Dalam kasus penyebaran salam ‘oplosan’ (ucapan salam Islam -Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh- disertai salam2 agama selain Islam –yang muatannya adalah bukan Tauhid tapi kemusyrikan-, dikhawatirkan itu sebagai pembuka pintu keburukan.

Hakekatnya: Mengucapkan salam Islam disertai salam agama selain Islam pada hakekatnya adalah penodaan terhadap Islam secara terang-terangan (karena mencampur aduk Tauhid dengan kemusyrikan). Bahkan bila disengaja atau bahkan disengaja agar ditiru, maka berarti punya misi pemurtadan secara massal.

Mencontohi praktek salam Islam disertai salam agama selain Islam, resikonya mendapatkan dosa, masih pula memperoleh dosa dari para penirunya tanpa mengurangi dosa para penirunya. Betapa beratnya, menumpuk dosa. Orangnya (yang mencontohi itu) sudah meninggal pun bila ajaran atau contohnya itu masih dilakukan orang, maka tetap masih mendapatkan aliran dosa . Betapa beratnya. Maka sebaiknya para pelakunya (yang mencontohi itu) mengumumkan untuk mencabut dari kesalahannya dan bertaubat. Semoga saja.

Mari kita tengok sorotan masalah salam oplosan, di antaranya ini:

Musibah Agama! Salam Islam Dilanjutkan dengan Salam Agama-Agama Lain


Posted on 14 April 2019

by Nahimunkar.com


Astaghfirullah. Capres 01 Jokowi dan Capres 02 Prabowo  sama-sama mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain. Itu berlangsung dalam debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu malam (13/4/2019).

Mereka sama-sama orang Islam. Perlu diketahui benar-benar, Salam dalam Islam itu termasuk doa. Doa itu ibadah. Sedangkan dalam Islam sudah jelas melarang mencampur ibadah dengan ritual agama lain. Ditegaskan, ibadah itu haram dicampur atau disertai ritual agama-agama lain. Karena telah ditegaskan dalam QS Al-Kafirun: 6.

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  ٦ [ الـكافرون:6-6]

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

Dengan demikian, mengucapkan salam Islam, lalu dilanjutkan dengan salam agama-agama lain itu jelas-jelas melanggar. Bahkan dapat menjadikan pelakunya murtad alias keluar dari Islam, membatalkan syahadat. Karena sama dengan mengikrarkan ketuhanan agama lain yang otomatis kontradiksi dengan Syahadat. Ini berlaku bagi setiap Muslim, tanpa terkecuali capres maupun presiden.

Ini musibah agama!

Ini biangnya. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta berdoa untuk membuka debat kelima (terakhir) capres cawapres 2019. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh), lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain dan bahkan aliran kepercayaan. ini di antara biangnya, karena telah diketahui, Nasaruddin Umar Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen. Maka dia pantas untuk bertanggung jawab atas musibah agama, dua capres (Jokowi dan Prabowo) pun kemudian mengucapkan salam Islam disertai salam-salam agama-agama lain.

***

Bisa Murtad dan Musyrik! Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain


Posted on 30 Oktober 2014 – by Nahimunkar.com


Presiden Joko Widodo (ANTARA/Yudhi Mahatma) dalam acara pelantikan yang digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Jokowi pidato sejak 11.40 WIB sampai 11.50 WIB. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.

  • Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa.
  • Salam Oplosan, Haram! Dapat Membatalkan Iman bagi Muslim. Lebih dahsyat bahayanya dibanding miras oplosan yang dapat mengakibatkan copotnya nyawa.
  • Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.

Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).

Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

Lebih lengkapnya dapat dilihat di sini: https://www.nahimunkar.org/musibah-agama-salam-islam-dilanjutkan-dengan-salam-agama-agama-lain/

 

***

Celakalah Pembuka Pintu Keburukan


Rasulullah bersabda:


إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ.


“Sesungguhnya di antara manusia ada kunci-kunci (pembuka pintu) kebaikan dan gembok-gembok (penutup pintu) keburukan. Dan di antara manusia ada kunci-kunci (pembuka pintu) keburukan dan gembok-gembok (penutup pintu) kebaikan. Beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan tersebut di kedua tangannya. Dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di kedua tangannya.” (HR. Ibnu Majah dihasankan oleh Al-Albani).

Ilustrasi bbgnislmcom

***

Ketika yang memberi contoh salam ‘oplosan’ itu pemimpin, lalu didukung oleh para pengusungnya, maka dikhawatirkan terkena pula ancaman dalam hadits.

***

Pendukung Pemimpin Bohong Lagi Zalim Bukan Golongannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Posted on 24 Juli 2017

by Nahimunkar.com

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

الراوي : جابر بن عبدالله المحدث : الألباني

المصدر : صحيح الترغيب الصفحة أو الرقم: 2242 خلاصة حكم المحدث : صحيح لغيره

/Dorar.net

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari Imaratis Sufahaa’ (pemerintahan orang-orang yang bodoh)”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliyallahu’anhu) bertanya, apa itu pemerintahan orang-orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin (kekuasaan) sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka, serta tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku. (Musnad Ahmad No.13919, shahih lighairihi menurut Al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 204 kali, 1 untuk hari ini)