Ahok terdakwa penista agama (kiri) Masdar Wong NU, saksi ahli meringankan Ahok (kanan)/ foto rpblkin


Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Rais Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, berpendapat bahwa tidak boleh memaknai surat Al Maidah ayat 51 secara terpisah dari surat Al Mumtahanah ayat 8.

Menurut dia, surat Al Mumtahanah memperjelas kriteria pemimpin yang boleh dipilih. Dua ayat itu harus dilihat secara holistik.

“(Dalam surat Al Mumtahanah ayat 8) bahwa yang tak boleh dipilih sebagai ‘aulia’ (pemimpin) adalah orang non-Muslim yang memerangi kamu dan mengusir kamu dari negeri kamu. Kalau sekadar beda agama, enggak masalah,” kata Masdar saat menjadi saksi dalam sidang dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaha Purnama (Ahok), di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017). Demikian berita BERANINEWS.COM dengan menyebutkan sumber kompas.com.

Rupanya media itu sebegitu kagumnya terhadap wong NU yang dikenal nyeleneh tersebut, hingga memberi judul mencolok dengan ungkapan: Saksi Ahli Agama Dari PBNU Kyai Masdar F Mas`udi Keluarkan Dalil Pamungkas Soal Arti Auliya.

Komentar kami, apabila Masdar F Mas’udi yang pernah berani melontarkan gagasan sangat aneh, yaitu perubahan waktu berhaji (berkonotasi, wuquf jangan hanya tanggal 9 Zulhijjah. Pendapat ini sama dengan merusak syari’at haji) itu sedikit mau jujur, atau sedikit mau tunduk pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits, maka dia akan malu sekali dengan berdalih secara serampangan seperti itu.

Dengan lantangnya dia berbicara bahwa tidak boleh memaknai surat Al Maidah ayat 51 secara terpisah dari surat Al Mumtahanah ayat 8.

Menurut dia, surat Al Mumtahanah memperjelas kriteria pemimpin yang boleh dipilih. Dua ayat itu harus dilihat secara holistik.

“(Dalam surat Al Mumtahana ayat 8) bahwa yang tak boleh dipilih sebagai ‘aulia’ (pemimpin) adalah orang non-Muslim yang memerangi kamu dan mengusir kamu dari negeri kamu. Kalau sekadar beda agama, enggak masalah,” kata Masdar.

Apakah Anda berani jamin, wahai pentolan NU, apa yang kau katakan: “Kalau sekadar beda agama, enggak masalah”?

Perkataan Masdar Farid Mas’udi ini benar-benar serampangan, dan merupakan perkara besar. Karena perbedaan agama (Islam dan kekufuran) itu adalah masalah besar. Islam diridhai Allah Ta’ala (lihat QS Al-Maidah ayat 3), sedang kekufuran sama sekali tidak diridhoi (lihat QS Az-Zumar/39:7). Adanya larangan memilih pemimpin Yahudi dan Nasrani dalam QS Al-Maidah 51 justru kaitannya dengan ridho dan tidak ridhonya Allah itu, di samping untuk maslahat bagi Umat Islam yang mematuhi wahyu Allah yakni ayat Al-Qur’an tersebut. Sedang hidup ini bagi orang Muslim adalah untuk meraih keridhoan Allah, sehingga Umat slam senantiasa berdoa setiap shalat dengan membaca Surat Al-Fatihah agar dihindarkan dari jalan orang yang maghdhub (dimurkai, tidak diridhoi) dan dihindarkan dari jalan dhoolliin (orang-orang yang sesat).

Itu persoalan pertama.

Adapun masalah kedua yang menunjukkan betapa serampangannya pentolan NU yang tampaknya dianggap memiliki senjata dalil pamungkas oleh media-mdia pro penista agama itu, adalah masalah (sang saksi ahli meringankan Ahok ini) hanya asal menghantam ayat pakai ayat yang dia anggap bisa untuk menghantamnya. (Na’udzubillah, saya khawatir, itu termasuk memain-mainkan agama).

Masdar F Mas’udi tidak usahlah seenak perutnya menghantam Al-Maidah 51 pakai surat Al Mumtahanah ayat 8. Apalagi untuk membela orang kafir terdakwa menista agama lagi.

Siapa yang lebih faham tentang Al-Qur’an. Wong NU Masdar F Mas’udi, atau isteri Baginda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, Aisyah yang sangat dibenci oleh orang-orang Syiah yang sering berkoncoan dengan oknum-oknum pengkhianat NU?

Kalau Masdar F Ma’sudi merasa lebih faham, ya silakan, kangkangi ini hadits.

Ada hadits shahih sebagai berikut:

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، قَالَ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ: هَلْ تَقْرَأُ سُورَةَ الْمَائِدَةِ؟ قَالَ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَتْ: ” فَإِنَّهَا آخِرُ سُورَةٍ نَزَلَتْ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهَا مِنْ حَلَالٍ فَاسْتَحِلُّوهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهَا مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ “

وَسَأَلْتُهَا عَنْ ” خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “؟ فَقَالَتْ: ” الْقُرْآنُ “. والحديث صححه شعيب الأرناؤوط في تحقيق المسند. مسند أحمد ط الرسالة (42/ 353)

‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata: Surat terakhir yang diturunkan adalah surat al Maidah.

Ahmad (25588) meriwayatkan dari Jubair bin Nufair berkata:

Saya telah menemui ‘Aisyah dan beliau berkata: “Apakah kamu membaca (hafal) surat al Maidah?, saya menjawab: “Ya”. Beliau berkata: “Surat al Maidah adalah surat terakhir yang diturunkan dari al Qur’an, jika kalian mendapatkan yang halal di dalamnya maka katakan itu halal, dan jika kalian mendapatkan yang haram maka katakan itu haram. Saya juga bertanya kepada beliau tentang akhlak Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka beliau berkata: “Akhlak Nabi adalah al Qur’an”. (Hadits ini dishahihkan oleh Syu’aib al Arnauth dalam Musnad yang sudah diteliti)./ https://islamqa.info/id/21916

 Coba simak baik-baik: Beliau (Aisyah Radhiyallahu ‘anha) berkata: “Surat al Maidah adalah surat terakhir yang diturunkan dari al Qur’an, jika kalian mendapatkan yang halal di dalamnya maka katakan itu halal, dan jika kalian mendapatkan yang haram maka katakan itu haram.”

Yang dibicarakan dalam kasus Ahok ini dan dibela dengan dalil serampanga oleh Masdar F Mas’udi dari NU itu  adalah ayat Al-Maidah 51:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١ [سورة المائدة,٥١]

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [Al Ma”idah,51].

Sesuai dengan penegasan dari Aisyah isteri Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam “jika kalian mendapatkan yang halal di dalamnya (Surat Al-Maidah) maka katakan itu halal, dan jika kalian mendapatkan yang haram maka katakan itu haram,” ternyata para ahli tafsir (bukan hanya diangkat-angkat sebagai saksi ahli untuk meringankan Ahok terdakwa penista agama) menyusun tafsir resmi Departemen Agama RI (kini Kemenag) tunduk patuh kepada petunjuk Aisyah RA itu. Bukan seperti Masdar F Mas’udi yang hanya diangkat-angkat sebagai saksi ahli untuk meringankan Ahok terdakwa penista agama, yang berani berdalil secara serampangan itu.

Berikut ini buktinya.

Surat Al Maidah 51 Menurut Tafsir Resmi Depag RI

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١ فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يُسَٰرِعُونَ فِيهِمۡ يَقُولُونَ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ٥٢ [سورة المائدة,٥١٥٢]

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim
  2. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka  [Al Ma”idah,51-52]

Tafsir

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi da Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Selain dari ayat ini masih banyak ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’aan yang menyatakan larangan seperti ini terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Diulangnya berkali-kali larangan ini dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’aan, menunjukkan bahwa persoalannya sangat penting dan bila dilanggar akan mendatangkan bahaya yang besar. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, juz 6, halaman 442-443, Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an 1985/1986).

Demikianlah. Betapa jauh bedanya, antara penafsiran para ahli tafsir yang menulis tafsir resmi Depag RI, dengan saksi ahli meringankan Ahok yang langsung atau tidak langsung seakan merasa lebih faham tentang ayat Al-Qur’an dibanding Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa sok tahunya, dan betapa memalukannya.

Secara keilmuan saja, kalau tanpa tujuan apa-apa, itu sudah menunjukkan kesombongan luar biasa di atas keserampangannya. Apalagi masih pula demi meringankan Ahok yang non Muslim dalam kasus sebagai terdakwa penista agama.

Oleh karena itu, media yang menyanjung Masdar F Mas’udi setinggi langit seperti berikut ini, terjengkang pula tampaknya dalam kemaluan yang luar biasa.

Silakan simak.

***

Saksi Ahli Agama Dari PBNU Kyai Masdar F Mas`udi Keluarkan Dalil Pamungkas Soal Arti Auliya

BERANINEWS.COM – Rais Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, berpendapat bahwa tidak boleh memaknai surat Al Maidah ayat 51 secara terpisah dari surat Al Mumtahanah ayat 8.

Menurut dia, surat Al Mumtahanah memperjelas kriteria pemimpin yang boleh dipilih. Dua ayat itu harus dilihat secara holistik.

“(Dalam surat Al Mumtahana ayat 8) bahwa yang tak boleh dipilih sebagai ‘aulia’ (pemimpin) adalah orang non-Muslim yang memerangi kamu dan mengusir kamu dari negeri kamu. Kalau sekadar beda agama, enggak masalah,” kata Masdar saat menjadi saksi dalam sidang dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaha Purnama (Ahok), di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017).

Ia menjadi saksi meringankan yang dihadirkan tim kuasa Ahok dalam persidangan.

Masdar menambahkan, Islam memperlakukan sama semua anggota masyarakat. Tak boleh ada diskriminasi berdasarkan perbedaan suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA).

“Yang terpenting bagi Islam itu adil. Bisa enggak melindungi hak warga. Keadilan adalah inti dari keberagaman dan kepemerintahan,” kata dia.

Ahok didakwa melakukan penodaan agama karena mengutip surat Al-Maidah ayat 51 saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu.

JPU mendakwa Ahok dengan dakwaan alternatif antara Pasal 156 huruf a KUHP atau Pasal 156 KUHP.

Saksi dari PBNU Sebut Ada Inkonsistensi Saat Cagub Non-muslim Hanya Dipersoalkan di Jakarta

Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Masdar Farid Mas’udi, membenarkan bahwa kepala daerah non-Muslim yang ikut pemilihan umum tidak hanya ada di DKI Jakarta, tetapi juga di provinsi lain.

Namun, menurut dia, isu mengenai larangan memilih pemimpin Muslim berdasarkan Al Maidah ayat 51 hanya terjadi di Jakarta.

“Ya, itulah inkonsistensi,” ujar Masdar saat bersaksi dalam sidang kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Rabu (29/3/2017).

Masdar menjadi saksi meringankan yang dihadirkan tim kuasa hukum Ahok. Ia mengatakan, masalah ini berkaitan dengan kedewasaan politik warga di suatu wilayah.

Masdar mencontohkan Sadiq Khan, seorang Muslim yang menjadi wali kota di London. Menurut dia, warga di London sudah memiliki kedewasaan politik.

“Jadi saya kira itu kembali kepada kedewasaan politik,” ujar Masdar.

Ia juga mengatakan, seharusnya perdebatan soal memilih pemimpin Muslim tidak terjadi lagi di Jakarta ini.

Seharusnya, kata dia, pertimbangan agama dalam memilih pemimpin hanya ada di internal masyarakat saja.

Pengacara Basuki atau Ahok pun bertanya apakah kasus dugaan penodaan agama ini cenderung politis.

Atas pertanyaan itu, Masdar mengaku sependapat. “Agaknya saya sependapat dengan itu,” kata Masdar.

sumber: kompas.com
/BERANINEWS.COM

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.813 kali, 1 untuk hari ini)