intelijen – Gaya otoriter Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam menghadapi DPRD DKI menjadi bukti bahwa Ahok tidak mau dikontrol oleh lembaga legislatif.

Pendapat itu disampaikan Ketua ‘Ganyang Ahok’, Alfian Tanjung, kepada intelijen (06/03). “Wataknya Ahok itu otoriter. Ahok tidak mau dikontrol DPRD DKI, makanya ia mencoba mendelegitimasi DPRD DKI Jakarta,” kata Alfian Tanjung.

Tokoh masyarakat Jakarta yang juga Pimpinan Taruna Muslim ini menyerukan agar Ahok segera dilengserkan dari kursi Gubernur DKI. Ahok banyak melakukan tindakan tidak terpuji, salah satunya menindas bawahan.

“Ahok harus lengser. Ahok arogan terhadap bawahan. Lihat saja para PNS di DKI, diintimidasi sama Ahok. Namanya juga bawahan ya pasti takut,” papar Alfian.

Menurut Alfian, tingkah laku Ahok mencerminkan gaya komunis yang suka menindas dan tidak mau dikontrol pihak lain. “Ahok itu seperti pejabat di Cina Daratan, komunis dan memperkaya diri sendiri. Media pendukungnya selalu memujinya walaupun mengeluarkan kata-kata kasar,” ungkap Alfian.

Alfian mengingatkan kepada Ahok dan pendukungnya, bahwa rakyat Jakarta tidak akan berdiam dengan kelakuan Ahok yang telah mencederai rakyat kecil. “Rakyat Jakarta akan berontak meminta Ahok segera turun dari jabatan,” pungkas Alfian.


“Bentak Nenek Berkursi Roda Ahok Harus Lengser”

intelijen – Watak temperamental kembali ditunjukkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ironisnya, gaya ‘marah-marah’ Ahok itu ditimpakan kepada seorang nenek yang duduk di kursi roda saat mengadu persoalan sengketa tanah di Kantor Gubernur DKI.

Pimpinan Taruna Muslim, Alfian Tanjung, menyesalkan aksi Ahok tersebut. “Sebagai pemimpin, Ahok tidak perlu marah-marah. Rakyat Jakarta sudah bosan dengan gaya Ahok seperti itu,” kata Alfian Tanjung kepada intelijen (20/02).

Menurut Alfian, sebagai wakil rakyat DKI, DPRD DKI Jakarta pun sudah melihat gaya kepemimpinan Ahok tidak cocok di Jakarta. “Anggota DPRD DKI Jakarta sudah mengusulkan hak interpelasi dalam kasus anggaran. Dalam kasus ini, semua fraksi sudah sepakat untuk menggunakan hak interpelasi,” jelas Alfian.

Selain itu kata Alfian, hasil kinerja Ahok selama ini tidak terlihat. “Program-program yang dijalankan, pembangunan infrastruktur tidak ada sama sekali. Selama memimpin Jakarta, Ahok tak punya prestasi,” pungkas Alfian.

Sebagaimana disiarkan sejumlah media televisi, Ahok terlihat marah dan sempat menggebrak mobil saat menemui seorang pria yang mengadukan kasus tanah. Warga DKI itu membawa seorang nenek yang duduk di kursi roda, Rabu (18/02).

Sang nenek berkursi roda telah menunggu Ahok sejak pukul 12.00 siang di pintu samping Balai Kota. Bapak dan nenek tersebut mempermasalahkan lahan mereka yang kini dibangun Rumah Sakit Puri Indah, Jakarta Barat.


Mungkin Ini Era yang Dimaksud Nabi

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menguraikan ringkasan sejarah ummat Islam sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus hingga datangnya As-Sa’ah. Uraian tersebut berisi lima babak perjalanan umat Islam dengan karakter kepemimpinan pada masing-masing babak tersebut.

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِفَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Masa (1) kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa (2) Kekhalifahan mengikuti Minhaj (metode) Kenabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang masa (3) Raja-raja yang Menggigit selama beberapa masa, selanjutnya datang masa (4) Raja-raja/para penguasa yang memaksakan kehendak (diktator) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali (5) Kekhalifahan mengikuti Minhaj (metode) Kenabian. Kemudian Rasul terdiam.” (HR. Ahmad – Shahih)

Babak demi babak telah dilalui umat Islam dan hari ini kita hidup di babak keempat yaitu era kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Babak ini merupakan babak paling kelam di dalam keseluruhan sejarah umat Islam. Mengapa? Karena di babak keempat ini kepemimpinan dunia berada di tangan kaum kafir. Sedangkan di negeri-negeri berpenduduk muslim para pemimpinnya mengekor kepada kepemimpinan dunia berupa kaum yahudi dan nasrani tersebut sampai masuk ke dalam lubang biawak (baca: kehancuran).

Ini telah di-nubuwwah-kan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak limabelas abad yang lalu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, niscaya kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum yahudi dan nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka? (HR. Muslim – Shahih)

Namun demikian, orang beriman tidak merasa sedih dan menjadi pesimis menyadari realita pahit dunia hari ini.

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Mukmin tahu dan yakin bahwa masalah kejayaan dan keruntuhan suatu umat merupakan sunnatullah yang telah digariskan Allah ta’ala. Ada gilirannya kaum kafir berjaya dan akan ada saatnya kaum kafir mengalami keruntuhan. Ada gilirannya kaum beriman merasakan derita kekalahan dan akan tiba saatnya kaum beriman meraih kemuliaan dan kejayaan.

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS. Ali Imran: 140)

(br/nahimunkar.com)