28 September 2015, Profesor Steven Collins beserta timnya dari Trinity Western University di New Mexico baru saja menggemparkan dunia dengan menemukan kota yang diduga sebagai reruntuhan kaum Sodom Nabi Luth.

Dalam penjelasan pertamanya kepada Popular Archaeology, Profesor Steven Collins memperkirakan bahwa reruntuhan kota yang ditemukan di lembah selatan Yordan berumur antara 3.500-1.540 tahun sebelum Masehi/ Eramuslim – Foto Dokumentasi Reruntuhan Kota Sodom Nabi Luth/ zahid – Kamis, 2 Muharram 1437 H / 15 Oktober 2015 17:30 WIB

***

Membiarkan LGBT berarti menyiapkan diri dan bumi tempat kita berpijak untuk mendapat murka Allah SWT.

Ada dua macam tarikan negatif yang mesti kita kendalikan:
Pertama: Hawa nafsu.
Kedua: Syahwat.

Selama ini dua hal itu kita anggap sama, padahal tidak. Hawa nafsu itu tarikan yang sifatnya ke arah ego. Sedangkan syahwat itu tarikan yang sifatnya fisik/material. Silakan cek al Qur’an.

Kata Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
– Puncak dari mempertuhankan hawa nafsu adalah mempertuhankan diri sendiri, yang tercermin dari ucapan Firaun yang menyatakan dirinya Rabb (tuhan pemelihara).
– Sedangkan puncak dari pemujaan terhadap syahwat adalah homoseksual. (kisah kaum nabi Luth).

Kenapa kita mesti concern tentang LGBT?

Karena kalau kita lihat di Quran hukuman bagi para “pemuja hawa nafsu” itu beda dengan hukuman bagi “pemuja syahwat”.

(1) Pemuja hawa nafsu seperti Firaun, yang dihancurkan itu cuma Firaun dan tentaranya saja. Kota Mesir nya masih tetap ada.

(2) Sedangkan pemuja syahwat itu dihancurkan sampai ke bumi tempat mereka berpijak. TOTAL!!! Artinya kucing dan tikus liar pun yang numpang makan di situ ikut terkena bencana.

Dan itu bukan hanya kejadian di kota Sodom. Kita lihat pola yang sama di Pompeii, lalu di sebuah dusun kecil, Lagetang. Semuanya polanya sama. Pemujaan terhadap syahwat — melampaui batas sampai muncul perilaku homosex — nunggu bencana.

Bahkan itu juga yang terjadi menjelang kiamat… Dalam hadits, digambarkan manusia hilang malunya sehingga biasa untuk ngeseks di pinggir jalan.

Jadi menurut yang saya pahami, perilaku homosex tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus kita cegah… tersebarnya paham tersebut.

Setidaknya bertindak agar jelas posisi kita. Misalnya tidak beli kopi di Starbucks (yang mendukung LGBT), atau kalo mampu, melakukan counter campaign atau penyadaran bagi para homosex.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah kisah tentang “keberpihakan”:

Di saat Nabi Ibrahim dibakar raja Namrud, seekor semut membawa setetes air. Seekor burung kemudian bertanya, “untuk apa kamu bawa air itu?”

“Ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar kekasih Tuhan, Ibrahim.”

“Hahaha… Tak akan guna air yang kamu bawa,” kata burung.

“Aku tahu, tetapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku berada”.

Wallahu a’lam.

***

وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةً۬ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةً۬‌ۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25)

[Ceramah K.H. DR. Muslih Abdul Karim (Pengasuh Pesantren Baitul Qur’an) tentang LGBT]
http://www.portal-islam.id  Sabtu, 16 Desember 2017  LGBT

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.158 kali, 1 untuk hari ini)