• Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan pergaulan bebas kalangan remaja di daerahnya kini memprihatinkan
  • Banyak salon dan kafe di Banda Aceh jadi tempat mesum pelajar
  • Yang menjadi pertanyaan masyarakat, dalam beberapa tahun terakhir tidak ada hukum cambuk diberlakukan di Kota Banda Aceh meski pelanggar syariat banyak terjaring.

Inilah beritanya.

***

Seks bebas di kalangan remaja marak di Serambi Mekkah seks-bebas-di-kalangan-remaja-marak-di-serambi-mekkah

Setelah diterjang bencana tsunami pada 2004, Aceh menjadi daerah terbuka bagi dunia luar dikarenakan program rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun provinsi berjuluk Serambi Mekkah itu kini menghadapi masalah baru, yakni maraknya pergaulan bebas.

Seks bebas yang merupakan haram dan dosa besar dalam ajaran Islam itu kini juga mewabah di sebagian kalangan remaja di Aceh.

Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan pergaulan bebas kalangan remaja di daerahnya kini memprihatinkan, sehingga dibutuhkan peran masyarakat untuk melakukan gerakan pencegahan.

“Pergaulan bebas, terutama seks bebas di Kota Banda Aceh sudah memprihatinkan karena juga melibatkan kalangan pelajar,” kata Illiza seperti dikutip dari Antara, Jumat (22/3).

Masalah itu, menurut dia, perlu diketahui masyarakat luas dengan harapan ikut mengawasi remaja terutama kalangan orang tua, sehingga anak-anaknya tidak terjerumus pada kemaksiatan. Illiza mengatakan, pihaknya mendapatkan sumber langsung dari sosok pelajar yang pernah terlibat dalam seks bebas.

Remaja atau pelajar yang terlibat dalam seks bebas itu dari keluarga broken home dan berasal dari luar Banda Aceh.

Ia mengajak semua pihak agar mencari solusi bersama dan terbaik guna mencegah penyakit masyarakat tersebut.

“Kepedulian ormas Islam, tokoh masyarakat, pemerintah, tenaga pendidik dan elemen lainnya sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai perbuatan yang merusak nilai-nilai moral dan agama. Syariat Islam harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia menambahkan.

Illiza juga menjelaskan keseriusan Pemkot Banda Aceh dalam mengimplementasikan syariat Islam serta mewujudkan kota madani.

“Banyak hal yang kami lakukan, namun semuanya itu butuh dukungan masyarakat terutama kalangan ormas Islam, sehingga cita-cita menjadikan Banda Aceh sebagai kota madani yang Islami bisa terwujud,” kata dia menjelaskan.

Dijelaskan, Pemkot Banda Aceh bersama instansi terkait serta didukung kepolisian termasuk jajaran Kodam Iskandar Muda telah melakukan razia ke tempat yang dicurigai sebagai lokasi terjadinya pelanggaran syariat Islam.

[hhw]mrdkcom, Reporter : Hery H Winarno

Jumat, 22 Maret 2013 13:04:29

***

Banyak salon dan kafe di Banda Aceh jadi tempat mesum pelajar

Reporter : Hery H Winarno

Jumat, 22 Maret 2013 13:24:00

 Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan pergaulan bebas di kalangan remaja di daerahnya kini memprihatinkan. Untuk mencegah hal tersebut, menurut Illiza dibutuhkan peran masyarakat untuk melakukan gerakan pencegahan.

Selain itu, upaya lain untuk menegakkan syariat Islam, kata Wakil Wali Kota yakni tidak lagi memberi izin baru kepada usaha rumah kecantikan (salon) di Kota Banda Aceh.

“Bukan berarti kami menutup usaha masyarakat, tapi itu semua dilakukan untuk mencegah agar tidak tumbuh usaha yang hanya berkedok salon, namun dalam praktiknya adalah sebagai transaksi prostitusi,” kata Illiza seperti dikutip dari Antara, Jumat (22/3).

Bukan hanya salon, Pemkot Banda Aceh juga tidak mentolerir usaha yang dijadikan sebagai ajang maksiat, seperti kafe-kafe. “Kami menutup kafe jika dalam praktiknya ternyata juga dijadikan sebagai transaksi seks,” kata Illiza.

Pemkot Banda Aceh membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat dalam upaya bersama menegakkan Syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) di Ibu Kota Provinsi Aceh itu.

“Kami butuh dukungan elemen masyarakat, terutama ormas Islam sehingga upaya penegakan Syariat Islam di Kota Banda Aceh bisa berjalan sesuai harapan,” kata Illiza.

Illiza mengatakan, penegakan Syariat Islam yang dilakukan pemerintah tidak berjalan mulus, tapi cukup banyak menghadapi tantangan.

“Namun bagi kami, Syariat Islam harus berlaku kaffah di Kota Banda Aceh. Membangun fisik tidak butuh waktu lama asalkan dananya cukup, tapi yang kita laksanakan adalah merubah perilaku dan itu butuh waktu,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Ketua GP Ansor Samsul B Ibrahim menilai Pemkot Banda Aceh belum memiliki komitmen serius dalam penegakan Syariat Islam kaffah. Seharusnya, kata dia Banda Aceh yang telah mempromosikan diri sebagai kota madani benar-benar memberikan nuansa Islami di berbagai sektor kehidupan.

“Yang menjadi pertanyaan kami, dalam beberapa tahun terakhir tidak ada hukum cambuk diberlakukan di Kota Banda Aceh meski pelanggar syariat banyak terjaring,” kata Samsul.

[hhw]mrdkcom

(nahimunkar.com)
 

(Dibaca 3.712 kali, 1 untuk hari ini)