Para tukang bakso tersakiti hatinya dan merasa direndahkan dan ditertawakan oleh orang tertentu. Namun seakan mereka tidak berdaya. Cukuplah dirasakan dan diderita. Karena kalau toh diadukan di dunia ini mau diadukan ke mana. Sedangkan para ulama dan tokoh Islam yang pernah mengadukan ramai-ramai ke polisi saja tidak ada berita lanjutannya, padahal kasusnya mengenai pelecehan terhadap inti agama yaitu hari akhir atau hari qiyamat yang merupakan rukun iman ke enam dari 6 rukun iman dalam Islam. Namun kasus yang oleh para ulama dan tokoh Islam dinilai sebagai pelecehan atau tingkah penodaan agama itu pun kasusnya menguap begitu saja.

(lihat link ini: https://www.nahimunkar.org/megawati-soekarno-putri-resmi-dilaporkan-mabes-polri/ ).

Juga link ini: https://www.nahimunkar.org/polda-jatim-tetap-proses-laporan-ulama-madura-yang-melaporkan-megawati/

Lha apalagi hanya menertawakan dan ngatain para tukang bakso, apakah kasusnya akan bisa diadukan dan ditindak lanjuti?

Yang lebih menyakitkan, justru adanya prof NU yang membela peremehan dan pengetawaan terhadap para tukang bakso itu. Prof NU itu rupanya tidak kapok ketika membela penyimpangan seks LGBT dan disemprot orang baru-baru ini. Kini Prof NU itu justru membela orang yang menertawakan dan merendahkan tukang bakso dengan menuduh banyak yang salah paham.

foto/mrdkcom

VIDEO: Megawati Wanti-Wanti Puan Maharani Jangan Cari Pasangan Seperti Tukang Bakso

VIDEO22 Juni 2022 10:13

Merdeka.com – Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memiliki kriteria khusus untuk pasangan bagi sang anak, Puan Maharani. Puan diminta Megawati agar mencari pasangan hidup yang tidak seperti tukang bakso.

Pernyataan itu disampaikan Megawati dalam Rakernas PDIP. Ucapan itu membuat para kader yang hadir termasuk Puan tertawa terbahak-bahak.

(mdk/ang)

https://m.merdeka.com/video/peristiwa/video-megawati-wanti-wanti-puan-maharani-jangan-cari-pasangan-seperti-tukang-bakso.html

 

Sementara itu solopos memberitakan, Gegernya warga dunia maya dipicu pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat Rakernas II PDIP di Lenteng Agung, Senin (21/6/2022) yang menyinggung tidak mau mempunyai menantu tukang bakso.

Pidato lengkap ibu kandung Ketua DPR Puan Maharani itu diunggah di kanal Youtube PDI Perjuangan, Selasa (22/6/2022).

“Ketika saya mau punya mantu, saya sudah bilang ke anak-anak yang tiga ini (anak-anak Megawati). Awas lho kalau nyarinya kayak tukang bakso,” kata Mega yang langsung disambut gelak tawa dari Puan dan kader PDIP, termasuk Presiden Jokowi.

“Mbak Puan ketawa. Karena, sorry, jadi bayangkan saya pikir kaya apa iki rupane [seperti apa ini wajahnya], maaf,” jelasnya.

Candaan Megawati soal tukang bakso itu menjadi kontroversi. Apalagi, bakso adalah makanan khas Indonesia yang bisa dijumpai di hampir semua tempat di Tanah Air. (Solopos.com “Bola Panas Pernyataan Megawati Ogah Punya Mantu Tukang Bakso” selengkapnya di sini: https://www.solopos.com/bola-panas-pernyataan-megawati-ogah-punya-mantu-tukang-bakso-1348564.)

Ketika banyak tokoh dan netizen di dunia maya ramai mengomentari perkataan Mega yang dapat dinilai sebagai perendahan terhadap para tukang bakso disertai ketawa sebegitunya itu, lalu muncul prof NU pembela LGBT yang bernada membela Mega dan menganggap banyak orang salah faham. Sejatinya, manusia yang mengaku Muslim bahkan pentolan NU (ormas Islam terbesar) tapi membela LGBT itu tidak usah digubris lagi. Cukuplah dimengerti bahwa manusianya model yang disoroti ini:


Sabda Rancu Tokoh NU Prof Pembela LGBT

 

 

Posted on 28 Mei 2022

by Nahimunkar.org

Sebagai sesama manusia kita disuruh menghormati lgbt. Masalah dosa itu urusannya dengan Tuhan.

Giliran ada pengajian hanya karena beda mazab diperkusi dipaksa bubar.

Apa dipikir mereka bukan sesama manusia?

Efek amplop

8.27 PM · 27 Mei 2022·Twitter for Android


Hisyam Mochtar


@HisyamMochtar

***

Yang jadi persoalan:

Tokoh NU Nadirsyah Hosen menyuara agar menghormati pelaku LGBT

Alasannya menurut berita:

Gus Nadir meminta semua pihak untuk menghormati mereka sebagai sesama manusia. 

“Setiap manusia membawa roh suci dari Allah,” tulis Gus Nadir dikutip dari akun Twitter pribadinya @na_dirs, Selasa (24/5).

Pertanyaan untuknya: Para maling dan penjahat-penjahat lainnya selama masih hidup ya tentu membawa roh yang Nadirsyah sebut suci dari Allah. Apakah para maling, begal, rampok dsb juga harus dihormati?

https://www.nahimunkar.org/tokoh-nu-ini-minta-masyarakat-hormati-lgbt-celoteh-tokoh-nu-itu-lebih-buruk-dibanding-agar-hormati-maling/

(nahimunkar.org)
***

Meskipun selayaknya prof NU yang sudah terbukti membela penyimpangan seks LGBT itu celotehnya tak usah digubris lagi, namun karena dia menyalahkan banyak orang dengan menganggap banyak yang salah paham terhadap ucapan Megawati, demi membela Mega, maka ya mari sekedar dilihat saja cuitannya, apakah termasuk penjilat atau ga’. Ini cuitannya:

 
 

Ini kok banyak yang salah paham sih. Suasana cair dan akrab saat pembukaan Rakernas PDI Perjuangan. Bu Mega cerita soal guyon sama anak-anaknya tentang mencari jodoh. Plus kini sudah terjadi pernikahan antar suku, termasuk di Papua — hal yang baik sesuai Bhinneka Tunggal Ika. Mosok gak paham?” cuit pengelola akun Twitter Gus Nadir @na_dirs, Kamis (23/6/2022).

Akun Twitter tokoh NU Nadirsyah Hosen alias Gus Nadir ikut berpendapat soal guyonan Papua dan tukang bakso Megawati Soekarnoputri yang dianggap rasis. (Twitter/@na_dirs)/

https://www.suara.com/news/2022/06/24/144421/guyonan-megawati-soal-papua-dan-tukang-bakso-dicap-rasis-pengelola-akun-twitter-gus-nadir-ngaku-heran

***

Walau disebut guyon, tetap tidak boleh ada unsur pelecehan dan menyakiti

 

Tidak boleh ada unsur ghibah dan peremehan terhadap seseorang, suku atau bangsa tertentu 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (11) } 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-Hujurat: 11)

Sumber: https://muslim.or.id/12146-bercanda-dan-tertawa-tidak-boleh.html

Berinfak pun tidak boleh menyakiti

Surat Al-Baqarah Ayat 262

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوا۟ مَنًّا وَلَآ أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

 

Artinya: Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Surat Al-Baqarah Ayat 262).

Makna ayat:

{ مَنّٗا وَلَآ أَذٗى } Mannan wa lâ adzan: Al-Manna artinya adalah menyebut-nyebut sedekah kepada orang yang menerima sedekah untuk menunjukkan kebaikannya padanya. Al-Adza adalah berbuat tidak baik kepada penerima sedekah dengan menyakiti dan menghina dengan kata-kata yang tidak pantas sehingga menyinggung harga diri penerima sedekah itu dan menjatuhkan martabatnya. (Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi)

Referensi : https://tafsirweb.com/1028-surat-al-baqarah-ayat-262.html

 

Jadi yang namanya menyakiti dan menghina itu merupakan hal yang sangat dilarang, sampai-sampai menafkahkan harta saja sangat dilarang disertai menyakiti hati. (Apalagi sudah tidak memberi apa-apa, menaruh perhatian saja belum tentu, masih pula menyakiti dan menghina, itu sudah terlalu).

Suatu perkataan, apalagi diikuti tertawa mengenai masalah ketika mau mencari jodoh suami istri dengan menyebut “Awas lho kalau nyarinya kayak tukang bakso” itu sudah jelas obyeknya yang dikatain dan diketawain, yaitu tukang bakso. Padahal, tukang bakso tidak termasuk jenis cacat yang tidak layak untuk dijadikan suami atau istri. Maka ya otomatis perkataan itu mempunyai makna perendahan dan pengetawaan terhadap tukang bakso. Kalau ada prof NU yang menyebutnya sebagai salah paham, maka perlu dipertanyakan, paham mana lagi yang benar?

Kecuali kalau Mega misalnya bilang, Awas lho kalau nyarinya (untuk jadi suami/ istri) – orang yang– kayak orang gila. Itu bila orang waras merasa tersinggung, berarti baru itu yang namanya salah paham. Karena mengatainnya dan ngetawainnya itu tidak mengandung unsur perendahan dan menyakiti hati (karena memang orang gila tidak seyogyanya dicari untuk jadi suami atau istri), tetapi perkataan itu justru pengarahan agar jangan sampai nikah dengan orang semacam orang gila atau wong edan. Dan kalau toh tertawa bareng2 karena ‘jangan cari calon jodoh orang yang kayak orang gila’ itu, maka tidak mengandung unsur pelecehan, tapi nasihat kok sampai sebegitunya, hingga menimbulkan tertawa secara spontan.

Begitu duduk soalnya, bahwa itu jelas pelecehan dan menyakiti hati tukang bakso, wahai prof NU pembela penyimpangan seks LGBT dan pembela pelecehan terhadap tukang bakso. Faham?

(nahimunkar.org)