Kehadiran dan apresiasi Menteri Agama terhadaan Award untuk kelompok LGBT ini sangat disayangkan umat Islam.

Bahkan sebuah petisi online mendesak agar Menteri Agama Lukman Saifuddin Harus Mengundurkan Diri.

Berikut ini transkrip video wawancara dengan Menag Lukman yang teah beredar di media

Menteri Agama Lukman: Adalah memaknai award ini penghargaan ini sebagai bentuk bahwa ada komunitas saudara-sudara sebangsa sesama kita yang memiliki situasi dan kondisi boleh jadi tidak sama dengan kita yang memerlukan perhatian memerlukan atensi dan karena perlu pengayoman rangkulan dari kita semua tanpa harus mempersoalkan perbedaan-perbedaan baik yang sifatnya filosofis atau yang kaitannya dengan agama dan sebagainya. Tapi sebagai sesama sudara sebangsa saya pikir kita semua harus tergerak bagaimana bisa bersama-sama membantu persoalan-persoalannya yang mereka hadapi.

Pewawancara;  Bagus sekali.. sekarang Mahkamah Konstitusi sedang membuat…

Menag; Itu informasi meskipun saya tidak mendalam tetapi saya mendengar itu dan tentu kita tunggu prosesnya karena kita percaya pada proses hukum dan kita tahu Mahkamah Konstitusi adalah sebuah lembaga peradilan kehakiman mahkamah yang memang diberikan kewenangan untuk memutus terkait dengan undang-undang. Mudah-mudahan para hakim konstitusi memiliki kearifan untuk pada akhirnya memutuskan yang terbaik bagi seluruh bangsaIndonesia.

Pewawancara: Terakhir Pak… apa kritik

Menag: Kritik? Saya pikir tidak ada yang perlu dikritik. ya itu bagian dari ekspresi yang mereka rasakan dan itu menurut saya sesuatu yang baik karena dengan begitu apalagi…

Demikian isi video wawancara singkat.

***

Kalau kemudian Menag Lukman mengklarifikasi bahwa dirinya tidak tahu dan semacamnya, maka pertanyaannya, siapa mendustakan siapa?

Dengan adanya kasus ini maka telah beredar petisi agar Menag Lukman mengundurkan diri.

Memang ramai dibertakan, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memberikan Penghargaan Suardi Tasrif Award kepada organisasi Forum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer Indonesia (LGBTIQ Indonesia) dan IPT 65. Organisasi ini dianggap menyuarakan kebebasan berekspresi kaum minoritas di Indonesia, dan mengupayakan rekonsiliasi negara dengan masa lalu kelam.

Penghargaan ini diberikan dalam rangkaian ulang tahun ke-22 Aliansi Junalis Independen (AJI) pada Kamis, 25 Agustus.

Pemberian penghargaan untuk LGBTIQ ini dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang malam itu menyampaikan orasi kebudayaan sebagai puncak acara.

Menteri Agama Lukman Saifuddin dalam orasi kebudayaannya menekankan keberagaman sebagai ciri bangsa Indonesia yang belakangan banyak terancam.

Link: www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/08/160826_indonesia_tasrif_awards

Menag Lukman juga mengapresiasi pemilihan kedua organisasi (LGBTIQ dan IPT 65) sebagai pemenang penghargaan.

“Memaknai award/penghargaan ini sebagai bentuk bahwa ada komunitas saudara-saudara sebangsa sesama kita yang memiliki situasi dan kondisi yang tidak sama dengan kita yang memerlukan perhatian atensi pengayoman tanpa harus mempersoalkan perbedaaan baik yang sifatnya filosofis atau yang kaitannya dengan agama,” kata Menag Lukman usai acara penghargaan. (lihat video)

Kehadiran dan apresiasi Menteri Agama terhadaan Award untuk kelompok LGBT ini sangat disayangkan umat Islam.

Bahkan sebuah petisi online mendesak agar Menteri Agama Lukman Saifuddin Harus Mengundurkan Diri.

***

Begini Hukum Syariat Islam Menyikapi Banci dan Pelaku LGBT

Hukuman Bagi Kaum Luth

Di zaman mirip jahiliyah seperti sekarang ini, banci atau waria (mukhannats) malah mendapatkan apresiasi. Mereka begitu dilindungi dengan maraknya kampanye kaum lesbianisme, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yang berkolaborasi dengan orang-orang liberal. (Baca: Sesat, Ade Armando Sebut Allah tidak Haramkan LGBT)

Bahkan, salah seorang banci/waria beberapa waktu lalu sempat mendaftarkan diri dalam seleksi anggota Komnas HAM. Tak hanya itu, mereka pun menggugat  para pejabat yang melarang dan mengecam LGBT.(Baca: Pelaku Maksiat LGBT Gugat Para Pejabat)

Dalam Syariat Islam, banci/waria atau pelaku LGBT dengan kelainan mental mendapatkan sanksi berat, bukan malah dilindungi apalagi dipopulerkan. Tak main-main, sanksi bagi banci dari mulai ta’zir hingga hukuman mati bila ia melakukan perilaku seks yang menyimpang seperti homo seksual. Lelaki banci yang sengaja bertingkah seperti wanita (pura-pura) tidak lepas dari dua keadaan:

Pertama: Laki-laki yang sengaja bertingkah sebagai banci tanpa terjerumus dalam perbuatan keji, ini tergolong maksiat yang tidak ada had maupun kaffaratnya. Sanksi yang pantas diterimanya bersifat ta’zir (ditentukan berdasarkan pertimbangan hakim), sesuai dengan keadaan si pelaku dan kelakuannya. Dalam hadits disebutkan, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjatuhkan sanksi kepada orang banci dengan mengasingkannya atau mengusirnya dari rumah. Demikian pula yang dilakukan oleh para Sahabat sepeninggal beliau.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: «أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلاَنًا، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

Dari Ibnu Abbas, katanya, “Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki mukhannats dan para wanita mutarajjilah. Kata beliau, ‘Keluarkan mereka dari rumah kalian’, maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengusir Si Fulan, sedangkan Umar mengusir Si Fulan” (HR. Bukhari).

Adapun ta’zir yang diberlakukan meliputi:

1. Ta’zirberupa penjara.

مذهب الحنفية : أن المغني والمخنث والنائحة يعزرون ويحبسون حتى يحدثوا توبة

Menurut madzhab Hanafi, lelaki yang kerjaannya menyanyi, banci, dan meratapi kematian pantas dihukum dengan penjara sampai mereka bertaubat. (Al-Mabsuth, 27/205)

2. Ta’zirberupa pengasingan.

ومذهب الشافعية والحنابلة :نفي المخنث مع أنه ليس بمعصية وإنما فعل للمصلحة

Menurut madzhab Syafi’i dan Hambali, seorang banci hendaklah diasingkan walaupun perbuatannya tidak tergolong maksiat (alias ia memang banci asli). Akan tetapi pengasingan tadi dilakukan untuk mencari kemaslahatan. (Mughnil Muhtâj, 4/192; al-Fatawa al-Kubra, 5/529)

Ibnul-Qayyim rahimahullâh mengatakan,

من السياسة الشرعية نص عليه الإمام احمد قال في رواية المروزي وابن منصور المخنث ينفي لأنه لا يقع منه إلا الفساد والتعرض له وللإمام نفيه إلى بلد يأمن فساد اهله وإن خاف عليه حبسه. بدائع الفوائد 3 / 694

“Termasuk siasat syar’i yang dinyatakan oleh Imam Ahmad, ialah hendaklah seorang banci itu diasingkan; sebab orang banci hanya menimbulkan kerusakan dan pelecehan atas dirinya. Penguasa berhak mengasingkannya ke negeri lain yang di sana ia terbebas dari gangguan orang-orang. Bahkan jika dikhawatirkan keselamatannya, orang banci tadi boleh dipenjara” (Badai’ul Fawaid 3/694).

Kedua: banci yang melakukan praktik homo seksual dan lesbi atau pelaku LGBT

Sebagian Hanabilah menukil ijma’ (kesepakatan) para shahabat bahwa hukuman bagi pelaku gay atau homo harus dibunuh. Mereka berdalil dengan hadits:

مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمَ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَ الْمَفْعُوْلَ بِهِ

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya.“ (HR. Ahmad)

Abdullah bin Abbas berkata,

يُنْظَرُ إِلَى أَعْلَى بِنَاءٍ فِي الْقَرْيَةِ، فَيُرْمَى اللُّوْطِيُّ مِنْهُ مُنَكِّبًا، ثُمَّ يُتَّبَعُ بِالْحِجَارَةِ

“Ia (pelaku gay) dinaikkan ke atas bangunan yang paling tinggi di satu kampung, kemudian dilemparkan darinya dengan posisi pundak di bawah, lalu dilempari dengan bebatuan.”

Sedangkan Imam Abu Hanifah rahimahullâh berpendapat,

وذهب أبو حنيفة إلى أنّ عقوبته تعزيريّة قد تصل إلى القتل أو الإحراق أو الرّمي من شاهق جبل مع التّنكيس ، لأنّ المنقول عن الصّحابة اختلافهم في هذه العقوبة

“Hukumannya adalah ta’zir yang bisa sampai ke tingkat eksekusi, (seperti:) dibakar, atau dilemparkan dari tempat yang tinggi. Sebab para sahabat juga berbeda pendapat tentang cara menghukumnya.” (Al-Mabsuth 11/78).

Ketiga, para wanita pelaku lesbi.

Sementara bagi pelaku lesbi, berbeda dengan homo seksual alias gay. Lesbi adalah perbuatan yang haram. Para ulama menggolongkannya sebagai dosa besar. Para ulama sepakat bahwa pelaku lesbi tidak dihukum had. Karena lesbi bukan zina. Hukuman bagi pelaku lesbi adalah ta’zir, dimana pemerintah berhak menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini.

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ لا حَدَّ فِي السِّحَاقِ ; لأَنَّهُ لَيْسَ زِنًى . وَإِنَّمَا يَجِبُ فِيهِ التَّعْزِيرُ ; لأَنَّهُ مَعْصِيَةٌ

Ulama sepakat bahwa tidak ada hukuman had untuk pelaku lesbi. Karena lesbi bukan zina. Namun wajib dihukum ta’zir (ditentukan pemerintah), karena perbuatan ini termasuk maksiat. (Mausu’ah Fiqhiyah, 24: 252).

وَلا حَدَّ عَلَيْهِمَا لأَنَّهُ لا يَتَضَمَّنُ إيلاجًا ( يعني الجماع ) , فَأَشْبَهَ الْمُبَاشَرَةَ دُونَ الْفَرْجِ , وَعَلَيْهِمَا التَّعْزِيرُ

“Tidak ada hukuman had untuk pelakunya, karena lesbi tidak mengandung jima (memasukkan kemaluan ke kemaluan). Sehingga disamakan dengan cumbuan di selain kemaluan. Namun keduanya wajib dihukum ta’zir.” (Al-Mughni, 9:59). Wallahu a’lam bish shawab.

By : panjimas.com/Selasa, 22 Rabi`Ul akhir 1437H /February 2, 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.722 kali, 1 untuk hari ini)