ini, sudah sering kelompok Capres tertentu menghina Islam, mulai dari munculnya gambar Gallery of Rogues yang dilakukan oleh Wimar Witoelar, dan sekarang Jakarta Post. Jangan jadikan agama Islam sebagai sasaran penghinaan hanya karena masalah perbedaan politik dan sebagainya,” tandasnya.

Dengan sikap The Jakarta Post itu, kaum Muslimin tidak sepatutnya membiarkannya, bukan hanya bersikap pasif dan toleran atas penghinaan terhadap Allah Rabbul Alamin yang telah memberinya gambar tengkorak. Ini benar-benar sikap permusuhan yang sudah tidak dapat dimaafkan lagi. (jj/dbs/voa-islam.com)Selasa, 11 Ramadhan 1435 H / 8 Juli 2014 22:29 wib

***

Korps Muballigh Jakarta Protes Keras ke Jakarta Post

“The Jakarta Post, Permintaan maaf saja tidak cukup, harus ada sanksi pidana”

Jakarta (voa-islam.com) – Korps Muballigh Jakarta (KMJ) dan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) menyatakan protes keras kepada redaksi The Jakarta Post (JP) atas pemuatan kartun yang menghina Islam dan ummat Islam. Permintaan maaf dan pencabutan karikatur dianggap tidak cukup. Ummat Islam harus membawa persoalan ini ke ranah hukum, agar pelaku dan penanggung jawabnya dikenai sanksi pidana.

Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah KMJ Edy Mulyadi mengatakan, apa yang dilakukan harian berbahasa Inggris yang mendukung Jokowi dalam Pilpres 2014 itu, jelas-jelas telah menghina serta menistakan Islam dan ummatnya. Dalih sebagai ketidaksengajaan dan keteledoran redaksi tidak bisa diterima untuk kesalahan sebesar dan sefatal itu.

“Saya tidak yakin redaksi bisa seceroboh itu menurunkan kartun yang sangat menghina Islam dan ummatnya. Menurut saya, apa yang dilakukan Jakarta Post sekali lagi mengkonfirmasi kebenaran firman Allah dalam QS al Baqoroh:120 dan QS Ali Imron: 118-120, bahwa musuh-musuh Allah memang sangat membenci Islam dan ummatnya. Memang ada framing dari media-media mainstream yang dikuasai kelompok anti Islam utuk terus menyudutkan Islam dan ummatnya,” ujar Edy menanggapi penyesalan dan permohonan maaf Jakarta Post.

Rombongan KMJ dan JAT yang berjumlah sembilan orang diterima Pemimpin Redaksi JP Meidyatama Suryodiningrat, di kantor redaksi, Jakarta, Selasa (8/7). Dia didampingi sejumlah jurnalis, antara lain redaktur senior Endy M Bayuni dan dari desk opini Ati Nurbaiti.

Senada dengan Edy, ketua JAT DKI Jakarta, Haris Amir Falah mengatakan, kartun yang dimuat Jakarta Post edisi Kamis, 3 Juli halaman 7 itu, benar-benar menghina Islam. Kalimat tauhid yang dicantumkan bersamaan dengan tengkorak khas bajak laut, mengesankan seolah-olah Islam adalah agama bengis yang senang menumpahkan darah.

“Terlebih lagi pada bagian dalam tengkorak itu ditulis kalimat, Allah, Rasul, Muhammad. Ini jelas-jelas penistaan yang sangat keji terhadap Islam dan ummatnya. Permintaan maaf saja tidak cukup. Tidak berarti persoalan selesai begitu Jakarta Post minta maaf dan menyatakan mencabut kartun tersebut. Saya sepakat dengan ust Edy, bahwa masalah ini harus dibawa ke ranah hukum. Pelaku dan penanggung jawabnya harus dikenai sanksi pidana,” kata Haris.

Pada saat yang sama, Meidyatama mengakui karikatur tersebut mengandung simbol-simbol keagamaan yang bisa dianggap melecehkan. Untuk itu, Jakarta Post menyesalkan atas kesalahan yang dibuatnya dalam membuat penilaian, yang sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan atau tidak menghormati agama mana pun.

Jakarta Post Akui Salah Memuat Kartun Menghina Islam

Jakarta –The Jakarta Post (JP) mengaku salah telah memuat kartun yang melecehkan Islam dan ummatnya. Mereka juga menyatakan juga siap melakukan apa pun yang dianggap terbaik untuk menebus kesalahan fatal tersebut.

The Jakarta Post mengakui keteledoran dan kesalahan karena memuat kartun yang telah memicu kemarahan ummat Islam tersebut. Untuk itu, kalau ada hal lain yang harus kami lakukan untuk menebus kesalahan ini, kami siap melakukanya,” ujar Pemimpin Redaksi JP Meidyatama Suryodiningrat, ketika menerima perwakilan dari Korps Muballigh Jakarta (KMJ) dan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Selasa (7/8).

Pada 3 Juli silam, harian berbahasa Inggris yang mendukung Jokowi pada pilpres 2014 ini telah memuat kartun yang sangat menghina serta melecehkan Islam dan ummatnya. Pada kartun itu tertera kalimat tauhid, laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah) yang dicantumkan bersamaan dengan tengkorak khas bajak laut. Gambar ini mengesankan seolah-olah Islam adalah agama bengis yang senang menumpahkan darah.

Penghinaan dan penistaan The Jakarta Post terhadap Islam dan ummatnya semakin kental, ketika pada bagian dalam tengkorak itu ditulis kalimat, Allah, Rasul, Muhammad. Ini jelas-jelas penistaan yang sangat keji terhadap Islam dan ummatnya.

“Kartun itu dimuat di halaman opini. Sebagaimana halnya editorial atau tajuk rencana, kartun di halaman opini adalah mewakili sikap resmi redaksi. Ini artinya, redaksi JP dengan sangat arogan menyatakan permusuhan dan penghinaan terhadap Islam yang dianut sebagai agama mayoritas penduduk negeri Indonesia. Sudah seharusnya ada sanksi tegas dan keras untuk penghinaan yang benar-benar keji ini,” papar Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah KMJ, Edy Mulyadi.

Amir JAT DKI Jakarta, Haris Amir Falah mengatakan, permintaan maaf dan pencabutan karikatur dianggap tidak cukup. Ummat Islam harus membawa persoalan ini ke ranah hukum, agar pelaku dan penanggung jawabnya dikenai sanksi pidana. Dalih sebagai ketidaksengajaan dan keteledoran redaksi tidak bisa diterima untuk kesalahan sebesar dan sefatal itu.

Rombongan KMJ dan JAT yang berjumlah sembilan orang diterima Pemimpin Redaksi JP Meidyatama Suryodiningrat, di kantor redaksi, Jakarta. Dia didampingi sejumlah jurnalis, antara lain redaktur senior Endy M Bayuni dan dari desk opini, Ati Nurbaiti.

Terkait dengan protes keras tersebut, Meidyatama mengakui karikatur tersebut mengandung simbol-simbol keagamaan yang bisa dianggap melecehkan. Namun berkali-kali dia mengatakan, redaksi Jakarta Post sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan atau tidak menghormati agama mana pun. (edm)

Jakarta, 8 Juli 2014

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Edy Mulyadi, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Korps Muballigh Jakarta (KMJ)

Mobile: 0818 0866 7070, Pin BB: 268CAC40

Email: edymulyadilagi@gmail.com

Selasa, 11 Ramadhan 1435 H / 8 Juli 2014 22:12 wib

 ***

Aa Gym : Karikatur Jakarta Post Sangat Melukai Hati, Penghinaan Amat Keji

BANDUNG (voa-islam.com) – “Capres dihina, ngamuk. Giliran Allah & Rasul dihina, biasa aja. Nama Allah disetarakan dengan tengkorak dan bajak laut, itu jelas-jelas sengaja! #JakartaPost” demikian beragam reaksi dari masyarakat di media sosial.

Menanggapi gelombang protes atas penanyangan karikatur penghinaan Islam di The Jakarta Post terus bergulir. Sikap tegas kali ini datang dari dai kondang, KH Abdullah Gymnastiar atau biasa disapa Aa Gym.

Aa Gym mengatakan karikatur menghina Islam yang ditayangkan harian The Jakarta Post adalah perbuatan keji.

“Karikatur Jakarta Post (3/7) ini sangat melukai hati, adalah penghinaan amat keji. Demi Alloh saya tidak rela,” demikian pernyataan Aa Gym yang dikutip hidayatullah.comdari fans page Facebook KH Abdullah Gymanstiar, Selasa (8/7/2014) pagi.

Pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid Bandung, Jawa Barat ini melanjutkan, “Bila diri ini dihina tak jadi masalah tapi bila Alloh SWT dan Rosulullohu ‘alaihi wasallam dihina, harus dituntut pertanggungjawabannya.”

Aa Gym menghimbau, walau hati mendidih kaum muslimin jangan bertindak anarkis menyikapi penghinaan ini.

“Kita laporkan dan pastikan tak ada penghinaan keji seperti ini lagi,” tulis Aa Gym.*

The Jakarta Post Hina Islam, Forgiven Not Forgotten

The Jakarta Post kini menanggung akibatnya karena menayangkan karikatur yang melecehkan kata LAA ILAHA ILALLAH. Inilah wajah media yang didirikan oleh Ali Murtopo dan Sofyan Wanandi ini, sekam yang membara amat dalam kebenciannya pada umat Islam dan menistakan ALLAH, Rasul dan Muhammad dalam siluet tengkorak bajak laut.

Melalui situs thejakartapost.com pada hari Senin 7 Juli 2014 yang dirilis pukul 11:50 siang tadi, pihak redaksi The Jakarta Post memuat tulisan yang berjudul “Apology” (permintaan maaf, red).

“Kami sungguh-sungguh meminta maaf dan menarik kembali kartun editorial yang dicetak pada halaman 7, edisi  3 Juli 2014 dari surat kabar The Jakarta Post.

Kartun tersebut berisi simbolisme agama yang mungkin telah menyinggung sebagian orang.

The Post menyesalkan adanya kesalahan dalam keputusan itu, yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk memfitnah atau tidak menghormati agama apapun,” demikian tulis The Jakarta Post.

Karikatur pelecehan terhadap lafadz Allah dan Rasulullah ini diduga dibuat oleh Stephane Peray berwarganegara Perancis.

Inilah fakta sesungguhnya makar jaringan Palmerah yang didirikan oleh Ali Moertopo dan Sofyan Wanandi ini. Mereka bisa meminta maaf, tapi akan bisa dilupakan begitu saja dalam hati umat Islam.

“forgiven, not forgotten.”[wahid/voa-islam.com]Selasa, 11 Ramadhan 1435 H / 8 Juli 2014 22:02 wib

***

TPM: Indonesia Merdeka karena Islam, The Jakarta Post Jangan Lecehkan Lafadz Tauhid

JAKARTA (voa-islam.com) – Selasa Sore (8/7) Ahmad Michdan dari Tim Pengacara Muslim (TPM) menggelar jumpa pers soal penistaan lafadz Tauhid Laa Ilaha Ilallah oleh harian The Jakarta Post.

Ahmad Michdan menyatakan bahwa tindakan surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Post menghina kalimat Laa Ilaha Ill Allah adalah tindakan yang melecehkan sejarah Indonesia.

“Asal mereka tahu kemerdekaan Indonesia disokong besar oleh perjuangan umat Islam,” ujarnya dalam konferensi pers Selasa sore tadi (8/7/2014) terkait karikatur pelecehan simbol Islam yang dimuat The Jakarta Post edisi Kamis 3 Juli lalu.

Selain menodai simbol Islam,  Michdan memaparkan bahwa  karikatur The Jakarta Post juga melukai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Lafadz Laa Ilaha ill Allah yang menjadi ilham kemerdekaan malah dilecehkan dengan simbol penyamun,” ungkapnya kepada beberapa wartawan yang hadir dalam konferensi pers.

Atas pertimbangan inilah TPM akan menempuh jalur hukum agar kejadian ini tidak lagi terulang. Demi menghindari isu politik, TPM akan mengajukan tuntutan hukum setelah pilpres.

“Perkara pelecehan agama ini jauh lebih besar dari soal pilpres. Kami tidak ingin dua persoalan ini bercampur,” tegasnya.

TPM juga akan berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkompeten seperti MUI, ormas-ormas islam dan pakar media untuk membahas pelecehan ini secara lebih mendalam.

Wikipedia:The Jakarta Post Didirikan Atas Desakan Menteri Penerangan Ali Moertopo dan politikus Yusuf Wanandi

Dikutip dari wikipedia, The Jakarta Post adalah sebuah harian berbahasa Inggris di Indonesia. Harian ini dimiliki oleh PT Bina Media Tenggara yang berkantor pusat di Jakarta.

The Jakarta Post didirikan oleh gabungan antara empat media Indonesia atas desakan dari Menteri Penerangan Ali Moertopo dan politikus Yusuf Wanandi. Setelah pertama kali terbit tanggal 25 April 1983, The Jakarta Post selama beberapa tahun dapat bertahan hanya dengan beberapa iklan dan sirkulasinya makin meningkat.

Setelah pergantian kepala editor tahun 1991, harian ini mulai mengambil posisi pro-demokrasi. The Jakarta Post adalah salah satu harian Indonesia berbahasa Inggris yang selamat dari krisis keuangan Asia 1997 dan saat ini memiliki sirkulasi sebesar 40.000 eksemplar.

The Jakarta Post juga memiliki edisi Minggu (Sunday) dan Daring (Online), yang isinya tidak diterbitkan di edisi cetak harian. Sasaran pembaca harian ini adalah masyarakat asing dan masyarakat Indonesia yang berpendidikan, meskipun jumlah pembaca Indonesia dari kelas menengah juga terus meningkat. Dikenal sebagai tempat latihan para wartawan lokal dan internasional, The Jakarta Post telah memenangkan sejumlah penghargaan dan dijuluki sebagai “harian berbahasa Inggris paling terkemuka di Indonesia”.

Soal kartun yang dianggap menghina Islam, melalui situs thejakartapost.com pada hari Senin 7 Juli 2014 yang dirilis pukul 11:50 siang, pihak redaksi The Jakarta Post memuat tulisan yang berjudul “Apology” (permintaan maaf, red).

“Kami sungguh-sungguh meminta maaf dan menarik kembali kartun editorial yang dicetak pada halaman 7, edisi  3 Juli 2014 dari surat kabar The Jakarta Post.

Kartun tersebut berisi simbolisme agama yang mungkin telah menyinggung sebagian orang.

The Post menyesalkan adanya kesalahan dalam keputusan itu, yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk memfitnah atau tidak menghormati agama apapun,” demikian tulis The Jakarta Post. [adivammar/eza-islampos/wikipedia/voa-islam.com]Selasa, 11 Ramadhan 1435 H / 8 Juli 2014 21:49 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.449 kali, 1 untuk hari ini)