Memusuhi Islam! China Komunis Perintahkan Warga Uighur Lapor Jika Ada Muslim yang Puasa Ramadhan, untuk Dihukum

 

  • Warga wajib menghadiri upacara pengibaran bendera di waktu Magrib, agar mereka tak bisa buka puasa dan ketahuan siapa yang berpuasa.  
  • Setiap tahunnya juga, kelompok Uighur di pengasingan menyerukan dunia untuk bersuara terkait nasib Muslim di Xinjiang. Kongres Uighur Dunia (WUC) di Jerman mengatakan negara-negara Muslim seharusnya “malu karena diam saja” atas situasi di Xinjiang.  
  • PBB memperkirakan ada lebih dari 1 juta Muslim Uighur yang disekap di kamp-kamp konsentrasi di China atas tuduhan terorisme. Di kamp berkedok lembaga pelatihan ini, mereka diperlakukan dengan buruk, dipaksa menanggalkan agamanya, dan patuh pada Partai Komunis China. 

     


 

Setiap tahunnya, warga Muslim Uighur di Xinjiang, China, dikekang kebebasannya melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Tahun ini pun demikian, bahkan warga Uighur diminta melaporkan jika ada Muslim yang berpuasa. 

 

Bagi pemerintah China, puasa dan ibadah lainnya selama bulan Ramadhan adalah ekstremisme beragama. Tahun ini, seperti diberitakan Radio Free Asia (RFA) akhir pekan lalu, tidak jauh berbeda.  

 

Di beberapa wilayah Xinjiang, masjid-masjid dikendalikan dengan ketat, restoran diminta untuk tetap buka. Para warga Uighur yang lanjut usia diminta untuk berjanji sebelum Ramadhan bahwa mereka tak akan berpuasa atau salat Tarawih, jadi contoh Uighur lainnya. 

 

Hal ini diakui sendiri oleh pejabat pemerintah di kota Makit, Xinjiang, yang 83 persen warganya adalah Uighur. Kepada RFA, dia mengatakan, alasan pelarangan itu adalah untuk “keamanan nasional”. Itulah sebabnya sudah dua hingga tiga tahun ini, kata dia, orang-orang Muslim di desanya tak lagi berpuasa Ramadhan. 

 
 

“Jika mereka puasa, mereka akan berkumpul untuk makan, dan jika mereka berkumpul, mereka akan mengganggu masyarakat, mereka mengancam keamanan nasional. Itulah mengapa kami menentang Ramadhan,” kata pejabat yang tidak disebut namanya itu. 

 

Dia juga mengatakan, warga harus melaporkan jika ada Muslim yang berpuasa kepada aparat. “Jika kami menemukan orang berpuasa Ramadhan, kami akan memberi tahu pejabat yang bertanggung jawab di desa atau kota itu,” kata dia. 

 

“Kami lalu memberitahu polisi, tapi karena kami belum menemukan satu orang pun yang berpuasa di kota, kami belum mendapatkan laporannya,” lanjut dia. 

 

Jika ditemukan ada yang berpuasa, dia mengancam akan menghukum mereka, termasuk mengirim ke kamp konsentrasi. 

 

PBB memperkirakan ada lebih dari 1 juta Muslim Uighur yang disekap di kamp-kamp konsentrasi di China atas tuduhan terorisme. Di kamp berkedok lembaga pelatihan ini, mereka diperlakukan dengan buruk, dipaksa menanggalkan agamanya, dan patuh pada Partai Komunis China. 

 

Pelaporan warga yang puasa ini juga dibenarkan oleh polisi di Urumqi, ibu kota Xinjiang. Dia mengatakan ada panduan khusus selama Ramadhan bagi aparat dan ada catatan orang-orang yang puasa serta ke masjid di bulan suci. 

 

“Iya, ada. Kami ada unit polisi khusus untuk melacak itu,” kata dia. 

 

Berbagai cara juga dilakukan pemerintah Xinjiang agar Muslim Uighur tak puasa. Salah satunya di Jiashi, Kashgar. Warga wajib menghadiri upacara pengibaran bendera di waktu Magrib, agar mereka tak bisa buka puasa dan ketahuan siapa yang berpuasa.  

 

“Karena kami melakukan upacara pengibaran bendera, pengawasan antarwarga diperkuat, jadi tidak ada yang bisa buka puasa,” kata seorang pejabat di Jiashi. 

 

Selain itu, mereka juga menggelar studi politik dari pukul 21.30 hingga 11.30, waktu untuk salat Tarawih di bulan Ramadhan. 

 

Setiap tahunnya juga, kelompok Uighur di pengasingan menyerukan dunia untuk bersuara terkait nasib Muslim di Xinjiang. Kongres Uighur Dunia (WUC) di Jerman mengatakan negara-negara Muslim seharusnya “malu karena diam saja” atas situasi di Xinjiang.  

 

WUC Jerman menyerukan negara-negara Muslim untuk “merekatkan kembali keyakinan dan nilai-nilai yang mereka pegang untuk melakukan hal yang benar dengan menyerukan China menghentikan kejahatan kemanusiaan terhadap Uighur.” 

 

Hal yang sama disampaikan oleh lembaga Kampanye untuk Uighur (CFU) yang berbasis di Washington, Amerika Serikat. Mereka mengatakan, puasa Ramadhan seharusnya mengingatkan kita tentang penderitaan dan perjuangan orang susah.  

 

“Untuk itu, kami meminta Anda melakukan hal yang sama. Ingatlah orang-orang Uighur yang dijauhkan dari keluarga mereka, mereka yang dipersekusi karena agama mereka yang damai, dan mereka yang dipenjara tanpa kesalahan apa-apa,” kata CFU. (*)

Gelora News 
18 Mei 2020

***

Jokowi Pernah Menolak Kedatangan Delegasi Muslim Uighur yang Dizalimi China

Posted on 3 April 2019

by Nahimunkarcom

 

Video

TERKUAK…Apa Negara Kita Ini Negara Merdeka, Apa Negera Yg Sedang Terjajah Oleh Tiongkok?

Prof Salim Said : Presiden Menolak Delegasi Uighur Yg Didampingi Pak Dien Yg Akan Memberikan Al Qur’an, Krna Tdk ingin Membuat Tersinggung Pemerintah Tiongkok#TenggelamkanPDIPerjuangan pic.twitter.com/5baUWkiiB1

— DEWO.PB (@putrabanten80) April 2, 2019

Inilah beritanya.

***

Ungkap Delegasi Uighur Ditolak Jokowi, Salim Said: Indonesia Merdeka Apa Dijajah China?

Eramuslim.com – Komitmen pemerintah Indonesia terhadap nasib muslim Uighur di Xinjiang China, diragukan oleh Pengamat pertahanan dan keamanan, Salim Said.

Dalam sebuah video wawancara dengan salah satu stasiun TV swasta, Salim mengungkap fakta bahwa Presiden Joko Widodo pernah menolak kedatangan delegasi Uighur di Istana Kepresidenan.

 

“Delegasi muslim Uighur datang diantar oleh Din Syamsudin, sudah datang di depan Istana mau ketemu presiden, (tapi) ditolak presiden,” kata Salim Said dalam cuplikan video yang diunggah akun twitter @putrabanten80, Selasa (2/4).

Padahal, kata Salim, Jokowi bisa saja mendapat citra yang positif jika sudi menerima delegasi Uighur yang beberapa waktu belakangan menjadi sorotan dunia, termasuk perhatian dari Indonesia.

Namun yang cukup mencengangkan, Presiden Jokowi justru menolak delegasi dengan alasan yang dianggap tidak masuk akal.

“Orang ini (Uighur) datang bawa AlQuran tulisan tangan sebagai hadiah kepada presiden RI, presiden sebuah negara dengan penduduk Islam yang besar, itu kan bagus kalau diterima, tapi katanya ditolak,” jelasnya.

“Ini sumbernya Din Syamsudin, presiden tidak ingin menyakiti hati pemerintah China,” imbuhnya.

Mendengar alasan tersebut, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) ini menganggap bangsa Indonesia saat ini tak ubahnya seperti saat masih mengalami masa penjajahan.

“Ini kan aneh. Apa kita ini bangsa merdeka apa bangsa terjajah oleh Tiongkok?” tandasnya.


DEWO.PB@putrabanten80

TERKUAK…Apa Negara Kita Ini Negara Merdeka, Apa Negera Yg Sedang Terjajah Oleh Tiongkok?

Prof Salim Said : Presiden Menolak Delegasi Uighur Yg Didampingi Pak Dien Yg Akan Memberikan Al Qur’an, Krna Tdk ingin Membuat Tersinggung Pemerintah Tiongkok#TenggelamkanPDIPerjuangan

[rm]/eramuslim.com – Redaksi – Rabu, 26 Rajab 1440 H / 3 April 2019

***

Sebaliknya, para teroris pembakar Masjid Tolikara di Papua justru dijamu Jokowi di Istana Jakarta.

***

Teroris GIDI Pembakar Masjid Dijamu di Istana, Akankah Jokowi Juga Jamu Pembakar Gereja?

Posted on 17 Oktober 2015 – by Nahimunkarcom


Teroris gidi pembakar mesjid dijamu jokowi di istana/ foto posmetro

Aceh Singkil  di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam  rusuh, Selasa siang (13/10). Tepatnya di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah. Kerusuhan bernuansa agama itu memakan korban nyawa dan gereja dibakar.

Terkait peristiwa ini, pemilik akun @JudasSaveYou di Twitter melontarkan pertanyaan yang menggelitik. “Gak diundang ke Istana sama Jokowi?” katanya.

Sebagaimana diketahui, sejumlah tokoh Gereja Injili di Indonesia (GIDI)—yang diduga berada di balik pembakaran masjid di Tolikara, Papua, ketika jamaahnya sedang melaksanakan solat Idul Fitri—malah diundang ke istana oleh Joko setelah peristiwa pembakaran tersebut. [pn]

Demikian berita yang diringkas dari posmetro.info, 14 Oktober 2015

***

Ancaman Allah Ta’ala terhadap yang setia kepada orang kafir

Setiap muslim diancam oleh Allah Ta’ala, bila setia alias loyal kepada orang kafir maka dinilai sebagai bagian dari mereka. Dan itu disebut oleh Allah Ta’ala sebagai

tingkah yang “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka”.

Firman Allah Ta’ala yang menegaskan masalah itu cukup banyak. Di antaranya:

 تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ [المائدة/80، 81]

(80) Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (81) Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Al-Maaidah: 80, 81)

 ] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51)

{ ومن يتولهم منكم } أي أيها المؤمنين { فإنه منهم } ، لأنه بحكم موالاتهم سيكون حرباً على الله ورسوله والمؤمنين وبذلك يصبح منهم قطعاً) أيسر التفاسير للجزائري – (ج 1 / ص 356)(

Karena konsekwensi kesetiaan kepada mereka (Yahudi dan Nasrani)  itu akan menjadikan perang terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Dengan demikian pasti akan menjadi bagian dari mereka. (Al-Jazaairi dalam tafsirnya, Aisarut tafaasiir juz 1 halaman 356).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 590 kali, 1 untuk hari ini)