• Apa kepentingan kita mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Ironisnya, kita umat Islam sering kali takut (merasa tidak enak) terhadap manusia tetapi tidak pernah merasa tidak enak kepada Alloh. Bukankah Alloh telah memerintahkan agar kita hanya takut kepada Alloh saja dan janganlah merasa takut kepada manusia (lihat QS Al Baqoroh : 150, Al Maidah : 3, 44)

« مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ »

 “ Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka ”. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149)

 

Kaum Muslimin yang dirahmati Alloh,

Hari natal adalah hari raya orang Kristen, dimana mereka meyakini bahwa pada hari itu Isa lahir sebagai anak Tuhan. Dilihat dari sudut sejarah, kelahiran Isa ini tidak ada keterangan yang pasti, ada yang mengatakan bulan april, ada yang menyebutkan bulan september dan ada juga yang meyakininya pada bulan januari, bahkan sebagian umat Kristen sendiri ada yang tidak merayakan hari natal karena simpang-siurnya informasi tentang hari pastinya kelahiran Isa.[1]

Al Qur’an telah memberikan kisah untuk dicermati mengenai sejarah kelahiran Nabi Isa, dengan firman-Nya

{فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا } [مريم: 23 – 25]

 “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan, Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu, Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (QS Maryam : 23-25)

Menurut kajian ilmu geografi dan ilmu alam lainnya, pohon kurma itu hanya akan berbuah di musim panas saja. Sedangkan opini yang muncul sekitar perayaan natal adalah adanya salju, pohon cemara (yang sangat sulit tumbuh di gurun pasir), terlebih ditambah dengan adanya sinterklas dan aneka asesoris lainnya di hari natal yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan musim panas di saat pohon kurma berbuah.

MUI sebagai lembaga umat telah memfatwakan bahwa mengucapkan selamat natal hukumnya haram, dengan berbagai alasan. Diantaranya adalah barang siapa yang mengucapkan selamat natal berarti dia merestui keyakinan orang kristen (yang oleh Al Qur’an diklaim kafir) bahwa Isa adalah anak Alloh, karena memang begitulah keyakinan mereka (Kristen) terhadap hari natal. Di kalangan umat Islam sendiri banyak yang mengatakan bolehnya mengucapkan selamat natal jika hanya sebatas sisi kemanusiaan, selama ucapan itu tidak menggusur akidah bagi orang yang mengucapkannya.

Hal ini pernah dilontarkan oleh seorang pemuka agama Islam di indonesia dalam salah satu bukunya dengan cover bertuliskan Best Seller.[ DR. Quraisy Shihab, Membumikan Al Qur’an, Hal 370 – 373] Beliau mengatakan bahwa Al Qur’an sendiri mengabadikan hari kelahiran Isa dengan mengangkat surat maryam ayat 33 “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Penafsiran Beliau ini tidak merujuk pada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya:

« مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلاَّ نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ إِلاَّ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ ».

Sesungguhnya Rasululloh s.a.w bersabda: Tidak ada seorang bayi yang dilahirkan melainkan telah disentuh oleh syaitan. Bayi itu menangis, menjerit karena sentuhan syaitan tersebut kecuali Putera Mariam (Isa as) dan Mariam.[3]

Penafsiran yang tepat mengenai ayat diatas menurut ulama salaf (Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan) adalah selamatnya Isa dan Maryam dari sentuhan setan. Ayat di atas bukan berarti Al Qur’an mengabadikan ucapan selamat natal. Terlebih Al Qur’an sendiri telah menyatakan kafir orang yang mengatakan bahwa Alloh itu tiga (lihat Al Maidah : 17, 72 dan 73)

Selain itu kebolehan mengucapkan selamat natal juga pernah dilontarkan oleh salah seorang pemimpin organisasi Islam yang cukup besar di Indonesia. “Bagi saya, peringatan Natal (Krismas) adalah peringatan kaum muslimin juga. Kalau kita konsekwen sebagai seorang muslim merayakan kelahiran Nabi Muhammad, maka adalah harus konsekwen merayakan malam Natal”.[4]

Menanggapi itu, sebagai muslim yang taat, harusnya kita berpegang teguh pada Al Qur’an (khususnya) surat Al Ikhlash yang dengan tegas mengatakan bahwa Alloh itu Esa, Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan surat Al Kafirun yang menegaskan bahwa bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jadi apa kepentingan kita mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Ironisnya, kita umat Islam sering kali takut (merasa tidak enak) terhadap manusia tetapi tidak pernah merasa tidak enak kepada Alloh. Bukankah Alloh telah memerintahkan agar kita hanya takut kepada Alloh saja dan janganlah merasa takut kepada manusia (lihat QS Al Baqoroh : 150, Al Maidah : 3, 44)

Sejarah telah mencatat, bahwa kepercayaan terhadap anak Tuhan (bayi atau orang yang disucikan) sudah terjadi ribuan tahun yang lalu (Dewa Baal, Dewa Iris dan Osiris, Dewa Cybele dan Deoius, Dewa Portuna dan Yupiter, Dewa Kwan Im dan lain-lian).[5]

Seharusnya, orang yang mengatakan bahwa mengucapkan selamat natal itu tidak haram, dia mampu menunjukkan dalilnya, jangan mengeluarkan pernyataan yang didasari dugaan semata tanpa dalil Al Qur’an dan hadis, jika benar apa yang diucapkannya, maka dia dan orang-orang yang mengikuti fatwanya itu tidak akan menemukan masalah, tapi jika fatwanya itu salah dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama, maka ia bertanggung jawab atas dosa-dosa orang yang mengikuti fatwanya itu.

Rasululloh (dengan petunjuk Alloh) telah menetapkan dua hari raya bagi kita yaitu hari raya fitri dan qurban sebagaimana hadis di bawah ini:

يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا.

“Diriwayatkan dari Aisyah r.a katanya: ……, Rasululloh s.a.w bersabda: Wahai Abu Bakar! Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai Hari Raya dan ini adalah Hari Raya kami (Jami’suh Shahih, hadis no 492).

Dan kita harus mengamalkan surat al kafirun ;

{لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ } [الكافرون: 6]

 “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

 

Saudaraku yang dirahmati Alloh Swt, 

 Sebagai umat Islam tentu sudah selayaknya kita  berpegang teguh dengan apa saja yang telah ditetapkan Alloh Swt, jadi setiap aktivitas yang kita lakukan harus dan wajib terikat dengan hukum-hukum Alloh Swt berikut semua yang telah diajarkan / dicontohkan oleh baginda nabi kita Muhammad saw sebagai suri tauladan yang wajib kita ikuti, Jadi aktivitas yang diperintah kita jalani dan yang dilarang kita tiggalkan itulah orang yang bertakwa.

Aktivitas merayakan Natal dan Tahun baru merupakan aktivitas yang biasa dilakukan oleh orang-orang Nasrani/kristen, Dan segala sesuatu  yang menjadi kebiasaan mereka kemudian kita mengikutinya maka kita menyerupai mereka dan termasuk golongan mereka, ini telah ditegaskan dalam sebuah hadits: Barang siapa yang meyerupai kebiasaan suatu kaum maka termasuk golongan kaum tersebut,    begini bunyi haditsnya yang harus kita pahami :

« مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ »

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka ”. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149)
Hadits ini merupakan acaman berbahaya.

Abdullah bin Amr bin ‘Ash mengatakan:

 “Barang siapa yang tiggal dinegeri orang musyrikin, bertingkah polah seperti orang-orang dinegeri tersebut sampai ia meninggal maka ia akan dibangkitkan bersama-sama orang negeri tersebut. pada hari kiamat. 

Inilah dalil mengapa umat Islam haram beraktivitas merayakan Natal dan Tahun baru. Dan yang lebih parah saat ini banyak dari kaum muslim yang terjebak dengan kata – kata Toleransi beragama, sehingga ikut-ikutan menghadiri dan merayakan hari natal dan menyambut datangnya tahun baru masehi dan yang lebih parah lagi yaitu turut mengucapkan selamat kepada mereka.

 Toleransi, kalau hanya masalah kemanusiaan, masih wajar, karena orang-orang di luar Islam juga dapat diajak mu’amalat dalam kehidupan (seperti tolong menolong, jual beli, dsb). Tapi toleransi masalah keimanan tentu ini tidaklah boleh dan bahkan ini merusak aqidah kita sebagai umat Islam. Jadi toleransi dalam hal yang bekaitan dengan akidah itu tidak dibenarkan . Dan perlu diketahui juga bahwa hari raya kaum muslim hanya ada 2 yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.

 

Saudaraku yang dimulayakan Alloh swt,

 Islam itu agama yang diridhoi Alloh dan Islam itu agama yang paling tinggi dibanding agama – agama yang lain, marilah kita menangkan Islam di muka bumi ini seperti 1300 tahun yang lalu yaitu tegaknya aturan Islam di bawah bingkai sistem Syariat Islam yang dibangun pertama kali oleh baginda nabi kita Muhammad saw, dan diteruskan oleh para Salafush Shalih Ridwanulloh Ajmain dari Kalangan Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in pada waktu itu.

Semoga Alloh membimbing kita kepada kondisi yang lebih diridhai-Nya, tidak menyimpang dari aturan Islam dan tidak bertasyabbuh/Meyerupai dengan kaum kafir dalam acara-acara mereka.

________________________________

Maraji/Catatan Kaki:

[1] Irena Handono, Et Al. Islam Dihujat. Hal

[3] Bukhori-Muslim, Kitab Jami’ush Shahih, No 1381

[4] Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal Bahaya JIL & FLA, Hal 69

[5] Irena Handono, Et Al. Islam Dihujat. Hal 77

 

Oleh: Muhammad Faisal, S.Pd. M.MPd

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat)

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 2.205 kali, 1 untuk hari ini)