Fatwa MUI menegaskan: Umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama. (FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA).

Gus Dur adalah tokoh yang berfaham pluralisme agama, dan belum pernah terdengar beliau menyatakan keluar dari Islam. Ketika demikian, berarti Gus Dur terkena fatwa MUI:

Umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama.

Ketika Gus Dur merupakan tokoh pluralisme agama, dan itu sudah terkena fatwa MUI tentang  haramnya mengikuti faham pluralisme agama, kemudian ada usulan agar Gus Dur diberi gelar pahlawan, maka bila sampai terjadi Gus Dur diberi gelar pahlawan berarti negara ini membunuh fatwa MUI. Maknanya adalah membunuh ajaran Islam yang telah susah payah diperjuangkan oleh ulama dan Umat Islam di antaranya diwakili MUI.

Untuk mengetahui faham pluralisme agama yang diusung Gus Dur, inilah penjelasannya.

Pluralismenya Gus Dur menurut orangnya Gus Dur.

Berikut ini  pemahaman pluralisme yang di antara tokohnya adalah Gus Dur, menurut Moqsith.

Moqsith sendiri yang dia itu orangnya Gus Dur, dalam arti orang yang duduk di lembaga The Wahid Institute yang didirikan Gus Dur, menulis tentang pluralisme, sebelum MUI berfatwa. Inilah pluralisme yang ditulis Moqsith, dan Gus Dur disebut sebagai salah satu tokohnya:

Yang dikembangkan dalam Islam Liberal adalah inklusivisme dan pluralisme. Inklusivisme itu menegaskan, kebenaran setiap agama harus terbuka. Perasaan soliter sebagai penghuni tunggal pulau kebenaran cukup dihindari oleh faksi inklusif ini. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan ada kebenaran pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat  kekeliruan pada agama yang kita anut. Tapi, paradigma ini tetap tidak kedap kritik. Oleh paradigma pluralis, ia dianggap membaca agama lain dengan kacamata agamanya sendiri.  Sedang paradigma plural (pluralisme) : Setiap agama adalah jalan keselamatan. Perbedaan agama satu dengan yang lain, hanyalah masalah teknis, tidak prinsipil. Pandangan Plural ini tidak hanya berhenti pada sikap terbuka, melainkan juga sikap paralelisme. Yaitu sikap yang memandang semua agama sebagai jalan-jalan yang sejajar. Dengan itu, klaim kristianitas bahwa ia adalah satu-satunya jalan (paradigma eksklusif) atau yang melengkapi jalan yang lain (paradigma inklusif) harus ditolak demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis (Rahman: 1996). Dari Islam yang tercatat sebagai tokoh pluralis adalah Gus Dur, Fazlurrahman  Masdar F Mas’udi, dan Djohan Effendi. (Abdul Moqsith Ghazali, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Jakarta, Media Indonesia, Jum’at 26 Mei 2000, hal 8).

Di situ Gus Dur sudah dimasukkan sebagai tokoh pluralisme dalam arti paradigma plural (pluralisme) : Setiap agama adalah jalan keselamatan.  Perbedaan agama satu dengan yang lain, hanyalah masalah teknis, tidak prinsipil.

Moqsith adalah orang di Wahid Institut yang didirikan oleh Gus Dur. https://www.nahimunkar.org/nu-tersihir-faham-pluralisme-dan-multikulturalismenya-gus-dur-2/

Nah, dari situ, berarti Gus Dur adalah tokoh pluralisme agama yang jelas-jelas telah difatwakan oleh MUI tersebut.

***

Gelar pahlawan belum diberikan kepada Gus Dur (Abdurrahman Wahid).

Diberitakan, Dewan Gelar Pahlawan Nasional belum akan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada dua mantan Presiden RI, Soeharto dan Abdurrahman Wahid, pada tahun ini.

Dua gelar pahlawan nasional kepada mantan orang nomor satu di Indonesia itu diendapkan. Dewan Gelar masih menunggu waktu yang tepat untuk menganugerahkan gelar tersebut.

“Diendapkan dan menunggu waktu yang tepat, hanya itu catatan dari Dewan Gelar. Mengapa diendapkan? Silakan dikonfirmasi ke Dewan Gelar,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa setelah mengisi seminar di kampus Universitas Negeri Surabaya, Senin (9/11/2015). /http://regional.kompas.com/ Senin, 9 November 2015 | 13:22 WIB.

Dari sisi lain, ada pandangan yang menganggap Gus Dur tidak pantas jadi pahlawan nasional.

Kutipan ringkas berikut ini, suara yang mencuat.

***

ADHIE MASSARDI: GUS DUR TIDAK PANTAS JADI PAHLAWAN NASIONAL

LAPORAN: ADE MULYANA / SELASA, 10 NOVEMBER 2015 , 22:52:00 WIB

abdurrahman wahid

ABDURRAHMAN WAHID


RMOL.
 Pernyataan mengejutkan disampaikan Adhie Massardi terkait polemik gelar pahlawan nasional untuk mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Adhie Massardi bertugas sebagai jurubicara Gus Dur saat kiai dari Jombang itu menjabat sebagai presiden antara 1999 dan 2001. Setelah Gus Dur lengser pun, Adhie terus mendampingi Gus Dur. Bahkan sampai kini, Adhie Massardi tetap dikenal di kalangan aktivis prodemokrasi sebagai jurubicara Gus Dur dan penerus kebijaksanaan Gus Dur.

Nah, menurut Adhie Massardi dalam perbincangan dengan redaksi, Gus Dur tidak pantas mendapatkan gelar pahlawan nasional karena diberhentikan dengan tidak terhormat dari kekuasannya.

Bukankah, perlakuan yang dialami Gus Dur hanya pantas didapatkan oleh penguasa yang melanggar konsitusi.

“Bagaimana mungkin seorang pemimpin negara yang dituduh melanggar konsitusi dan dijatuhkan dari kekuasaannya bisa mendapatkan gelar pahlawan nasional tanpa direhabilitasi terlebih dahulu nama baiknya?” tanya Adhie Massardi./ http://www.rmol.co/

***

Antara  Penciuman Penyanjung dan Penciuman Kyai yang Tidak Pro Gus Dur

Banyaknya orang yang menyanjung Gus Dur, barangkali saja filter hidung-hidung manusia sudah banyak yang tidak mampu menyaring secara obyektif. Sehingga mereka sudah berubah jadi berhidung lalat, justru merasa sedap ketika bertemu dengan barang busuk apalagi sangat busuk. Makanya bau busuk yang sangat menyengat itu justru sangat wangi bagi mereka, hingga menyanjungnya dan mengelu-elukannya.

Meskipun demikian, masih ada pula kiyai yang sudah benar-benar muak dengan Gus Dur di antaranya KH Ali Yafie, sampai dua kali mundur ketika Gus Dur memimpin.

Pertama, KH Ali Yafie mundur dari petinggi kiyai NU (struktural) ketika Gus Dur jadi ketua umum PBNU karena Gus Dur minta dana dari YDBKS yayasan yang mengelola judi nasional, SDSB yang dulunya bernama Porkas.

Kedua, KH Ali Yafie mundur dari ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) ketika ternyata Gus Dur naik jadi presiden.

***

Ada lagi KH Kholil Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur menilai, pluralisme agama yang diusung Gus Dur sangat berbahaya bagi umat Islam. “Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh

secara pemikiran setelah Gus Dur,” ujarnya.(TEMPO Interaktif, Rabu, 30 Desember 2009 | 23:24 WIB).

Apakah kita akan ikut-ikut jadi lalat yang lebih senang terhadap yang busuk-busuk?

(nahimunkar.com) Bohong Besar, Gus Dur Bela Minoritas!

Posted on Jan 4th, 2010

by nahimunkar.com https://www.nahimunkar.org/bohong-besar-gus-dur-bela-minoritas/

***

Fatwa MUI 2005 tentang haramnya faham PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

 Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M :

Menimbang :

12 1. bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat; 2. bahwa berkembangnya paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama di kalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut; 3. bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.

Mengingat :

  1. Firman Allah SWT :

{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ } [آل عمران: 85]

 “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran [3]: 85)

{إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ} [آل عمران: 19]

 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…”. (QS. Ali Imran [3]: 19)

{لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ } [الكافرون: 6]

 “Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. al-Kafirun [109] : 6).

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا} [الأحزاب: 36]

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. al-Ahzab [33]: 36).

{ لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [الممتحنة: 8، 9]

 “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat  baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. al-Mumtahinah [60]: 8-9).

{وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ} [القصص: 77]

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berbuat kerusakan”. (QS. alQashash [28]: 77).

{وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ } [الأنعام: 116]

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. al-An’am [6]: 116).

{وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ} [المؤمنون: 71]

  “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. al-Mu’minun [23]: 71).

  1. Hadis Nabi saw.:
  2. Imam Muslim (w. 262 H) dalam kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah SAW :

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»

 “Demi Dzat Yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka”. (H.R. Muslim)

  1. Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non-muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi yang beragama Nasrani, al-Najasyi raja Abesenia yang bergama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, di mana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. (riwayat Ibn Sa’d dalam alThabaqat al-Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari).
  2. Nabi saw melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas-komunitas non-muslim seperti komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal di Najran; bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Ahthab adalah tokoh Yahudi Bani Quradzah (Sayyid Bani Quraizah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Memperhatikan : Dengan bertawakkal kepada Allah SWT,

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG PLURALISME, LIBERALISME, DAN SEKULARISME AGAMA

Pertama : Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :

  1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
  2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
  3. Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yangg bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.
  4. Sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hu-bungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Kedua : Ketentuan Hukum

  1. Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
  2. Umat Islam haram mengikuti paham pluralism, sekularisme dan liberalisme agama.
  3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.
  4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

Ditetapkan di : JakartaPada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005M.

Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

  1. Ma’ruf Amin

Ketua

Drs. H.Hasanuddin M. Ag

Sekretaris

Pimpinan Sidang Pleno:

Prof. Dr. H. Umar Shihab

Ketua.

Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin

Sekretaris.

(HIMPUNAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA BIDANG AQIDAH DAN ALIRAN KEAGAMAAN , halaman 92-97/ http://albanjari.eramulti.com/ )

***

Apabila gelar pahlawan tetap akan diberikan kepada Gus Dur, maka perlu dijelaskan kepada MUI dan Umat Islam, agar tidak terjadi kerancuan pemahaman tentang Islam. Negara tidak boleh memunculkan kerancan pemahaman terhadap Umat Islam. Justru secara konstitusi, negara melindungi keyakinan warganya dalm hal ini Umat Islam.

Ketika tetap memberi gelar pahlawan untuk Gus Dur padaha terbukti Gus Dur itu adalah tokoh pluralisme agama yang faham itu telah diharamkan MUI 2005, maka negara bukannya melindungikeyakinan warga (Umat Islam) namun justru mengacak-acaknya.

Oleh karena itu, wajib dijelaskan kepada Umat Islam. Misalnya:

  1. Orang yang berfaham pluralisme agama yang telah difatwakan haramnya faham itu oleh MUI, dinyatakan dia bukan orang Islam. (Hingga ketika diberi gelar pahlawan –statusnya bukan orang Islam— maka tidak menimbulkan kerancuan pemahaman bagi Umat Islam, berkaitan dengan haramnya faham pluralisme agama itu. Kalau tidak, maka berarti justru menjunjung tokoh pluralisme itu, dan membunuh fatwa MUI, yang atinya tidak melindungi keyakinan Umat Islam tetapi merusaknya terang-terangan).
  2. Fahamnya juga tidak boleh diikuti oleh orang Islam.
  3. Pihak MUI dipersilakan untuk menjelaskan kepada Umat Islam, bahwa orang tersebut tidak boleh didoakan oleh Umat Islam, baik di kuburnya atau di tempat lainnya.

Perlu diingat, merusak fisik warga adalah pelanggaran, apalagi dilakukn oleh negara, misalnya. Demikian pula merusak keyakinan sah warga, maka suatu kejahatan besar pula, apalagi oleh negara, misalnya. Sehingga negara tidak boleh melakukan yang walau memberi gelar pahlawan itu merupakan suatu kewenangan, namun ketika hakekatnya merusak keyakinan Umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas negeri ini, maka wajib dihindari.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.788 kali, 1 untuk hari ini)