ilustrasi : Google

Ada berita heboh ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) Jimly As-Siddiqi mendukung Presiden Jokowi 10 tahun. Lalu dia minta maaf karena pernyataannya itu jadi ribut dan banyak yang protes, hingga beberapa tokoh ingin keluar saja dari ICMI kalau ketuanya sudah main folitik seperti itu.

Sikap seperti itu sepertinya telah dikenal dalam kancah percaturan pergaulan. Istilahnya mencla-mencle esuk dele sore tempe (mencla mencle pagi masih berupa kedelai, sore hari sudah jadi tempe) alias plintat plintut.

Entah sikap itu ditiru dari mana, tapi perkenankan saya sekadar mengemukakan peristiwa yang semodel dengan itu.

Dedengkot apa yang disebut cendekiawan muslim Nurcholish Madjid pernah mencla-mencle juga. Di kala partai PPP masih merupakan partai Islam (kental) zaman Presiden Soeharto, tahu-tahu didukung Nurcholish. Tapi tiba-tiba giliran berikutnya, Nurcholis mendukung Golkar (lawan dari PPP), maka orang pun jengak. Lho kenapa anda kemarin dukung PPP kok sekarang dukung Golkar?

Jawab Nurchlish kurang lebihnya, karena kemarin saya hanya memompa ban kempes, karena PPP sedang digembosi waktu itu…

(Catatan saya: Itu dalam hal folitik. Dalam hal ilmu bahkan aqidah, pun Nurchlish Madjid mencla mencle alias plintat plintut. Contohnya ini:

Di kantor pusat PBNU di Jakarta zaman Soeharto dengan menteri agamanya Munawir Sjadzali, ada kajian tentang kitab Al-Ibanah karya Abul Hasan Al-Asy’ari. Nurcholish Madjid mengkritik Abul Hasan Al-Asy’ari. Tapi dua pekan setelah itu, Tutty Alwiyah dari As-Syafi’iyah Jakarta mengadakan kajian tentang sosok Abul Hasan Al-Asy’ari itu pula. Eh, Nurcholish Madjid memuji-mujinya. Lalu saya tanya di forum itu: Kenapa kemarin di PBNU anda mengkritik Abul Hasan Al-Asy’ari, tapi sekarang anda memuji-mujinya?

Jawab Nurcholish: likulli maqom maqol. ( pembicaraan itu sesuai dengan tarapnya). waduh…

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.626 kali, 1 untuk hari ini)