• Kelom­pok syiah In­donesia telah meng­irimkan 17 orang melalui jalur bawah tanah untuk dilatih men­jadi petem­pur dan penem­bak jitu ke Baal­bek Libanon.
  • … keberadaan milisi yang diben­tuk oleh Syiah bukanlah sekedar mimpi di siang bolong. Dalam satu per­temuan yang diadakan oleh pihak Dewan Keamanan Nasio­nal pada bulan Sep­tem­ber 2013, pihak in­telijen telah memas­tikan bahwa ada sejum­lah orang dari In­donesia yang dikirim ke Baal­bek, Lebanon. Pada per­temuan yang mem­bahas masalah ketahanan di In­donesia, salah seorang petinggi BIN yang juga aktif di salah satu ormas Islam meng­atakan, “Kelom­pok syiah In­donesia telah meng­irimkan 17 orang melalui jalur bawah tanah untuk dilatih men­jadi petem­pur dan penem­bak jitu ke Baal­bek,” ujar­nya. Kawasan Baal­bek Lebanon dikenal se­ba­gai wilayah kekuasaan milisi Hizbullah pim­pinan Hasan Nas­rullah.

 

KIBLAT.​NET, Jakarta – Sepekan lebih ben­trokan di Puger telah ber­lalu, namun ber­ita soal syiah di In­donesia tak per­nah ada hen­tinya. Saat kasus ben­trokan an­tara warga as­waja de­ngan syiah di Jem­ber meredup, datang ber­ita baru dari Mah­kamah Kon­stitusi yang menolak gugatan gem­bong syiah Sam­pang, Tajul Muluk pada Kamis (19/09) kemarin.

Geliat syiah di In­donesia belakangan semakin meng­uat. Tidak hanya mun­cul dalam penyebaran wacana seperti acara-acara di kam­pus dan majlis taklim, kelom­pok syiah In­donesia pun gen­car meng­eksp­resikan iden­titas­nya di depan publik secara ter­ang-ter­angan seperti aksi turun ke jalan saat per­ayaan Hari Quds In­ter­nasio­nal pada bulan Agus­tus 2013 lalu.

Meletus­nya tragedi Suriah sejak Maret 2011 pun turut meng­uak kedok kelom­pok syiah sebenar­nya. Dalam laman beritaprotes.​co, kaum syiah In­donesia melalui Yayasan Saifik (ISIS) ber­sama de­ngan Garda Kemerdekaan yang digagas oleh war­tawan Tempo Ahmad Taufik dan Drs. Abdul Cholik Wijaya mem­buka pen­daf­taran bagi relawan In­donesia yang mau ber­tem­pur di Suriah. Melihat dari muatan ber­ita dan alasan ideologinya, kita pasti takkan ber­pikir bahwa mereka ke Suriah ber­juang untuk mem­bantu rakyat Suriah yang merupakan lawan ideologi rezim Bashar Assad.

Seperti dikutip dalam ar­tikel tulisan Toni Syarqi ber­judul ‘Krisis Suriah dan Bang­kit­nya Syiah Militan’, disebutkan bahwa dalam sebuah wawan­cara de­ngan Tabloid In­telijen edisi Edisi 16-29 Juni 2006, Prof. Dawam Raharjo selaku pen­diri ormas Garda Kemerdekaan menyatakan, “Awal­nya Garda Kemerdekaan dari orang-orang Syiah yang khawatir men­jadi sasaran ber­ikut­nya (setelah Ah­madiyah) dari aksi kekerasan.” Saat itu, Tabloid In­telijen sedang meliput kon­troversi seputar Ah­madiyah, di mana GK men­jadi pem­bela ajaran ter­sebut.

Ide meng­irim kom­batan In­donesia ke Suriah sangat menarik untuk dicer­mati. Selama ini, In­donesia bukanlah penganut program wajib militer, sehingga sulit menemukan sosok kom­batan dari masyarakat sipil­nya. Kecuali memang ada sekelom­pok masyarakat sipil ter­tentu yang melatih diri de­ngan keteram­pilan ala kom­batan. Dan, GK dikenal se­ba­gai or­ganisasi sipil yang melatih diri de­ngan keteram­pilan militer.

Se­ba­gaimana dimuat dalam Tabloid In­telijen edisi di atas, Ahmad Taufik menegaskan kelom­pok­nya telah melakukan latihan fisik. “Tem­pat­nya di Megamen­dung dan juga hiking di Gunung Salak,” jawab­nya. Semen­tara Prof. Dawam Raharjo selaku pen­diri sekaligus penasehat GK menam­bahkan, “Malah yang melatih itu orang baret merah itu, apa namanya, Kopas­sus. Pokok­nya ada orang Kopas­sus yang mau mem­bantu dalam pelatihan.” Pen­jaga sebuah villa di Megamen­dung yang diklarifikasi Tabloid In­telijen juga mem­benarkan. “(Mereka) Melun­cur de­ngan tali, merayap dan ber­guling-guling ala latihan militer di lapangan sem­pat juga dilakukan.”

Melihat gelagat seperti itu, keberadaan milisi yang diben­tuk oleh Syiah bukanlah sekedar mimpi di siang bolong. Dalam satu per­temuan yang diadakan oleh pihak Dewan Keamanan Nasio­nal pada bulan Sep­tem­ber 2013, pihak in­telijen telah memas­tikan bahwa ada sejum­lah orang dari In­donesia yang dikirim ke Baal­bek, Lebanon. Pada per­temuan yang mem­bahas masalah ketahanan di In­donesia, salah seorang petinggi BIN yang juga aktif di salah satu ormas Islam meng­atakan, “Kelom­pok syiah In­donesia telah meng­irimkan 17 orang melalui jalur bawah tanah untuk dilatih men­jadi petem­pur dan penem­bak jitu ke Baal­bek,” ujar­nya. Kawasan Baal­bek Lebanon dikenal se­ba­gai wilayah kekuasaan milisi Hizbullah pim­pinan Hasan Nas­rullah.

Syiah sen­diri di dunia in­ter­nasio­nal memang dikenal memiliki banyak brigade militan yang memiliki kecakapan militer yang sangat mum­puni. Yang paling dikenal adalah Hizbullah Lebanon dan Is­lamic Revolutio­nary Guards Corps (IRGC), yang sering disebut Korps Garda Revolusi Iran. Pengawal Revolusi ini ter­pisah dari ang­katan ber­sen­jata nasio­nal Iran, yang biasa dipang­gil Ar­tesh(ten­tara; dalam bahasa Per­sia) dan diben­tuk pada Mei 1979 se­ba­gai kelom­pok kekuatan yang loyal kepada Pemim­pin Ter­tinggi Ayatullah Ruhollah Khomeini.

Kemudian, pasukan ini men­jadi kekuatan ber­sen­jata penuh di sam­ping ang­katan ber­sen­jata dalam per­ang Iran-Irak yang memiliki kekuatan poten­sial sebelas juta orang. Garda Revolusi Iran dikenal se­ba­gai kekuatan militer yang memiliki pasukan darat, air, udara, in­telijen dan pasukan khusus. Di sam­ping itu masih ada Pasukan Basij, walaupun Basij merupakan pasukan sukarelawan, dan ter­diri dari 90.000 ten­tara reguler dan 300.000 cadangan.

Pasukan Badar, Milisi Syiah di Jem­ber

Melihat beberapa kasus gejolak sunni-syiah di In­donesia, belakangan kekuatan kelom­pok syiah di In­donesia mulai ter­ukur. Di Sam­pang con­toh­nya, ben­trokan an­tara warga de­ngan para pengikut Tajul Muluk diwar­nai adegan saling menyerang an­tara kedua belah pihak. Bahkan, pihak syiah telah menyiapkan diri de­ngan memasang ran­jau dari bom ikan ber­isi pecahan logam dan kelereng. Wal­hasil, warga yang ter­kena ledakan ran­jau ter­sebut harus diam­putasi kakinya agar bisa diselamatkan.

Saat Kiblat­net ber­kun­jung ke Kecamatan Puger, Jem­ber pada 13 Sep­tem­ber 2013 lalu untuk meng­in­ves­tigasi kasus ben­trokan an­tara warga as­waja de­ngan pen­dukung Pon­pes Darus Sholihin, Kiblat­net men­dapatkan in­for­masi menarik soal keberadaan pasukan semi-militer kelom­pok syiah.

Salah seorang tokoh masyarakat di Puger, Jem­ber menuturkan kepada Kiblat­net bahwa orang-orang syiah sejak lama telah mem­buat pasukan semimiliter yang disebut se­ba­gai Pasukan Badar. Pasukan Badar ini sengaja dibuat untuk meneror acara pelan­tikan pengurus cabang ormas Nahdlatul Ulama (NU).

“Ketika pelan­tikan MWC NU di pon­dok­nya Us­tadz Maulana Syuhada. Itu malam­nya mereka meng­irim Pasukan Badar, pasukan ter­latih. Is­tilah­nya kalau NU semacam Ban­ser-nya. Saat malam kegiatan pelan­tikan NU yang dihadiri oleh mutawakil. Mereka ber­baris de­ngan meneriakkan yel-yel unjuk kekuatan,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Puger kepada Kiblat­net.

Menurut­nya, saat itu masyarakat Puger masih belum banyak yang meng­enal apa itu syiah. Namun, kelom­pok syiah sudah ber­ani unjuk gigi. Mereka ber­baris di jalan menuju Pon­dok pesan­tren yang diasuh Us­tadz Maulana de­ngan yel-yel: “Kami punya kap­ten laut, Ben­dera-ben­dera harap dicabut!”

Yel-yel ter­sebut diteriakkan oleh puluhan orang sam­bil ber­baris meng­elilingi pon­dok. ‘Kap­ten Laut’ yang dimak­sud adalah putera Habib Ali. Sedangkan, ‘Ben­dera-Ben­dera’ yang dimak­sud adalah sekitar 50-an ben­dera NU yang dipasang di sekitar area kegiatan pelan­tikan pengurus MWC NU ter­sebut.

Habib Ali bin Umar Al-Hab­syi, pengasuh Pon­pes Darus Sholihin yang disebut oleh MUI Jem­ber meng­ajarkan syiah memang memiliki seorang anak yang ber­dinas di marinir Ang­katan Laut Surabaya. Ia adalah Mayor (Laut) Isa Al-Mahdi. Saat ini, tanpa alasan yang jelas Isa Al-Mahdi pen­siun dini dari karir­nya di Ang­katan Laut dan men­calonkan diri se­ba­gai caleg DPRD Kabupaten Jem­ber (Dapil 5) dari Par­tai Hanura.

Mayor Isa Al-Mahdi ini yang diang­gap mem­ben­tuk Pasukan Badar. Ia yang memiliki latar belakang militer ditengarai melatih dan meng­ajarkan para san­tri dan jamaah pengajian Habib Ali dari mulai baris-ber­baris hingga keteram­pilan ber­tarung. Di Pon­pes Darus Sholihin memang ter­dapat kegiatan eks­tra kurikuler beladiri seperti pen­cak silat.

Pasukan Badar ini menurut warga sering meng­adakan latihan fisik. Pengikut­nya diper­kirakan ber­jum­lah sekitar dua hingga tiga peleton, yang ber­kisar hingga 150 per­sonel. Warga Puger lain­nya menuturkan bahwa kelom­pok itu memang sering melakukan latihan fisik. Ia menuturkan, “Waktu kami ada acara di kan­tor Kemenag ber­sama Kapolres dan Kasatin­tel, ada yang ber­hasil memfoto saat mereka latihan baris. Kegiatan itu difoto dan dilaporkan kepada polisi untuk dibubarkan, sehingga akhir­nya dibubarkan,” ujar warga yang ber­bicara kepada Kiblat­net de­ngan syarat dirahasiakan iden­titas­nya.

Syi'ah MilitanMabes Badar, gam­bar ini diam­bil saat ben­trokan an­tara warga Puger de­ngan peserta kar­naval dari Pon­pes Darus Sholihin. Foto: Kiblat­net.

__________________________________________

Rupanya, jauh sebelum men­cuat isu sunni-syiah di Jem­ber, kelom­pok syiah lebih siap untuk meng­hadapi kon­disi gen­ting de­ngan adanya Pasukan Badar. De­ngan adanya laporan ke pihak kepolisian, Pasukan Badar disebut-sebut sudah dibubarkan sekitar tahun 2008. Namun, saat Kiblat­net meng­un­jungi Puger sepekan silam, penulis men­dapatkan sebuah jep­retan foto yang menarik. Foto ter­sebut meng­gam­barkan sebuah rumah yang di depan­nya dipasang sebuah tirai bambu yang ber­tuliskan ak­sara ‘Mabes Badar’.

Kemudian, tim­bullah sebuah per­tanyaan. Benar­kah Pasukan Badar telah lenyap paska dibubarkan?

Wallahu a’lam..

Repor­ter: Fajar Shadiq

Editor: Agus Ab­dullah/ http://kiblat.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.731 kali, 1 untuk hari ini)