Gambar Menag Yaqut yang disebut tidak becus urus pemberangkatan jamaah haji malah sibuk urus keberangkatan Paus itu muncul di twitter dengan tagar


#SembakoMeroket


#HutangMeroket




Indra#053

 


@80station

 

·

2j

 

 

***

Ada juga pengritik yang menyebut Menag Yaqut dan Ketua PBNU Digembala di Teras Vatikan

Inilah beritanya.

***

 

Menag Yaqut dan Ketua PBNU Digembala di Teras Vatikan

Menag Yaqut Cholil Qoumas dan Ketua PBNU KH. Yahya Cholil Staquf. (Tangkapa layar video). —

JAKARTA, FIN.CO.ID- Kritikus Faizal Assegaf menyentil Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas dan Ketua PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf yang bertemu langsung dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada Rabu 8 Juni 2022. 

Faizal Assegaf menyoroti kedua Tokoh Nahdatul Ulama itu yang sedang mendengar khutbah dari Paus Fransiskus.

Seperti sebuah video yang beredar, Menag Yaqut dan Kiyai Yahya terlihat duduk di bawah terik mata hari bersama dengan tamu yang hadir sambil mendengar khutbah dari Paus. 

Faizal menilai, sebagai Menteri Agama, dan ormas Islam terbesar di dunia, seharusnya Menag Yaqut dan Kiyai Yahya diberi tempat duduk di samping Paus atau di tempat yang tidak terkena sinaran matahari. 

“Ketum PBNU dan Menag dapat wejangan dari Paus. Dialog yang fair didasari kesetaraan, kok mau dijemur di bawa matahari,” kata Faizal melalui Twitter pribadinya, Jumat 10 Juni 2022.

“Mestinya klaim sebagai Ormas Islam terbesar di dunia duduk di samping Paus. Tapi mental proposal kalian lebih menonjol dan pantaslah di gembala di teras Vatikan,” sindir Faizal Assegaf. 

Faizal menilai, bahwa ormas NU dan tokoh-tokoh-nya kini telah kehilangan wibawa. 

Dia bilang, Paus sudah uzur, tidak mungkin bisa diundang ke Indonesia. 

|

“Makanya sudah saya ingatkan, Ormas PBNU makin kehilangan wibawa dan keberkahan,” katanya. 

“Bodohnya mereka mau undang Paus yang sudah uzur dan lagi stress berat hadapi krisis Ukraina,” ucapnya. 

“Kemajemukan toleransi adalah fitrah manusia.  Tanpa Paus dan PBNU pun, semangat itu terus terbangun secara natural,” pungkas Faizal. 

Ketum PBNU & Menag dpt wejangan dr Paus. Dialog yg fair didasari kesetaraan, kok bego banget mau dijemur di bawa matahari.

Mestinya klaim sbg Ormas Islam terbesar didunia duduk di samping Paus. Tp mental proposal kalian lebih menonjol & pantaslah digembala di teras Vatikan.https://t.co/RgievZBN6w — Faizal Assegaf – FA (@faizalassegaf) June 9, 2022

Diberitakan sebelumnya, melalui akun media sosial resminya, Menag Yaqut mengunggah foto dirinya sedang berjabat tangan dengan Paus Fransiskus.

Menag Yaqut mengatakan, tidak sembarangan orang bisa mendekat Pau Fransiskus. Ketua GP Ansor ini merasa beruntung bisa berjabat tangan dengan Paus secara langsung.

“Setahu saya, tidak semua orang bisa sedekat ini menyampaikan sesuatu ke Paus Fransiscus. Dan saya beruntung menjadi bagian yang sedikit itu. Ada yang nanya, ngomong apa kepada His Holiness? Begini kira-kira Berkah dalem, Your Holliness..” tulis Menag Yaqut dikutp akun Instagram-nya, Kamis 9 Juni 2022.

Menag Yaqut lantas membocorkan perbincangannya dengan Paus. 

“Perkenankan saya memperkenalkan diri Yang Mulia. Nama saya yaqut cholil, menteri agama republik indonesia. Sebagai amanat konstitusi kita, saya harus menjaga toleransi dan perdamaian antara enam agama utama dan ratusan agama lokal,” tulis Yaqut dengan bahasa Inggris.

“Saya sangat bersyukur bisa datang ke sini untuk kedua kalinya. Pertama kali pada bulan September 2019. Tapi hari ini saya datang dengan rombongan yang berbeda,” sambungnya.

Menag Yaqut lalu menyampaikan undangan dari Presiden Joko Widodo kepada Paus Fransiskus untuk berkunjung ke Indonesia. Selain itu, Yaqut juga menyampaikan salam dari umat katolik Indonesia.

“Pertama-tama saya ingin menyampaikan undangan dari Presiden Joko Widodo kepada Yang Mulia untuk datang berkunjung ke Indonesia,” katanya.

“Kedua, saya juga di sini untuk mengirimkan salam dari komunitas katolik indonesia dan para uskup agung juga para uskup, yang sangat ingin bertemu dengan Yang Mulia secara langsung. Mereka berdoa untuk kesehatan Anda dan berharap untuk melihat Yang Mulia datang ke Indonesi.”

“Ketiga, saya datang ke sini juga dengan ketua organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, Pak Yahya, yang telah beberapa kali bertemu dengan Yang Mulia. Dia akan langsung menyampaikan tujuan kunjungannya kepada Yang Mulia,” tutur Yaqut.

Reporter: Afdal Namakule |

Editor: Afdal Namakule |

FIN.CO.ID Jumat 10-06-2022,08:08 WIB

***

Ngaku Muslim tapi setia kepada orang kafir, diancam ayat

Setiap muslim diancam, bila setia alias loyal kepada orang kafir maka dinilai sebagai bagian dari mereka. Dan itu disebut oleh Allah Ta’ala sebagai tingkah yang “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka”.

Firman Allah Ta’ala yang menegaskan masalah itu cukup banyak. Di antaranya:

 تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ [المائدة/80، 81]

(80) Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (81) Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Al-Maaidah: 80, 81)

 ] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51)

{ ومن يتولهم منكم } أي أيها المؤمنين { فإنه منهم } ، لأنه بحكم موالاتهم سيكون حرباً على الله ورسوله والمؤمنين وبذلك يصبح منهم قطعاً) أيسر التفاسير للجزائري – (ج 1 / ص 356)(

Karena konsekwensi kesetiaan kepada mereka (Yahudi dan Nasrani)  itu akan menjadikan perang terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Dengan demikian pasti akan menjadi bagian dari mereka. (Al-Jazaairi dalam tafsirnya, Aisarut tafaasiir juz 1 halaman 356).

GP Ansor NU tidak jelas wala’ dan bara’nya

Sudah jelas ada petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, namun oleh Gerakan Pemuda Ansor (ortonom di bawah NU) dinafikan begitu saja. Di antara petunjuk dalam Al-Qur’an tentang wala’ (loyal, setia) dan bara’ (berlepas diri, benci) adalah ayat-ayat berikut ini.

Allah Ta’ala befirman:

{وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ} [الزمر: 7]

dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; [Az Zumar:7]

Dengan membolehkan pilih pemimpin orang kafir (non Islam), sebagaimana keputusan GP Ansor NU, berarti meridhai kekufuran yang Allah tidak ridhai. Itu jelas-jelas berlawanan atau penentangan.

Sudah ada suri teladan yang melarang untuk mempercayai orang-orang yang mengusung kekafiran, hingga Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ…} [الممتحنة: 4]

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…. [Al Mumtahanah:4]

Ketika GP Ansor NU tidak memandang agama dalam memilih pemimpin, berarti sama dengan menafikan bahkan menganggap tidak prlu diikuti ayat itu yang jelas-jelas menegaskan: “…kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…. [Al Mumtahanah:4]

Cukuplah ayat Allah sebagai rujukan:

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ !وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80-81)

Ibn Taimiyah berkata tentang ayat ini: “penyebutan jumlah syarat mengandung konsekuensi bahwa apabila syarat itu ada, maka yang disyaratkan dengan  kata “seandainya” tadi pasti ada, Allah berfirman:

 وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ

“sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong”.

Ini menunjukkan bahwa iman tersebut menolak penobatan orang-orang kafir sebagai wali-wali (para kekasih dan penolong), tidak mungkin iman dan sikap menjadikan mereka sebagai wali-wali bertemu dan bersatu dalam hati. Ini menunjukkan bahwa siapa yang mengangkat mereka sebagai wali-wali, berarti belum melakukan iman yang wajib kepada Allah, nabi dan apa yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an)” (Ibn Taimiyah, Kitab al-Iman, 14)

Memberikan Kekuasaan Kepada Orang Kafir untuk Menduduki Jabatan Dapat Mengeluarkan dari Islam

Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّواْ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاء مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ.هَاأَنتُمْ أُوْلاء تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ عَضُّواْ عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُواْ بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ.إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُواْ بِهَا… } (118-120) سورة آل عمران.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalangan kamu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi, sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami jika kamu memahaminya. Baginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya, apabila mereka menjumpai kamu mereka berkata: ‘Kami beriman’, dan apabila mereka menyendiri mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah kepada mereka: ‘Matilah kamu karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya..” (QS. Al-Imron: 118-120).

Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasat untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan penghianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kesenangan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mengganggu ummat Islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dengan menyusun rencana untuk mendiskreditkan dan membahayakan ummat Islam.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiallahu anhu: ‘Saya memiliki sekretaris yang beragama Nashrani’. ‘Umar berkata: ‘Mengapa kamu berbuat demikian? Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ …} (51) سورة المائدة.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…” (QS. Al-Ma’idah: 51).
Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai sekretarismu? Abu Musa menjawab: ‘Wahai Amirul Mukminin, saya butuhkan tulisannya dan urusan agama terserah dia’. Umar berkata: ‘Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka’.

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seseorang dari kaum musyrikin menguntitnya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Heart, lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu’. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Berimankah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya?”, dia berkata:’Tidak’. Beliau bersabda: “Kembalilah, karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik”.

Dari nash-nash tersebut di atas, jelas bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan mengokohkan kedudukannya dengan sarana yang ada padanya untuk mengetahui keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu dan menjerumuskan ummat Islam ke dalam kerugian dan kebinasaan. (AL-WALA’ WAL BARA’ DALAM PANDANGAN ISLAM oleh Syaikh Sholeh bin Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan http://ibnusarijan.blogspotcom/2008/06/al-wala-wal-baro-dalam-pandangan-islam_21.html)

Berlawanan dengan ayat-ayat yang telah dijelaskan ulama itu, telah tersebar berita, GP Ansor Nyatakan Sikap Resmi Pilih Pemimpin Tak Pandang Agama

“Kepemimpinan yang kita anut itu pemimpin yang bisa memberikan maslahat kepada masyarakat, yang bisa memberi manfaat pada masyarakat. Kita nggak lihat latar belakang agama, suku dan seterusnya, tapi apakah pemimpin itu bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat GP Ansor Yaqut Cholil  di Kantor PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta Selatan, Sabtu (11/3 2017). (Demi Bolehkan Pilih Pemimpin Kafir, GP Ansor NU Menyuara Berseberangan dengan Al-Qur’an Posted on 14 Maret 2017 by Nahimunkar.org).

Munculnya sikap resmi GP Ansor yang Nyatakan Sikap Resmi Pilih Pemimpin Tak Pandang Agama, itu menjadi bukti bahwa GP Ansor tidak punya sikap jelas mengenai wala’ (loyal, setia –mustinya terhadap Islam) dan bara’ (berlepas diri – mustinya dari kekafiran). Bahkan terindikasi seakan terbalik.

Karena GP Ansor itu adalah organisasi di bawah NU (Nahdlatul Ulama), sehingga secara gampanya dapat dibilang, berarti NU telah gagal dalam wala’ dan bara’, hingga membuahkan anak-anak generasi penerus yang jauh sekali dari ajaran wala’ dan bara’ dalam Islam.

Semoga ini jadi pelajaran berharga bagi kita semua. Dan itu kalau diterus-teruskan maka sangat membahyakan bagi keimanan, karena bisa terlepaslah keimanan. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah melindungi kami dari hal yang demikian.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

 (nahimunkar.org)