فريسة على شعبه

  • Mengapa BNPT sibuk dengan teroris? Pabrik narkoba di mana-mana. Semuanya itu menghancurkan masa depan Indonesia, dan menghilangkan harapan. Siapa yang menjadi ancaman dan masa depan?
  • Akibat birokrasi dan para pemimpin partai yang korup, berapa puluh juta, rakyat dan bangsa Indonesia akan mati secara perlahah-lahan? Indonesia yang kaya sumber daya alam, tetapi masih ada 45 juta rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan? Lalu. Kemana perginya dana APBN yang jumlahnya Rp 1600 triliun itu?
  • Infrastruktur jalan masih banyak yang rusak, pelabuhan yang tidak terawat, gedung sekolah masih banyak yang ambruk, dan betapa banyaknya terjadi in effesiensi dalam pengelolaan negara.

Jakarta Senin, 10 Sep 2012

Adakah terorisme yang akan menjadi ancaman masa depan Indonesia? Selama ini dengan sangat luar biasa BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), secara massive menggencarkan kampanye pemberantasan terorisme, dan melakukan kebijakan de-radikalisasi secara sistematis di Indonesia.

BNPT yang dipimpin Amsyad Mbay, membuat kambing hitam, kelompok Islam radikal, dianggap menjadi ancaman yang permanen, dan satu-satunya ancamana terhadap masa depan Indonesia. Sehingga, melalui berbagai langkah dan kebijakan yang dijalankannya sekarang ini, BNPT melakukan deterren (menghilangkan) pengaruh radikalisme, dan terutama dari kelompok-kelompok militan, yang dinilai membahayakan masa depan Indonesia.

Pemerintah melalui BNPT dan Densus 88, tak henti-hentinya melakukan langkah yang sifatnya sistematis, dan melakukan tindakan preventif menghadapi unsur-unsur dan elemen-elemen yang sekarang dianggap menjadi ancaman terhadap bangsa dan negara. Belakangan ini, bahkan pihak aparat keamana telah bertindak repressif, dan tanpa melalui pembuktian yang dapat dipertanggung-jawabkan menewaskan orang-orang yang dituduh teroris.

Sesungguhnya atau sejatinya siapa yang menjadi ancaman masa depan Indonesia?

Justeru, sejatinya yang menjadi ancaman, semakin menyusutnya ekonomi Indonesia, dan  membengkaknya defisit neraca perdagangan, serta tingkat utang yang terus menggunung. Banyaknya yang miskin dan tidak memiliki pekerjaan.Terjadinya kesenjangan yang terus menganga antara yang kaya dan miskin. Tanpa adanya yang sungguh  memutuskan mata rantai kemiskinan dan kesenjangan yang sudah berlangsung beberapa dekade sejak zamannya Soeharto.

SEmuanya itu,  hanya menggambarkan semakin tidak efektifnya pemerintahan, terutama ketika menghadapi situasi dan perubahan lingkungan strategis serta global. Indonesia menjadi tidak lagi kompetitip, dan kalah menghadapi persaingan global dan regional. Inilah yang menyebabkan Indonesia terus menghadapi defisit perdagangan di era pasar bebas sekarang ini.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, perdagangan internasional yang menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi menghadapi tantangan berat dengan makin banyaknya perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA). “Harus diakui, FTA menjadi ancaman serius bagi ekonomi dan masa depan Indonesia,” ujarnya

Sebagaimana diakui oleh Agus Marto menyatakan, sekarang ini Indonesia hanya menjadi tempat barang-barang import, dan tidak mampu barang-barang Indonesia bersaing di luar negeri, sehingga banyak perubahaan-perusahaan yang gulung tikar. Adanya FTA  membawa konsekuensi yang sangat buruk bagi Indonesia menjadi pasar empuk bagi negara-negara lain. “Kuncinya adalah daya saing industri kita lemah,” katanya.

Pemerintah sudah membuat mega proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dengan mengembangkan enam koridor ekonomi, yakni koridor ekonomi Jawa, koridor ekonomi Sumatera, koridor ekonomi Sulawesi, koridor ekonomi Kalimantan, koridor ekonomi Bali-Nusa Tenggara, dan koridor ekonomi Papua-Kepulauan Maluku.”

Sayangnya, beberapa proyek dalam MP3EI tersebut tidak berjalan sesuai rencana. Misalnya, pengembangan kawasan berikat di beberapa wilayah. “Beberapa proyek tidak jalan karena pasokan listrik yang kurang, pembebasan lahan sulit, dan beberapa sebab lain,” ucapnya.

Jika proyek-proyek MP3EI tidak bisa selesai tepat waktu, maka Indonesia akan menghadapi ancaman serius ketika pada 2015 nanti ASEAN Economic Community (AEC) berlaku. “Itu bisa menjadi ancaman serius ekonomi kita,” tegasnya. Indonesia hanya menjadi tempat jajahan negara-negara maju, tanpa Indonesia mampu berkompetisi terhadap negara-negara maju secara ekonomi.

AEC merupakan salah satu butir kesepakatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-19 yang diselenggarakan di Bali pada “November 2011. Beberapa poin dalam AEC adalah single market dan production base yang berarti arus perdagangan bebas untuk sektor barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan modal.”

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Armida S. Alisjahbana mengatakan, MP3EI kini menjadi fokus utama pemerintah. “Program ini kan lebih banyak membangun infrastruktur yang selama ini menjadi titik lemah ekonomi kita, jadi ini jawaban tepat untuk mendorong daya saing Indonesia,” ujarnya.

Ditengah kekhawatiran tersebut fakta mengejutkan datang dari World Economic Forum. Berdasarkan hasil survey mereka, peringkat daya sing Indonesia justru melemah dengan turun 4 peringkat dan berada di bawah negara-negara lainnya di ASEAN.

Singapura, Hong Kong, dan Jepang kembali menempati papan atas dalam peringkat daya saing ekonomi Asia dan dunia. Menurut survei yang dilakukan World Economic Forum (WEF), Singapura menempati posisi kedua global setelah Swiss, sama seperti tahun lalu. Hong Kong naik dua tingkat ke nomor sembilan. Jepang masih berhasil menempati nomor 10.

Namun, semuanya menjadi titik nadir bagi Indonesia itu, tak lain, bentuk birokrasi yang korup dan suap yang merajalela disinyalir menjadi penyebab turunnya daya saing Indonesia menurut hasil survei yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF). “Ada perhatian khusus terhadap korupsi dan suap, serta biaya tambahan karena risiko kejahatan dan kekerasan,” demikian bunyi survei World Economic Forum yang dikutip, Rabu (5/9/2012).

Daya saing Indonesia turun 4 peringkat menjadi posisi 50 di dunia. Indonesia berada di belakang, Malaysia (25), Brunei Darussalam (28), China (29), serta Thailand (38).

– Birokrasi yang korup dan suap yang merajalela disinyalir menjadi penyebab turunnya daya saing Indonesia menurut hasil survei yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF).

“Ada perhatian khusus terhadap korupsi dan suap, serta biaya tambahan karena risiko kejahatan dan kekerasan,” demikian bunyi survei World Economic Forum yang dikutip, Rabu (5/9/2012).

Daya saing Indonesia turun 4 peringkat menjadi posisi 50 di dunia. Indonesia berada di belakang, Malaysia (25), Brunei Darussalam (28), China (29), serta Thailand (38).

Peringkat Indonesia turun antara lain masalah birokrasi yang kurang menguntungkan untuk bisnis, serta kejahatan dan kekerasan yang dikatakan masih banyak terjadi.

Meskipun begitu, WEF menilai kondisi infrastruktur Indonesia terus membaik. Demikian juga dengan kestabilan makroekonomi yang terus terjadi. Namun fasilitas kesehatan umum menjadi perhatian WEF terkait daya saing tersebut.

Hasil survei WEF menyatakan, negara dengan peringkat daya saing nomor satu di dunia adalah Swiss. Sementara peringkat AS terus turun dari peringkat 5 ke peringkat 7 tahun ini. Posisi nomor 2 diduduki oleh Singapura, dan diikuti Finlandia, dan Swedia.

Swiss yang empat tahun berturut-turut menempati posisi teratas, dinilai memiliki sistem pendidikan paling baik, kemudian perusahaan asal Swiss juga menganggarkan dana besar untuk bidang riset.

Karena itu BNPT seharusnya memformula kembali pandangannya. Siapa yang sesungguhnya yang menjadi ancaman bagi masa depan Indonsia? Terorisme atau birokrasi yang korup? Atau pemimpin partai yang penuh dengan KKN. Kalau yang mati akibat serangan teroris, jumlahnya tidak mencapai 100 orang, meskipun mendapat liputan media massa sangat luar biasa.

Tetapi, akibat birokrasi dan para pemimpin partai yang korup, berapa puluh juta, rakyat dan bangsa Indonesia akan mati secara perlahah-lahan? Indonesia yang kaya sumber daya alam, tetapi masih ada 45 juta rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan? Lalu. Kemana perginya dana APBN yang jumlahnya Rp 1600 triliun itu?

Infrastruktur jalan masih banyak yang rusak, pelabuhan yang tidak terawat, gedung sekolah masih banyak yang ambruk, dan betapa banyaknya terjadi in effesiensi dalam pengelolaan negara.

Mengapa BNPT sibuk dengan teroris? Pabrik narkoba di mana-mana. Semuanya itu menghancurkan masa depan Indonesia, dan menghilangkan harapan. Siapa yang menjadi ancaman dan masa depan? Wallahu a’lam.

Opini redaksi voaislam.com, Senin, 10 Sep 2012, dalam judul Siapa Menjadi Ancaman Masa Depan Indonesia?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 612 kali, 1 untuk hari ini)