December 11, 2012

Mideast Syria

MUNGKIN benar, mengikuti laporan berita terbaru, bahwa rezim Bashar al-Assad di Damaskus, semakin hari semakin putus asa dalam menghadapi serangan gencar para pejuang Suriah yang tak pernah henti-hentinya. Tak heran jika Assad jadi gelap mata, dan siap untuk menggunakan senjata kimia terhadap warga negaranya sendiri.

Assad sendiri, semua pialang kekuasaan utama dalam pemerintahannya, dan hampir semua korps perwira militer negara ini sudah hampir meyakini bahwa perang ini adalah masalah “membunuh atau dibunuh”.

Para Alawiyah di Suriah mempunyai para pembela di dunia Arab, baik karena sifat ortodoks agama Syiah, yang telah direvolusikan menjadi Revolusi Islam (harap dicatat—ini hanya sekadar nama saja!), sejak akhir 1960-an. Secara luas, Damaskus saat ini dilihat sebagai pion kepentingan Iran di wilayah tersebut. Namun, kejatuhan rezim Assad—yang masih jauh dari jantungnya—tidak akan banyak membuat dunia Arab berkabung, di luar Teheran dan di kalangan Hizbullah.

Apakah jatuhnya Assad akan dirayakan oleh banyak orang di Barat? Ini masih jadi pertanyaan besar.

Para ekspatriat yang ada di Suriah sudah lama menyingkir. Orang-orang yang pada akhirnya akan mengambil alih kekuasaan di Suriah adalah pria bersenjata yang menguasai jalan-jalan negara, desa, dan kota-kota. Pembantaian yang mereka alami membuat mereka tidak berbicara dengan suara; mereka hanya ingin melindungi keluarga mereka dan masyarakat dari serangan tentara-tentara Assads.

Bagaimana dengan keberadaan Al-Qaidah di bumi Suriah? Momok jihadis menyusup oposisi Suriah dan kemudian berkuasa di Damaskus adalah gagasan yang sangat konyol, bahkan terlalu mengada-ada. Suriah tidak perlu lagi jihadis asing dan Islam radikal.

Banyak dari para pejuang saat ini berjuang melawan rezim Suriah mengasah keterampilan gerilya mereka di Irak, belajar teknik pertempuran di kota juga di Irak dari 2003 hingga 2007. Mereka yang tidak terbunuh di Irak memilih kembali ke Suriah (titik masuk terbesar bagi jihadis yang memasuki Irak selama perang itu), dan mengangkat senjata melawan rezim mereka sendiri. Kemampuan mereka untuk membunuh sejumlah besar pasukan rezim dari awal putaran saat perang sipil merupakan indikasi keterampilan mereka sudah berjalan 19 bulan lalu.

Juga setelah 19 tahun perjuangan, dan mungkin masih akan panjang beberapa waktu lagi, para pejuang Mujahidin Suriah, dengan penderitaan dan kepentingan yang sama, sudah mencapai satu tekad besar. Damaskus, seusai Assad tumbang, bisa jadi tempat pertama Islam ditegakkan dengan bendera perang—bukan melalui parlemen dan undang-undang legislatif. Tidak heran jika Amerika sudah merapat, dan mengirim sebagian induk kapal perangnya di sekitar Suriah; siapa tahu Shubuh lah yang akan berdebum di Suriah esok hari. [sa/islampos]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.766 kali, 1 untuk hari ini)