Yang menjadi sorotan ketika membahas Syi’ah sebenarnya adalah Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah . Kenapa? Karena Syi’ah inilah yang sering dibahas dan dikritik oleh para ulama di mana saja dan kapan saja. Alasan lainnya adalah karena banyaknya jumlah mereka dan makin meningkatnya aksi-aksi mereka. terutama setelah terjadinya revolusi Iran.

Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah Syi’ah yang mempercayai keimaman dua belas orang imam secara berturut seperti di bawah ini:

  1. ‘Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H)
  2. Hasan bin ‘Ali (wafat 50 H)
  3. Husain bin ‘Ali (wafat 61 H)
  4. ‘Ali Zainal’ Abidin bin Husain (wafat 94 H)
  5. Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal’ Abidin (wafat 117 H)
  6. Ja’far as-Sadiq bin Muhammad al-Baqir (wafat 148 H)
  7. Musa al-Kazim bin Ja’far as-Sadiq (wafat 183 H)
  8. ‘Ali ar-Ridha bin Musa Kazim (wafat 202 H)
  9. Muhammad al-Jawaad ​​bin ‘Ali ar-Ridha (wafat 220 H)
  10. ‘Ali bin Muhammad al-Jawaad ​​(wafat 254 H)
  11. Hasan bin ‘Ali al-‘ Askari (wafat 260 H)
  12. Muhammad bin Hasan al-‘Askari al-Mahdi (ghaib 260 H)

Mereka percaya Imam Kedua Belas telah gaib dan dia akan muncul kembali ke dalam masyarakat setelah dunia ini dipenuhi dengan kezaliman dan kekacauan. Mereka juga percaya kepada al-bada ‘ , a r-raj’ah , tahrif al-Qur’an, kemurtadan para sahabat termasuk Sayyidina Abu Bakar, ‘Umar,’ Utsman – radhiyallaah ta’ala ‘anhum- dan sahabat-sahabat besar Rasulullah -shallallaah ‘alaihi wa sallam- yang lain, ‘ismah para imam dan lain-lain. Biasa juga Syi’ah ini disebut sebagai Syi’ah Imamiyyah atau Ja’fariyyah saja. Syi’ah ini juga dikenal sebagai Rafidhah karena paham-paham dan ‘aqidah-‘ aqidahnya yang melampau.

A. Penyelewengan dari Sudut Aqidah

  • Imam adalah maksum .
  • Kemunculan semua Imam Mahdi dan kelompok orang yang telah mati untuk memberi keadilan.
  • Berpura-pura.
  • Ali sama tarafnya dengan Allah – ta’ala -.
  • Menghalalkan nikah Mut’ah.
  • Khalifah diwasiatkan secara nash.
  • Ilmu Allah berubah-ubah mengikuti suatu peristiwa yang terjadi pada manusia.
  • Muhamad bin Hassan al-Askari adalah Imam Mahdi ali-Muntazar.
  • Mengkafirkan para sahabat Rasulullah – shallallaah ‘alaihi wa sallam -.
  • Menambah syahadat.
  • Menolak hadits yang diriwayatkan oleh ahli sunnah wal jamaah sekalipun hadits Mutawatir.

B. Penyelewengan dari Sudut Syariat

  • Menolak ijma ‘ Ulama.
  • Menolak Qiyas.
  • Mengamalkan Nikah Mut’ah.
  • Menolak ‘aul dan mendahulukan Qurabah dari Asabah dalam masalah Pusaka (warisan).
  • Menuduh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Muawiyah – radhiyallaah ta’ala ‘anhum- sebagai empat berhala Quraisy dan pengikut-pengikutnya adalah musuh Allah -ta’ala- .
  • Hanya ‘Ali – radhiyallaah ta’ala ‘anhu – menghimpun al-Qur’an dengan sempurna.

C. Penyelewengan Umum

  • Menziarahi kubur Sayyidina Hussain, ganjarannya Surga.
  • Menyiksa tubuh dalam rangka 10 Muharram.

Syiah

 

  • Menghina Abu Bakar dan Umar serta dua orang istri Nabi – shallallaah ‘alaihi wa sallam -, yaitu riwayat Aishah dan Hafsah.
  • Memungkinkan jamak shalat dalam semua kondisi.
  • Shalat Dhuha adalah haram.
  • Menetapkan prinsip khumus sebagai penilaian zakat.
  • Imamah dan Khalifah dari rukun Islam dan hanya terjadi melalui nas.
  • Islam bukan syarat wajib haji.
  • Wajib menyapu kedua kaki dan tidak memadai basuh pada keduanya.

Masalah Aqidah Syi’ah

Baiklah kita akan membahas masalah aqidah mereka serba sedikit. Secara umum aqidah Syi’ah bisa dibagi menjadi dua bagian:

Pertama : Aqidah yang didiamkan

Aqidah ini adalah dasar kepercayaan yang ada dalam sumber-sumber Syi’ah tapi tidak disebut lagi pada saat ini dikarenakan:

  1. Kepercayaan tersebut tidak menjadi kesepakatan di kalangan tokoh-tokoh Syi’ah terutama Syi’ah Itsna ‘Asyariyah.
  2. Kepercayaan tersebut tidak mewakili aliran utama Syi’ah, tapi hanya dianut oleh segelintir Syi’ah ekstrim.
  3. Kepercayaan tersebut hanya amalan tradisi masyarakat Syi’ah bukan berdasarkan hujah atau pandangan para tokoh Syi’ah.

Fitur-fitur aqidahnya adalah:

1. Tahrif al-Qur’an . Maksudnya al-Qur’an yang ada sekarang tidak asli lagi. Al-Quran yang asli adalah yang berasala dari perhatian Fatimah ra (Mushaf Fathimah).

2. al-Bada’ yang bermaksud mengetahui tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Kata mereka Tuhan bersifat Al-Bada ‘, sehingga Dia mungkin mengatur sesuatu lalu mengganti ketetapan itu.

3. raj’ah . Maksudnya orang yang mati akan kembali hidup di dunia ini sebelum hari Kiamat. Bila Imam Mahdi muncul, sebagian pengikutnya yang telah mati akan hidup kembali dan berjuang bersama Imam Mahdi.

4. taqiyyah . Artinya berpura-pura. Sikap ini merupakan strategi para tokoh Syi’ah masa lalu untuk menghadapi kezaliman orang yang membenci mereka. Pada saat ini, strategi ini jarang dilakukan oleh Syi’ah kontemporer, bahkan mereka tidak segan-segan mendakwahkan ajaran Syi’ah kepada orang lain.

5. Jelmaan Tuhan . Serpihan Syi’ah yang bernama al-Qaramitah yakin bahwa Ali bin Abi Thalib – radhiyallaah ta’ala ‘anhu – adalah penjelmaan Allah di muka bumi. Ada juga aliran al-Khaththabiyah yang percaya bahwa Ja’far al-Shadiq adalah penjelmaan Allah di muka bumi. Kedua aliran ini tidak mewakili aliran utama Syi’ah dan telah lenyap pada saat ini.

6. Jibril Tersilap . Aliran ini percaya bahwa Jibril – ‘alaihi salam – salah menurunkan wahyu pertamanya. Harusnya diturunkan kepada Ali bin Abi Thalib, tapi malah tersasar kepada Muhammad. Aliran yang bernama al-Ghurabiyah inipun sudah hilang.

Kedua : Aqidah yang ditonjolkan

Ini merupakan aqidah Syi’ah sejak jaman dulu sampai sekarang.

1. Aqidah al-Takfir yaitu yakin bahwa mayoritas sahabat dan umat Islam telah kafir karena tidak meyakini konsep al-Imamah yang di bawa oleh Syi’ah. Syi’ah menganggap jabatan al-Imamah serupa dengan jabatan kenabian ( al-Nubuwah ).Aqidah al-Takfir inilah merupakan pemisah utama antara Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan Syi’ah.

Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah menyayangi dan menghormati para sahabat dan meletakkan sebagai salah satu dasar aqidah karena:

  • Para sahabatlah yang telah mengorbankan jiwa, harta dan keluarga mereka untuk berjuang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga Islam tegak di muka bumi ini.
  • Para sahabat jugalah yang telah mengorbankan kenikmatan hidup dan janji surga untuk keluar dari Madinah setelah kewafatan Rasulullah – shallallaah ‘alaihi wa sallam – demi menyampaikan Islam kepada orang lain hingga ia sampai ke dada kita sekarang ini. Tanpa sahabat, kita semua entah masih menyembah manusia, patung, pohon dan sungai.

Maka atas dasar ini, barang siapa di antara umat Islam yang mengikuti aliran Syi’ah atau paling kurang bersimpati terhadap Syi’ah, berarti dia telah mengabaikan keseluruhan pengorbanan yang pernah dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Padahal dirinya sendiri, jika diminta satu pengorbanan yang amat kecil sekalipun demi agama dan umat, niscaya akan keberatan dengan berbagai alasan yang tidak wajar. Tidak sekedar itu, dia juga telah mengabaikan sekian banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah – shallallaah ‘alaihi wa sallam – yang mempersaksikan pengorbanan dan jasa para sahabat.

2. Aqidah al-Quburiyyun yaitu menjadikan kuburan sebagai pusat aktifitas beribadah karena yakin dengan beberapa keistimewaan dan kemujarabannya. Terhadap kubur, Islam melarang menjadikannya sebagai pusat aktivitas kecuali sekedar shalat jenazah dan mendoakan jenazah karena dua yang terakhir ini memiliki dalil dari Rasulullah – shallallaah ‘alaihi wa sallam -.

Oleh karena itu, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah tidak melaksanakan ibadah apa saja di kuburan seperti shalat, i’tikaf, membaca al-Qur’an, berzikir dan berdoa kecuali apa yang tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu sholat jenazah dan doa kepada jenazah. Berbeda dengan Syi’ah, mereka menganggap kuburan, terutama kuburan para imam dan tokoh mereka, adalah daerah yang memiliki keberkatan yang patut dimuliakan. Dengan itu, mereka juga menjadikan ia tempat beribadah.

Bahkan apa yang diklaim sebagai kuburan Abu Lu’lu’ah orang Majusi yang membunuh Khaklifah Umar bin Khatthab radiyallahu ‘anhu pun dikeramatkan dan dianggap tempat yang megandung berkah “buq’ah mutabarrakah”.

  • Abu Lu’lu’ah pembunuh Umar bin Khatthab disebut baba syuj’auddin
  • Hingga ditulis di Atas Pintu Gerbang Kuburannya, Dengan Disebut : Tempat Berkah Baba Syuja’uddin Abu Lu’lu’ah Fairuz
  • Padahal Dia Majusi

Abu lu'luPintu gerbang apa yang disebut kuburan Abu Lu’lu’ di Iran/ FOTO KASKUS

Bagaimana cara mendekatkan Syi’ah dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah?

Syaratnya adalah:

  1. Syi’ah menghentikan cacian mereka kepada semua sahabat -radhiallahu ‘anhum- .
  2. Syi’ah berhenti memperalat sebagian ayat-ayat dan hadis-hadis yang kononnya telah menetapkan Ahl al-Bait radhiallahu ‘anhum sebagai Imam (al-Imamah) untuk umat Islam.
  3. Syi’ah berhenti dari menyebarkan kisah-kisah sejarah yang palsu tersebut berupa tuduhan kedhaliman dan kebodohan tiga khalifah yang pertama: Abu Bakar al-Shiddiq, ‘Umar al-Khaththab dan’ Utsman bin ‘Affan – radhiallahu ‘anhu m-.
  4. Para tokoh Syi’ah benar-benar melaksanakan ketiga persyaratan di atas dengan meewajibkan semua pengikut Syi’ah, dari khatib sampai penceramah, dari penulis buku sampai blog.

Kenapa aliran Syi’ah semakin meluas?

Salah satu alasannya adalah ketidak-tahuan umat Islam terhadap aliran Syi’ah.Mereka menganggap syiah adalah salah satu dari mazhab Islam seumpama Mazhab al-Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hambali. Maka perlu dijelaskan bahwa Syi’ah adalah satu aliran yang menyangkut penyelewengan langsung pada dasar-dasar agama sedangkan mazhab yang empat hanyalah terkait hukum fiqih, di mana dasar-dasar agama untuk keempat-empat mazhab tersebut adalah tetap sama.

Referensi/Maraji (Catatan Kaki):

  1. Syi’ah Rafidah Di Antara Kecuian (Kelalaian) Ulama dan Kebingungan Ummah
    Oleh: Syaikh Maulana Muhammad ‘Asri Yusoff
  2. Bahaya Syi’ah Kepada Umat Islam (http://hafizfirdaus.com/content/view/166/1/ )
  3. Bahaya Syi’ah ( http://www.darulkautsar.com/article_cat.php?CategoryID=93 ),
  4. Buku Eksklusif “Akhirnya Kutinggalkan Syi’ah” (Testimoni Tokoh Syi’ah) , Karya: Syaikh Abu Khalifah Ali bin Muhammad al-Qudhaibi, yang diterjemahkan Oleh: Ust. Ganna Pryadharizal Anaedi, Lc, Terbitan: Pustaka Imam Ahmad-Jakarta, November 2011
  5. Buku “Mengapa Saya Keluar Dari Syiah? “, Penulis: Syaikh Al-Allamah Dr. Sayid Husain al-Musawi, Terbitan: CV. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, Agustus 2002, Buku “Mengapa Kita Menolak Syi’ah” hal.254-257
  6. Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi’ah, LPPI / Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam, Jakarta, Juli 1998 M, dll

Muhammad Faisal, S.Pd. M.MPd

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 9.694 kali, 1 untuk hari ini)