Ada pelajaran bagus yang kita dapatkan dari suatu hadits sabahat Abu Musa al-Asy’ari yang shahih, diriwayatkan oleh para imam seperti: al-Bukhary, Muslim, an-Nasa’i, Abu Daud dan lainnya. Suatu ketika, sang sahabat Nabi yakni Abu Musa datang kepada Nabi diapit oleh kedua saudara sesukunya (al-Asy’ari) yang datang jauh-jauh dari Yaman. Abu Musa tidak tahu sebelumnya maksud dan tujuan mereka meminta diantarkan bertemu dengan Nabi.

Setelah menemui Nabi, salah satu dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami minta dipekerjakan (sebagai amir) di suatu wilayah.” Pun begitu dengan satunya lagi. Ternyata mereka meminta jabatan.

Kontan, Abu Musa langsung malu bukan kepayang dibuatnya. “Wahai Rasulullah, demi Allah, saya tidak tahu bahwa maksud mereka sebelumnya adalah mencari imarah (kekuasaan) untuk suatu wilayah.” Dan Nabi pun juga bersabda menunjukkan ketidaksukaan atas itu:

“إِنَّا لاَ -أَوْ لَنْ- نَسْتَعِينَ عَلَى الْعَمَلِ مَنْ أَرَادَهُ”

“Sesungguhnya kami tidak (atau tidak akan) meminta bantuan atas amal (yakni: imarah atau kekuasaan) kepada orang yang menginginkannya.”

Yakni: beliau tidak suka jika ada orang mengajukan dirinya untuk menjadi pemimpin suatu wilayah. Dan hal ini secara zahir adalah yang masyhur pada asalnya di Salaf kita. Berhasrat kepada kepemimpinan adalah sesuatu yang tabu dalam manhaj Salaf. Ini karena Rasulullah pernah bersabda:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

““Wahai ‘Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan. Karena sesungguhnya jika engkau diberikan karena memintanya, maka jabatan tersebut akan sepenuhnya dibebankan kepadamu. Namun jika jabatan tersebut diberikan bukan karena permintaanmu, maka engkau akan dibantu dalam melaksanakannya.” [H.R. Al-Bukhary, Muslim, Ahmad dan lainnya]

Juga hadits riwayat Abu Hurairah:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَسَتَصِيرُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya kalian akan berambisi akan jabatan kepempimpinan. Dan itu akan menjadi penyesalan dan penyesalan pada hari Kiamat.” [H.R. Al-Bukhary dan Ahmad]

Maka, jika sedari awal kita menuntut ilmu atau berdakwah karena berambisi meraih posisi kepemimpinan wilayah/daerah, koreksi lagi. Berhenti dulu untuk muhasabah.

Hadits-hadits di atas, telah kami bahas sanad dan matannya di kajian Sunan an-Nasa’i beberapa waktu lalu, yang bisa antum pelajari bersama di:

Selamat menuntut ilmu hadits. Semoga kajian tersebut bermanfaat.

Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.985 kali, 1 untuk hari ini)