JAKARTA – Di mana belas kasihan JK terhadap rakyat jelata dan miskin? Padahal, jumlah rakyat jelata dan miskin, jumlahnya tidak sedikit, puluhan juta. Hidup mereka sekarang sudah megap-megap. Namun, tidak ada rasa iba sedikitpun dari JK, dan dia sudah berjanji akan menaikkan BBM.

Padahal, rakyat jelata dan miskin lah yang paling sengsara terkena dampak kenaikan BBM. Karena, dampak dari kenaikan BBM itu, bukan hanya inflasi, tapi kenaikan harga kebutuhan pokok rakyat. Ini pasti akan membubung tinggi, dan rakyat tidak dapat menjangkau lagi, kebutuhan bagi kehidupan mereka.

Berulangkali, JK sudah menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi harus dinaikkan. JK juga menegaskan dirinya siap menjadi tidak populer dengan keputusan yang diambil menaikkan BBM.

Rakyat jelata dan miskin, pasti yang paling terkena dampak kenaikan BBM, bukan orang kaya. Sekarang JK belum berkuasa sudah berjanji akan menaikkan BBM. Maka, rakyat jelata yang sudah memilih Jokowi-JK menjadi kecele.

“Negeri ini hampir kolaps karena terlalu murah kita jual BBM ke orang yang tidak perlu, menengah ke atas. Tidak ada cara lain, memindahkan subsidi ke produktif, jalan rusak, sekolah rusak,” kata JK dalam pidato kuncinya pada diskusi “Menata Kembali Tata Kelola Kebijakan Migas,” Senin (8/9/2014).

JK berasumsi, tidak akan timbul masalah apabila rakyat dijelaskan tentang kenaikan harga BBM pada kisaran harga yang wajar. Ia menyebut, bila saat ini harga BBM dinaikkan, maka dampaknya hanya kepada inflasi dari sisi transportasi.

“Tahun 2005 kita naikkan 2 kali tidak ada demo, karena BLT kita langsung bagi, jadi kompensasinya langsung terasa. Kalau dijelaskan, rakyat pasti paham,” jelas JK. Berapa lama BLT, dibandingkan dengan kenaikan kebutuhan harga-harga kebutuhan dasar rakyat? Sementara itu, tingkat penghasilan rakyat jelata selalu tidak pernah naik.

JK tetap berpendapat, sudah tak ada lagi cara lain, kecuali menaikkan harga BBM. Jadi BBM harus naik. Betapapun dampaknya sangat berat bagi rakyat jelata. Seakan sudah tidak ada pilihan lain (opsi lain), kecuali harus menaikan BBM. Inilah langkah yang akan ditempuh JK, dan dia tidak peduli terhadap nasib rakyat.

“Dalam waktu singkat, subsidi harus dialihkan. Tidak ada cara lain,” kata JK saat berpidato dalam acara Rembuk Nasional Kebijakan Tata Kelola Migas di Jakarta, Senin (8/9/2014) siang.

JK menilai, subsidi BBM yang diberikan pemerintah selama ini sudah salah sasaran. Subsidi, kata dia, justru dinikmati oleh masyarakat mampu. Oleh karena itu, akan lebih baik jika subsidi dialihkan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas.

JK menolak berbagai opsi yang tidak menaikan BBM. “Mau ada mobil yang merek tertentu bisa pakai (subsidi BBM), tidak bisa begitu. Itu kan stiker tinggal dicabut saja. Tidak pakai logika cara berpikir seperti itu,” kata JK.

Menangislah rakyat, jika nanti menyaksikan Jokowi-JK dilantik menjadi presiden.

JK memiliki hubungan dekat dengan harian Kompas, dan mendapatkan dukungan sejumlah tokoh CSIS, diantaranya Sofyan Wanandi (Liem Bian Koen) yang sekarang menjadi ketua APINDO (Assosiai Pengusaha Indonesia). Sofyan, juga memiliki hubungan dikalangan pengusaha dan tokoh politik di Washington.

Belum lama, Sofyan Wanandi dan James Riyadi mendampingi Mega dan JK, berkunjung ke Washington, dan bertemu dengan sejumlah tokoh di AS. Konon, diantara termasuk Presiden Barack Obama dan mantan Presiden Bill Clinton. [jj/dbs/voa-islam.com) Selasa, 14 Zulqaidah 1435 H / 9 September 2014 02:20 wib

***

Kenaikan BBM: Korbankan Rakyat, Untungkan Asing (dan Aseng)

CIAMIS (voa-islam.com) – Pasca liberalisasi sektor Migas di hulu dengan privatisasi sejumlah kilang tambang minyak di bumi Indonesia oleh sejumlah korporasi asing, liberalisasi berlanjut dengan membidik sektor hilir. Di tingkat hulu, jika kita memasangkan bendera Negara pada peta Indonesia terkait titik eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi maka akan didapati bahwa mayoritas dikuasai oleh asing mulai dari Exxon Mobile (AS), Total (Prancis), British Petroleum (Inggris) dan sebagainya.

Sementara Pertamina sebagai BUMN negeri ini hanya memiliki pengelolaan kilang-kilang minyak tua yang cadangan minyak yang tidak sebesar kilang minyak yang dikuasai asing./ voaislam, Senin, 14 Zulqaidah 1435 H / 8 September 2014 06:24 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.994 kali, 1 untuk hari ini)