Ilustrasi: Menag Lukman Hakim Saifuddin/ foto ukkfapertaunsoed

  • Rekomendasi muballigh yang dikeluarkan Kemenag merupakan kebijakan keliru. Kebijakan Kemenag tersebut harus dibatalkan karena membuat gusar masyarakat.
  • Kebijakan itu juga dikhawatirkan akan menimbulkan kegaduhan. Untuk itu, Amien meminta Lukman dan Presiden Joko Widodo merespons aspirasi masyarakat, membatalkan kebijakan itu agar tidak menimbulkan polemik, saran mantan Ketua MPR Amien Rais.

Menteri Agama, mundurlah. Ciri pemimpin yang berjiwa besar itu mau mundur kalau ternyata keputusannya keliru. Begitulah pernyataan tokoh reformasi, yang juga mantan Ketua MPR Amien Rais saat berada di Senayan kemari (21/).

Ketua Dewan Kehormatan PAN itu ditanya pendapatnya tentang daftar 200 penceramah yang dikeluarkan Kementerian Agama.

Daftar itu kini terus membuat gaduh. Nyaris, tak ada muballigh atau ulama yang membenarkan langkah Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin mengeluarkan daftar tersebut. Bahkan tak sedikit yang mengeritiknya sebagai upaya pengkotakan, blunder, dan berpotensi memecahbelah ulama.

Tidak juga Ketua Umum PB NU, KH Agil Siradj, yang selama ini dikenal tidak pernah berseberangan dengan pemerintah. Agil malah mengatakan, seharusnya Menteri Agama mendaftar (merilis-red) yang dilarang berceramah, bukan justru muballigh yang boleh berceramah karena jumlahnya sangatlah banyak.

Menurut Amien, rekomendasi mubaligh yang dikeluarkan Kemenag merupakan kebijakan keliru. Kebijakan Kemenag tersebut harus dibatalkan karena membuat gusar masyarakat.

Kebijakan itu juga dikhawatirkan akan menimbulkan kegaduhan. Untuk itu, Amien meminta Lukman dan Presiden Joko Widodo merespons aspirasi masyarakat, membatalkan kebijakan itu agar tidak menimbulkan polemik.

“Jadi Pak Lukman Hakim atau yang di atasnya, Pak Presiden itu melihat aspirasi masyarakat. Cabut, but, selesai,” ujar Amien.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyebut kebijakan Kemenag tersebut sebagai bentuk kekonyolan dan harus dicabut.

Ketua MPR, Zulkifli Hasan juga memberika komentar pedas. ‘’Kementerian agama blunder….blunder besar. Cabut dan minta maaf,’’ kata Zulhas – panggilannya – ketika ditanya. Maksudnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin harus minta maaf kepada masyarakat.

‘’Kita harusnya mempersatukan, bukan memecah belah…ya. Ini separuh diambil, separuh dipijak, gak boleh begitu, itu mecah belah namanya,’’ tegas Zulhas, seraya menekankan Lukman Hakim menarik daftar itu.

Secara terpisah, Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan juga beranggapan rekomendasi 200 Mubalig versi Kementerian Agama (Kemenag) yang tidak tetap, bisa membingungkan Umat Islam. Apalagi, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi pernah mengatakan 200 nama mubalig yang direkomendasikan Kemenag tidak wajib dan tidak mengikat. Menurut Taufik, ini akan semakin membingungkan masyarakat. (lya)

Harianterbit.co

***

Dewan Dakwah: Cabut Daftar Penceramah Kemenag, karena Diskriminatif

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Muhammad Siddiq.

Foto: Republika/Rakhmawaty La’lang

Daftar penceramah itu bisa memicu persepsi tak baik di antara para dai.

JAKARTA — Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) meminta Kementerian Agama (Kemenag) mencabut daftar 200 penceramah ‘plat merah’ yang menuai pro dan kontra di masyarakat. Pencabutan daftar 200 penceramah ini dianggap penting untuk menghindari polemik dan efek negatif selama bulan Ramadhan.

“Kita meminta Kemenag mencabut daftar 200 penceramah itu, kita tidak ingin daftar tersebut memunculkan polemik yang negatif sehingga mengganggu ketentraman antar umat Islam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan,” ujar Ketua Umum DDII Mohammad Siddik kepada wartawan, Ahad (20/5).

Walaupun ada beberapa nama dai dari DDII yang dimasukkan Kemenag dalam daftar nama ini, namun DDII menilai munculnya daftar ini telah memunculkan persepsi yang tidak baik diantara para dai atau ustaz yang tidak masuk dalam daftar tersebut. Persepsi itu, menurut Mohammad Siddik, seolah dai atau ulama yang tidak terdaftar adalah anti pemerintah atau anti-Pancasila hingga pendukung kelompok radikal.

Persepsi ini sudah muncul di berbagai akun media sosial. Padahal, kata dia, ustaz-ustaz itu bukan pendukung kelompok radikal.”Daftar 200 penceramah dari Kemenag ini diskriminatif, bahkan di zaman Orde Baru yang represif sekalipun tidak pernah ada kejadian seperti ini,” ungkapnya.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Teguh Firmansyah / republika.co.id

***

Tukang Musik di Gereja-Gereja dan Pembela Nabi Palsu pun Masuk Daftar 200 Mubaligh Kemenag

Sementara itu nahimunkar.org menyoroti tajam: Rancunya Daftar 200 Muballigh Rilisan Kemenag, Ada Emha (Pengoplos Shalawat dengan Nyanyian Gereja), dan Moqsith (Pembela Nabi Palsu Moshaddeq)

Emha dengan Kiai Kanjeng di Munkiniemi Church, Helsinki, Finlandia/ foto ist.

Buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul ‘Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Ummat’ ini membeberkan Moqsith membela nabi palsu Moshaddeq berhadapan dengan MUI. di tivi.

Betapa tidak mutunya. Lha wong Emha Ainun Najib pesangkres alias pentolan pemusik bahkan pengoplos shalawat dengan nyanyian gereja pun dimasukkan dalam daftar 200 muballigh rekomended keluaran Kemenag Ramadhan 1439/2018. Bahkan pembela nabi palsu Moshaddeq dan pembela Lia Eden pembuat agama baru Salamullah, yakni Abdul Moqsith Ghazali dimasukkan pula dalam daftar muballigh yang direkomendasikan Kemenag itu.

Abdul Moqsith Ghazali inilah yang bersama Ulil Absahar Abdalla (dari pihak liberal) berhadapan dengan Hartono Ahmad Jaiz dalam bedah buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’, di UIN Jakarta, 16 April 2005. Untuk mengetahui betapa jauhnya penyimpangan pemikiran Moqsith, silakan baca hasil pantauan dari acara  bedah buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’ itu di link ini: https://www.nahimunkar.org/melawan-setan-jil-di-sarangnya/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 760 kali, 1 untuk hari ini)