Menag Yaqut Ucapkan Selamat Hari Raya Nawruz Bahai- Asal Persi. Akan Dibangkitkan Bersama Mereka di Akherat Kelak Menurut Sahabat Nabi


  • Hari raya Neroz adalah hari raya Majusi Persia milik Iran, dan sebagian suku tunduk pada kekaisaran Persia. Di antara suku tersebut ialah sebagian suku-suku Afghanistan penganut Syiah, sebagian suku Kurdi, dan sebagian suku di Asia Tengah.
  • ‘Abdullaah bin ‘Amr (Sahabat Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia) berkata: “Barangsiapa Meramaikan Peringatan Hari Raya Nairuz dan Perayaan Orang Kafir, Akan Dibangkitkan Bersama Mereka…”

Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah meriwayatkan :

وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، ثنا أَبُو أُسَامَةَ، ثنا عَوْفٌ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو، قَالَ: ” مَنْ بَنَى فِي بِلادِ الأَعَاجِمِ، وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ، حَتَّى يَمُوتَ، وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 


Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh, telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan, telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari Abul Mughiirah, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, “Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam, meramaikan hari raya Nairuuz dan Mihrajaan milik mereka (yaitu perayaan tahun baru mereka, -pent), serta meniru-niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”
[Sunan Al-Kubraa 9/234]

Silakan simak ini.

 

***

Menteri Agama @YaqutCQoumas

mengucapkan selamat rayakan Nawruz buat umat Bahai Indonesia. Ini pertama seorang anggota kabinet Indonesia ucapkan selamat perayaan Nawruz

trino prayoga me-retweet


Andreas Harsono

@andreasharsono

29 Mar


Agama Baha’i Rayakan Naw-Ruz Bersama Menteri Agama RI, Yaqut Cholil…

Ucapan Hari Raya Naw-Ruz 178 EB dari Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas. #agama #bahai #nawruz https://youtu.be/M4l4HWSfuA8

youtube.com

***

Agama Baha’i Dilarang Tapi Diusung Orang di Indonesia


 

Agama Baha’i Dilarang Tapi Diusung Orang di Indonesia

(

(Aliran-aliran Sesat Dipiara untuk Dimunculkan Saat-saat Diperlukan?)

 
 

Keberadaan (agama) Baha’i di Indonesia bukanlah hal baru. Setidaknya, jauh sebelum kemerdekaan, (agama) Baha’i ini sudah dibawa masuk ke kawasan Nusantara, yaitu sejak sekitar tahun 1878, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi.

Pendiri aliran Baha’i ini adalah Mirza Ali Muhammad al-Syairazi lahir di Iran 1252H/ 1820M. Ia mengumumkan, tidak percaya pada hari qiyamat, surga dan neraka setelah hisab/ perhitungan. Dia menyerukan bahwa dirinya adalah potret dari nabi-nabi terdahulu. Tuhan pun menyatu dalam dirinya (hulul). Risalah Muhammad bukan risalah terakhir. Huruf-huruf dan angka-angka mempunyai tuah terutama angka 19. Perempuan mendapat hak yang sama dalam menerima harta waris. Ini berarti dia mengingkari hukum Al-Quran, padahal mengingkari Al-Quran berarti kufur, tandas Abu Zahrah ulama Mesir dalam bukunya Tarikh Al-Madzaahibil Islamiyyah fis Siyaasah wal ‘Aqoid .

Mirza Ali dibunuh pemerintah Iran tahun 1850, umur 30 tahun. Sebelum mati, Mirza memilih dua muridnya, Subuh Azal dan Baha’ullah. Keduanya diusir dari Iran. Subuh Azal ke Cyprus, sedang Baha’ullah ke Turki. Pengikut Baha’ullah lebih banyak, hingga disebut Baha’iyah atau Baha’isme, dan kadang masih disebut aliran Babiyah, nama yang dipilih pendirinya, Mirza Ali.

Kemudian kedua tokoh itu bertikai, maka diusir dari Turki. Baha’ullah diusir ke Akka Palestina. Di sana ia memasukkan unsur syirik dan menentang Al-Quran dengan mengarang Al-Kitab Al-Aqdas diakui sebagai dari wahyu, mengajak ke agama baru, bukan Islam. Baha’ullah menganggap agamanya universal, semua agama dan ras bersatu di dalamnya.

Abu Zahrah menegaskan: “Jika guru pertama (Mirza Ali) pada aliran ini sudah melangkah dalam penghancuran ajaran Islam dengan mengatas namakan pembaharuan, lalu penerusnya (Baha’ullah) menyempurnakannya dengan mengingkari semua ajaran Islam serta menyingkirkannya, dan penerus berikutnya (Abbas Baha’) melangkah lebih jauh dari itu. Dia bahkan mengambil kitab-kitab Yahudi dan Nasrani untuk mengganti Al-Quran.”

Baha’iyah berkembang di Eropa dan Amerika berpusat di Chicago. Aliran ini dinilai Abu Zahrah sebagi ajaran yang diada-adakan belaka. Mereka menggunakan topeng Taqiyah, yaitu cara mengelabui manusia dengan menyembunyikan alirannya, padahal yang terselubung di dalam hatinya adalah usaha untuk mendangkalkan aqidah Islam dan menghancurkan ajaran-ajarannya dan menjauhkan dari pemeluknya.

Yang pasti, lanjut Abu Zahrah, aliran Baha’iyah mempunyai kegiatan pesat di wilayah kaum muslimin di kala mereka diberi kebebasan oleh musuh-musuh Islam, yaitu penjajah. Maka Baha’iyah semakin kuat setelah terjadi perang Dunia I dan Perang Dunia II. (Lihat buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

Pada tanggal 15 Agustus 1962, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 264/ Tahun 1962 tentang pelarangan terhadap tujuh organisasi, termasuk Baha’i, Liga Demokrasi dan Rotary Club. Di masa kepemimpinan Presiden Soeharto, Baha’i juga dilarang. Namun, ketika Abdurrahman Wahid jadi Presiden, Baha’i justru diresmikan. Sebelum Abdurrahman Wahid jadi Presiden, menurut Djohan Effendi, ia memang sering melakukan dialog dengan pengikut Baha’i di kediamanya, Ciganjur, Jakarta.

Oleh karena itu, jangan heran Baha’i masih eksis di Indonesia. Antara lain berkat “jasa” Abdurrahman Wahid. Sebagaimana dilaporkan okezone edisi 26 Oktober 2009, agama Baha’i ternyata berkembang di Desa Ringinpitu, Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Bahkan, memiliki kantor pusat di Jakarta, sebagaimana disampaikan oleh Kepala Seksi Intel Kejari Blitar Slamet SH.

Slamet SH dalam kapasitasnya sebagai Kepala Seksi Intel Kejari Blitar telah memeriksa para petinggi Sekte Baha’i di Jawa Timur, pada hari Senin tanggal 26 Oktober 2009. Di antaranya Slamet Riyadi, Said, dan seorang perempuan. Menurut pengakuan mereka, agama Baha’i bersifat independen dan tidak berafiliasi dengan agama manapun. Baha’i juga mengajarkan umatnya untuk mencari kebenaran dan kejujuran, tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada orang lain, untuk mengikuti dogma Baha’i.

Pada kesempatan itu, Kejari Blitar telah pula menyita dua kitab yang diterbitkan Lembaga Majelis Rokhani Baha’i Indonesia, Jakarta. Yaitu, Kitab Baha’ullah dan Kalimat Tersembunyi, yang di antaranya berisi percakapan Tuhan dengan Umat.

Para penganut Baha’i ini terkesan sangat militan, percaya diri, dan begitu yakin dengan kebenaran agamanya, sehingga meski sedang berhadapan dengan aparat negara, salah seorang dari mereka (Slamet Riyadi) justru merayu Kepala Seksi Intel Kejari Blitar untuk turut menjadi pemeluk Baha’i. Tentu saja ditolak.

Menurut laporan Liputan6 SCTV edisi 26 Oktober 2009, pengikut Baha’i menjadikan Gunung Caramel di Israel sebagai kiblat dalam shalat, dan hanya mewajibkan pengikutnya shalat sekali dalam sehari. Dalam hal perkawinan, pengikut Baha’i selain tak melibatkan KUA (Kantor Urusan Agama) juga menerbitkan surat nikah sendiri. Selain itu, mereka hanya menikahkan anak-anak mereka dengan sesama pengikut Baha’i saja. Padahal, dalam salah satu ajarannya, pengikut Baha’i mengakui adanya perkawinan dengan masyarakat non Baha’i. Mereka juga meminta pada kolom agama di KTP dicantumkan nama agama Baha’i. Kini pengikut aliran ini sudah ratusan jamaah.

Keberadaan pengikut Baha’i telah dilaporkan masyarakat setempat kepada Majelis Ulama Indonesia dan instansi terkait. Namun sejauh ini, MUI belum mengeluarkan fatwa terhadap aliran Baha’i dengan alasan ajarannya ini tak menistakan enam agama yang diakui pemerintah. (Ini tampaknya MUI tidak tahu atau pura-pura tak tahu apa itu Baha’i. Tuduhan Baha’i bahwa Risalah Muhammad bukan risalah terakhir, itu jelas menodai Islam).

Menurut Abu Sofyan (Sekretaris MUI Tulung Agung), (agama) Baha’i ini punya nabi dan kitab suci sendiri. Nabi mereka adalah Muhammad Husain Ali yang bergelar Bahaullah dan kitab sucinya bernama Al-Aqdas.

Menurut Prof Dr M Abu Zahrah (ulama Mesir) dalam bukunya Tarikh Al-Madzaahibil Islamiyyah fis Siyaasah wal ‘Aqoid, Baha’i berasal dari Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Baha’i didirikan oleh Mirza Ali Muhammad al-Syairazi yang lahir di Iran 1252H (1820 M).

Namun, kalangan Baha’i sendiri mengingkari keterkaitannya dengan agama apapun termasuk dengan syi’ah laknatullah. Sebagaimana dapat dibaca melalui situs resminya di (http://www.bahaiindonesia.org/start.php) mereka mengklaim Baha’i sebagai sebuah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama tertentu. Nabi atau Pesuruh Tuhan agama ini adalah Baha’ullah. Tujuan agama Baha’i adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbaharui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan seluruh umat manusia.

Semangat menyamakan semua agama dan kesamaan hak antara pria-wanita, merupakan salah satu pokok ajaran Baha’i. Menurut ajaran Baha’i, semua agama itu tunggal dan berasal dari sumber yang sama. Kini, sebagian dari pokok-pokok ajaran agama Baha’i tersebut telah disosialisaikan secara gencar oleh sebagian kalangan, dengan nama baru yaitu pluralisme agama. (Lihat tulisan berjudul Pluralisme Agama, Gagasan Orang Dungu di nahimunkar.com edisi May 2, 2008 4:19 am).

Rumah ibadah, bagi pengikut (agama) Baha’i bukanlah sebuah tempat yang eksklusif bagi kalangannya saja, tetapi merupakan tempat terbuka bagi penganut dari semua agama. Kalau benar demikian, tentu timbul dalam pertanyaan sebagian orang, “… bagaimana seandainya yang masuk ke rumah ibadah agama Baha’i itu adalah seseorang atau sekelompok orang yang justru bertentangan dengan paham dan keyakinan Baha’i, dan ia atau mereka memasuki rumah ibadah Baha’i justru untuk memaki-maki Baha’ullah, menista pokok-pokok ajaran Baha’i…?”

Sedangkan ibadah, bagi agama Baha’i terdiri dari pembacaan  Tulisan Suci Baha’i dan Tulisan Suci agama-agama lain, dan diperbolehkan pula adanya iringan musik tanpa instrumen (akapela). Tidak ada khotbah, ritus atau pendeta. Menurut klaim mereka, tiap tahun jutaan orang dari semua agama di dunia mengunjungi rumah-rumah ibadah Baha’i  untuk berdoa dan bermeditasi. Lhah, ini rumah ibadah atau tempat rekreasi?

Mengenai jumlah pengikut Baha’i dapat dilihat pada Wikipedia. Berdasarkan The World Almanac and Book of Facts 2004, kebanyakan penganut Baha’i hidup di Asia (3,6 juta), Afrika (1,8 juta), dan Amerika Latin (900.000). Menurut beberapa perkiraan, masyarakat Baha’i yang terbesar di dunia adalah India, dengan 2,2 juta orang Baha’i, kemudian Iran, dengan 350.000, dan Amerika Serikat, dengan 150.000. Selain negara-negara itu, jumlah penganut sangat berbeda-beda. Pada saat ini, belum ada negara yang mayoritasnya beragama Baha’i. Guyana adalah negara dengan persentase penduduk yang beragama Baha’i yang paling besar (7,0%).

Salah satu keyakinan Baha’i mengatakan: “… Tuhan adalah Sang Pencipta alam semesta dan Dia bersifat tidak terbatas, tak terhingga dan Maha Kuasa. Tuhan tidak dapat dipahami, dan manusia tidak bisa sepenuhnya memahami realitas Keilahian-Nya. Oleh karena itu, Tuhan telah memilih untuk membuat Diri-Nya dikenal manusia melalui para Rasul dan Nabi, seperti Ibrahim, Musa, Krishna, Zoroaster, Budha, Isa, Muhammad, dan Baha’ullah. Para Rasul dan Nabi yang suci itu bagaikan cermin yang memantulkan sifat-sifat dan kesempurnaan Tuhan. Mereka merupakan saluran suci untuk menyalurkan kehendak Tuhan bagi umat manusia melalui Wahyu Ilahi, yang terdapat dalam Kitab-kitab Suci berbagai agama di dunia. Wahyu Ilahi adalah ‘Sabda Tuhan’ yang dapat membuka potensi rohani setiap individu serta membantu umat manusia berkembang terus menerus menuju potensinya yang tertinggi.”

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa (agama) Baha’i telah memposisikan Krishna, Zoroaster, Budha sebagai salah satu dari sekian banyak Rasul dan Nabi yang suci (maksum). Belum tentu penganut agama lain setuju dengan konsep kenabian model Baha’i ini. Bagi umat Kristen, Isa atau Yesus adalah (anak) Tuhan, bukan sekedar cermin atau saluran bagi kehendak Tuhan.

Dipiara untuk dimunculkan saat-saat diperlukan?

Ajaran Baha’i meski tidak bisa berkembang pesat, namun eksistensinya tetap terjaga. Kadang terkesan sebagai sesuatu yang dipiara, kapan-kapan dimunculkan ketika diperlukan. Sebagaimana sekarang ini (di sela-sela perpolitikan lagi sangat ramai dan kasus Bank Century lagi mencuat dengan usulan penggunaan hak angket DPR) tahu-tahu di mana-mana secara berbarengan aneka aliran sesat tiba-tiba secara serempak nongol. Kok bisa ya? Masa’ sesatnya berbeda-beda kok bisa nongolnya bareng-bareng di mana-mana.

Di Mojokerto ada aliran Santriloka, tidak mewajibkan para pengikutnya untuk menunaikan salat lima waktu. Selain itu ajaran ini juga tidak mewajibkan pengikutnya menunaikan ibadah puasa. Bahkan para santri yang dibaiat syahadat, harus menyerahkan uang sedikitnya Rp 100 ribu yang dicampur dengan bunga tertentu.

Di Lombok Timur: Warga Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dihebohkan dengan informasi munculnya seorang nabi di Dusun Dasan Tinggi, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Warga Dusun Dasan Tinggi, Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang terletak 100 kilometer dari Kota Mataram dikejutkan pengakuan Bakri Abdullah, yang mengaku telah melakukan Mi’raj ke langit ke tujuh untuk menerima wahyu.

Bakri menuturkan, dirinya melakukan perjalanan ke langit ke tujuh untuk mendapatkan wahyu Allah, yang berisi enam butir perintah tuhan. Dari pengakuannya Bakri melakukan perjalanan Mi’raj tersebut dua tahun yang lalu.

Sejak saat itu lah, Bakri mulai menyebarkan ajarannya ke sejumlah daerah hingga memperoleh 30 pengikut yang berasal dari desa tempat tinggalnya. (Metro Hari Ini / Sosbud / Kamis, 15 Oktober 2009 18:54 WIB, Metrotvnews.com)

Di Kabupaten Tulungagung, Propinsi Jawa Timur, muncul agama baru yang diduga sesat. Namanya agama Baha’i. Kitab sucinya Akhdas. Kiblatnya, Gunung Caramel di Israel. (Telah Lahir Agama Baru di Tulungagung,25/10/2009 – 23:50

(http://inilah.com/berita/politik/2009/10/25/172651/telah-lahir-agama-baru-di-tulungagung/)

Di Tangerang ada Padepokan Merah Putih, sering ada acara ramai-ramai di sana, “Memang pada malam-malam tertentu di situ ramai. Banyak mobil dan kendaraan. Tapi saya nggak tahu ada apa di dalam,” ujar Yitno di bilangan Pondok Rajeg, Cipulir, Tangerang, daerah tempat kegiatan si Romo ini berlangsung.

Siapa Romo?

Oleh pengikutnya, ia digelari sebagai “Paduka Yang Mulia Romo Agung Kanjeng Gusti Pangeran HM. Syah Awalul Islam SS Malikul Koesno Raden Sosro Soekarno Alif Lam Mim (dalam tulisan Arab) Yang Maha Kuasa.” Meski gelarnya panjang, pengikutnya sering memanggil Romo.
“Dia itu mengaku wujud Allah,” kata Samiatun dengan memberikan bukti berkas-berkas aliran  milik suaminya yang masih tersimpan.

Menurut laporan Samiatun ke Polres Bekasi, Romo inilah yang banyak memberikan doktrin ajaran kepada suaminya,Muhammad Solihin (41). Bahkan Samiatun beberapa kali mengikuti ajakan suaminya. Yang mengagetkan, para anggotanya tidak diwajibkan shalat fardhu dan puasa. Di samping itu para anggota juga memiliki kartu anggota untuk masuk surga.
Selain itu, menurut Samiatun, anggota kelompok ini diharuskan untuk melakukan sumpah darahYakni, sumpah kesetiaan kepada Sang Romo dengan cap tangan darah. Bagi yang melanggar ketentuan sumpah harus siap menerima hukuman.

Samiatun juga kaget, tiba-tiba Solihin ikut kegiatan seorang yang dipanggil Romo sejak tujuh bulan lalu. Awalnya memang, katanya, suaminya tampak sibuk ikut kampanye dan mengurus partai.

“Berangkat pagi pulang subuh. Ternyata, tahu-tahu dia ikut aliran Romo itu,” jelas Samiatun kepada www.hidayatullah.com. (www.hidayatullah.com, Monday, 26 October 2009 22:46 Nasional )

Mungkin di sana-sini akan muncul lagi aliran yang aneh-aneh, hingga perhatian Ummat Islam akan tertuju ke arah itu. Sedang penanganannya, kemungkinan sebagaimana biasanya, ya berlarut-larut. Tidak ada kejelasan, apalagi ketuntasan, apalagi pelarangan. Dan kalau toh dilarang, nantinya ya diopeni lagi. Contoh kongkritnya, Islam Jama’ah yang telah dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971 kenyataannya sampai kini merejalela dengan sandi 354. Bahkan mereka mau minta jatah untuk masuk ke MUI.

Kalau sampai MUI menerima Islam Jama’ah atau 354 sebagai aliran yang tidak sesat, bahkan memberi jatah kepada mereka untuk masuk ke MUI, maka insya Allah orang-orang MUI doanya tidak akan diijabahi oleh Allah, sebagaimana para pentolan Islam Jama’ah atau 354 itu do’anya tidak diijabahi. Karena mereka adalah tergolong orang-orang yang ditolak doanya, karena sebagai ‘assyaar (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Hal itu termasuk dalam ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُأَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305)2391 – ( صحيح )

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali pezina yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (HR Ahmad dan At-Thabarani, lafal ini bagi At-Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib nomor 2391).

Nah, para pentolan Islam Jama’ah atau 354 dengan jajarannya itu tiap bulannya memungut sepersepuluh harta tiap orang yang dianggap sebagai jamaahnya. Bahkan kalau waktu-waktu tertentu seperti menjelang lebaran, khabarnya pemungutan pun bertambah tinggi. Apakah bukan عَشَّارًاyang doanya tertolak dan disejajarkan dengan pelacur, mereka itu?

MUI dan para tokoh Islam serta Ummat Islam pada umumnya, bahkan orang-orang Islam Jamaah atau 354 perlu waspada terhadap masalah ini.

 

Kembali ke masalah Baha’i, meski tidak bisa berkembang pesat, namun eksistensinya tetap terjaga. Bahkan, sebagian pokok-pokok ajarannya dikemas menjadi agama baru sebagaimana ditawarkan kelompok sesat Lia Aminuddin yang kemudian bernama Lia Eden. Juga, disosialisasikan oleh kalangan sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) dan pengusung konsep kesetaraan gender yang menggerayangi bahkan menggerus aqidah generasi Ummat Islam lewat perguruan-perguran tinggi Islam se-Indonesia dan media massa pada umumnya.

Ummat Islam dan pemerintah sebaiknya waspada terhadap wajah lain Baha’i ini. Karena wajah asli Baha’i di Indonesia terkesan ndeso, tetapi wajah polesan baru Baha’i – tanpa menamakan diri sebagai Baha’i– tampil dengan kesan yang lebih perkotaan dan intelek. Hingga ada yang mencalonkan diri untuk memimpin organisasi Islam.

Jangan malah yang asli dipiara, dan kapan-kapan diperlukan lalu dimunculkan untuk mengalihkan perhatian Ummat Islam, sedang yang keturunannya dengan wajah lain diberi gaji dan didanai untuk merusak aqidah Ummat Islam lewat lembaga pendidikan tinggi Islam. Itu namanya justru seperti yang dikecam oleh Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ ﴿١٢﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُواْ أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاء أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاء وَلَـكِن لاَّ يَعْلَمُونَ ﴿١٣﴾

011. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”012. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.013. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS Al-Baqarah/ 2: 11, 12, 13).

Allah Ta’ala mensifati orang-orang seperti itu dengan firman-Nya:

يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ﴿١٠﴾

009. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.010. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al-Baqarah/2: 9, 10).

(haji/tede)

Posted on 25 Juli 2014

by Nahimunkar.org

 

***

 

   
 

  
 

Hari Raya Nairuz

  
 

Neroz merupakan salah satu hari besar Persia. Kata Neroz sendiri secara etimologi merupakan bahasa Persia, diucapkan juga dengan kata Nuruz, berarti hari baru. Neroz merupakan awal tahun baru Persia. Hari raya Neroz sendiri merupakan salah satu hari raya terbesar Persia. Konon yang pertama sekali menjadikannya sebagai hari raya bagi bangsa Persia ialah Jamsyid salah seorang Raja/ Kisra Persia. Neroz merupakan hari pertama penanggalan Persia. Bangsa Persia berkeyakinan bahwa menusia dilahirkan pada hari Raya Neroz yang bertepatan dengan 21 Maret setiap tahun. Keyakinan ini berasal dari ajaran agama Zoroaster, salah satu agama kuno yang menjadi unsure penting dalam membangun peradaban Persia (Iran).

  
 

Hari raya Neroz adalah hari raya Majusi Persia milik Iran, dan sebagian suku tunduk pada kekaisaran Persia. Di antara suku tersebut ialah sebagian suku-suku Afghanistan penganut Syiah, sebagian suku Kurdi, dan sebagian suku di Asia Tengah.

             
 

Peringatan hari raya tersebut telah dimulai sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu, dan selalu menjadi prioritas utama bagi orang-orang Iran. Bahkan, begitu besarnya perhatian mereka terhadap hari raya ini, mereka mendaftarkan perayaan ini di UNESCO sebagai kebudayaan dunia pada tahun 2009.

  
 

Ritual Neroz bersumber pada peradaban Zoroaster dan pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Setelah Islam datang dan menaklukkan Persia empat belas abad yang lalu, perayaan ini pun bermetamorfosis sehingga selaras dengan ajaran Islam. Demikian menurut mereka.

  
 

Pada hari Neroz, orang-orang Persia mengenang kembali sejarah para kaisar dan kekaisaran Persia yang pernah menjadi imperial terkuat di dunia, serta upaya mengembalikan kejayaan masa lampau mereka dengan semangat Persia, kemudian dengan semangat Syiah untuk membangun kembali Imperium Persia raya.

  
 

Hari raya Neroz tampaknya lebih utama bagi orang-orang Syiah Iran daripada dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha. Faktanya libur Neroz lebih panjang dari pada masa libur kedua hari raya Islam tersebut. Hari raya neroz dilaksanakan hingga 13 hari berturut-turut. Sementara dua hari raya Idul Fitri dan Idul Adha hanya sehari atau dua hari saja. Jika seorang Syiah di Iran ditanya tentang hari yang paling berkesan dan paling ditunggu, dia tidak akan ragu-ragu menjawab, “Hari kedua puluh satu bulan Maret.” Yaitu hari pertama Neroz. Padahal hari raya ini berasal dari mitos kuno Majusi. Akan tetapi secara konsisten terus dilaksanakan dan diberikan prioritas yang begitu besar sehingga hari raya ini tetap lestari bahkan mengalahkan hari raya-hari raya lainnya.

  
 

baca artikel lengkapnya di sini: Hari raya Neroz

  
 

(lppimakassar.com)

***

  
 

‘Abdullaah bin ‘Amr : “Barangsiapa Meramaikan Peringatan Hari Raya Nairuz dan Perayaan Orang Kafir, Akan Dibangkitkan Bersama Mereka…”


Abu Ahmad / January 1, 2014

 

Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah meriwayatkan :

وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، ثنا أَبُو أُسَامَةَ، ثنا عَوْفٌ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو، قَالَ: ” مَنْ بَنَى فِي بِلادِ الأَعَاجِمِ، وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ، حَتَّى يَمُوتَ، وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh, telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan, telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari Abul Mughiirah, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, “Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam, meramaikan hari raya Nairuuz dan Mihrajaan milik mereka (yaitu perayaan tahun baru mereka, -pent), serta meniru-niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”
[Sunan Al-Kubraa 9/234]

Dan Al-Imam Abu Bisyr Ad-Daulaabiy rahimahullah dalam Al-Kunaa wal Asmaa’ no. 1843 turut meriwayatkannya; telah menceritakan kepadaku Ayahku dan Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari ‘Auf, dari Abul Mughiirah Al-Qawwaas, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr, perkataannya.

Keterangan para perawi Al-Baihaqiy :

1. Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh, beliau adalah Muhammad bin ‘Abdillaah bin Hamdawaih bin Na’iim, Abu ‘Abdillaah Al-Haakim An-Naisaabuuriy. Al-Imam Al-Haafizh, penulis terkenal dan pemilik Al-Mustadrak, guru dari Al-Baihaqiy. [Taariikh Baghdaad 3/509]

2. Muhammad bin Ya’quub bin Yuusuf bin Ma’qil bin Sinaan, Abul ‘Abbaas Al-Umawiy atau terkenal dengan nama Abul ‘Abbaas Al-Asham. Adz-Dzahabiy berkata “Al-Imam muhaddits, musnid di zamannya”, Ibnul ‘Imaad berkata “Muhaddits negeri Khurasaan”, Al-Haakim berkata “Tidak pernah aku melihat orang yang banyak mengembara pada sebuah negeri yang melebihi dirinya. Aku telah melihat serombongan orang dari Andalus dan dari penduduk Persia yang menunggu di pintu (rumahnya).” [Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 15/452; Rijaal Al-Haakim fiy Al-Mustadrak 3/313; Syadzaraatu Adz-Dzahab 4/245]

3. Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan Al-‘Aamiriy, Abu Muhammad Al-Kuufiy. Ibnu Abi Haatim berkata “shaduuq”, Ad-Daaruquthniy dan Maslamah bin Qaasim sepakat mentsiqahkan, Adz-Dzahabiy berkata “muhaddits tsiqah”, Ibnu Hajar berkata “shaduuq”. Termasuk thabaqah ke-11. Wafat tahun 270 H. Ibnu Maajah (dan dikatakan pula Abu Daawud) meriwayatkan hadits-haditsnya. [Tahdziibul Kamaal no. 1249; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 13/24; Taqriibut Tahdziib no. 1261]

4. Abu Usaamah, beliau adalah Hammaad bin Usaamah bin Zaid Al-Qurasyiy, Abu Usaamah Al-Kuufiy. Tsiqah tsabt, kemungkinan melakukan tadlis. Termasuk thabaqah ke-9. Wafat tahun 201 H. Riwayatnya dipakai Ash-Shahiihain dan empat kitab Sunan. [Taqriibut Tahdziib no. 1487]

5. ‘Auf bin Abi Jamiilah Al-‘Abdiy Al-Hajriy, Abu Sahl Al-Bashriy, terkenal dengan julukan ‘Auf Al-A’raabiy. Tsiqah, tertuduh berpemahaman qadariyyah dan tasyayyu’. Termasuk thabaqah ke-6. Wafat tahun 146 atau 147 H. Riwayatnya dipakai Ash-Shahiihain dan empat kitab Sunan. [Taqriibut Tahdziib no. 5215; Tahdziibul Kamaal no. 4545]

Kesemua perawi diatas adalah para perawi yang tsiqah atau shaduuq yang tidak perlu diragukan, masalah baru muncul pada perawi berikut.

6. Abul Mughiirah Al-Qawwaas, meriwayatkan dari ‘Abdullaah bin ‘Amr. Sulaimaan At-Taimiy melemahkannya. Ibnul Madiiniy berkata “aku tidak mengetahui seorangpun yang meriwayatkan darinya kecuali ‘Auf”, Yahyaa bin Ma’iin dalam riwayat Ishaaq bin Manshuur berkata “tsiqah”, dan Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. [Al-Jarh wa At-Ta’diil 9/439; Ats-Tsiqaat 5/567; Miizaanul I’tidaal 7/430; Lisaanul Miizaan 9/168]

Dari sini terlihat secara zhahir bahwa asalnya Abul Mughiirah Al-Qawwaas majhuul al-‘ain, tidak ada yang meriwayatkannya selain ‘Auf bin Abi Jamiilah. Namun tautsiq Ibnu Ma’iin -dan Ibnu Ma’iin termasuk ulama yang mu’tamad dalam jarh wa ta’diil- sudah cukup untuk mengangkat jahalah Abul Mughiirah dan tautsiqnya diikuti oleh Ibnu Hibbaan. Tadh’if dari Sulaimaan At-Taimiy adalah jarh yang masih bersifat global. Oleh karena itu dengan menggabungkan pendapat-pendapat diatas, maka Abul Mughiirah Al-Qawwaas dapat diterima riwayatnya. Wallaahu a’lam.

7. ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash bin Waa’il bin Haasyim bin Sa’iid bin Sa’d As-Sahmiy, Abu Muhammad atau Abu Nashr atau Abu ‘Abdirrahman Al-Qurasyiy Al-Makkiy. Sahabat Nabi yang mulia.

Kesimpulannya, perkataan ‘Abdullaah bin ‘Amr diatas tidak jatuh dari derajat hasan mauquuf, walhamdulillah. Dan perkataan diatas mencocoki beberapa sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam perihal kebiasaan meniru-niru kaum kuffar yang semakin sering dilakukan kaum muslimin. Seperti sabda beliau berikut :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sungguh, kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga jika mereka masuk lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, (apakah mereka) Yahudi dan Nasharaa?” Nabi bersabda, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 7320]

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meniru-niru kebiasaan suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
[Sunan Abu Daawud no. 4031]

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

‘Abdullaah bin Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah tanggapanmu mengenai seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum namun ia belum pernah berjumpa dengan mereka?” Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 6169]

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

Dari ‘Aaisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata, “Abu Bakr masuk menemuiku ketika disisiku ada dua orang hamba sahaya tetangga kaum Anshaar yang sedang bersenandung, yang mengingatkan kepada peristiwa pembantaian kaum Anshaar pada perang Bu’aats.” ‘Aaisyah melanjutkan kisahnya, “Kedua hamba sahaya tersebut tidaklah begitu pandai dalam bersenandung. Maka Abu Bakr pun berkata, “Seruling-seruling setan di kediaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam!” Peristiwa itu terjadi pada hari raya ‘Id. Maka bersabdalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Abu Bakr, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sekarang ini adalah hari raya kita.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 952]

Maka dari sabda-sabda beliau diatas terkandung perintah kepada kaum muslimin untuk tidak meniru-niru dalam setiap perayaan orang-orang kafir, tidak memberi mereka selamat dan juga tidak ikut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan mereka karena ikut serta dalam kegiatan mereka berarti kita mendukung kekafiran dan keingkaran mereka kepada Allah Ta’ala dan dapat menumbuhkan rasa cinta kita kepada mereka. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.” [QS Al-Mumtahanah : 1]

Allah Ta’ala telah menjadikan tiga hari raya untuk umat Islam yaitu hari raya ‘Idul Fithr dan ‘Idul Adhaa serta hari Jum’at yang berulang setiap pekannya, Allah Ta’ala berfirman :

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” [QS Al-Jaatsiyah : 18]

Dan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan :

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَضَلَّ اللَّهُ عَنْ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الْأَحَدِ فَجَاءَ اللَّهُ بِنَا فَهَدَانَا اللَّهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَالْأَحَدَ وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَحْنُ الْآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ

Dari Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kita mengenai hari Jumat. Untuk orang Yahudi jatuhnya pada hari Sabtu, dan untuk orang Nashrani jatuhnya pada hari Ahad. Lalu Allah menunjuki kita pada hari Jum’at. Karena itu, terjadilah berturut-turut tiga hari besar yang berkumpul, yaitu Jum’at, Sabtu dan Ahad. Hari kiamat kelak, mereka pun akan mengikuti kita, kita (adalah umat) yang terakhir dari penduduk dunia, tetapi pada hari kiamat kitalah yang pertama-tama diadili sebelum makhuk-makhluk yang lain.”
[Shahiih Muslim no. 857]

Bila Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya diatas telah menubuwahkan bahwasanya umat Islam akan diikuti oleh kaum-kaum sebelumnya pada hari kiamat nanti, maka untuk apa kita saat ini repot-repot mengikuti kebiasaan kaum-kaum tersebut, padahal telah jelas mereka adalah kaum yang ingkar kepada Allah dan RasulNya.

Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

http://muhandisun.wordpress.com/2014/01/01/abdullaah-bin-amr-barangsiapa-meramaikan-peringatan-hari-raya-nairuz-dan-perayaan-orang-kafir-ak

https://www.nahimunkar.org/idul-ghadir-dan-nairuz-hari-raya-syiah-dan-majusi-3/

 

(nahimunkar.org)