Gejala munafiqin masa kini

Orang munafiq adalah yang mengaku Islam namun hatinya ingkar, benci kepada Islam. Munafiqin zaman dulu menutup rapat-rapat kebenciannya terhadap Islam. Tapi munafiqin masa kini tampaknya tidak punya aturan lagi dalam membuka mulut.

Mereka tidak doyan memperjuangkan Islam tetapi mereka menolak kalau dikatakan sebagai orang yang tidak berjuang Islam. Lalu mereka membuat alasan macam-macam. Misalnya, mereka mengatakan: Kalau kita hanya memperjuangkan Islam, itu artinya kita ini tidak nasionalis, tidak toleran, tidak memikirkan umat lain. Kalau kita hanya ingin mengangkat pemimpin yang Islam itu tidak sesuai dengan perpolitikan. Dalam perpolitikan, yang penting itu kepemimpinannya, bukan dari agama apa dia. Kalau kita hanya mau memilih pemimpin yang Islam itu tidak demokratis dsb. Itulah ungkapan kaum munafiqin.

Itulah pemikiran perusak Islam yang sejati, namun mereka tidak mau kalau disebut sebagai perusak, dan tak mau pula berhenti dari merusak. Kalau diingatkan jangan merusak, maka mereka berbalik bahwa diri mereka bukan merusak, namun membangun. Itu seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat orang munafik.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢ [سورة البقرة,١٠-١٢]

(10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta, (11) Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”, (12) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar [Al Baqarah,10-12]

Di dalam hati mereka ada penyakit, di antaranya yaitu penyakit merusak Islam, namun mereka tidak mau kalau disebut tidak termasuk barisan Islam, walau lebih sreg berbaris dengan orang yang tidak Islam sambil mengambil jarak kepada barisan Islam. Penyakit itu Allah tambahi. Hingga, mereka sakit hati ketika Islam semarak, hidup, berkembang, subur, apalagi tegak dengan hukum-hukumnya. Islam bersatu padu, Islam bisa bicara untuk menyuarakan agar hukum Islam diterapkan lewat instrumen negara. Sakiit benar hati mereka kalau mendengar perkataan itu.

Biarlah Allah menambah sakitnya dengan makin banyaknya orang yang berani mengemukakan pendapat pentingnya penerapan hukum Islam –yang memerlukan penanganan negara– oleh negara. Islam ini dijamin oleh konstitusi, tetapi mana wujud jaminannya… dan sebagainya…

Kini ada petisi TNI berjenggot… pasti nambahi sangat sakit hati bagi orang-orang munafik, dan tambah-tambah sakit…

Ada aparat yang mengajak anak buahnya untuk shalat berjamaah di masjid, pasti menjadikan tambah sangat sakit hati bagi orang-orang munafik.

Ada hukum cambuk diterapkan bagi pezina, pemabuk, penjudi dan sebagainya; pasti menambah sakit hati bagi orang-orang munafik.

Apalagi kalau sampai ada yang berani melarang adanya acara hura-hura penghamburan harta dan mubazir misalnya pesta larung (sesaji untuk) laut, labuh sesaji, sedekah bumi dan sebagainya (atas nama ulang tahun kota atau desa dsb) yang semuanya itu berupa penyembahan terhadap syetan, dosa paling besar dan tak terampuni; maka adanya orang yang melarang itu akan sangat menyakitkan hati orang-orang munafik.

Apalagi kalau sampai ada yang berani menutup kuburan keramat, karena menurut Islam tidak ada kuburan keramat (sampai kuburan para syuhada’ yang meninggal ketika perang melawan orang kafir pun tidak boleh dikeramatkan); maka akan sakit hati sekali para pemuja kuburan dan pendukungnya dari kalangan munafik.

Apabila ada orang berani melarang peredaran khamr, miras, minuman beralkohol, memabukkan dan sebagainya, maka larangan itu sangat menyakitkan hati orang-orang munafik.

Bila orang munafik itu punya jabatan, maka akan berteriak dengan jabatannya. Bila mereka orang media maka akan berteriak memuntahkan sakit hatinya lewat media yang dikuasainya, sambil mungkin kongkalikong dengan kafirin dan bos-bos permirasan dan kemaksiatan lainnya. Namun itu semua hanya akan menambah-nambah sakit hati mereka sendiri.  Dan itulah yang selama ini diderita kelompok-kelompok munafiqin dan anti Islam, entah itu dari golongan JIN, JIL, Anus (agama nusantara?), berfaham liberalisme agama, sekulerisme, pluralisme agama, multikulturalisme maupun pembenci-pembenci Islam lainnya termasuk para pembuat upacara-upacara yang diada-adakan atas nama agama padahal tidak ada perintah dalam agama. Golongan terakhir ini biasanya dari dulu hingga kini tampaknya lebih cocok ketika bergabung dengan pihak-pihak yang berseberangan dengan Islam (bahkan dengan PKI Komunis pun dilakoni) dan sangat benci kepada yang ingin menegakkan Islam. Shahih?!

Saking sakitnya hati orang-orang munafik, hingga digambarkan dengan jelas dalam Al-Qur’an:

{يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ }  [سورة الـمنافقون,٤]

Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) [Al Munafiqun4]

Itulah celaan Allah Ta’ala terhadap orang-orang munafik, mereka sangat-sangat pengecut, hingga tiap ada suara keras dikira pasti ditujukan kepada mereka, saking kepengecutannya, menurut Tafsir Zaadul Masir oleh Ibnul Jauzi. Padahal mereka juga hanya budak dari orang-orang kafir. Bagaimana pula bila dari pihak Islam bersuara keras, sedang dari kafir juga sudah tidak percaya kepada munafiqin itu karena sudah dianggap tidak ada gunanya lagi?

Betapa sakitnya hati mereka yang munafik-munafik itu. Dan Allah pun menambahi sakitnya:

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (QS Al-Baqarah: 10)

Di dunia saja sudah paling sakit hatinya, sedang di akherat, siksanya paling pedih dibanding penjahat-penjahat tingkat tinggi lainnya. Jadi, apa enaknya jadi orang munafik, kalau gitu! Tetapi kenapa semakin banyak saja ya, gejalanya?

Ilustrasi : loveislam-dputra.blogspot.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 471 kali, 1 untuk hari ini)