Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Tadi saya bermimpi dalam tidur. Di mimpi itu, rupanya saya berperan sebagai penerjemah Tabligh Akbar Syaikh Adnan al-Ar’our. Sekian wasiat beliau dan tuturkan harapan semoga kita menjaga keamanan negeri. Semoga negeri kita tak sehancur apa yang telah tersaksi. Setelah bait itu, terdengar tangisan demi tangisan pecah. Tangisan saya pun ikut membuncah. Suatu harapan bersama semoga negeri kita tetap aman…

Terbangun dari mimpi kemudian. Tak selang lama, saya membuka suatu kitab. Judulnya “Langkah Praktis Mendakwahi Keluarga”. Terlintas 2 point penting dalam berdakwah:

[1] Pasti Mendapatkan Cobaan, dan

[2] Jangan Tergesa-gesa

Obat untuk tegar menghadapi keduanya adalah SABAR. Pil pahit menuju kemenangan besar. Ada suatu hadits di Shahih al-Bukhary yang diceritakan oleh seorang sahabat:

“Kami pernah mengadu kepada Rasulullah sementara beliau sedang berselimut dengan burdah bersandar di bawah Ka’bah. Kami berkata, “Ya Rasulullah, kenapa engkau tidak meminta bantuan kepada Allah untuk keselamatan kami?”

Saat itu, kawan…para sahabat sedang di bawah rezim penyiksaan dan penindasan. Jikalau Allah memulihkan kondisi dalam sekejap menjadi indah, tentu Dia Maha Mampu atas itu. Jikalau Rasulullah segera bermunajat memohon keselamatan segera, tentu Allah takkan menyia-nyiakan doa sebaik-baik hamba. Tetapi, apa kata Rasulullah?

كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ

“Sesungguhnya dahulu ada orang sebelum kamu dimasukkan ke dalam lubang tanah lalu disiksa kemudian digergaji hingga terbelah menjadi dua kemudian disisir dengan besi hingga terkelupas daging dan tulangnya tapi semua itu tidak menyebabkan ia keluar dari agamanya.”

Yakni, dia bersabar dan tak melakukan perlawanan karena memang tidak memiliki kemampuan setara dengan orang-orang yang menzhaliminya. Dan ia tetap berpegang teguh dengan agamanya.

Ingat, kawan. Bersabar adalah langkah utama. Ketika mendapati rezim yang zhalim, bersabarlah. Jika mampu menasehati, lakukanlah dengan cara yang secara syariat, logika dan tradisi menyepakati bahwa menasehati seorang bapak tidak sama dengan menasehati teman sendiri. Jika tidak mampu, maka bersabar dan berdoalah. Jika punya jaringan yang bisa menegakkan hujjah, maka ambillah kesempatan dengan baik. Jika tidak punya, maka bersabar dan berdoalah.

Sangat tergesa jika suatu kezaliman terawat selama berpuluh tahun, kemudian hendak diubah selama setahun. Sebelum pikirkan itu, kerap kita sungguh gagal merubah tradisi di lingkungan kita yang tak sesuai syariah Islam. Terkadang kalau kita mau berpikir sejenak, malulah kita yang dalam selingkup RT saja, celotehan kita tak didengar orang. Lebih malu lagi, jika mengatur rumah tangga saja belum seberapa shaleh. Bukan berarti mengubur niat baik demi negeri ini. Bukan….tetapi perlahan…perlahan…mulai dari yang terdekat.

Dan jangan putus asa. Mungkin saja kita bukanlah generasi yang punya jiwa, ilmu dan nyali tinggi untuk naik ke angkasa. Kesuksesan dakwah tidak mesti tampak saat nyawa masih dikandung badan. Bisa jadi kesuksesan sabarnya hamba, bermekaran setelah wafatnya. Sabar adalah suatu ilmu, yang tanpanya tiada kemenangan.

Karena itulah, setelah ceritakan kesengsaraan teguhnya hamba Allah dalam kesabaran memegang agama, Rasulullah menegaskan:

وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ، أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ،

“Demi Allah! Suatu saat Allah akan memenangkan agama ini hingga orang naik kendaraan dari Shan’a hingga Hadhramaut tidak takut kecuali hanya kepada Allah, atau serigala yang akan memakan kambingnya….”

Lalu apa kata beliau?

وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

“Tetapi kalian tergesa-gesa!”

Sabar. Jangan tergesa-gesa. Berikan yang terbaik pada masyarakat, untuk urusan tauhid mereka, shalat mereka, zakat mereka, dan akhlak mereka. Dan orang yang tak punya, takkan memberi. Orang yang tak punya kesabaran, takkan memberi jalan menuju kemenangan. Berupayalah agar tidak ada setetes darah yang tertumpah karena lidah dan tangan kita sebelumnya. Di hari Kiamat, hal pertama yang dihisab dari muamalah manusia adalah persoalan darah. Jika tidak menjadi pelaku penebas, tetaplah jangan menjadi penyebab adanya penebasan.

Insya Allah…suatu kala Allah akan memenangkan agama ini. Melainkan memang selama ini kita tergesa-gesa.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Dan demi Allah, tidak bermaksud menenggelamkan semangat pihak tertentu, atau mengangkat pihak lain. Tetapi kita sama-sama tahu kadang batin bisa menangis melihat kondisi masyarakat…dan kondisi kita sendiri. Mungkin semua orang akan takjub menjauh jika mereka tahu apa yang kita tulis dari kebaikan, ternyata apa yang ada pada diri kita adalah suatu kebalikan.

الله المستعان

(nahimunkar.com)

(Dibaca 522 kali, 1 untuk hari ini)