Oleh Abu Husein At-Thuwailibi

Saudaraku pembaca yang senantiasa dirahmati Allah, terkait dengan hadits menasehati pemimpin dengan cara diam-diam, telah dibahas dan dijelaskan akan dho’if nya derajat hadits tersebut, diantaranya oleh Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib Hafizhahullah yang bisa anda baca di sini:
http://jafarumarthalib.com/?p=78 dan http://jafarumarthalib.com/?p=76

Secara singkatnya sebagai berikut.

Adapun hadits-hadits yang diperdebatkan dalam masalah ini adalah sebagai berikut : Hadits riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah, riwayat Ahmad dalam Musnadnya, dan riwayat Al Hakim dalam Mustadraknya yang menyatakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, maka janganlah menyatakannya di depan umum dengan terang-terangan. Hendaklah ia memegang tangan penguasa itu (dan mengajaknya ke tempat tersembunyi –pent). Maka bila penguasa itu mau mendengar nasehat tersebut, itulah memang yang diharapkan. Tetapi bila tidak mau mendengar nasehat itu, sungguh penasehat itu telah menunaikan apa yang diwajibkan atasnya”.

Dalam sanad hadits ini ada beberapa permasalahan sebagai berikut :

  1. Riwayat Al Hakim dalam Mustadraknya jilid 3 halaman 290, terdapat pada sanadnya seorang rawi yang bernama Amer bin Ishaq bin Ibrahim bin Al Ala’ bin Zuraiq Al Humshi. Al Imam Adz Dzahabi mengomentari sanad Al Hakim ini dengan menyatakan : “Aku katakan : Ibnu Zuraiq adalah rawi yang lemah”.
  2. Riwayat Ahmad dalam Musnadnya jilid 3 hal. 403, dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Syuraih bin Ubaid Al Hadrami. Terhadap sanad Imam Ahmad ini, Al Hafidl Nuruddin Ali bin Abi Bakar Al Al Haitsami memberikan komentarnya dalam kitabnya Majma’uz Zawa’id Wa Manba’ul Fawa’id jilid 5 halaman 229 sebagai berikut : “Sanadnya riwayat Ahmad ini adalah orang-orang kepercayaan. Hanya saja aku tidak mendapati keterangan bahwa Syuraih mendengar riwayat ini dari Iyadl dan Hisyam, walaupun Syuraih adalah seorang Tabi’ie”.
  3. Riwayat Ibnu Abi A’shim dalam As Sunnah hadits ke 1096 , dalam sanadnya juga Syuraih bin Ubaid yang terputus sanadnya dari Iyadl bin Ghanim dan Hisyam bin Hakim. Dalam riwayat ke 1097 dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin Ismail bin Ayyasy Al Humshi. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Taqribnya menyatakan tentangnya : “Mereka para Ulama’ mencercanya karena dia meriwayatkan dari bapaknya tanpa mendengarnya sendiri”. Sedangkan dalam riwayat ke 1098 terdapat rawi yang bernama Abdul Hamid bin Ibrahim Abu Taqiy Al Hadrami Al Humshi. Orang ini dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Taqribut Tahdhib : “Dia orang yang shaduq (yakni benar ucapannya), hanya saja kitab-kitab catatannya hilang sehingga rusaklah hafalannya”.
  4. Riwayat At Thabrani dalam Mu’jam

Hadits-hadits ini lemah pada sanadnya masing-masing. Sehingga Al Imam Al Hafidl Abi Ja’far Muhammad bin Amer bin Musa bin Hammad Al Uqaili Al Makki dalam Adh Dhu’afa’ Al Kabir jilid 3 halaman 60 ketika menguraikan tentang rawi bernama Abdul A’la bin Abdullah bin Qais (rawi ke 1022) menyatakan : “Tidak ada satu hadits shahihpun dalam perkara ini”.

Al Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah ketika saya menanyakan kepada beliau : “Mengapa yang mulia mencerca pemerintah dalam berbagai ceramah di depan umum padahal terdapat beberapa hadits yang menyatakan larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam untuk mencerca penguasa di depan umum ?”. Maka beliaupun menjawab : “Semua hadits-hadits itu lemah pada sanadnya !”./ http://jafarumarthalib.com/?p=76

Setelah kita ketahui derajat hadits tersebut, mari kita melihat landasan lainnya.

Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, bahwa Umar bin Khathab pernah berkata kepadanya,

,ﻫَﻞْ ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺪِﻡُ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡَ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﺖُ : ﻻَ. ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﻬْﺪِﻣُﻪُ ﺯَﻟَّﺔُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ ﻭَﺟِﺪَﺍﻝُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺣُﻜْﻢُ ﺍﻷَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﻀِﻠِّﻴﻦَ

“Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?”

Lalu Ziyad menjawab,“Tidak tahu.”

Umar berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Al-Qur’an, DAN KEPUTUSAN PARA PEMIMPIN YANG MENYESATKAN”

(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih)

Menasehati pemimpin dengan nasehat yang baik dan cara yang bijak adalah ibadah yang sangat mulia. Bahkan ketika Nabi ditanya jihad apa yang paling utama? Beliau menjawab:

كلمة حق عند سلطان جائر

“Kalimat yang benar yang disampaikan di sisi pemimpin yang dzalim“.  (HR. Imam Nasai, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Ash-Shahihah: 491)

Banyak orang salah paham tentang hadits ini dan menjadikannya dalil untuk mendiamkan kemungkaran para pemimpin dan melarang orang untuk mengkiritik pemimpin secara terbuka dengan alasan bahwa hadits ini terdapat lafadz عند سلطان (di sisi pemimpin) yang berarti mesti menyampaikannya secara langsung di hadapan pemimpin dan tidak boleh secara terbuka. Ini pemahaman yang keliru.

Adapun perintah Allah kepada Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Fir’aun secara langsung dan menasehatinya dengan lembut sebagaimana yang tercantum dalam Qur’an surat Thoha ayat 43-44, lalu ayat ini dijadikan argument oleh khalifah Umar Bin Abdil Aziz Rahimahullah di masa lalu saat beliau dikritik keras oleh seseorang. Sang Khalifah pun berkata: “Aku tidak sejahat Fir’aun, sedang Anda tidak sebaik Musa; tapi Musa dan Harun diperintah untuk menasehati Fir’aun dengan qaulan layyinan, kata-kata yang baik.”

Maka argumen ini hanya mengkritik sikap kasar dalam menasehati pemimpin; bukan menghilangkan hak menasehati pemimpin itu sendiri. Karena menasehati pemimpin dijamin sepenuhnya oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ‘Alaihi Sholawatu Wa Salam.

Kalau bisa menasehati secara damai, lembut, santun, dan secara langsung maka lakukanlah. Namun kalau tidak bisa karena tidak efektif, ya silahkan lakukan cara lain yang lebih efektif dan menghasilkan pengaruh nyata.

Adapun kita menyebut kejelekan pemimpin di forum umum seperti facebook, mimbar umum atau sampai menyebarkan hal-hal yang tidak pantas tentang pribadi pemimpin atau bahkan mengajak melakukan pemberontakan dsb, maka ini bukanlah nasehat atau kritik, akan tetapi justru lebih kepada memprovokasi rakyat untuk melakukan hal-hal yang merusak dan membuat kekacauan dalam suatu negara, sehingga menimbulkan kerusakan dan pemberontakan yang tidak disyari’atkan dalam Islam.

Akan tetapi, bukan berarti menasehati atau mengkritik pemimpin secara terbuka itu HARAM atau TERLARANG, bahkan hal itu di syari’atkan bila kondisinya menuntut demikian, demi sampainya kebenaran dihadapannya (baik secara langsung atau tidak) dan tegaknya hujjah serta amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berikut ini:

مسألة مناصحة الولاة، من الناس من يريد أن يأخذ بجانب من النصوص وهو إعلان النكير على ولاة الأمور، مهما تمخض عنه من المفاسد، ومنهم من يقول: لا يمكن أن نعلن مطلقاً، والواجب أن نناصح ولاة الأمور سراً كما جاء في النص الذي ذكره السائل، ونحن نقول: النصوص لا يكذب بعضها بعضاً، ولا يصادم بعضها بعضاً، فيكون الإنكار معلناً عند المصلحة، والمصلحة هي أن يزول الشر ويحل الخير، ويكون سراً إذا كان إعلان الإنكار لا يخدم المصلحة، لا يزول به الشر ولا يحل به الخير.

“Masalah menasehati penguasa, ada dari sebagian orang yang hendak berpegang dengan sebagian dalil, yakni mengingkari penguasa secara terbuka, walaupun sikap tersebut hanya mendatangkan kerusakan. Di sisi lain ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa mutlak tidak boleh ada pengingkaran secara terbuka, sebagaimana dijelaskan pada dalil yang disebutkan oleh penanya. Namun demikian, saya menyatakan bahwa dalil-dalil yang ada tidaklah saling menyalahkan dan tidak pula saling bertentangan. Oleh karena itu, Boleh Mengingkari Penguasa Secara Terbuka Bila Di Anggap Dapat Mewujudkan Maslahat, yaitu hilangnya kemungkaran dan berubah menjadi kebaikan. Dan boleh pula mengingkari secara tersembunyi atau rahasia bila hal itu dapat mewujudkan maslahat, sehingga kerusakan tidak dapat ditanggulangi dan tidak pula berganti dengan kebaikan. (Liqa’ Al-Baabul-Maftuh)

Para ulama terdahulu dari kalangan Salafus Shalih berani mengingatkan penguasa yang berbuat salah. Tak jarang, karena enggan diajak kompromi maka mereka akhirnya berhadapan dengan ”siksaan”. Dan itu semua dihadapi dengan penuh ketegaran, diantaranya seperti Imam Ahmad Bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dll.

Dengan menjaga jarak terhadap penguasa dan tetap berkata HAQ dihadapan para penguasa, para ulama tidak terbebani, demikian pula mereka tidak terbebani ketika harus melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kepada para penguasa. Bahkan kerap kali para ulama harus berhadapan dengan resiko yang besar ketika melakukan hal itu. akan tetapi, mereka tidak pernah gentar.

Anehnya, banyak kalangan yang menyalahkan dan membid’ahkan para Da’i yang ikhlas mengkritik pemerintah/pemimpin secara terbuka dengan alasan “itu manhaj khawarij” atau alasan lain semisal “kita harus menasehati secara langsung empat mata”, padahal, dirinya sendiri tak pernah berhadapan langsung dengan pemimpin secara empat mata, yang ada adalah diam terhadap kemungkaran pemimpin dan mencari aman. Dikhawatirkan, hal seperti ini termasuk yang dinilai oleh ulama salaf dahulu sebagai suatu cabang dari cabang-cabang kemunafikan, sebagaimana kata Imam Abu Hazim,”Sebaik-baik umara adalah mereka yang mendatangi ulama dan seburuk-buruk ulama adalah mereka yang mencintai penguasa.”

Jadi menasehati atau mengkritik pemimpin dengan cara yang bijak (baik secara langsung atau tidak langsung) adalah kemuliaan dan keberanian. Adapun diam terhadap kemungkaran penguasa dengan alasan tidak boleh mengumbar aib penguasa di media umum adalah dikhawatirkan termasuk yang dicela.

Marilah kita senantiasa menasehati pemimpin sesuai kemampuan kita, bila dengan cara langsung dihadapannya kita rasa mampu maka lakukanlah, namun bila dengan cara pembentukan opini dan kritik terbuka yang bisa kita lakukan dan diharap dapat mendatangkan maslahat atau minimal mengurangi madhorot maka silahkan lakukan, seraya tetap mendoakan kebaikan untuk pemimpin kita agar dibimbing oleh Allah kepada jalan yang benar sesuai ajaran Islam.

Muncul pertanyaan, “Apakah mengkritik penguasa secara terbuka tidak pernah di contohkan para ulama dan hal itu merupakan manhaj khawarij ??”

Jawabannya simple, pada tahun 83 Hijriyah, sebanyak 100.000 penduduk Bashrah dan Kuffah berkumpul melawan Khalifah Abdul Malik dan panglimanya yang bernama Hajjaj. Beberapa ulama turut serta dalam perlawanan ini, seperti : Imam Sa’id bin Jubair, Imam Asy-Sya’bi, Imam Hasan Al Bashri dan Muslim bin Yasar. Walau demikian, tidak ada satupun ulama yang menuduh 100.000 penduduk Bashroh dan ulama-ulama diatas sebagai khawarij.

Imam Ahmad bin Nasr Al-Khuza’i memberontak pada khalifah dimasanya sampai beliau terbunuh. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal mendengar kabar ini beliau bersedih dan berkata: “Semoga Allah merahmati beliau, sungguh beliau telah berjuang di jalan Allah”. Kisah ini terdapat dalam Kitab Al-Bidayah wa Nihaayah di jilid ke-10.

Jadi, tidak semua yang memberontak penguasa adalah khawarij. Memberontak penguasa saja belum tentu menjadi “khawarij”, mesti dilihat dulu konteks kasusnya, apalagi hanya sekedar mengkritik dan menasehati penguasa secara terbuka.

Ulama pada masa Al-Hajjaj seperti Asy-Sya’bi, Imam An-Nakha’i, Imam Mujaahid dll mengkafirkan Al-Hajjaj sedangkan Hasan Al-Bashri, Anas Bin Malik dll tidak mengkafirkan Al-Hajjaj. Apakah Imam Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, dan Mujaahid divonis “khawarij” oleh Ulama lain di masanya? Jawabnya tidak.!

Di dalam Kitab Al-Bidayah wa Nihayah juz 8 halaman 217 disebutkan bahwasanya Imam Al Huda al-Husain bin ‘Ali Radhiyallahu’anhu, pemimpin pemuda ahlul jannah, memisahkan diri (khuruj) dari kepemimpinan penguasa fajir Yazid bin Mu’awiyyah. Imam Husain Radhiyallahu’anhu dibai’at oleh penduduk Kufah pada tahun 61 Hijriyah. Beliau juga mengutus anak pamannya, Muslim bin ‘Aqil untuk mengambil bai’at penduduk Kufah untuk dirinya. Dan tidak kurang 18 ribu orang membai’at dirinya. Dan di dalam sejarah, tak seorang pun menyatakan bahwa Imam Husain Radhiyallahu’anhu pada saat itu termasuk firqah sesat atau “khawarij”. [Lihat Kitab Al-Bidayah wa An Nihayah]

Demikianlah cara yang dilakukan oleh Imam Husain Bin ‘Ali Radhiyallahu’anhu untuk mengoreksi dan mengkritisi kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyyah, walau berujung pada pembantaian berdarah keluarga Ahlul Bait dan beliau gugur sebagai Syahid. Ingat!! Beliau di bantai di karbala’ karena keteguhan beliau keluar dari ketaatan penguasa fajir lagi zholim, yakni Yazid Bin Mu’awiyah.

Lantas, bagaimana kalau para ulama diatas melakukan hal seperti itu dizaman sekarang ?
Ulama membagi pemberontak menjadi 4 macam; yaitu khowarij, muharribun, ahlul baghiy dan ahlul haq. Namun kenapa para Da’i dan pencari ilmu hanya dicecoki “khawarij saja” ?

Semoga Allah membimbing pemimpin-pemimpin kita ke jalan yang lurus dan memberi petunjuk kepada kita semua baik rakyat maupun pemimpin, Allaahumma Aamiin…

(selesai tulisan Abu Husein)

***

Teladan Para Shahabat radhiyallahu ‘anhum  

Jadi teladan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum ada yang menasehati penguasa yang Haq dengan cara sembunyi-sembunyi demi menjaga kewibawaan sang penguasa. Namun ada pula dari teladan para Shahabat Nabi yang bertindak tegas didepan umum terhadap penguasa, bila situasinya menghendaki demikian. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Jundub terhadap Al Walid dan seperti yang dicontohkan Abu Sa’id Al Khudri dan Abu Mas’ud Al Anshari terhadap Marwan bin Al Hakam dan sebagaimana dicontohkan oleh Abdullah bin Amer bin Al Ash terhadap Anbasah bin Abi Sufyan.

Jadi saya nasehatkan kepada para remaja Salafiyyin, kalau mau mengambil “Teladan Para Shahabat radhiyallahu ‘anhum”, jangan pilih-pilih yang sesuai dengan pemikiran kalian. Akan tetapi pelajarilah semua riwayat yang shahihah dan setelah itu carilah keterangan para Ulama’ tentang pengertian riwayat-riwayat yang shahih itu. (Lihat: MENDUDUKKAN TUDUHAN “KHAWARIJ” November 5, 2014 in Artikel (Tanggapan Terhadap Tulisan Yang Berjudul “Menyingkap Syubhat Khawarij dalam Majalah Salafy”) Oleh Al Ustadz Ja’far Umar Thalib hafizhahullah wa saddadahu khuthahu http://jafarumarthalib.com/?p=78 ).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.337 kali, 1 untuk hari ini)