Memperbesar dan Memperpanjang Amal


Ilustrasi cover buku Hartono Ahmad Jaiz. 1. Menangkal Bahaya JIL (Jaringan Islam Liberal) dan FLA (Fiqih Lintas Agama). 2. Ada Pemurtadan di IAIN (Maksudnya Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia) terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

 

Sebagian orang mungkin angan-angannya berkisar bagaimana cara memperbesar dan memperpanjang ‘amal’nya.

Yang macam ini mudah ditebak, kehidupan yang ditempuhnya untuk memanjakan sang ‘amal’ yang dimilikinya itu demi meraih kenikmatan dunia.

Sebagian orang yang tujuan hidupnya untuk meraih kebahagiaan akherat, terlintas dalam pikirannya, bagaimana cara memperbesar dan memperpanjang amal kebaikannya di dunia ini untuk bekal di kubur dan di akherat kelak. Lebih2 di saat pandemi seperti sekarang ini, setiap saat terdengar berita adanya orang-orang yang meninggal di sana-sini.

Sekadar cerita, waktu saya sekolah dulu, walau sekolahnya di kota, namun hampir semua murid dari desa-desa. Jarang sekali yang asalnya dari kota. Entah kenapa, sekolah agama, PGA (Pendidikan Guru Agama) saat itu tidak diminati oleh orang kota. Dari kelas saya, 40 murid, yang berasal dari kota hanya 2 orang. Semua lainnya dari desa. (Sayang sekali sekolah PGA itu sudah dihapus tahun 1990-an oleh penguasa yang tampaknya sepertinya semakin menuju ke sekulerisme ini. Bahkan lebih dari itu, lihat dan silakan baca buku saya (Hartono Ahmad Jaiz) berjudul Ada Pemurtadan di IAIN (maksudnya perguruan tinggi Islam se-Indonesia) terbitan Pustaka Al-Kautsar Jakarta. Program menjauhkan dari Islam yang benar itu memang benar2 diprogramkan dan dilaksanakan serta dibiayai benar2. Padahal di masa penguasa sebelumnya, sebelum itu justru kami bersekolah di PGA itu mendapatkan bekal tiap bulan berupa ID (ikatan dinas) untuk nantinya jadi guru agama (Islam) di SD atau Madrasah-madrasah. Mungkin di masa itu para penguasa masih ada secercah penghargaan terhadap Umat Islam, bahwa negeri ini merdeka atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa mengiringi perjuangan mengusir penjajah kafir Belanda dan lainnya, yang dilakukan oleh para pejuang Islam dan dalam perang dipekikkan Takbir Allahu Akbar. Manusia2 yang berkuasa belakangan mungkin sudah tak mau tahu lagi, sehingga sama sekali tak berkenan bila para pejuang Islam yang berjuang meraih kemerdekaan itu Islamnya dikembangkan di negeri yang memang penduduknya terbesar jumlah umat Islamnya di dunia ini. Semoga saja mereka sadar.

Sekolahan PGA-nya sudah ditutup, sedang teman2 saya yang jadi guru agama sudah pensiun, belum tentu ada gantinya, sedang sekolahan2 SD dan madrasah masih ada. Belakangan madrasah2 swasta banyak yang surut, karena merupakan dampak dari ketidak bijakan penguasa yang maaf cinta dunia dan semakin sekuler. Mereka tidak lagi menempatkan guru2 negeri di sekolah madrasah2 swasta. Jadi guru agamanya sudah pada pensiun, tidak ada gantinya, sedang madrasah2nya tidak dibantu lagi dengan tenaga resmi alias pegawai negeri.

Saya jadi ngiri pada Brunei Darussalam, yang justru teman saya ada yang di sana ‘dimuliakan’ dengan diberi rumah dan dijamin kehidupannya ketika dia menjadi guru di sekolah agama khusus calon guru agama. Saya diajak mampir ke rumahnya tahun 1993. Bila dibandingkan di Indonesia, mungkin yang diberi rumah untuk tinggal sebagus dan sekomplit itu, mungkin pejabat yang lumayan berkedudukan agak tinggi. Ternyata kata teman saya itu, bukan hanya gurunya yang dijamin sedemikian rupa, para murid calon guru2 agama itu juga dimuliakan, dijamin makan disertai buah segala setiap masuk sekolah.

Ya memang tampaknya penguasa Brunei menghargai Islam. Bahkan waktu pendemi Corona saat ini, Sultannya pun menginstruksikan masyarakatnya untuk banyak membaca Al-Qur’an, kitab suci Umat Islam. Kenyataannya, hampir tidak terdengar berita gonjang-ganjing pandemi corona di sana. Allah Ta’ala menyayangi para hambanya yang mendekatkan diri, taat patuh kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Bukan malah membenci agamaNya, bahkan membenci tokoh2 Islam dengan berbagai cara, dan menghabisi program2 yang dianggap akan memberi angin segar akan hidupnya Islam, makanya pembenci Islam itu sampai ketika melihat ada perda yang bernuansa Islami saja langsung dibabat habis. Makanya, jauh beda dengan yang menghargai agama Allah seperti negara jiran tersebut, yang tidak terdengar punya utang. Sebaliknya, yang mati2an membabat hal2 yang dianggap akan memberi angin segar kepada Islam, semakin banyak utangnya, dan konon banyak negara yang mulai menjauhinya.

Di saat kondisinya seperti itu, orang-orang yang ingin memperbesar dan memperpanjang amal kebaikannya di dunia ini untuk bekal akherat, justru merupakan kesempatan emas untuk menggunakan umurnya. Mari kita kasihani Umat Islam yang sedang menderita dan semakin djauhkan dari agamanya ini. Kita santuni mereka semampu kita. Kita bimbing mereka ke jalan Allah Ta’ala, agar mereka punya bekal untuk menghadapi maut, tidak malah menjadi pendukung kebohonbgan2 dan kezaliman.

Teman saya yang hidup lagi di desa daerah Sragen Jawa Tengah dan sudah pensiun bercerita, saya dulu waktu sekolah, kalau pelajaran mengaji Al-Qur’an sering dicecar oleh Pak Qawim pengajar Al-Qur’an. Tetapi alhamdulillah, kini di desa ini saya dipercaya mengajar ngaji Al-Qur’an.

Teman saya yang asalnya dari kota, waktu saya mampir, ternyata waktu shalat, dia yang menjadi imam di masjid dekat rumahnya. Bacaannya lumayan bagus. Dia dipercaya jadi imam masjid itu.

Teman saya di daerah Gemolong Sragen yang baru saja meninggal kena corona, juga istrinya, waktu saya sempat mampir ke tempatnya sebelum pandemi, ternyata dia punya peninggalan sebuah masjid yang dia bangun di kebunnya.

Teman dari adik kelas saya, yang kini di Wates Jogja, dia sudah berititel doktor, dan berupaya menyantuni kaum dhu’afa dengan memasak nasi tiap hari untuk dinikmati para kawula alit yang berpenghasilan rendah.

Ternyata memperbesar dan memperpanjang amal itu bisa ditempuh dengan berbagai cara.

Semoga Allah memberkahi amal baik mereka, meridhoinya, dan mari kita gunakan sisa umur ini untuk memperbesar dan memperpanjang amal kebaikan kita untuk bekal di kubur dan di akherat kelak. Bukan malah seperti manusia2 yang anti Islam (walau mengaku Islam) dan hanya ingin memperbesar dan memperpanjang ‘amal’ mereka demi nafsu dunia belaka.

Semoga saja jenis yang terakhir ini mau bertobat, dan menyadari bahwa mereka juga sebentar lagi mati. Betapa ruginya kalau mati dalam keadaan hanya sebagai pengejar dunia, jadi budak nafsu, bahkan budak keserakahan pihak2 kafir yang membenci Islam, sehingga umurnya sia2, malah masih menyengsarakan manusia atau bahkan menyulitkan hamba2 Allah yang mencintai agama Allah Ta’ala.

Bertobatlah wahai para manusia, siapapun orangnya, ada anjuran untuk bertobat, sebelum nyawa tinggal berada di tenggorokan yang sesaat lagi mati, yang saat itu tobat sudah tidak diterima. Terlambat sudah. Sebelum terlambat, coba tengok, ada pemuka negeri berkenan menganjurkan masyarakatnya untuk rajin membaca Al-Qur’an. Dan ternyata negerinya tidak dilanda wabah corona, dan tidak dibebani utang menumpuk.

Meniru kebaikan itu insyaAllah baik juga.

Semoga.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 114 kali, 1 untuk hari ini)