Dirangkum oleh Hartono Ahmad Jaiz

  1. Mengungkap Kebenaran dalam Urusan Pelik

Ada contoh mengungkap kebenaran dalam urusan pelik dan rumit, namun Allah Ta’ala mentaqdirkan adanya orang yang bijak dan tepat.

Allah Ta’ala mengisahkan Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam satu surat khusus, surat Yusuf. Di antaranya  ada ayat-ayat berikut ini:

{وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (23) وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ (24) وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (25) قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (26) وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (27) فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ (28) يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ } [يوسف: 23 – 29]

  1. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung
  2. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih
  3. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?
  4. Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta
  5. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”
  6. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”
  7. (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah” [Yusuf,23-29]  

Allah telah memberikan ilmu kepada saksi ini, sehingga terungkplah kebenaran dengan ucapannya.

…dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta

  1. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”

Ternyata di dalam perkara yang pelik dan rumit, ada yang diberi kemampuan untuk menyingkap kebenaran.

Media massa menggoreng berita

Coba kita bayangkan di saat kini, di mana media-media ada yang bisa disewa oleh pihak-pihak yang memegang kuasa ataupun harta. Kasus yang pelik dan rumit semacam itu betapa banyaknya celah-celah yang dapat digoreng ke sana-ke mari secara berlama-lama demi membela pihak penyewanya, entah itu benar atau salah. Akibatnya kaburlah kasus sebenarnya, bahkan kemungkinan pihak-pihak yang bertugas menyingkap pun boleh jadi mengaburkannya.

Sebaliknya, dari pihak pembenci, kasus semacam itu juga bisa digoreng untuk kepentingan melancarkan kebencian.

Di sela-sela penjilat dan pembenci itu, sesuai dengan ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut semestinya ada orang yang berkata lurus dan diberi kekuatan untuk menampakkan kebenaran.Hanya saja, kebenaran itu boleh jadi tidak langsung bisa diterapkan, dan baru diakui benarnya setelah entah sekian  lama berlalu. Sebagaimana Nabi Yusuf ‘alaihissalam pun justru dipenjara (atas doa dia kepada Allah Ta’ala), dan baru dikeluarkan setelah sekian lama.

Kebenaran dan kesabaran itu dituntut senantiasa berbarengan.

(Bersambung, insya Allah)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 204 kali, 1 untuk hari ini)