Menag Yaqut Dikritik dan Dipertanyakan Logika Hukumnya Ingin Agenda Kemenag Juga Dimulai dengan Doa Selain Islam


Ilustrasi. Foto/ytb

  • Menanggapi hal itu, anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf pun angkat bicara. Dia justru mempertanyakan logika hukum Menteri Agama tersebut.
  • “Apa yang salah jika dalam komunitas keagamaan yang majemuk, kemudian pemeluk agama mayoritas yang memimpin doa?” tanyanya.
  • … apabila praktik ritual tersebut dicampuradukan dengan keyakinan lain, atas dasar logika toleransi yang keliru, maka akan menyalahi ajaran yang telah termaktub dalam masing-masing agama.

Silakan simak selengkapnya ini.

***

Ingin Agenda Kemenag Juga Dimulai dengan Doa Selain Islam, Politisi PKS Pertanyakan Logika Hukum Menag


JAKARTA – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menghendaki setiap agenda Kemenag tidak hanya dimulai dengan pembacaan doa secara Islam. Tetapi juga doa dalam agama lain perlu memperoleh kesempatan yang sama.

Menanggapi hal itu, anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf pun angkat bicara. Dia justru mempertanyakan logika hukum Menteri Agama tersebut.

“Apa yang salah jika dalam komunitas keagamaan yang majemuk, kemudian pemeluk agama mayoritas yang memimpin doa?” tanyanya.

Lewat keterangan resminya, Rabu (7/4), anggota baleg ini menilai, ritual doa adalah praktik peribadatan yang terkait dengan keyakinan dan sudah memiliki aturannya masing-masing.

Menurutnya, apabila praktik ritual tersebut dicampuradukan dengan keyakinan lain, atas dasar logika toleransi yang keliru, maka akan menyalahi ajaran yang telah termaktub dalam masing-masing agama.

“Kita perlu kembali mendudukan makna toleransi secara utuh dan lurus sebagaimana diajarkan Alquran dan Sunnah. Islam secara an sich adalah agama yang toleran, sementara toleransi dalam Islam berlaku dalam hal muamalah (relasi sosial), bukan dalam hal akidah maupun ibadah. Maka, tidak boleh seorang muslim mengikuti tata ibadah agama lain,” tegasnya.

Lebih lanjut, Politisi PKS ini mengimbau Menteri Agama untuk mendiskusikan usulan itu lebih dulu bersama Majelis Ulama Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi munculnya sentimen masyarakat terhadap Kementerian Agama mengingat persoalan agama adalah perkara sensitif bagi sebagian kalangan umat beragama.

“Sebaiknya Menteri Agama meminta pendapat MUI. Atau lebih arif bila persoalan ini dikembalikan saja sesuai fatwa MUI,” usulnya. (khf/zul/fin)

radartegal.com, Dipublikasikan pada 8 April 2021.

 

***

Tanggapan MUI dan tokoh lainnya terhadap lontaran Menag Yaqut soal doa untuk semua agama dalam membuka acara Kemenag tersebut tampaknya cukup beralasan. Karena toleransi yang ditawarkan dari pihak bukan Islam sudah ada sejarahnya di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan langsung ditolak langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala lewat wahyu suciNya.

Oleh karena itu, lontaran Menag Yaqut itu dikhawatirkan berdampak akan mengulangi tawaran pihak kafir Quraisy zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secara gampangnya adalah tawaran untuk bertolernsi tapi toleransi kebablasan.

Apa itu toleransi kebablasan?

Silakan simak penjelasan dari sebuah artikel berikut ini.

***

Ajakan toleransi agama yang “kebablasan”

Toleransi berlebihan ini, ternyata sudah ada ajakannya sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperjuangkan agama Islam.

Suatu ketika, beberapa orang kafir Quraisy yaitu Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menawarkan tolenasi kebablasan kepada beliau, mereka berkata:

يا محمد ، هلم فلنعبد ما تعبد ، وتعبد ما نعبد ، ونشترك نحن وأنت في أمرنا كله ، فإن كان الذي جئت به خيرا مما بأيدينا ، كنا قد شاركناك فيه ، وأخذنا بحظنا منه . وإن كان الذي بأيدينا خيرا مما بيدك ، كنت قد شركتنا في أمرنا ، وأخذت بحظك منه

Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”[4]

Kemudian turunlah ayat berikut yang menolak keras toleransi kebablasan semacam ini,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku“. (QS. Al-Kafirun: 1-6).

Demikian semoga bermanfaat.

@Perpus FK UGM

 
 

Catatan kaki

[1] Taisir Karimir Rahman hal. 819, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. Ke-1, 1424 H
[2] Al Irwa’ Al-ghalil no. 891
[3] HR. An Nasa’i. dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
[4] Tafsir Al Qurthubi 20: 225, Darul Kutub Al-Mishriyyah, cet. Ke-II, 1386 H

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel Muslim.or.id

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/23967-bukti-toleransi-islam-terhadap-agama-lainnya.html

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 164 kali, 1 untuk hari ini)