Pengantar:

Tulisan ini sengaja dimuat untuk memberi peringatan kepada siapapun bahwa bencana dahsyat berupa adzab kepada kaum Nabi Shalih ‘alaihis salam zaman dahulu adalah gara-gara godaan wanita hingga Sembilan penjahat menggerakkan komplotannya untuk membunuh onta Nabi Shalih ‘alaihis salam.

Akibatnya, kaum itu diazab oleh Allah Ta’la. Kaum Tsamud yang mendiami al-Hijr diazab oleh Allah dengan satu suara keras yang menggelegar hingga mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka. Sebab, menolak seruan Nabi Shalih yang mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan karena membunuh unta Nabi Shalih.

Peristiwa ini diabadikan Al-Quran dalam Surat Al A’raf.

{ وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) } وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (74) [الأعراف: 73-74-]

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.”

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS: Al A’raf [7]: 73-74)

Peringatan dari Nabi saw.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Kitab Shahihain:

وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : { مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ }

Aku tidak meninggalkan fitnah/ bencana yang lebih berbahaya atas kaum lelaki (selain bahaya fitnah) dari perempuan. ( Al-Fath juz 9 , Hadits 5096, dan Muslim juz 18 hal 54).

Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah berkata, Jika syetan putus asa mengenai sesuatu maka ia kemudian pasti mendatangi sesuatu itu dari arah perempuan. Sa’id pun berkata lagi, Tidak ada sesuatu yang lebih aku takuti di sisiku kecuali perempuan. (Siyaru ‘a’laamin Nubalaa’ Juz 4/ 237).

Kalau syetan putus asa dalam hal tertentu, maka dia akan melancarkan godaan itu dari arah perempuan. Apa yang dikatakan Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah tersebut dalam kenyataan kini tampak nyata. Sudah menjadi rahasia umum, ada proyek-proyek yang dilancarkan pengurusannya pakai umpan wanita. Itulah praktek syetan. Maka Sa’id yang di zaman sahabat tidak ada kebiasaan model syetan seperti sekarang pun, dia paling takut terhadap wanita.

Perlu disadari, saat ini sedang santer berita, ada grup ledhek wanita dari Korea yang akan didatangkan ke Jakarta untuk manggung di Monas Jakarta 2017. Para ledhek yang biasa buka-bukaan aurat itu di negerinya sendiri sering diprotes karena dikabarkan sering sengaja mempertontonkan celana dalam.

Sebuah situs mengabarkan:

Diprotes, Girl Band ‘Girls Day’ Korea Suka Pamer Celana Dalam

Dalam beberapa hari terakhir cara dan gaya kelompok girl band K-Pop bernama Girls Day yang semakin terkenal menuai pertanyaan. Fans di negara ‘kimchi’ itu mulai mempertanyakan tindakan mereka. Dan menuduh mereka sengaja memperlihatkan celana dalam mereka dalam pakaian dress pendek ketika tampil atau hadir di beberapa acara.

Demikian petikan singkat dari sebuah situs.

Kabar diundangnya pengumbar aurat dari Korea itu awalnya dikabarkan untuk HUT kemerdekaan RI ke-72. Setelah banyak protes hingga ramai dan ada petisi penolakan, buru-buru dikilahi bahwa itu untuk manggung di Monas berkaitan dengan olahraga.

Sejatinya, mau dengan alasan untuk ini dan itu, tetap saja pengadaan acara dengan mengundang ledhek Korea itu adalah penghamburan duit di saat sulit, foya-foya hura-hura, umbar sebar maksiat merusak moral masyarakat tapi dengan duit yang disedot dari rakyat. Jadi tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.

Coba kita tengok adanya azab yang menimpa suatu tempat di daerah Dieng.

Masyarakat dukuh Legetang Karangkobar Banjarnegara Jawa Tengah umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan).

Lengger itu ya ledhek, penyanyi, penjoget yang jurusannya maksiat itu.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng…

Oleh karena itu artikel ini perlu kami tampilkan untuk menentang terang-terangan dan mengecam rencana buruk mengundang ledhek Korea yang kini sedang dikilahi bahwa itu berkaitan dengan acara olehraga.

Mari kita simak tulisan berikut ini sebagai peringatan masalah gawat ini.

***

Contoh Nyata di Indonesia, Dukuh Lagetang di Dieng Diazab karena Penduduknya Maksiat

“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″/ foto uniqueislam

Masyarakat dukuh Legetang Karangkobar Banjarnegara Jawa Tengah umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kimpoi sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah?

ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ١٦ [سورة الـملك,١٦]

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).

***

Kisah Sebuah Desa yang Hilang

Posted on Des 19th, 2014

by nahimunkar.com

Membaca berita musibah tanah longsor di Karangkobar-Banjarnegara membuat kita semua prihatin dan bersedih. Sebanyak 105 KK terbenam seketika. Musibah ini mengingatkan kita semua, betapa ajal bisa datang kapan saja, tak terduga. Terlepas dari kurang perhatian ataupun kurang waspadanya pemerintah dalam menanggulangi musibah yang sudah memunculkan tanda-tanda sebelumnya ini, kita seakan diajak untuk mengingat kembali kejadian puluhan tahun silam di Banjarnegara juga. Sebuah musibah tentang terbenamnya Dukuh Legetang di tahun 1955.

Dukuh Legetang adalah sebuah dukuh makmur yang terletak tak jauh dari dataran tinggi Dieng-Banjarnegara, sekitar 2 km di sebelah utaranya. Penduduknya cukup makmur. Mereka adalah para petani sukses. Mereka bertani kentang, kobis, wortel dll. Tetapi sayangnya melimpahnya materi tersebut tak diiringi dengan kesyukuran. Mereka seakan lupa diri.

Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan). Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kimpoi sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah?

ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ١٦ [سورة الـملك,١٦]

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).

Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:
“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″

Sungguh kisah tenggelamnya dukuh Legetang ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa Azab Alloh yang seketika itu tak hanya terjadi di masa lampau, di masa para nabi, tetapi azab itu pun bisa menimpa kita di zaman ini. Bahwa sangat mudah bagi Alloh untuk mengazab manusia-manusia durjana dalam hitungan detik. Andaikan di muka bumi ini tak ada lagi hamba2 yang bermunajat di tengah malam menghiba ampunan-Nya, mungkin dunia ini sudah kiamat. Kita berhutang budi kepada para ibadurrahman, para hamba Alloh yang berjalan dengan rendah hati, tak menyombongkan dirinya. Mereka senantiasa bersujud memohon ampunan-Nya. Ya, semua makhluq di bumi berhutang budi kepada mereka. Meski keberadaan mereka terkadang tak dianggap, hanya dipandang sebelah mata oleh manusia, tetapi sesungguhnya mereka begitu dikenal oleh penghuni langit. Mereka begitu tulus menghamba pada-Nya, berusaha menegakkan kalimat-Nya di muka bumi ini. Mereka tak pernah mengharapkan imbalan dari manusia, karena imbalan dari Alloh lebih dari segalanya. Karena doa dan tangisan merekalah azab masih ditahan….Kita harus berterimakasih kepada mereka…..

*terimakasih kepada para Ustadz & Ustadzah yang gigih menegakkan Islam di muka bumi ini*

15 Desember pukul 19:16 · Publik

Widi Astuti

***

Kenapa Negeri Ini Sering Ada Bencana dan Musibah

By nahimunkar.com on 17 December 2014

Musibah yang menimpa manusia sebenarnya adalah karena dosa dan maksiat yang mereka perbuat.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Kesyirikan merajalela di mana-mana, bahkan seolah digalakkan pula demi meraih secuil dunia dengan dalih macam-macam. Lihat saja betapa banyaknya orang yang mondar-mandir sana-sini untuk ngalap berkah ke tempat-tempat yang dikeramatkan, padahal tidak sesuai tuntunan Islam. Namun itu seakan digalakkan oleh sebagian pemuka agama dan penguasa-penguasa daerah. Perdukunan dengan uba rampenya (tetek bengeknya) pun semarak di mana-mana dan diikuti. Ada yang memakai jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa, bahkan mungkin ada yang meminta kepada isi kubur agar lancar rejeki dan jodohnya. Ini bukan cari berkah tetapi justru mencari jalan penghancur iman.

Ada yang mengada-adakan ritual-ritual yang tidak dituntunkan dalam syari’at Allah Ta’ala. Padahal yang berhak membuat ritual (syari’at ibadah) itu hanya Allah Ta’ala dan hanya untuk Allah Ta’ala. Namun manusia ini tidak sedikit yang lancang, hingga menjerumuskan sejumlah banyak manusia. Lalu mereka para pembuat dan pengamal ritual bikinan itu berkongkalikong dengan para penguasa setempat hingga bertambah-tambah saja kelangsungannya. Karena yang satu agar ritual sesatnya tidak dilarang oleh penguasa, sedang pihak penguasa atau yang mencalonkan diri serta ingin melanjutkan kekuasaannya menginginkan dukungan massa dari kelompok sesat-sesat itu. Maka terjadilah persekongkolan di atas kesesatan.

Bahkan kini diracang RUU yang akan melindungi model-model kesesatan semacam ini, tetapi atas nama RUU Pelindungan Umat Beragama. Ini lebih buruk dibading membuat program atas nama anti virus namun dimaksudkan untuk melindungi virus. Membuat RUU Perlindungan Umat Beragama namun ditujukan untuk melindungi yang sesat-sesat seperti Syiah, Ahmadiyah, LDII, Bahai, Inkar Sunnah dan sebagainya agar tetap dibolehkan untuk mengamalkan kesesatannya. (Padahal tentunya pasti merusak agama yang murni yang seharusnya dilindungi). Sedangkan UU tentang Penodaan Agama yang dimaksudkan untuk melindungi agama justru mereka upayakan untuk dihapus. Betapa mengerikannya lakon manusia-manusia perusak namun mengaku pembangun di dunia ini. Dan itu jelas beresiko mendatangkan murka Allah Ta’ala, dan meresahkan Umat Islam.

Lebih dari itu, ketika manusia ini diingatkan dengan kejadian datangnya bencana pun kemudian belum tentu mereka mau ingat, belum tentu mengakui bahwa datangnya bencana itu akibat perbuatan salah dan berdosa. Sehingga begitu bencana menimpa, sebagian manusia justu menebalkan praktek kemusyrikannya. Misalnya mengundang dukun untuk larung atau labuh sesaji, menyembelih binatang untuk tumbal dengan aneka kemusyrikannya. Lebih memalukan lagi, air bekas cuci kaki orang yang dianggap sukses hidupnya pun dijadikan rebutan untuk dialap berkahnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Berita memilukan bagi yang prihatin akan rusaknya akidah umat pun muncul bahwa karenaDianggap Bawa Berkah, Warga Berebut Air Sisa Cuci Tangan Jokowi. Itu terjadi di tempat bencana longsor di Banjarnegara Jawa Tengah pertengahan Desember 2014. Di antara alasannya: “Buat barokah. Ini kan tadi sudah dipakai Presiden. Siapa tahu nasib berubah,” kata di antara pelakunya. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung dari hal yang demikian. (nahimunkar.com on 15 December 2014). Selanjutnya silakan baca di link ini https://www.nahimunkar.org/kenapa-negeri-ini-sering-ada-bencana-dan-musibah/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.538 kali, 1 untuk hari ini)