Siapa wala’ (setia) kepada nasrani maka dia termasuk golongan mereka

Orang-orang dari gereja liar GKI Yasmin Bogor bertemu dengan Said Agil Siradj (berpeci) Ketua Umum PBNU di Kantor PBNU Jl Kramat Raya, Jakarta, Selasa (15/11). Foto anchoroflife

Inilah beritanya.

***

Said Aqil Bela GKI Yasmin, Slamet Effendi: Itu Hanya untuk Menyenangkan

Jakarta – Mendagri Gamawan Fauzi mengeluhkan statemen sejumlah tokoh ormas Islam yang diangap membela GKI Yasmin dan menyerang pemerintah. Padahal, seperti diceritakan Ketua MUI Pusat KH Ma’ruf Amin, Mendagri sepakat bahwa persoalan GKI Yasmin adalah murni persoalan hukum dan solusinya adalah dilakukan relokasi.

Demikian dikatakan KH Ma’ruf Amin dalam bincang santai dengan sejumlah tokoh-tokoh pimpinan ormas Islam sebelum acara Coffee Morning di Kantor Mendagri, Kamis (26/1/2012) dimulai.

Menanggapi lontaran Kiyai Ma’ruf, Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf yang hadir dalam kesempatan itu menjawab jika pembelaan kepada GKI Yasmin itu dilontarkan oleh Ketua umum PBNU Said Aqil Siradj, maka itu semata hanya untuk menyenangkan pihak Kristen. “Itu hanya untuk menyenangkan saja”, kata Slamet singkat.

Saat Ketua Forkami, Ustadz Ahmad Iman, melontarkan pertanyaan kepada mantan Ketua Umum GP Ansor itu apakah pernyataan Said Aqil hasil rapat resmi PBNU atau pribadi, Slamet menjawab  jawaban Said Aqil dalam kapasitasnya sebagai pribadi. “Itu (pendapat) pribadi, bukan hasil rapat”, jawabnya.

Perlu diketahui, bahwa dalam kasus GKI Yasmin memang telah memunculkan orang-orang yang disebut oleh para aktivis Forkami sebagai pahlawan kesiangan. Adnan Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis, Asep Zulfikar, Lily Wahid dan sejumlah politisi dari PDIP adalah deretan nama pembela GKI Yasmin yang dituding warga sebagai pahlawan kesiangan. Sementara Said Aqil yang juga bersuara keras membela GKI Yasmin dikatakan Slamet Efendi hanya untuk menyenangkan saja.

Seperti diberitakan detikcom akhir tahun lalu (15/11/2011), Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menilai berlarut-larutnya kasus GKI Yasmin adalah bentuk kegagalan pemerintah dalam menjunjung tinggi kehidupan umat beragama. Said, menuding Kementerian Agama, tidak becus dalam memelihara keharmonisan antar umat.

“Ini, menunjukkan kegagalan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama yang kurang maksimal dalam membangun keharmonisan umat beragama,” tegas Said Aqil.

Hal tersebut diungkapkan Said Aqil Siradj usai pertemuan PBNU, PGI (Persatuan Gereja-Gereja Indonesia), dan Jemaat GKI Yasmin di Kantor PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta, Selasa (15/11). Hadir dalam pertemuan itu Sekertaris Umum PGI Gomar Gultom dan Jubir GKI Yasmin Bona Sigalingging serta belasan jemaat GKI Yasmin lainnya.

Rep: Shodiq Ramadhan

Shodiq Ramadhan | Kamis, 26 Januari 2012 | 13:44:18 WIB (SI ONLINE).

***

Siapa wala’ (setia) kepada nasrani maka dia termasuk golongan mereka

 

] يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ[

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al-Maidah: 51).

] تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ !وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ[

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada allah, kepada nabi (musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80-81)

Ibn Taimiyah berkata tentang ayat ini: “Penyebutan jumlah syarat mengandung konsekuensi bahwa apabila syarat itu ada, maka yang disyaratkan dengan  kata “seandainya” tadi pasti ada, Allah berfirman:

] وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ[

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong”.

Ini menunjukkan bahwa iman tersebut menolak penobatan orang-orang kafir sebagai wali-wali (para kekasih dan penolong), tidak mungkin iman dan sikap menjadikan mereka sebagai wali-wali bertemu dan bersatu dalam hati. Ini menunjukkan bahwa siapa yang mengangkat mereka sebagai wali-wali, berarti belum melakukan iman yang wajib kepada Allah, nabi dan apa yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an)” (Ibn Taimiyah, Kitab al-Iman, 14, sebagaimana dikutip dalam makalahnya, AQIDAH WALA’ DAN BARA’ Oleh: Ust. Agus Hasan Bashari Lc, M. Ag ).

Peringatan tegas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya  fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 169).

Cenderung kepada mereka yang kafir, diancam siksa berlipat ganda.

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا (73) وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (75)  [الإسراء/73-75]

73. Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu Jadi sahabat yang setia.

74. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

75. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS al-Israa’/ 17: 73-75).

Dalam ayat itu, menurut Al-Jazairi dalam kitabnya, Aisarut Tafasir,  kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cenderung sedikit saja kepada usulan-usulan kekafiran mereka, maka diancam (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.

Bagaimanapun, cenderung sedikit saja kepada kafirin, jelas diancam siksa berlipat ganda. Apalagi bukan hanya cenderung sedikit tetapi bahkan sampai ngotot berkali-kali membela pihak kafirin dalam urusan kekafiran mereka plus dalam melawan hukum. Betapa beraninya orang itu. Apa yang dia cari?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.094 kali, 1 untuk hari ini)