ilustrasi/ foto ummi


Di Jakarta ada tempat-tempat penyelenggaraan shalat hari raya (iedul adha dan iedul fithri) khusus perempuan dari kalangan tradisional. Padahal masalah itu sudah pernah diingatkan oleh ustadzah tradisional pula, bahwa itu tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi jangan sampai menyelenggarakan sendiri hanya untuk khusus orang perempuan, shalat ied beserta khutbahnya. Hingga imam dan khatibnya pun perempuan, tanpa jama’ah laki-laki, itu tidak ada contohnya dar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anehnya, sampai kini masih ada saja jama’ah khusus wanita menyelenggarakan shalat ied itu. Ada yang di ruangan majlis ta’lim, ada juga yang di langgar atau surau (kini disebut mushalla, padahal mushalla aslinya (dalam hadits) adalah tanah lapang untuk shalat ied).

Mengenai istilah mushalla, contohnya adalah hadits ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ: (( بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى )).

“Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata, “Saya menghadiri shalat idul-Adha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mushalla (tanah lapang). Setelah beliau berkhutbah, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepadanya seekor kambing. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengatakan: Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Kambing ini dariku dan dari orang-orang yang belum menyembelih di kalangan umatku” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 11051, Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 2812, Imam At-Tirimidzi dalam Sunan-nya no. 1521 dan yang lainnya. Imam At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini gharib”. Syaikh Al-Albani menshahihkan Hadits ini dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan lainnya)/ (lihat https://muslimah.or.id ).

Kembali ke masalah jama’ah ied khusus wanita. Memang kaum wanita, sampai yang sedang haidh pun diimbau untuk keluar dari rumah mendatangi mushalla (tanah lapang tempat shalat hari raya iedul adha dan iedul fithri). Hanya saja wanita yang sedang haidh hendaknya menyingkir dari tempat shalat. Tetapi bukan berarti wanita untuk menyelenggarakan shalat ied khusus wanita. Karena dalam hadits-hadits telah dijelaskan.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: ” أَمَرَنَا بِأَبِي وَأُمِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نُخْرِجَهُنَّ يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ، الْعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَالْحُيَّضَ، فَأَمَّا الْحَيْضُ فَيَعْتَزِلْنَ الْمُصَلَّى، وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قَالَ: فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِحْدَاهُنَّ لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ؟ فَقَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ. وَأَخْرَجَاهُ مِنْ حَدِيثِ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ، وَأَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَيُّوبَ عَنْ حَفْصَةَ. وَأَخْرَجَاهُ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، فَهُوَ حَدِيثٌ ثَابِتٌ

معرفة السنن والآثار (5/ 94)

Dari Ummu ‘Athiyyah Ra ia berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan pada hari Iedul Fithri dan Iedul Adhaa: Wanita-wanita yang dipingit, Wanita-wanita dan Hamba sahaya. Adapaun wanita-wanita yang sedang haidh hendaklah mereka menjauhi tempat sholat dan menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin”

Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, salah seorang diantara kami tidak memiliki jilbab” Beliau menjawab: “Hendaklah saudaranya memberikan pakaian kepadanya” (HR. Bukhori 324 dan Muslim 890)

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : { كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ } . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

       Dari Ibnu Abbas Ra ia berkata: “Aku pernah menyaksikan sholat Ied bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Utsman Ra. Dan mereka semuanya melaksanakan sholat sebelum khutbah” (HR. Bukhari No. 989 dan Muslim 884)

 Barisan shaf wanita adalah di belakang barisan shaf shalat kaum lelaki.

Wanita ketika shalat berjama’ah menduduki shaf paling belakang

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shof untuk laki-laki adalah paling depan sedangkan paling jeleknya adalah paling belakang, dan sebaik-baik shof untuk wanita adalah paling belakang sedangkan paling jeleknya adalah paling depan.” (HR. Muslim no. 440)

Shalat ied dua rak’at kemudian khutbah

{ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إلَى الْمُصَلَّى وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ – وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ – فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ } . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

       Bahwa Nabi SAW keluar pada hari ‘Iedul Fithr dan ‘Iedul Adha ke mushalla, beliau memulai pertama kali dengan shalat, kemudian beranjak dan berdiri menghadap orang-orang, sementara orang-orang masih dalam shaf masing-masing, beliau menasehati mereka dan memerintahkan mereka. (Muttafaq ‘alaih).

 Dalam riwayat, setelah selesai berkhutbah, Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam menuju ke belakang, ke tempat barisan shaf wanita untuk memberi nasihat bahwa kebanyakan isi neraka adalah wanita. mereka kaum wanita masuk neraka karena kufur ni’mat, tidak terima (yakni mengingkari) atas kebaikan suaminya. maka (agar terhindar dari nereka) hendaklah para wanita bersedekah.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ، وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: «تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ»، فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ»، قَالَ: فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

صحيح مسلم (2/ 603)

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata: Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hari‘Ied. Shalat dilakasanakan sebelum khutbah, tanpa adzan dan tanpa iqamah. Kemudian beliau berdiri dan bersandar kepada Bilal, memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, memotivasi untuk melakukan keta’atan, menasehati manusia, dan mengingatkan mereka.
Nabi pun berlalu menuju jama’ah perempuan, memberi nasehat dan mengingatkan mereka. Nabi berkata,

Bersedekahlah kalian! Karena sesungguhnya kebanyakan/mayoritas kalian adalah bahan baku (neraka) jahannam.
Maka berkatalah seorang perempuan yang berada di tengah-tengah shaf perempuan, yang pipinya terlihat ada bekas hitamnya, “Alasannya apa wahai Rasulullah?

Rasulullah menjawab, “Karena kalian adalah (makhluk) yang suka mengeluh dan mengingkari kebaikan (suami).
Maka para perempuan langsung menyedekahkan perhiasan mereka yang berupa kalung dan cincin, dan melemparkannya ke pakaian Bilal. (HR. Muslim)

Dari hadits tersebut jelas, jamaah wanita tempatnya di belakang jamaah lelaki. Jadi bukan di tempat lain tersendiri khusus untuk perempuan yang imamnya dan khatibnya perempuan. Bukan. Tetapi imam dan khatibnya adalah laki-laki, dan jama’ahnya adalah kaum laki-laki di barisan depan dan kaum perempuan di barisan belakang.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.275 kali, 1 untuk hari ini)