Dirangkum oleh Hartono Ahmad Jaiz

  1. Selayaknya tidak membela kebatilan tetapi memposisikan diri dan berpotensi bisa dimaknakan sebagai memberi angin kepada pengusung kebatilan yang berkuasa.

Binatang cicak yang merupakan binatang kecil tidak begitu berdaya, selayaknya tidak ada potongan untuk membela kebatilan. Tetapi dia memposisikan diri dan bersikap yang bisa dimaknakan sebagai memberi angin berlangsungnya penguasa mengusung kebatilan, dan seolah berhadapan dengan yang melawan kebatilan itu, padahal si cicak bukan pula pembela kebatilan sebenarnya.

Berikut ini penjelasan mengenai cicak, oleh seorang ustadz di sebuah situs.

***

Hikmah Membunuh Cicak

Pertanyaan:

Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, Saya belum memahami hikmah perintah membunuh cicak jika membaca riwayat berikut: Diriwayatkan dari Imam Ahmad, “Bahwasanya ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api maka mulailah semua hewan melata berusaha memadamkannya, kecuali cicak, karena sesungguhnya cicak itu mengembus-embus api yang membakar Ibrahim.” (Imam Ahmad, 6:217)

Cicak yang mengembus agar api semakin membesar terjadi pada masa Nabi Ibrahim. Apakah cicak termasuk hewan terkutuk sehingga ia tetap harus dibunuh hingga akhir zaman? Bukankah cicak mengurangi populasi nyamuk?

Jazakumullah khairan katsira (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan yang banyak).

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Bismillah ….

Pertama: Terdapat banyak dalil yang memerintahkan kita untuk membunuh cicak, di antaranya:

  1. Dari Ummu Syarikradhiallahu ‘anha; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau menyatakan, “Dahulu, cicak yang meniup dan memperbesar api yang membakar Ibrahim.” (HR. Muttafaq ‘alaih).
  2. Dari Abu Hurairahradhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang membunuh cicak dengan sekali bantingan maka ia mendapat pahala sekian. Siapa saja yang membunuhnya dengan dua kali bantingan maka ia mendapat pahala sekian (kurang dari yang pertama), ….” (HR. Muslim).
  3. Dalam riwayat Muslim; dari Sa’ad, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak, dan beliau menyebut (cicak) sebagai hewan fasiq (pengganggu).

Semua riwayat di atas menunjukkan bahwa membunuh cicak hukumnya sunnah, tanpa pengecualian.

Kedua: Sikap yang tepat dalam memahami perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sikap “sami’na wa atha’na” (tunduk dan patuh sepenuhnya) dengan berusaha mengamalkan sebisanya. Demikianlah yang dicontohkan oleh para sahabatradhiallahu ‘anhum, padahal mereka adalah manusia yang jauh lebih bertakwa dan lebih berkasih sayang terhadap binatang, daripada kita. Di antara bagian dari sikap tunduk dan patuh sepenuhnya adalah menerima setiap perintah tanpa menanyakan hikmahnya. Dalam riwayat-riwayat di atas, tidak kita jumpai pertanyaan sahabat tentang hikmah diperintahkannya membunuh cicak. Mereka juga tidak mempertanyakan status cicak zaman Ibrahim jika dibandingkan dengan cicak sekarang. Jika dibandingkan antara mereka dengan kita, siapakah yang lebih menyayangi binatang?

Ketiga: Penjelasan di atas tidaklah menunjukkan bahwa perintah membunuh cicak tersebut tidak ada hikmahnya. Semua perintah dan larangan Allah ada hikmahnya. Hanya saja, ada hikmah yang zahir, sehingga bisa diketahui banyak orang, dan ada hikmah yang tidak diketahui banyak orang. Adapun terkait hikmah membunuh cicak, disebutkan oleh beberapa ulama sebagai berikut:

  1. Imam An-Nawawi menjelaskan, “Para ulama sepakat bahwa cicak termasuk hewan kecil yang mengganggu.” (Syarh Shahih Muslim, 14:236)
  2. Al-Munawi mengatakan, “Allah memerintahkan untuk membunuh cicak karena cicak memiliki sifat yang jelek, sementara dulu, dia meniup api Ibrahim sehingga (api itu) menjadi besar.” (Faidhul Qadir, 6:193)

Keempat: Hikmah yang disebutkan di atas, hanya sebatas untuk semakin memotivasi kita dalam beramal, bukan sebagai dasar beramal, karena dasar kita beramal adalah perintah yang ada pada dalil dan bukan hikmah perintah tersebut. Baik kita tahu hikmahnya maupun tidak.

Kelima: Segala sesuatu memiliki manfaat dan madarat. Kita–yang pandangannya terbatas– akan menganggap bahwa cicak memiliki beberapa manfaat yang lebih besar daripada madaratnya. Namun bagi Allah–Dzat yang pandangan-Nya sempurna–hal tersebut menjadi lain. Allah menganggap madarat cicak lebih besar dibandingkan manfaatnya. Karena itu, Allah memerintahkan untuk membunuhnya. Siapa yang bisa dijadikan acuan: pandangan manusia yang serba kurang dan terbatas ataukah pandangan Allah yang sempurna?

Keenam: Manakah yang lebih penting, antara mengamalkan perintah syariat atau melestarikan hewan namun tidak sesuai dengan perintah syariat? Orang yang kenal agama akan mengatakan, “Mengamalkan perintah syariat itu lebih penting. Jangankan, hanya sebatas cicak, bila perlu, harta, tenaga, dan jiwa kita korbankan demi melaksanakan perintah jihad, meskipun itu adalah jihad yang sunnah.”

Semoga perenungan ini bisa menjadi acuan bagi kita untuk tunduk dan patuh pada aturan syariat Allah. Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, dari Tim Dakwah Konsultasi Syariah.
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Read more https://konsultasisyariah.com/4171-hikmah-membunuh-cicak.html

***

Mari kita simak di antara keterangan ulama tersebut di atas.

Al-Munawi mengatakan, “Allah memerintahkan untuk membunuh cicak karena cicak memiliki sifat yang jelek, sementara dulu, dia meniup api Ibrahim sehingga (api itu) menjadi besar.” (Faidhul Qadir, 6:193)

Mari kita ulangi ungkapan dalam pengantar tulisan ini.

Binatang cicak yang merupakan binatang kecil tidak begitu berdaya, selayaknya tidak ada potongan untuk membela kebatilan. Tetapi dia memposisikan diri dan bersikap yang bisa dimaknakan sebagai memberi angin berlangsungnya penguasa mengusung kebatilan, dan seolah berhadapan dengan yang melawan kebatilan itu, padahal si cicak bukan pula pembela kebatilan sebenarnya.

Bagaimana pun, adanya syari’at seperti itu pasti ada hikmahnya. Bukankah manusia pun keadaannya bisa mirip sikap cicak? Kecil, lemah, dan bukan pembela kebatilan. Tetapi dari sikap dan cara memposisikan dirinya dapat dimaknakan sebagai memberi angin kepada penguasa yang mengusung kebatilan, dan berpotensi seakan berhadapan dengan yang melawan kebatilan yang diusung penguasa atau raja zalim lagi syirik, misalnya. Padahal yang ibaratnya cicak itupun bukanlah pihak yang membela kebatilan.

Begitulah. Betapa dalamnya kebenaran firman Allah Ta’ala:

{وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ} [الذاريات: 20، 21]

  1. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin
  2. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan [Adh Dhariyat,20-21]

Semoga Allah memberkahi orang-orang yang membela dan menampakkan kebenaran. Dan semoga Allah menyelamatkan orang-orang yang sejatinya sama sekali bukan mendukung kebatilan, namun posisinya dianggap seakan memberi angin kepada penguasa yang membawa kebatilan. Semoga terhindar dari yang demikian. Kecuali yang memang justru merasa nyaman dan pas di posisi seperti itu.

Hanya Allah lah Dzat yang Maha Memberi kekuatan sehingga akan tetap diberikan kekuatan kepada hamba-hamba-Nya yang teguh membela dan menampakkan kebenaran. Itulah yang dikecualikan dari tipu daya setan, ketika mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala.

{ قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ (43) لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ (44) إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (45) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ (46) وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (47) لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ (48) نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (49) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ} [الحجر: 39 – 50]

  1. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya
  2. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”
  3. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya)
  4. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat
  5. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya
  6. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka
  7. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)
  8. (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman
  9. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan
  10. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya
  11. Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
  12. dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih [Al Hijr,39-50]

(Bersambung, insya Allah)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 499 kali, 1 untuk hari ini)