Menag Yaqut Dinilai Gagal Paham Terhadap Agamanya Sendiri


Yaqut -kiri. Bamukmin-kanan. Foto/abadikini

  • Wasekjen DPP PA 212 Novel Bamukmin sedari awal sudah menduga ditunjuknya Yaqut menjadi menteri agama pasti akan menjadi benalu terhadap umat Islam.
  • Apalagi, ketua Banser yang dinilai mempunyai pemahaman yang agak kekirian itu memang tak punya kapasitas sebagai menteri agama.
  • “Sedari itu Menag yang gagal paham tentang agamanya sendiri. Masih banyak di negeri ini yang paham tentang agama mulai dari lulusan ponpes ,S1 ,S2,S3 bahkan profesor banyak yang profesional di bidangnya,” sindir Novel.

JAKARTA— Wasekjen DPP PA 212 Novel Bamukmin turut mengomentari pernyataan Menag Yaqut Cholil Qoumas perihal ingin memberikan perlindungan kepada Syiah dan Ahmadiyah.

Menurut Novel, pernyataan ketua Banser itu seakan menantang fatwa MUI yang jelas-jales kedua organisasi keislaman tersebut telah dicap sebagai aliran sesat.

“Menag mau menantang MUI dan ulama serta umat islam karena jelas fatwa MUI tahun 2005 no 5 bahwa Ahmadiyah (Syaiah) adalah sesat bukan islam,” kata Novel saat dihubungi Pojoksatu.id, Sabtu (26/12/2020).

Novel sedari awal sudah menduga ditunjuknya Yaqut menjadi menteri agama pasti akan menjadi benalu terhadap umat islam.

Apalagi, ketua Banser yang dinilai mempunyai pemahaman yang agak kekirian itu memang tak punya kapasitas sebagai menteri agama.

 

Baca juga: Yaqut Cholil Janji Perangi Populisme Islam, Politikus Partai Gerindra: Agama Menag sendiri apa?

 

“Sedari itu Menag yang gagal paham tentang agamanya sendiri. Masih banyak di negeri ini yang paham tentang agama mulai dari lulusan ponpes ,S1 ,S2,S3 bahkan profesor banyak yang profesional di bidangnya,” sindir Novel.

Sebelumnya, Yaqut menyatakan pemerintah akan melindungi hak beragama warga Ahmadiyah dan Syiah di Indonesia. Menurut Yaqut, mereka adalah warga negara yang harus dilindungi.

Ia juga menyatakan bahwa Kemenag akan memfasilitasi dialog yang lebih intensif untuk menjembatani perbedaan yang selama ini terjadi.

Pernyataan itu sendiri merupakan respons atas permintaan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra agar pemerintah mengafirmasi kelompok minoritas, terutama mereka yang kerap tersisih dan dipersekusi.

Namun, kekinian pernyataan itu kembali diralat. Ia menyebut dirinya tak pernah menyatakan akan memberikan perlindungan khusus kepada kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Akan tetapi ucapannya itu berlaku bagi semua warga negara.

“Tidak ada pernyataan saya melindungi organisasi atau kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Sikap saya sebagai menteri agama melindungi mereka sebagai warga negara,” kata Yaqut, Jumat (25/12/2020).(fir/pojoksatu)

FAJAR.CO.ID,

Sabtu, 26 Desember 2020 15:49Editor: Adi Mirsan

(nahimunkar.org)

 

(Dibaca 327 kali, 1 untuk hari ini)