177 WNI yang Ditahan di Filipina (Foto: Ali Vicoy/mb.com.ph)


Jakarta – Tanah Air dihebohkan berita 177 WNI ditahan Imigrasi Filipina karena memakai paspor Filipina untuk berangkat haji. Insiden ini tentunya juga menjadi tanggung jawab dari biro travel haji khusus yang memberangkatkan mereka.

Informasi dari KBRI di Manila menyebut salah satu biro travel haji khusus yang diduga memberangkatkan mereka adalah sebuah biro yang menurut websitenya berkantor di Koja, Jakarta Utara. Inisial biro travel itu adalah HEB.

HEB memiliki sebuah situs yang cukup informatif. Di dalamnya terdapat banyak nomor telepon pemimpin biro tersebut beserta para staf yang bisa dihubungi. Tertulis jaringan mereka tersebar di Jakarta, Bekasi dan Malaysia.

Pada Senin (22/6/2016), detikcom menelepon nomor pemimpin HEB berinisial AP yang tertulis di website. Namun nomor tersebut tidak aktif. Saat dihubungi ke kantornya, dijawab oleh seorang perempuan yang mengaku istri AP. Dia tidak mau berbicara atas kasus tersebut. Dia juga tidak mengetahui di mana suaminya berada.

Staf lainnya berinisial R saat ditelepon mengaku sudah keluar dari perusahaan tersebut. Dia mengaku tidak tahu-menahu atas kasus tersebut.

“Saya sudah resign dari perusahaan tersebut. Sudah dulu, ya, saya sedang di pasar ini,” katanya.

Jaringan HEB yang berada di Malaysia, berinisial I, tidak mengangkat teleponnya. Sedangkan staf dari jaringan lainnya di Bekasi teleponnya tidak bisa dihubungi.

detikcom kemudian mencari kantor HEB yang di website ditulis beralamat di sebuah jalan bernomor 49, RT 4/RW 2, Koja, Jakarta Utara. Namun di RT tersebut ternyata tidak ada yang bernomor 49. Warga menyebut nomor 49 terletak di RT 5. Namun saat didatangi, bangunan nomor 49 itu adalah rumah biasa tertutup yang di terasnya terdapat bekas peralatan jualan makanan, seperti kompor yang diletakkan di atas meja. Tetangga rumah tersebut saat ditanya detikcom menyebut tidak ada kantor biro perjalanan haji HEB di daerah itu.

detikcom lalu menelepon kembali alamat kantor HEB sesuai yang tertera di website. Seorang perempuan mengangkat telepon, namun menolak menyebutkan alamatnya. Dia juga meminta agar tidak didatangi dan menolak diwawancara. “Tolong jangan diliput, saya pusing,” pintanya dengan suara seperti hendak menangis.

Beberapa jam kemudian, situs HEB berubah. Informasi nomor telepon tak lagi bisa dilihat. Tertera tulisan ‘Situs ini sedang dalam pemeliharaan. Silakan kunjungi beberapa saat lagi’.

Namun web itu masih memasang tag seperti sebelumnya ‘Umroh dan Haji Khusus’. Tidak ada lagi tertera nomor telepon yang bisa dihubungi. Kondisi yang sama masih terjadi hingga Selasa (23/6/2016).

Kemlu RI menyebut jemaah berasal dari berbagai daerah, namun mayoritas dari Sulawesi Selatan. “Tahun lalu kejadian serupa sudah pernah terjadi, sebanyak 57 calon jemaah haji asal Parepare juga gagal berangkat lewat Filipina karena kasus yang sama, saya harapkan tahun depan tidak ada lagi warga Sulsel yang berangkat haji secara nekat dan ilegal,” kata Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Abdul Wahid Tahir pada Senin kemarin. Wahid sedang menelusuri biro travel di Sulsel yang juga terlibat memberangkatkan jemaah.(nwy/nrl)

Sumber : news.detik.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.981 kali, 1 untuk hari ini)