Mengenal (Perpecahan) Nahdlatul Wathan (NW)


Nahdlatul Wathan
 disingkat NW adalah organisasi Kemasyarakatan Islam  terbesar di pulau LombokNusa Tenggara Barat. Organisasi ini didirikan di PancorKabupaten Lombok Timur oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid pada tanggal 1 Maret 1953 bertepatan dengan 15 Jumadil Akhir 1372 Hijriyah Organisasi ini mengelola sejumlah Lembaga Pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Pendiri NW itu (TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid) dijuluki Tuan Guru Pancor. Beliau juga dijuluki Abul Masajid wal Madaris (Bapaknya Masjid-masjid dan Madrasah-madrasah)

Beliau wafat 21 Oktober 1997.

Beliau mendapatkan keturunan dari dua isterinya yaitu Hj. Jauhariyah seorang perempuan keturunan Jawa dan Hj. Rahmatullah Hasan seorang perempuan keturunan Guru Hasan dari Jenggik Lombok Timur. Dari Hj. Jauhariyah terlahir putri pertamanya bernama Rauhun Zainuddin Abdul Madjid dan dari Hj. Rahmatullah Hasan terlahir putri kedua bernama Raihanun Zainuddin Abdul Madjid. Karena hanya memiliki dua orang putri bernama Rauhun dan Raihanun maka beliau juga dipanggil Abu Rauhun wa Raihanun./ id.wikipedia.org

 

Rauhun adalah ibu TGB Zainul Majdi (NW Pancor). Sedang Raihanun adalah adik Rauhun. Nah ketika sang adik yakni Raihanun itu menggantikan suaminya (karena meninggal) jadi Ketua Umum NW 1998 (Hasil Muktamar NW X di Praya Lombok Tengah), maka terjadi pertengkaran hebat. Silakan simak berikut ini.


Perpecahan di Tubuh NW

Hingga saat ini NW sebagai organisasi massa masih terpecah menjadi dua kubu. Salah satu kubu disebut dengan NW PANCOR yang menunjukkan lokasi kantor pusatnya yang terletak di Pancor, Lombok Timur dan kubu berikutnya disebut sebagai NW ANJANI karena lokasi pusat gerakannya berada di Anjani, Lombok Timur.

Sejarah terpecahnya NW semata-mata karena politik organisasi saja dan tidak terkait dengan hal-hal yang bersifat sakral.
Perpecahan terbesar tersebut terjadi pasca penetapan salah satu putri pendiri NW, yaitu Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid sebagai Ketua Umum PBNW di Muktamar X di Praya, Lombok Tengah menggantikan almarhum suaminya, Drs. H. Lalu Gede Sentane[2].

Hasil Muktamar yang menghasilkan kepemimpinan perempuan tersebut ditolak oleh pihak NW di Pancor karena dianggap tidak sesuai dengan asas organisasi NW yang bermazhab syafii yang melarang pemimpin organisasi Islam berasal dari wanita dan di NW sendiri sudah memiliki badan otonom bernama muslimat yang dikhususkan untuk pergerakan kaum hawa.

Jauh sebelumnya, sebelum wafatnya TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, menurut banyak pihak yang terlibat memang sudah tampak persaingan antara dua putri pendiri NW tersebut yaitu Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid dengan Ummi Hj. Sitti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid.

Sebelum tragedi perpecahan terbesar tersebut, NW telah berkali-kali mengalami tantangan berupa konflik internal. Menjelang tahun 1982, misalnya, terjadi pembekuan terhadap kepengurusan PWNW Lombok Tengah hanya karena Alm. Drs. H. Lalu Gede Sentane yang notabene menjadi menantu pendiri NW sakit hati karena merasa tidak didukung untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Lombok Tengah kala itu oleh PWNW Lombok Tengah sendiri. Konflik tersebut menjalar keluar sehingga NW menyatakan sikap untuk Gerakan Tutup Mulut (GTM) dalam menyikapi pilihan politik mereka yang selama ini disalurkan melalui Golongan Karya.

 

Sejarah perpecahan tersebut berikut rentetan sejarah pertikaian internal di tubuh NW saat ini masih bisa menjadi bara yang terpendam walaupun pada level grass root mayoritas jamaah NW pancor dan NW Anjani saling berhubungan baik sebagai sesama warga NW tanpa melihat afiliasi kepengurusan organisasi masing-masing.

Perpecahan terbesar antara dua putri TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid juga dirasa telah banyak menguras energi jamaah NW dari fokus utama yaitu pergerakan dakwah Islam , sosial dan ekonomi.

 

Setelah dipimpin oleh Tuan Guru Bajang KH M Zainul Majdi, PBNW versi Pancor berkali-kali mengupayakan ishlah antara dua kubu, namun kerap kali gagal. Pasca terpilihnya Tuan Guru Bajang KH M Zainul Majdi sebagai Gubernur NTB, rekonsiliasi tersebut mulai membuahkan hasil. Puncaknya pada acara HULTAH NWDI ke 75 tanggal 25 Juli 2010 di Pancor, kedua putri pendiri NW, Umi Raehanun dan Umi Rauhun dapat duduk bersandingan di hadapan jamaah NW setelah sekian lama terpisahkan. Banyak kalangan yang berharap momentum tersebut akan menjadi tonggak baru persatuan organisasi terbesar di NTB tersebut, kalaupun tidak, hal tersebut dapat menjadi langkah awal dalam menggelorakan semangat fastabiqul khairat, sebagaimana sering diungkapkan Tuan Guru Bajang KH M Zainul Majdi. Tapi sangat disayangkan islah tersebut tidak berjalan mulus karena kekalahan Gede Sakti, putri Hj Siti Raehanun sebagai calon bupati Lombok Tengah yang sama-sama didukung oleh NW Pancor dan Anjani. Itu membuktikan islah yang dilakukan karena kepentingan politis sesaat untuk memperoleh dukungan politik dari rival bukan keinginan bersama untuk duduk memecahkan masalah penyatuan NW dan berada dalam 1 induk organisasi.

 

Dipetik seperlunya dari makalah di STKIP HAMZANWADI SELONG

– Oktober 06, 2016 / http://sule-epol.blogspot.com

 

***

 


Headline Kota Mataram NTB 

Tolak TGB dan Yasonna, Ormas NW kembali Gelar Aksi

 20 September 2019  Tim KoranNTB NW AnjaniPolemik NW

 

KORANNTB.com – Ormas Nahdlatul Wathan (NW) versi Anjani kembali menggelar aksi di kantor Kemenkum HAM NTB. Mereka mendesak Menkumham Yasonna Laoly mencabut SK NW versi Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), Jumat, 20 September 2019.

Ratusan massa memadati Jalan Majapahit Kota Mataram depan kantor Kemenkum HAM NTB. Mereka menggelar teatrikal gambarkan sikap Yasonna yang dinilai memprovokasi perpecahan NW.

Aksi tersebut mendapat pengawalan eksta kepolisian. Terlebih lagi, sebelum aksi dikabarkan massa akan berjumlah 50 ribu, sehingga polisi memasang kawat berduri melingkari kantor Kemenkumham.

Ketua Pemuda NW NTB M Zainul Pahmi, mengatakan rencananya massa berjumlah 50 hingga 500 ribu, namun karena pihak kepolisian berupaya memberikan imbauan agar tidak menggelar aksi dengan jumlah besar, akhirnya massa dihadirkan hanya berjumlah ratusan.

“Hari ini sebenarnya kami sudah siap massa NW sekitar 50-500 ribu akan kepung kantor Kemenkumham ini, namun karena pihak kepolisian kami lihat sejak tadi malam terlalu berlebihan dalam menyikapi aksi ini, akhirnya hanya sebagian kecil massa turun untuk menggelar teatrikal sebagai simbol matinya rasa keadilan di negara tercinta ini,” katanya.

Dia mempersoalkan SK Menkumham nomor AHU-0000810.AH.01.08 tahun 2019 pada 10 September 2019. SK itu mengakui NW kepemimpinan TGB.

“Oknum Kemenkumham yang sudah main-main dengan aturan negara kami akan tuntut pertanggungjawabannya, karena telah berani menerbitkan SK yang tidak ada landasan hukumnya,” ujarnya.

Bahkan, dia mengancam NTB akan seperti Papua jika Menkumham tidak segera mencabut SK tersebut.

“Jangan salahkan kami kalau NTB ini akan seperti Papua, kalau harga diri dan martabat NW diinjak-injak dan diobok-obok Kemenkumham,” katanya.

Kuasa Hukum NW, M. Ihwan menjelaskan, perkara NW sebenarnya terjadi sejak TGB Zainul Majdi membuat akte notaris pendirian NW pada tahun 2014, padahal organisasi NW sudah punya akte notaris dan sudah didaftarkan dan berbadan di Kementerian Kehakiman RI tahun 1960.

“Itulah sebabnya kami telah menyampaikan pada Kemenkumham melalui surat Nomor: 037-A/PBNW-XIV/VIII/2019 tanggal 24 Agustus 2019, yang mengatakan adanya kekeliruan Menkumham menerbitkan SK baru yang mengesahkan NW pimpinan Zainul Majdi,” katanya.

NW versi Anjani juga mengatakan telah memiliki kekuatan hukum atas Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2800 K/Pdt/2018 tanggal 14 November 2018. (red)

https://koranntb.com

***

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ } [آل عمران: 103]

103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [Al ‘Imran:103]

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.427 kali, 1 untuk hari ini)