Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin benar-benar menjadi bahan cemoohan peserta aksi Bela Palestina di Monumen Nasional (Monas), Ahad (17/12/2017). Bahkan saat Lukman mulai sambutan, teriakan turun pun menggema.

“Turun…turun…turun…,” ujar peserta di belakang panggung./ ( http://poskotanews.com Ahad, 17 Desember 2017 — 10:15 WIB )

Peristiwa langka ibarat  ulo marani gebuk (ular mendatangi gebuk) menurut orang Jawa itu telah terjadi.

kenapa?

Pertama, Menag Lukman baru saja melontarkan perkataan yang kurang respek terhadap para aktivis 212. Hingga muncul tulisan di media: Penulis Senior: Reuni Alumni 212 Dipertanyakan & LGBT tak Dipertanyakan, Menag Agamanya Apa?

Penulis senior Zara Zetira mengkritik keras pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang mempertanyakan acara reuni alumni 212.

“Reuni #212 dipertanyakan oleh mentri Agama yang tidak mempertanyakan acara LGBT. Mentri agama kita agamanya apa ya?” kata Zara di akun Twitter-nya @zarazettirazr.

Zara mempertanyakan sikap Menteri Agama yang mengizinkan LGBT bahkan mendatangi acaranya.

“Agama apa yang MENGIZINKAN seks sesama jenis atau LGBT? Mohon pengarahan “mentri” Agama tentang Agama?” kata Zara.

Ia meminta menteri bahkan Presiden tidak membuat pernyataan yang mendiskreditkan Islam.

“Mau Presiden mau Mentri kalau ngaku Islam janganlah kalian buat statemen2 yang mendiskreditkan umat Islam as simple as that we are not stupid u know?” pungkas Zara.

(lihat Penulis Senior: Reuni Alumni 212 Dipertanyakan & LGBT tak … )

Kedua, Umat Islam Indonesia sedang resah karena adanya keputusan MK yang berkonotasi bahwa zina kumpul kebo dan LGBT tidak dapat dipidanakan. Keresahan itu sedang memuncak, hingga masyarakat mengkhawatirkan, adanya gempa di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta, Jumat (15/12) sekitar pukul 23.47 WIB, merupakan murka Allah akibat dari adanya pembiaran tentang kemaksiatan tingkat tinggi (zina kumpul kebo dan LGBT) yang  tidak dapat dipidanakan tersebut. Sedang Menag Lukman dikenal sebagai wong yang menghadiri acara pemberian hadiah untuk kaum homosex LGBT. Di antara berita kehadiran Menag di acara LGBT itu sebagai berikut:

GIB: Menteri Agama Terang Benderang Dukung LGBTIQ

JAKARTA Kehadiran dan dukungan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada acara pemberian penghargaan kepada komunitas LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseksual dan Queer) sangat disayangkan berbagai pihak.

Seperti diketahui pada ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-22 yang juga diisi dengan pemberian penghargaan bagi LGBTIQ, Jumat (26/8/2016) Menag Lukman hadir dan memberi pidato kebudayaan. (Baca juga: Astaghfirullah, Menteri Agama Hadiri Acara Pemberian Penghargaan Komunitas LGBT).

Tindakan Menag Lukman ini mendapat protes keras dari Gerakan Indonesia Beradab (GIB), sebuah himpunan dari 206 organisasi kemasyarakatan. (voa-islam.com)

Ketiga, acara Bela Palestina di Monas Jakarta itu diprakarsai MUI. Sedangkan MUI telah bersuara keras terhadap Menag Lukman soal kehadirannya di acara LGBT. Bahkan sampai tokoh MUI menekankan agar Menag Lukman bertobat.

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain berpendapat, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin tidak cukup hanya meminta maaf lantaran telah memberikan pidato kebudayaan pada acara Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Sebab, acara yang diselenggarakan pada 26 Agustus tersebut juga diisi dengan pemberian penghargaan bagi LGBTIQ. “Sebagai menteri agama, apalagi beliau itu Muslim, tidak cukup minta maaf saja. Selain minta maaf kepada rakyat Indonesia, beliau juga wajib tobat,” kata Tengku saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (31/8).

Tengku melanjutkan, kelompok LGBTIQ merupakan kelompok yang dilarang di berbagai agama. Maka dari itu, sangat tidak pantas jika seorang Menteri Agama menghadiri acara yang melibatkan kelompok tersebut. (nhimunkar.com, Hadiri Acara Penghargaan Dan Mendukung LGBT, MUI: Menag … ).

Keempat, MUI telah mengeluarkan buku tentang penyimpangan-penyimpangan syiah. Buku Panduan MUI, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” tetap harus diterbitkan. Buku MUI tersebut hadir karena amanah fatwa MUI tahun 1984 untuk mewaspadai masuknya ajaran Syiah di Indonesia. Dan alhamdulillah buku itu sudah tersebar luas di masyarakat, ungkap ketua umum MUI KH Ma’ruf Amin. (lihat Ketua MUI: “Buku MUI Tentang Penyimpangan Syiah adalah Amanat … ).

Sebaliknya, Menag Lukman pernah mempersilakan syiah untuk muktamar di kantor kemenag, bahkan di ruang Prof Dr HM Rasjidi. Padahal HM Rasjidi itu penentang syiah paling depan di Indonesia (di antaranya sampai menulis buku Apa Itu Syiah, berisi betapa sesatnya syiah) dan menteri agama pertama di republik ini, yang fotonya pun dipajang di kantor kemenag.

Syiah-Sesat

“Ironis, Kementerian Agama RI pun terperdaya, sehingga memberi izin organisasi Syiah dapat bermuktamar di gedung ‘HM.Rasyidi’ Kemenag beberapa bulan lalu,” kata Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), KH Athian Ali Dai.

Sungguh menyakitkan, karena hal itu tidak pernah diberikan kepada organisasi-organisasi Islam yang ada di Indonesia,” lanjutnya. https://www.nahimunkar.org/ironis-kementerian-agama-pun-terperdaya-oleh-syiah/

Kita tau, KH. M. Rasjidi adalah seorang ulama besar Indonesia yang telah lebih dulu menyadarkan umat akan kesesatan Syiah dengan bukunya yang terkenal, “Apa itu Syiah”. Karena itu, betapa ironisnya ketika Gedung Auditorium KH. M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jl MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat dipakai untuk muktamar ABI (syiah) pada hari Jumat 14 November 2014/21 Muharram 1436H.

Acara syiah itu sangat tidak patut disenggarakan, apalagi di kantor Kemenag, bahkan ruangan HM Rasjidi pelopor penentang syiah. Karena jelas bertentangan dengan Surat Edaran Depag Nomor D/BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983 perihal “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah” (Syiah Imamiyah Bertentangan dengan Ajaran Islam), juga bertentangan dengan fatwa MUI Jatim, No.Kep-01/SKF-MUI/JTM/1/2/2012./gensyiah.com. Fatwa tentang syiah itu sesat menyesatkan, dapat dibaca di sini: https://www.nahimunkar.org/inilah-selengkapnya-fatwa-mui-jatim-tentang-kesesatan-syiah-yang-telah-dinyatakan-sah-oleh-mui-pusat/

Menag Lukman juga sama dengan melecehkan Surat Edaran Departemen Agama yang menegaskan, syiah imamiyah bertentangan dengan Islam. Selengkapnya, surat edaran itu dapat dibaca di sini: https://www.nahimunkar.org/surat-edaran-departemen-agama-2/

Sikap Menag Lukman mendukung syiah dengan berbagai upaya yang menyakiti Umat Islam se-Indonesia itu sama dengan melecehkan almarhum menteri agama pertama, sekaligus menyakiti Umat Islam se-Indonesia yang khawaitir sekali akan bahaya syiah.

Kasus syiah Iran sejuta orang berhaji ke Karbala di Irak itu seandainya masih tidak bisa difahami sesatnya oleh Menag Lukman, agaknya masih mudah untuk diberitahukan kepada aparat, bahwa syiah itu menodai agama, ngakunya Islam tapi qiblatnya bukan Ka’bah namun Karbala. Dengan begitu tinggal diberitahu agar jangan lagi para aparat memberi izin dan menjagain acara2 syiah. Karena secara hukum di Indonesia pun syiah itu terbukti menodai agama (Islam) dan itu sudah divonis oleh MA (Mahkamah Agung). Ini beritanya: https://www.nahimunkar.org/syiah-terbukti-menodai-agama/ .

(lihat ini: Melecehkan Almarhum HM Rasjidi Menteri Agama Pertama, dan … )

Keempat, Menag Lukman berkomplot dengan pentoln-pentolan syiah, liberal, dan pembel aliran sesat; bahkan para penyesat itu diboyong untuk seminar di Jerman. Berikut ini beritanya:

Menag Lukman “Jualan” Islam Nusantara di Jerman dengan Para Dedengkot Syiah, Liberal, Kristen, dan Pendukung Lia Eden

by Nahimunkar.com, 13 Oktober 2015

Islam Nusantara merupakan model ajaran Islam yang tepat. Tidak mengklaim hanya agama sendiri yang benar.

Ungkapan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin itu diunggah di Fb Kementerian Agama RIyang memuat berita dari Pinmas hari ini.

Dijelaskan, Seminar tentang “Pluralism, Fundamentalism and Media” di Frankfurt Book Fair (FBF) ini menghadirkan beberapa nara sumber, antara lain: Frans Magnis Suseno, Susane Schrõter, Haidar Bagir, dan Ulil Abshar Abdalla. Tidak kurang dari 80 orang partisipan ikut dalam kegiatan ini, termasuk dari Indonesia seperti Dubes RI untuk Jerman, Fauzi Bowo, Dawam Rahardjo, Slamet Rahardjo, Luthfy Syaukani.

Tampaknya sosok-sosok yang hadir di samping Menag Lukman itu adalah para pentolan syiah, liberal, dan kristen, bahkan ada pendukung Ahmadiyah yang juga mendukung Lia Eden yaitu Dawam Rahardjo.

Demi “jualan” Islam Nusantara, dengan ucapannya itu Menag Lukman rela menghantam Umat Islam Indonesia maupun di dunia sejak zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kini. Pasalnya, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam justru yang menegaskan, hanya Islam lah agama yang benar. Selain Islam maka sesat, tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan masuk neraka.

Landasannya Firman Allah Ta’ala dan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)

 “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran:85).

Yang disebut dengan agama Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adalah agama yang beliau bawa, bukan agama yang lain.

Sebagaimana termasuk dari kaidah dasar aqidah Islamiyah adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad diutus kepada segenap umat manusia. Allah I berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ (28)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28). (nahimunkar.com)

Kelima: Misi yang diemban, diusung dan dipasarkan Menag Lukman dengan apa yang mereka sebut Islam Nusantara itu pada hakekatnya justru mengembalikan kepada kemusyrikan, karena tidak mengakui hanya Islam lah agama yang benar ( di sisi Allah Ta’ala). Dan itu sangat berbahaya, lebih bahaya dibanding pembunuhan. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan kemusyrikan baru, yakni inklusivisme ataupun pluralism agama ataupun multikulturalisme, dan sebagainya (jenis-jenis dari faham liberal agama, yang merelaifkan kebenaran Islam dianggap relatif sama dengan agama-agama lain, dan itulah sejatinya kemusyrikan baru, yang kini disebut Islam Nusantara),  maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan; maka masuk neraka. Hingga ditegaskan dalam Al-Qur’an,

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Al-Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya,

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir Ath-Thabari juz 3 halaman 565).

Demikianlah bahaya yang dihadapi Umat Islam Indonesia. Dan kasus ini bagai wis kebak sundukane, kata orang Jawa (wis akeh anggone gawe piala; Kebak sundukane = kakehan dosa, akeh sing disulayani, sudah banyak berbuat yang menyelisihi kebenaran).

Semoga semua itu jadi pelajaran bagi kita semua.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.880 kali, 1 untuk hari ini)