.

Pada Selasa lalu (15/4 2014), para ketua pengurus provinsi PDIP sepakat bahwa Ketua Umum Megawati dan Jokowi, nama panggilan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, berwenang memilih calon wakil presiden. Adapun hari ini (16/4) Mega bertolak ke Bali dan belum diketahui kapan kembali ke Jakarta, tulis tempo.co.

Banyak kalangan menghubung-hubungkan kebiasaanMega ke Bali  ini dengan sas-sus terkait mistik. Misalnya, disebut-sebut Mega seringkali akan melayat ‘kamar Bung Karno’, yakni kamar 327 di lantai 3 Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali. Kamar itu satu-satunya yang tidak terbakar ketika hotel ini hangus dilahap si jago merah, 20 Januari 1993. Padahal tidak tanggung-tanggung, api membara selama 3 hari berturut-turut.

Menjelang Kongres II PDIP 28 Maret 2005, disebut-sebut Megawati menyempatkan diri mengunjungi kamar ini sebelum kongres dimulai.

Bahkan sempat pula tersiar kabar bernuansa SARA, pada Februari 1997 lalu. Artikel yang dimuat Bali Post 13 Februari 1997 itu menuliskan, Mega telah melakukan persembahyangan di Pura Pasar Agung Besakih. Kabar biasa bagi warga Bali, namun terdengar luar biasa bagi warga Jakarta dan wilayah di luar Bali.

Mega sendiri tampaknya tak begitu ambil peduli. Pasalnya, paling tidak ia terbukti kembali melakukan hal yang sama dua bulan kemudian, tepatnya 12 April 1997. Kali ini di Pura Lempuyang Luhur, Karangasem, yang dilanjutkan dengan bersembahyang di Pura Rambut Siwi dan Pura Luhur Uluwatu.

Bertandangnya Mega ke Bali dan keharusan menentukan cawapres itu menimbulkan sas-sus tentang Mega menunggu wangsit (berbau kemusyrikan) dari Bali. Berikut ini di antara ulasan sebuah media.

***

 Cawapres Jokowi Wangsit dari Bali

Oleh: Darmawan Sepriyossa

nasional – Kamis, 17 April 2014 | 15:15 WIB

 

INILAHCOM, Jakarta – Beberapa kali masyarakat menilai kubu PDI Perjuangan, khususnya Megawati, lambat mengambil berbagai keputusan politik strategis. Seringkali, keputusan penting PDI Perjuangan diambil saat ‘last minutes’.

Contoh gampang yang masih belum terhapus dari benak publik: pencapresan Jokowi. Secara kasat mata, di media massa konstituen PDI Perjuangan sejak lama menuntut agar partai segera mengumumkan calon presiden dari PDIP. Secara khusus, tuntutan itu mengarah agar partai memilih Jokowi sebagai capres definitif. Kita tahu, lama mengambang tak tentu, baru pada 14 Maret lalu, Mega akhirnya memutuskan untuk menjadikan Jokowi capres dari PDIP.

Lambannya putusan itu keluar pun sempat membuat pemilih PDIP menurun. Berdasarkan survei Kompas pada Desember 2012 lalu, bila Pemilu digelar saat itu, PDIP hanya akan dipilih 13,3 persen responden. Enam bulan kemudian ketika survei kembali digelar, terjadi kenaikan lebih dari 10 persen, menjadi 23,6 persen. Sayang, periode ketiga survei yang berakhir pada Desember 2013 justru mencatat dukungan untuk PDI-P turun menjadi 21,8 persen.

“Kenapa turun? Karena publik capek memikirkan siapa capresnya, karena lama (tidak dipastikan),” kata Kepala Departemen Politik dan Hubungan Internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS), Phillip J Vermonte, saat itu.

Hal yang sama terjadi pada saat Pilgub di dua provinsi, DKI Jakarta dan Jawa Tengah, 2012 dan 2013 lalu. Koran Tempo menulis, persetujuan Mega untuk mencalonkan Jokowi baru turun setelah digelarnya pertemuan lama dengan Prabowo dan tokoh PPP, Djan Faridz. Sementara untuk kasus Jateng, Mega baru di menit-menit terakhir menyetujui Ganjar Pranowo sebagaicalon, setelah sekian lama tetap mendekap Bibit Waluyo, calon asal militer yang kemudian mencari dukungan ke Partai Demokrat.

Lambannya Mega mengambil keputusan itu ternyata telah menjadi capnya sejak masa lalu. Dalam evaluasi tahunan, pada 2001 lalu Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA)—sebuah lembaga yang kini dilikuidasi, alm. Ahmad Tirtosudiro, menilai kinerja Mega dan pemerintahannya lamban.

Mega sendiri bukan tidak sadar dengan kritik yang telah sering diterimanya itu. “Biarin. Asal keputusan itu tepat,” kata Megawati dalam sambutan acara dukungan Partai Damai Sejahtera di Balai Sarbini, Semanggi, Jakarta Selatan, 19 Mei 2004 lalu.

Menjelang Kongres II PDIP 28 Maret 2005, disebut-sebut Megawati menyempatkan diri mengunjungi kamar ini sebelum kongres dimulai.

Bahkan sempat pula tersiar kabar bernuansa SARA, pada Februari 1997 lalu. Artikel yang dimuat Bali Post 13 Februari 1997 itu menuliskan, Mega telah melakukan persembahyangan di Pura Pasar Agung Besakih. Kabar biasa bagi warga Bali, namun terdengar luar biasa bagi warga Jakarta dan wilayah di luar Bali.

Mega sendiri tampaknya tak begitu ambil peduli. Pasalnya, paling tidak ia terbukti kembali melakukan hal yang sama dua bulan kemudian, tepatnya 12 April 1997. Kali ini di Pura Lempuyang Luhur, Karangasem, yang dilanjutkan dengan bersembahyang di Pura Rambut Siwi dan Pura Luhur Uluwatu.

Ada banyak agenda yang harus dirampungkannya, kecuali bertemu Ketua Umum Partai Golkar yang juga calon presiden, Aburizal Bakrie. Informasi yang diperoleh Inilahcom, Megawati akan bertemu Ical guna membicarakan peluang berkoalisi di Pilpres 2014. Pertemuan dijadwalkan berlangsung hari ini atau besok.

Banyak kalangan menghubung-hubungkan kebiasaan ini dengan sas-sus terkait mistik. Misalnya, disebut-sebut Mega seringkali akan melayat ‘kamar Bung Karno’, yakni kamar 327 di lantai 3 Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali. Kamar itu satu-satunya yang tidak terbakar ketika hotel ini hangus dilahap si jago merah, 20 Januari 1993. Padahal tidak tanggung-tanggung, api membara selama 3 hari berturut-turut.

Menjelang Kongres II PDIP 28 Maret 2005, disebut-sebut Megawati menyempatkan diri mengunjungi kamar ini sebelum kongres dimulai.

Bahkan sempat pula tersiar kabar bernuansa SARA, pada Februari 1997 lalu. Artikel yang dimuat Bali Post 13 Februari 1997 itu menuliskan, Mega telah melakukan persembahyangan di Pura Pasar Agung Besakih. Kabar biasa bagi warga Bali, namun terdengar luar biasa bagi warga Jakarta dan wilayah di luar Bali.

Mega sendiri tampaknya tak begitu ambil peduli. Pasalnya, paling tidak ia terbukti kembali melakukan hal yang sama dua bulan kemudian, tepatnya 12 April 1997. Kali ini di Pura Lempuyang Luhur, Karangasem, yang dilanjutkan dengan bersembahyang di Pura Rambut Siwi dan Pura Luhur Uluwatu.

Bukan soal itu yang perlu kita jadikan perbincangan sehat, tentu. Adalah hak pribadi seseorang untuk memegang keyakinan tertentu, atau bahkan melakukan tata cara peribadatan tertentu di luar kepercayaan yang secara resmi ia pegang.

Persoalannya, dengan kian banyaknya pemilih muda yang terbiasa hidup di dunia modern, pengambilan keputusan di parpol pun meniscayakan cara-cara yang modern dan rasional. Metode ngalap, menunggu datangnya wangsit, mempercayai wahyu keprabon atau pulung, secara alamiah dan pasti, terpinggirkan.

Bagaimana petinggi parpol mempertanggungjawabkan proses pengambilan keputusan yang diambil dengan cara-cara itu, manakala konstituen partai kini lebih akrab dengan cara-cara pengambilan keputusan rasional ala Mc Kenzei, McGrew, Wilson,
Morgan, Cerullo, atau lainnya?

Artinya dalam konteks mencari pendamping Jokowi, bukankah Mega sebaiknya tetap berada di Jakarta—tempat semua aktor politik berbagai parpol berkumpul, dibanding mencari inspirasi demi keluarnya keputusan itu ke Bali? Bukankah pula setelah beresnya Pileg dan hasilnya samar-samar terbayang, yang bisa menjadi patokan untuk memutuskan kerja sama adalah suara pemilih parpol, dan prediksi kecenderungan mereka di Pilpres nanti?

Tetapi tentu saja semua terserah PDIP dan Mega. Sebab alasan utama Mega ke Bali pun belum tentu benar-benar mencari udara segar agar bisa jernih memutuskan cawapres. Mungkin saja semua tak lebih sekadar agar dapat berjalan-jalan di tengah alam sedap dipandang, ditemani anak-cucu, termasuk Puan dan Prananda? [dsy]

***

Umat Islam wajib menjauhi kemusyrikan

Jokowi Pilih Islam atau Kemusyrikan?

 

Jokowi melakukan upacara Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan Kemusyrikan. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan (selamatan) dan Jamasan (ritual memandikan) Mobil Esemka, malam Jum’at (23/02/2012). Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala. (lihat artikel Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah  di nahimunkar.com)

Seseorang dapat dinilai dari sepak terjang dalam hidupnya, ucapannya, bahkan ucapan yang mlipir-mlipir (tidak terang-terangan) pun dapat disimpulkan pula oleh orang lain. Sehingga apa yang disebut lahn qaul (kiasan-kiasan perkataan) pun menjadi tanda-tanda bagi pelakunya, ke arah mana dia berjalan, dan ke mana pula pembelaannya.

Dalam hidup ini hanya ada dua pilihan: pilih Tauhid/ Iman atau pilih kemusyrikan/ kekafiran. Bila seseorang sudah memilih Islam, maka wajib menolak syirik secara mutlak. Tidak boleh Islam dicampuri syirik sedikitpun. Karena syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya) itu dosa paling besar. Pelakunya tidak diampuni bila sampai mati belum bertaubat. Resikonya, orang musyrik (pemeluk kemusyrikan) adalah haram masuk surga, kekal di neraka.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-bayyinah/ 98: 6).

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Oleh karena itu, dalam Islam, keyakinan (keimanan, biasa disebut aqidah) itu harus bersih sama sekali dari kemusyrikan. Tidak boleh tercemar sama sekali dengan kemusyrikan. Setiap individu Muslim wajib menjauhi kemusyrikan. Bahkan bila mampu maka memberantasnya. Karena kemusyrikan itu lebih dahsyat bahayanya dibanding penjahat yang membunuh manusia. Karena Allah telah berfirman:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ  [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Bila seorang mengaku muslim namun mengajak kepada kemusyrikan, maka sebenarnya lebih kejam dibanding membunuh. Sedangkan membunuh satu orang Muslim tanpa haq, maka sangat berat resikonya, karena membunuh satu jiwa bagai membunuh semua orang, dalam Al-Qur’an.

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maaidah: 32).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( HR. AN-NASA-I (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS AN-NISAA’/4: 93)

Sebegitu dahsyatnya nilai kejahatan membunuh orang mukmin, namun masih lebih kejam dan jahat lagi bila yang dibunuh itu imannya, yaitu dikembalikan kepada kemusyrikan. Entah itu dengan mempertontonkan kemusyrikan, mengajarkan kemusyrikan atau mempraktekkannya lalu disiarkan kepada umum. Oleh karena itu, bila ada orang apalagi tokoh yang melakukan seperti itu, pantas diwaspadai bahkan perlu diberantas.

Ternyata ada aktivis Islam Muhammad Faisal,  S.Pd,  M.MPd yang mencatat tentang sepak terjang orang yang menurutnya adalah melakukan kemusyrikan terang-terangan.

Inilah catatannya.

***

KeIslaman Bapak Joko Widodo Masih Diragukan (Menurut saya).

Wah wah wah, yang ini sebenarnya,  saya terlalu gegabah mengambil Keputusan,  ucapan saya ini belum bisa dipastikan, tetapi dengan beberapa Sumber yang ada, terlihat bahwa Bapak Jokowi ini masih Diragukan keIslamannya, Buktinya:

Jokowi Kesulitan Menjawab Pertanyaan Makna Ramadhan, Kenapa?
(Baca Beritanya di http://suarajakarta.co/2012/07/27/jokowi-kesulitan-menjawab-pertanyaan-tentang-makna-ramadhan-kenapa/)
Kata pak Fauzi Bowo(Foke), Pemimpin HARUS Bisa Membaca Al-Qur’an, tetapi Jawaban pak Jokowi: Ada-ada saja, masa Pemimpin Harus bisa Baca Al-Qur’an.
(Baca Beritanya di http://www.dakwatuna.com/2012/09/15/22931/jokowi-ada-ada-saja-masa-pemimpin-harus-bisa-baca-al-quran/)

Terus, Hubungannya sama Kesalahan yang Pertama apa?

Ya salahlah, wong Pak Jokowi justru “mempromosikan” upacara sesajen (kemusyrikan), dosa terbesar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Di antaranya ada berita tentang sesajen untuk mobil Esemka yang digelar Jokowi ketika jadi Walikota Solo. Nahimunkar.com memberitakan:

Mobil Esemka: Sudah ditunggangi kemusyrikan, sudah dua kali pula tak lulus dalam uji emisi

Seperti diberitakan voa sebelumnya (Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan Kemusyrikan), sehari menjelang keberangkatan Mobil Esemka ke Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong Tangerang, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan dan Jamasan Mobil Esemka, Kamis malam (23/02/2012). Layaknya upacara selamatan dalam adat Jawa, Wali Kota Solo Joko Widodo juga menyiapkan satu set tumpeng lengkap yang berisi nasi gurih, ingkung, sambel goreng ati dan kedelai hitam.

Koordinator proses Jamasan Esemka Rajawali, Bambang Suhendro, menjelaskan, esensi acara itu adalah doa kawilujengan atau keselamatan. Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala. “Kembang setaman mawar jambon, mawar merah dan putih, kantil kuning dan kantil putih, kenanga dan melati untuk membersihkan dari sukerto atau halangan selama perjalanan,” terangnya. [taz/dbs] Kamis, 01 Mar 2012 (https://www.nahimunkar.org/mobil-esemka-sudah-ditunggangi-kemusyrikan-sudah-dua-kali-pula-tak-lulus-dalam-uji-emisi/ )

Sesajen untuk membersihkan dari  sukerto (kesialan) itulah yang disebut ruwatan.

Apa itu ruwatan?

Ruwatan adalah satu upacara kepercayaan yang diyakini sebagai ritual membuang sial yang disebut sukerto alias penderitaan. Istilah ruwatan, artinya membebaskan ancaman dari marabahaya yang datangnya dari Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak raja para dewa yakni Batoro Guru. Sedangkan meminta perlindungan kepada Batoro Kolo agar tidak dimangsa dengan upacara ruwatan dan wayangan itu termasuk kemusyrikan yang dilarang dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)

”Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu,jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” (Yunus/ 10:106). (https://www.nahimunkar.org/ruwatan-dan-kemusyrikan-dimuncul-munculkan-lagi-di-indonesia/ ).

Pelaku kemusyrikan itu jelas terancam keluar dari Islam. Bahkan kalau sudah jadi orang musyrik, maka dalam Al-Qur’an, musuh Islam yang paling dahsyat memusuhi Islam adalah Yahudi dan orang-orang musyrik.

{لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا} [المائدة: 82]

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS AL-MAAIDAH: 82.)

Dari perbuatan yang melanggar keyakinan Islam itu maka saya tentunya boleh mempertanyakan pelakunya, dalam hal ini Pak Jokowi. Terus Dalil tentang Dilarangnya Muslim Memilih Pemimpin Kafir sudah saya Tulis. Lihat artikel Haram Hukumnya Orang Kafir Jadi Ulil Amri/Pemimpin Muslim https://www.nahimunkar.org/haram-hukumnya-orang-kafir-jadi-ulil-amripemimpin-muslim-2/

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 2.232 kali, 1 untuk hari ini)