Sumber foto Indowarta.com

Penista Agama Dihukum 18 Bulan Penjara

Medan — Terdakwa kasus penistaan agama di Kota Tanjungbalai, Meiliana, dihukum selama 1 tahun 6 bulan penjara. Ia dinilai terbukti bersalah karena ucapannya yang dianggap merendahkan umat Islam sehingga menimbulkan kegaduhan di Kota Tanjungbalai pada 2016 lalu.

“Menyatakan terdakwa Meiliana bersalah, menghukum terdakwa dengan hukuman 1 tahun dan 6 bulan penjara,” ucap hakim ketua Wahyu Prasetyo Wibowo dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (21/8).

Dalam amar putusannya, hakim Wahyu Prasetyo Wibowo menyebutkan, terdakwa terbukti bersalah dengan sengaja melakukan penodaan agama yang dianut di Indonesia.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang sebelumnya juga meminta menghukum terdakwa dengan tuntutan 1 tahun dan 6 bulan penjara. Meiliana didakwa dengan dakwaan primair Pasal 156a huruf a KUHPidana serta dakwaan subsidair Pasal 156 KUHPidana. .

Menanggapi putusan tersebut, JPU Anggia Y Kesuma menyatakan pikir-pikir, sedangkan Meliana melalui Penasihat Hukumnya, Ranto menyatakan banding atas putusan majelis hakim.

Sementara itu usai sidang, Ketua Forum Umat Islam (FUI) Sumut, Indra Suheri menyampaikan kekecewaannya atas putusan itu. FUI Sumut yang sedari awal mengawal kasus itu menganggap vonis yang dijatuhkan kepada Meiliana sangat ringan.

“Penodaan agama ini kan cukup berat. Kami bukan maksud intervensi, tapi kami selaku elemen masyarakat juga punya hak publik  untuk mendapatkan transparansi proses hukum,” ucapnya.

Menurutnya, para saksi ahli yang dihadirkan di persidangan sebelumnya semuanya satu persepsi mengindikasikan terdakwa Meilina memang menistakan agam Islam.

“Makanya kita heran, ini tidak masuk akal. Kami akan coba cari tahu dan akan koordinasikan dengan pengawasan di kejaksaan,” ujarnya.

Diketahui, dalam dakwaan di persidangan disebutkan terdakwa Meiliana mempersoalkan suara azan dari Masjid Al-Maksum di Tanjungbalai. Terdakwa merasa keberatan mendengarkan suara azan dari masjid itu, lantas ia menyampaikan  hal tersebut kepada Mak Uwo atau Kasini seorang warga di lingkungan tersebut yang kemudian meneruskan kepada pengurus masjid.

Meiliana merasa terganggu dengan suara adzan dari masjid tersebut dan meminta untuk dihentikan. Namun, umat Islam di Tanjungbalai merasa keberatan dengan ucapan Meiliana dan kemudian melaporkannya ke pihak berwajib. (wita)

Sumber: harian.analisadaily.com

***

MUI: Vonis Untuk Meiliana Sudah Tepat

Foto: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Kerukunan Umat Beragama Dr. Yusnar Yusuf

Jakarta – Tak sedikit yang memprotes vonis 1,6 tahun penjara terhadap Meiliana, warga Tanjung Balai, Sumatera Utara, dalam kasus penistaan agama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menegaskan putusan tersebut sudah tepat.

Ketua Bidang Hubungan Antar Umat Beragama MUI, Dr. Yusnar Yusuf menegaskan vonis yang ditajuhkan ke Meiliana sudah tepat. Sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Medan menjatuhkan vonis 18 bulan penjara atau 1,5 tahun kepada perempuan asal Tanjung Balai itu karena terbukti melanggar Pasal 156A KUHP tentang penistaan agama.

Yusnar menilai putusan hakim itu penting untuk mencegah terjadinya gesekan di tengah masyarakat. “Vonis itu sudah tepat. Vonis supaya tidak terjadi bentrok antara masyarakat Melayu dengan orang Cina, khususnya Meiliana,” katanya saat dihubungi Kiblat.net, Jumat (24/08/2018).

Ia menjelaskan sebelum terjadi kasus Meiliana kehidupan antar umat beragama di Tanjung Balai sangat baik. Selama ini tidak pernah ada konflik antara etnis Cina dan etnis Melayu. Yusnar pun berpendapat bahwa tindakan Meiliana tidak mengatasnamakan agama tertentu.

“Selama ini kami tidak ada masalah. Itu adalah tindakan Meiliana pribadi, bukan tindakan dia mengatasnamakan agama dan ras,” papar Ketua Umum Al Wasliyah itu.

Oleh sebab itu, pria asli Medan itu menegaskan semua pihak harus menghormati putusan hukum atas Meiliana. “Menurut kami di MUI, kita harus patuh hukum. Yang ditetapkan pengadilan, apakah kita sepakat atau tidak sepakat, itu keputusan pengadilan harus patuh,” tukasnya.

Putusan majelis hakim dalam kasus Meiliaana sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Sebelumnya, JPU dari Kejari Tanjung Balai, Anggia Y Kesuma, juga meminta agar Meiliana dihukum satu tahun enam bulan penjara. Menyikapi vonis ini, Meiliana yang tampak terus menangis bersama pengacaranya menyatakan akan menempuh upaya banding.

Dalam dakwaan JPU sebelumnya, perkara ini berawal saat Meiliana mendatangi tetangganya di Jl Karya, Lingkungan I, kelurahan Tanjung Balai Kota I, Tanjung Balai Selatan, Tanjung Balai, Jumat (22/07/2016) pagi. Dia lalu berkata kepada tetangganya, “Kak, tolong bilang sama uwak itu, kecilkan suara mesjid itu kak, sakit kupingku, ribut,” sembari menggerakkan tangan kanannya ke kuping kanan.

Permintaan Meiliana ini disampaikan ke pengurus BKM Al Makhsum. Mereka lalu mendatangi kediaman Meiliana dan mempertanyakan permintaan perempuan itu, Jumat (29/07/2016) sekitar 19.00 WIB. Meilana pun membenarkan.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Imam S. / kiblat.net

(nahimunkar.org)

(Dibaca 802 kali, 1 untuk hari ini)