Sejak meninggalnya Gus Dur (Abdurrahman Wahid) 30 Desember 2009 banyak masalah yang muncul berupa fitnah (bala’/ musibah ) agama. Pidato Presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) di atas kubur Gus Dur dalam acara penguburannya di Jombang Jawa Timur Kamis 31 Desember 2009 menimbulkan polemic, karena Presiden SBY menjuluki Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme. Keruan saja Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dan Ketua MUI Jawa Timur Abdul Shamad tidak setuju penyebutan itu, karena lafal pluralisme itu mengandung makna bahwa semua agama itu sama. Maka dua tokoh itu tidak menyetujuinya hingga menyuara bernada menyanggah, walau yang berpidato itu presiden.

Di samping itu muncul pula kesesatan baru, tanah kubur Gus Dur diambili orang, dianggap punya tuah, semacam jimat. Ini satu tingkah menjurus pada kemusyrikan, dosa terbesar.

Lebih dari itu, di Magelang dibuat 4 patung Gus Dur, katanya untuk memperingati 40 hari matinya Gus Dur. Di antara patung yang 4 itu ada yang badannya adalah tubuh Budha sedang mukanya muka Gus Dur.  (lihat Gus Dur Patung Pluralisme, Tubuh Budha Muka … – Nahimunkar.com )

***

Sejarah Gus Dur Mengganti Assalamu’alaikum dengan Selamat Pagi

 

TOKOH INI TIDAK JUJUR

Kalimah Thoyyibah Laa ilaaha illallaah diterjemahkan secara resmi dalam makalah Dr. Nurcholish Madjid menjadi: Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar). Terjemahan ini diprotes oleh seorang peserta seminar dengan menyebut terjemahan itu hukumnya haram. Seminar itu diselenggarakan Harian Pelita di Jakarta, 1 April 1985.

Kemudian Hartono Ahmad Jaiz (HAJ) mempersoalkan terjemahan yang ditulis Nurcholish Madjid (NM): “Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar)” itu di Harian Pelita,Jakarta, 3 April 1985. Namun belakangan, setelah NM “diadili” di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta oleh Daud Rasyid MA. (alumni Universitas Kairo) dan Drs. H. Ridwan Saidi (teman NM di HMI) dalam pengajian 13 Desember 1992, kemudian selama setahun lebih terjadi polemik. Hingga Prof. Dawam Rahardjo tampak membela mati-matian terhadap NM. Kabarnya, Dawam sampai mengatakan bahwa semua itu gara-gara HAJ, yang membuat fitnah terhadap pemikiran Nurcholish.

Dalam suatu pertemuan syukuran atas suksesnya Azyumardi Azra meraih gelar doktor dari Universitas Columbia Amerika Setikat, Dawam Rahardjo selaku pembicara, mengisahkan bahwa tidak ada tulisan NM tentang “Tiada tuhan selain Tuhan” itu. Jadi itu hanya interpretasi HAJ saja, dan kemudian diberitakan. Kata Dawam, masalah ini telah ia tanyakan kepada Pak EBA (Endang Basri Ananda) di LP3ES.

Dalam pertemuan itu, menurut seorang wartawan Panji Masyarakat, terjadi dialog, dan ada seorang wartawan Tempo/Gatra mengharapkan untuk mencek dulu. Belum tentu si wartawan (HAJ) berbuat begitu.

Kabar itu pun HAJ sampaikan kepada Pak EBA. Kagetlah pak EBA dengan mengucapkan, “Itu namanya kudung lulang macan”. (Itu namanya berkerudung kulit macan). Maksudnya, mencatut nama orang lain sebagai tameng. Pak EBA menjelaskan, “Saya tidak mengatakan begitu. Yang saya katakan, di perpustakaan LP3ES tidak ada makalah NM itu. Jadi bukan berarti saya menjelaskan bahwa NM tidak menulis seperti itu.”

Beberapa minggu kemudian, Dawam Rahardjo menelepon HAJ, menanyakan apakah ada makalah NM yang menulis “Tidak ada tuhan selain Tuhan” itu. HAJ menjawab, “ada”. Lalu Dawam minta dicopikan, kemudian diambil oleh utusannya.

Itulah mutu pembela Nurcholish Madjid, yang diperankan oleh Prof. Dawam Rahardjo. Namun, masih agak sopan sedikit dibanding Nurcholish Madjid sendiri. Karena Dawam Rahardjo tidak sampai mengumpat.

Lain dengan Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Justru lebih galak lagi, pakai mengumpat, berbohong, dan diucapkan kepada orang-orang yang kenal dengan obyek yang dicaci maki. Sedang Nurcholish bertindak sebagai pembela Gus Dur alias Abdurrahman Wahid, menjelang jadi Presiden.

Kisahnya, di Departemen Agama ada acara penandatanganan kerjasama penelitian antara Pascasarjana Paramadina Mulia dan Departemen Agama (Balitbang). Upacara resmi itu dihadiri para pejabat Depag dan pimpinan Paramadina Mulia serta sejumlah wartawan elektronik dan cetak. Di situ Nurcholish menyampaikan kata sambutan, selaku pimpinan Paramadina. Ketika pembicaraan sampai kepada tentang Gus Dur, –yang saat itu partai-partai baru setelah reformasi sedang gencar bersiap-siap untuk kampanye– lalu menyangkut masalah “assalamu’alaikum” yang oleh Gus Dur mau diganti dengan selamat pagi. Kata Nurcholish, itu semua gara-gara wartawan tengik (tidak langsung menyebut namanya, tetapi menanyakan kepada hadirin, lalu ada wartawan yang menyebut nama –Hartono?–)Yaa… kata Nurcholish. Ya wartawan tengik itu yang membikin-bikin….

Lalu Nurchlish membuat cerita bohong. Kata NM, Gus Dur ditanya oleh Pak Siswono Yudohusodo (salah seorang menteri Orde Baru) bahwa dirinya tidak fasih mengucapkan assalamu’alaikum, kalau mau berpidato. Lalu dijawab Gus Dur, ya cukup dengan selamat pagi saja. Tahu-tahu diberitakan oleh wartawan tengik itu bahwa Gus Dur akan mengganti assalamu’alaikum dengan selamat pagi.

Cerita bohong dan umpatan Nurcholish Madjid itu dalam tempo kira-kira seperempat jam setelah itu ternyata sampai di kuping Hartono Ahmad Jaiz (HAJ) lewat beberapa wartawan diantaranya dari SCTV dan Pelita. Dan HAJ menjelaskan kepada penyampai berita itu, bahwa NM itu bohong besar. Karena, HAJ mendengar itu dari rekaman wawancara Edy Yurnedi wartawan Majalah Amanah yang mewawancarai Gus Dur, dan juga membaca Majalah AmanahNo. 22 tahun 1987 hlm. 39. Isi wawancara itu di antaranya sebagai berikut:

Amanah: Beberapa waktu yang lalu Anda pernah mempopulerkan istilah “mempribumikan Islam,” apa maksudnya?
Abdurrahman Wahid: Yah, selama ini kan Islam di Indonesia terlalu melihat kepada Timur Tengah. Sebagai contoh kalau dulu kita membangun masjid harus memakai kubah. Padahal bangsa kita sudah memiliki bentuk arsitektur yang lebih sesuai dengan budayanya sendiri dan mengandung makna yang mendalam. Lalu tentang ucapan assalamu’alaikum,kenapa kita merasa bersalah kalau tidak mengucapkan assalamu’alaikum. Bukankah ucapan itu bisa saja kita ganti saja dengan selamat pagi atau apa kabar, misalnya…

Lalu Amanah masih bertanya:

Amanah: Bukankah itu (assalamu’alaikum) juga untuk menunjukkan identitas keislaman kita?

Abdurrahman Wahid: Justru di sini saya nggak setuju. Untuk menunjukkan identitas Islam saja kok harus begitu.

Menurut saya, selamat pagi, selamat sore atau apa kabar itu sama saja Islamnya dengan assalamu ‘alaikum. ….. (Amanah, No. 22, 1987, hlm. 39).

Edy Yurnedi sendiri menjelaskan hal-hal yang ada dalam rekaman wawancara dan yang ia tulis itu kepada HAJ, di kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) di Masjid Istiqlal Jakarta.

Jadi, akhlaq Nurcholish Madjid seperti itu. Untuk mendukung seseorang, sampai berani berbohong, memfitnah, dan bahkan mengumpat orang lain. Di acara resmi lagi ilmiah. Di acara penandatanganan kerjasama lembaga-lembaga ilmiah.

Kalau menurut ilmu Rijalul Hadits (tokoh-tokoh/periwayat hadits Nabi), periwayat yang berani dusta (apalagi terang-terangan berbohong di depan umum, memfitnah, dan bahkan mengumpat) seperti itu, maka seluruh hadits yang diriwayatkan si bohong itu jadi batal. Tidak dipakai. Sedang orangnya pun disebut sebagai pembohong alias tidak jujur.

Hal semacam itu tampaknya sudah menjadi sikap. Contohnya, ketika NM menjadi pembicara di PBNU tentang kitab Al-Ibanah karangan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, NM mengkritik tajam terhadap Asy’ari. Dalam bulan itu pula kemudian NM jadi pembicara di kalangan Majelis Taklim pimpinan Tutty Alawiyah di YTKI Jakarta, tentang Asy’ariyah, NM memuji-muji Asy’ari. Lantas ditanya oleh peserta, kenapa NM di PBNU mengkritik Asy’ari, tetapi di sini memujinya? Lalu NM berkilah, likulli maqam maqal. Itulah sikap mencla-menclenya tokoh ini. (red). (Majalah Media Dakwah, Mei 2001). (Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, halaman 189).

Demikianlah ketidak jujuran mereka. Maka pas dan klop: Nurcholish Madjid pendiri Paramadina itu jelas intelektual tapi dusta dan mencaci, kini paramadina-nya menerbitkan buku Faraq Fouda yang isinya juga dusta dan mencaci, sedang yang dicaci sahabat Nabi Muhammad saw lagi. Ditambah lagi dengan pemujinya yakni Proffesor Doktor Azyumardi Azra dan Proffesor Doktor Ahmad Syafii Maarif, memuji pendusta dan pencaci sahabat Nabi saw.

Itulah gerombolan dusta dan mencaci.

Terlepas dari itu semua, Allah Ta’ala telah mengingatkan:

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ(13)

Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS Al-‘Ankabut: 13).

***

Ilustrasi Islam Substansif Gus Dur, Cak Nur dan Buya Syafi’i. Tampak Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Merawat Pemikiran Guru-guru Bangsa yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina dan Nurcholish Madjid Society di Jakarta, Rabu 12 April 2017./ foto satuislam.org

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.496 kali, 6 untuk hari ini)