Video:

Video: Nyanyian NU “Ya lal Wathon” di gereja Gresik. Ya lal wathan Islam – Kristen

Kolaborasi dari Mas Bro –santri2 Gus Irul Wringinanom– dan deCouple GKJW Gresik pada silaturahmi lintas iman di GKI Gresik, Selasa, 31 Oktober 2017

“Singir Tanpo Waton” Baru Digaungkan Di Masjid-Masjid, dan di Gereja, sedang Nyanyian “Ya Lal Wathon” Sudah Dinyanyikan di Masjidil Haram dan di Gereja

Video :

“Singir Tanpo Waton” dinyanyikan di Gereja Katolik Ijen Malang (Syiir tanpo waton in even south east asia catolic youth meeting)

Junjungan mereka yakni Gus Dur ninggalin warisan berupa “singir tanpo waton” (syair tanpa landasan). (Sebenarnya, syair ini karya Gus Nizam As Shofa Sidoarjo Jawa Timur –guru tarekat tasawuf, tapi dipopulerkan oleh Imam Nahrowi demi nyaleg PKB, diatasnamakan syair Gus Dur, lalu terkenal begitu, menurut Nizam As Shofa dalam rekaman video).

Kemudian syair itu dinyanyikan di masjid2 pakai pengeras suara. (Lhah, syairnya saja sudah berjudul “tanpo waton” -alias tanpa landasan- kok malah digaungkan di rumah-rumah Allah, masjid-masjid. Aneh tenan, dan tanpo waton tenan). Keanehan itu ditambah lagi, ketika nyanyian “singir tanpo waton” (syair tanpa landasan) itu juga dinyanyikan di gereja dalam menyambut kegiatan Katolik.

Entah kenapa kemudian tampak para fanatikusnya yang memang tampaknya “tanpo waton” (tanpa landasan) berani meneriakkan nyanyian lagu mars “Ya Lal Wathon” di tempat Suci Masjidil Haram Makkah. Di balik itu, nyanyian “Ya Lal Wathan” yang dibanggakan kelompok NU itu beredar pula videonya, tampak dinyanyikan perempuan-perempuan di gereja diiringi musik.

Jadi, nyanyian “Singir Tanpo Waton” (Syair Tanpa Landasan) berbahasa Jawa itu baru sampai di taraf diteriakkan ramai-ramai di masjid-masjid rumah Allah (padahal judulnya saja “tanpo waton” alias tanpa landasan), dan juga di gereja Malang dalam acara Katolik; sedang nyanyian lagu mars NU “Ya Lal Wathon” yang berisi hadits palsu Hubbul Wathon minal iman (cinta tanah air termasuk bagian dari iman) sudah diteriakkan ramai-ramai oleh jamaah umrah Banser NU di Tanah Suci Masjidil Haram Makkah, Februari 2018. Bahkan lagu nyanyian yang dibanggakan NU sampai dipasarkan di film boneka Upin Ipin untuk mempengaruhi anak-anak agar bisa meneriakkan lagu berisi hadits palsu Hubbul Wathon minal iman (cinta tanah air termasuk bagian dari iman) itu beredar pula videonya. Lebih dari itu, beredar pula video, lagu “Ya Lal Wathon” itu dinyanyikan di dalam gereja oleh wanita-wanita gereja berpakaian rok sedengkul diiringi musik, dan ada sejumlah lelaki dalam lantai berkursi di gereja itu di antaranya ada beberapa yang berpeci sebagaimana kebiasaan Umat Islam.

Perlu direnungkan benar-benar, Umat Islam wajib menjaga akhlaqnya. Di manapun berada, apalagi di tempat ibadah, apalagi di Masjidil Haram lebih-lebih lagi, maka wajib menjaga adab-adab yang berkaitan dengan ibadah dan rumah Allah itu. Di antaranya, tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam penting diperhatikan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

Dari Abu Sa’id dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di Masjid, lalu beliau mendengar para sahabat mengeraskan bacaan (Al Qur’an) mereka. Kemudian beliau membuka tirai sambil bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya kalian tengah bermunajat dengan Rabb. Oleh karena itu janganlah sebagian yang satu mengganggu sebagian yang lain dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca (Al Qur’an) atau dalam shalatnya.'” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

***

Jauhnya penyelisihan terhadap tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah kenyataan yang sangat memalukan

Jauhnya penyelisihan terhadap tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah kenyataan yang sangat memalukan, dilakoni oleh golongan yang sudah biasa menyanyikan “singir tanpo waton” yang konon tinggalane Mbah Gus Dur yang dikenal dekat atau akrab dengan wong kristen hingga diberi gelar laskar kristus.

Dalam masa pemerintahannya, Gus Dur senantiasa membuat goncangan-goncangan, dengan melontarkan kata-kata yang mengakibatkan protes aneka tokoh dan masyarakat. Suatu ketika, ada satu kasus di Jawa Barat, lalu Gus Dur menuduh kasus itu melibatkan satu kelompok, dia sebut namanya, tahu-tahu kelompok itu di antara pendirinya adalah ibunya Gus Dur sendiri, dan tidak ada kaitannya dengan kasus yang terjadi.

Sepandai-pandai tupai meloncat, sekali akan gawal juga, kata pepatah.  Secara tragis, Gus Dur dijungkalkan dari kursi kepresidenan 23 Juli 2001 oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) pimpinan Amien Rais, tokoh yang semula ketua Muhammadiyah, dan menjagokan Gus Dur untuk jadi presiden. Tamatlah riwayat kepresidenan Gus Dur.

Meskipun sudah tidak menjabat sebagai presiden, Gus Dur masih mengejutkan bagi umat Islam. Di antaranya setengah tahun setelah ia terjungkal dari kursi kepresidenan, ia dinobatkan sebagai anggota kehormatan Laskar Kristus. Beritanya sebagai berikut:

Wahid Jadi Anggota Kehormatan Laskar Kristus.

Manado – Mantan Presiden Abdurrahman Wahid dinobatkan sebagai anggota kehormatan Legium Christum (Laskar Kristus) kemarin sore (28/ 1 2002). Bertempat di Gelanggang Olah Raga (GOR) Kampus Universitas Manado di Tataaran Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Wahid menerima penobatan itu.

Menurut Sekretaris Umum Legium Christum Lucky Senduk, pemberian gelar anggota kehormatan itu karena gerakan Wahid dinilai sejalan dengan misi LC, yakni mewujudkan dan membangun persaudaraan dengan membawa kasih sejati tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Sebagai anggota kehormatan, Wahid mendapat tugas khusus. “Tugas Gus Dur (Wahid), sebagai ujung tombak menolak pemberlakuan Piagam Jakarta dan melalui NU melindungi orang Kristen di Jawa,” kata Lucky kepada Tempo News Room kemarin. Menurut dia, sebagai pemimpin ormas Islam terbesar di dunia dan di Indonesia Wahid diharapkan dapat memberikan masukan-masukan bagi pemerintahan yang ada untuk menjaga perdamaian.

Sejumlah tokoh di Sulawesi Utara, antara lain dr Sumual, Ferry Tinggogoy, dan wakil Gubernur Sulut Freddy H Sualang juga telah menjadi anggota kehormatan LC. Ferry sendiri adalah Ketua DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Partai Kebangkitan Bangsa Sulut..-verrianto madjowa,( Koran Tempo, Selasa 29 Januari 2002.)

Kemudian pada Agustus 2002, Gus Dur mendiktekan (karena tidak mampu menulis sendiri, berhubung ia tidak dapat melihat) kata pengantar untuk buku Aku Bangga Jadi Anak PKI.Apakah Gus Dur mencantumkan nama bapaknya dalam buku Aku Bangga Jadi Anak PKIdengan menyebutnya sebagai orang yang menentang negara agama, itu dalam rangka tugas khusus selaku Laskar Kristus atau sebagai khidmah (bakti dia) terhadap mendiang guru bahasa Inggerisnya waktu masih pelajar, Ibu Rubiyah seorang Gerwani (wanita PKI), entahlah. Yang perlu diulas di sini hanyalah seperti apa pendapat dan sikapnya terhadap Islam.

Meninggal dan makamnya dianggap bertuah

Sampai akhir hayatnya, Gus Dur tidak terdengar adanya perubahan pendapat dan sikapnya. Bahkan kenyelenehannya pun sampai menghumorkan malaikat dan akherat segala. Dan itu tidak pernah terdengar dia cabut sampai akhir hayatnya. Jadi masih utuh. Termasuk pembelaan-pembelaannya terhadap kekafiran seperti membela Ahmadiyah yang memiliki nabi palsu, membela maksiat goyang joget ngebor Inul dan aneka rupa kepornoan dan sebagainya.

Gus Dur meninggal dalam keadaan membawa itu semua. Meninggal di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo) Jakarta, di seputar hari-hari perayaan orang kafir Nasrani yakni natalan dan menjelang tahun baru 2010, Rabu 30 Desember 2009, dan dikuburkan di Jombang Kamis 31 Desember 2009. Penguburan secara militer dipimpin Presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) dengan diantarkan dari Jakarta oleh Ketua MPR Taufik Kiemas suami Megawati tokoh partai sekuler PDIP yang asalnya gabungan dari partai-partai Nasionalis dan Nasrani.

 Makam dan nisan Gus Dur jadi ajang fitnah baru yang menjurus kepada kemusyrikan. Gundukan tanah kubur menjadi cekung karena tanahnya diambili para fanatikus Gus Dur karena dianggap bertuah hingga dijadikan semacam jimat (bentuk kemusyrikan, dosa terbesar)[1], bahkan nisannya pun diciumi orang.[2] Semua itu belum pernah terdengar larangan dari Gus Dur semasa hidupnya. Karena Gus Dur justru menghidupkan kemusyrikan yang telah terkubur di antaranya ruwatan (acara kemusyrikan yang dipercayai untuk membuang sial).

Sebelum tahun 1990- an, kegiatan ruwatan jarang sekali terdengar dan sudah terkubur alias hilang dari masyarakat.  Tetapi sejak tahun 2000, terutama pada saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, acara ruwatan muncul kembali.  Konon menurut informasi yang beredar, Gus Dur pun diruwat oleh seorang paranormal bernama Romo.  Bahkan di universitas ternama, seperti Universitas Gajah Mada pun melakukan ritual ruwat yang diberi nama Ruwatan Bangsa.

Hadir dalam acara ritual tersebut Presiden Gus Dur, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rektor UGM Ichlasul Amal dengan tontonan wayang kulit berlakon Murwokolo dan Sesaji Rojo Suryo oleh Dalang Ki Timbul Hadiprayitno di Balairung UGM, Jum’at malam 18 Agustus 2000.

Di situ berarti, kemusyrikan yang sudah terpendam itu dihidupkan kembali.  Kalau kubur Gus Dur kemudian jadi ajang yang menjurus kepada kemusyrikan, itu bukan hal yang mustahil. Itulah yang sudah dikhawatirkan oleh Muslimin yang istiqomah menjaga aqidah. Dan itulah bukti dari pentingnya doa dalam shalat jenazah (Muslimin, kalau kafir maka tidak boleh dishalati) di antaranya:

(( اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أجْرَهُ ، وَلاَ تَفْتِنَّا بَعدَهُ ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ )) .  رواه الترمذي من رواية أَبي هريرة والأشهلي . ورواه أَبُو داود من رواية أَبي هريرة وأبي قتادة

أي: اللهم لا تحرمنا أجره في صلاتنا ودعائنا له، ولا تفتنابعده، فهو قد خرج من الدنيا معافى، فلا تفتنا بفتنة تفتننا

عن ديننا بعده،

Ya Allah janganlah Engkau halangi pahala (dalam sholat dan doa) kami untuknya, dan jangan Engkau menjadikan fitnah (terhadap agama) kami sesudah (wafat)nya. Dan ampunilah kami dan dia. (HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Fitnah terhadap agama setelah wafatnya seseorang adalah masalah besar, sehingga dalam shalat jenazah pun disyari’atkan berdoa agar dihindarkan dari fitnah itu. Namun dalam kasus ini, baru saja jenazahnya dikubur sudah langsung timbul fitnah terhadap agama. Di antaranya tanah kuburannya dianggap bertuah, nisannya diciumi orang, kemudian diadakan doa bersama antar berbagai agama dihiasi aneka nyala lilin (bahkan salah satu anak dari mayat ini Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur, menyalakan lilin dalam acara aneka agama itu), bahkan diadakan tahlilan (upacara peringatan orang mati, dan itu tidak ada tuntunannya di dalam Islam) masih pula diumum-umumkan atau diberitakan di berbagai media massa sebelumnya bahwa upacara tahlilan itu akan dihadiri grup musik.  Astaghfirullahal ‘adhiem.

(dari Buku karya Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2010).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.707 kali, 10 untuk hari ini)