Tokoh Muslim Dawam Rahardjo meninggal pada Rabu malam (30/5) di usia 76 tahun. Ia dikenal sebagai tokoh pluralisme yang ikut membela Ahmadiyah hingga Lia Eden. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)/ cnnindonesia.com

Begitu Dawam Rahardjo meninggal Rabu malam 30 Mei 2018 (76 tahun), berita pun tersebar. Tokoh ini adalah pembela aliran sesat Ahmadiyah, Lia Eden, faham sesat liberalisme dan pluralisme agama (Diharamkan MUI 2005) yang dikobarkan Nurchoish Madjid, Ahmad Wahib, Harun Nasutiona, Munawir Sjadzali dan lain-lain.

Di masa tuanya, Dawam Rahardjo sakit-sakitan, strocke dan komplikasi hingga mengaku bosan di rumah sakit maka dibawa ke rumah di Pondok Kelapa Jakarta Timur, menurut berita tempo.co. Namun akhirnya dibawa ke rumah sakit lagi, kemudan meninggal.

Ketika di medsos diberitakan meninggalnya, bersahut-sahutanlah komentar di antaranya di fp hartonoahmadjaiz.

Hartono Ahmad Jaiz: sudah diingatkan agar bertobat dalam tulisan itu tahun 2013. Di antaranya ini: Hendaknya bertaubat

Sepak terjang Proffessor Dawam Rahardjo (dan kawan-kawannya yang masih hidup) yang selama ini mengusung dan membela aneka kesesatan hendaknya ditaubati. Mumpung masih hidup, sebelum menyusul tokoh yang dibela dan sudah meninggal di antaranya Nurcholish Madjid dan Ahmad Wahib (penyebar kesesatan pluralisme agama dalam buku catatannya yang kemudian disunting Djohan Effendi dan Ismet Natsir dan diterbitkan dengan judul Catatan Harian Ahmad Wahib Pergolakan Pemikiran Islam oleh LP3ES Jakarta pimpinan Dawam Rahardjo 1981 dan dinyatakan oleh KH Hasan Basri dari MUI bahwa Ahmad Wahib dengan tulisannya itu murtad).

Imbauan Allah dalam firman-Nya berikut ini perlu disimak:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(53).

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53).

Dedy Achdiat :Tulisan Ustadz Hartono ini jadi mengingatkan saya dulu ketika masih sebagai anggota HMI, hadir di Jln. Cilosari Jakarta, di sekretariat cabang HMI. Membahas karya Ahmad Wahib. Pergolakan Pemikiran Islam. Panelisnya adalah Endang Syaifuddin Anshari, MA. Ibrahim Madilao, Dawam Rahardjo, dan Djohan Effendi. Dalam acara itu memang ketara sekali pembelaan Dawam dan Djohan terhadap karya Ahmad Wahib itu. Mereka berdua sebagai orang yang pro kepada Ahmad Wahib. Dan sebagai orang yang kontra terhadap karya Ahmad Wahib, Endang Syaifuddin Anshari dan Ibrahim Madilao. Memang seru sekali perdebatan itu. Pak. Ibrahim Madilao nampak sekali kemarahannya kepada mereka berdua itu, sampai beliau menggebrak-gebrak meja. Pak Endang Syaifuddin sangat kalem dan lebih bisa menahan emosi, namun kritikannya sangat bernas dan tajam. Saya memiliki karya Ahmad Wahib itu dan sudah membacanya, memang sangat disayangkan kenapa kok ada beberapa orang dan tokoh Islam sangat membela dan memuji karya Ahmad Wahib itu. Padahal tulisannya itu, menurut saya tulisan dari seorang yang sedang Galau, sedang mengalami krisis identitas, dan orang yang sedang Labil.

Kemonter tersebut merupakan sahut-sahutan yang ramai di bawah atikel:

Mau Tahu Perjuangan Mendiang Dawam Rahardjo (Meninggal Rabu Malam (30/5 2018) di usia 76 tahun ) dalam Membela Kesesatan?
Silakan simak ini.
https://www.nahimunkar.org/langkah-langkah-perjuangan-seor…/

Langkah-langkah “Perjuangan” Seorang Profesor Pendukung Kesesatan

Posted on 14 Oktober 2013 by Nahimunkar.com

 (Untuk menunggu tulisan baru, berjudul Sesama Pembela Kekafiran; Azra “Untung” Dawam “Buntung”)

  • Barangkali saja tulisan tentang Azra itu kurang mengenakkan “sang jawara” yang lebih senior dalam membela Ahmadiyah yakni Prof Dawam Rahardjo. Oleh karena itu, akan kami tulis insya Allah judulnya Sesama Pembela Kekafiran; Azra “Untung” Dawam “Buntung” . Tulisan itu nanti bukan untuk mengusulkan agar Pak Dawam mendapatkan hadiah dari orang kafir sebagaimana Azra, namun hanya untuk menyambung adanya berita saja.

Sebelum muncul tulisan yang direncanakan itu, kini mari kita nikmati saja dulu tentang “perjuangan” Sang Profesor yang senior dalam membela kesesatan. Inilah tulisan seutuhnya.

***

Langkah-langkah “Perjuangan” Seorang Profesor Pendukung Kesesatan

Seorang profesor yang sudah cukup tua tampak turun gunung. Itu pertanda suasana agak gawat. Kalau beliau tidak turun tangan maka akan dianggap tidak mau cawe-cawe (berpartisipasi). Maka dia keluarkanlah jurus-jurusnya, baik lewat televisi maupun majalah, untuk membela “”cucunya”” (Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL/ Jaringan Islam Liberal) yang akan dipites[1] orang gara-gara tulisannya (di koran Katolik, Kompas, 18 November 2002berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”) yang lancang dan mengusik kebenaran Islam.

Sang Profesor berupaya keras untuk meyakinkan khalayak ramai bahwa ‘”cucunya”‘ tidak bersalah, hanya beda pendapat belaka, dan itu sah-sah saja. Untuk membela “cucunya” itu dia tuding orang yang mau memites “cucunya” itu sebagai kelompok Islam radikal, garis keras, ekstrem, fundamentalis, militan, bahkan dia ambil pula istilah dari orang walan tardho yaitu skripturalis yang artinya injili.

Dia katakan, kelompok Islam fundamentalis itu ingin melaksanakan “hukum Tuhan”[2], termasuk hukum potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, atau qishash bagi pembunuh. Sementara itu cucu dia yang tergabung dalam Islam Liberal berani menafikan hukum Tuhan itu. Maka akan dipites orang. Tentu saja Sang Profesor perlu turun gunung membelanya.

Dalam hal bela membela, Sang Profesor ini memang sudah banyak pengalamannya.

  1. Ketika Pak Munawir Sjadzali (Menteri Agama 1983-1993) melontarkan gagasan reaktualisasi ajaran Islam dengan mengemukakan bahwa hukum waris Islam tidak adil,dan Pak Munawir berpidato di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta bahwa ada beberapa ayat Al-Qur’an yang kini tidak relevan lagi; maka Sang Profesor membela Pak Munawir. Sang Profesor berpidato di hadapan 200-an ahli syari’at di Kaliurang Jogjakarta. Lalu dengan ilmu sebatas kemampuannya, Sang Profesor ingin membela gagasan Pak Munawir. Kata Sang Profesor, kalau bagian warisan itu lelaki dua kali lipat bagian perempuan, maka bagaimana cara membaginya? Maka meledaklah tertawa para hadirin yang kebanyakan tenaga ahli syari’ah di Pengadilan-Pengadilan Agama berbagai kota yang sudah biasa memberi fatwa waris. Mereka sepontan menertawakan Sang Profesor yang tampak terlalu tidak menguasai materi pembahasan ini. Saat itu pula mendadak sontak Sang Profesor ini turun dari podium, langsung balik klepat[3]ke Jakarta bersama seorang pendampingnya. Bagaikan orang yangnglurug (datang dengan menantang bertanding) tiba-tiba jatuh tersungkur, maka bangkit langsung mlayu nggendring (lari tunggang langgang). Kalau dikaitkan dengan tarikh/ sejarah, mungkin seperti kasus jagoan jahiliyah di Pasar Ukadz di wilayah Makkah menantang khalayak, tahu-tahu dijotos Umar bin Khotthob langsung nggledak (jatuh tersungkur). Jotosan para ahli syari’at di Kali Urang Jogjakarta itu cukup hanya dengan tertawa bersama, lantas podium pun goyang hingga Sang Profesor yang berdiri di podium itu tidak kerasan lagi, langsung turun dan lari.
  2. Di kesempatan lain lagi, Sang Profesor ketiban sampur(berperan) untuk menjadi pembicara dalam acara syukuran atas lulusnya Azyumardi Azra dari Universitas Columbia, Amerika. (Azyumardi Azra kemudian jadi Rektor UIN/ Universitas Islam Negeri Jakarta, dahulu bernama IAIN/ Institut Agama Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, terakhir dia sebagai direktur Sekolah Pasca Sarjana UIN –Universitas Islam Negeri Jakarta, gantian dengan Qamaruddin Hidayat yang kemudian jadi rektor UIN Jakarta). Syukuran doktor ini diisi oleh Sang Profesor dengan mengemukakan pembelaan terhadap Nurcholish Madjid dalam pembicaraan tentang pembaharuan Islam di Indonesia. Sang Profesor mengatakan, Nurcholish Madjid tidak mengatakan Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar) seperti yang diberitakan selama ini. Nurcholish Madjid tidak ada makalahnya yang seperti itu. Itu hanya bikin-bikinan seorang wartawan saja. Itu sudah saya tanyakan kepada Pak EBA (Endang Basri Ananda), kata Sang Profesor. Ternyata setelah itu, Sang Profesor jadi kelabakan. Tidak enak kepada Pak EBA, hadirin yang sudah diceramahi yang tentu saja sudah bubar ke tempat masing-masing, dan lebih tidak enak lagi kepada wartawan yang dituduh membikin-bikin berita bohong itu. Masih pula Sang Profesor harus minta copian makalah Nurcholish Madjid kepada wartawan yang telah dituduhnya secara terbuka itu. Namun rupanya nasib Sang Profesor masih beruntung, ketika meminta makalah yang dia anggap tidak pernah ada itu kepada wartawan yang telah ia tuduh itu rupanya benar-benar diberi copian makalah Nurcholish Madjid. Isinya memang ada terjemahan lafal syahadat, menjadi Tiada tuhan selain TuhanAnehnya, Sang Profesor tidak mencabut perkataannya, dan tidak minta maaf kepada wartawan yang dituduhnya. (Wartawan yang dituduhnya itu adalah Hartono Ahmad Jaiz).
  3. Sang Profesor dikenal punya anak buah wanita muda, Wardah Hafidz, tokoh feminisme alumni Barat. Suatu ketika ada polemik yang diarahkan kepada wanita muda itu, dan nama Sang Profesor dibawa-bawa. Saat itu ungkapan lawan berpolemik, Ustadz Abu Ridho, tampaknya menohok pula. Sehingga Sang Profesor yang dikenal selaku “pembela” justru kena tohokan.Tokoh feminisme asuhan Sang Profesor itupun kini terkena badai gara-gara ucapannya di TV-7,Ramadhan 1423H/ 2002M. Wardah Hafidz dalam wawancara TV-7 itu mengatakan: “Saya sudah tidak lagi melakukan ritual konvensional (shalat, pen), tetapi dengan cara saya sendiri. Kemiskinan tidak hanya bisa diselesaikan dengan cara seperti itu. Saya punya cara sendiri. Dengan cara meningkatkan kepedulian untuk mencari solusi kemiskinan.”, ujar Wardah. Di kesempatan lain, Wardah Hafidz sendiri mengaku dinasihati ibunya: “Sampai Ibu mengingatkan, shalatlah kamu. Kalau kamu nanti masuk neraka, Ibu tidak bisa menolong kamu,” ujar Wardah mengutip kalimat ibunya. “Bu, saya telah dewasa, berilah saya hak. Biarlah itu hak dan tanggung jawab saya,” katanya. (Jurnal Islam,10-16 Januari 2003, halaman 16). Apakah “kampanye” untuk meninggalkan shalat ini akan dibela juga oleh Sang Profesor karena merupakan rekanannya, wallahu a’lam. Yang jelas, kasus itu menuai kecaman pula dari ulama dan masyarakat. Karena Allah SWT telah menegaskan:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ(42). قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ(43)

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (QS Al-Muddatstsir: 42 dan 43).

  1. Kasus lain yang tak kalah serunya, yakni Ulil Abshar Abdallakordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menulis di Kompas 18 Nopember 2002 berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, isinya menafikan hukum Tuhan. Kasus Ulil yang oleh FUUI (Forum Ulama Umat Islam) dari Bandung disebut sebagai penghinaan agama itu dibela pula oleh Sang Profesor lewat televisi dan majalah. Ketika membela Ulil Abshar di Metro TV, Sang Profesor dipertanyakan oleh KH Athian Ali Da’i dari Bandung yang diwawancarai lewat telepon, apa maksud Sang Profesor mengatakan bahwa Al-Quran adalah filsafat? Sang Profesor tidak menjawabnya.
  2. Satu lagi yang dibela oleh Sang Profesor, yaitu Ahmadiyah, aliran yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad (India) sebagai nabi mereka. Sang Profesor kerangkak-rangkak (berpayah-payah pergi) ke London sebagai “duta’ orang Ahmadiyah Indonesia tetapi mengatas namakan Muhammadiyah bersama Habib Hirzin –yang dulunya pemuda Muhammadiyah lalu ke PKB partainya NU—mengundang penerus nabi palsu yaitu Tahir Ahmad yang dianggap Khalifah ke-4 tingkat dunia bagi Ahmadiyah untuk datang ke Jakarta/ Indonesia. Lalu Sang Profesor pun menjemput penerus nabi palsu itu ke Bandara Cengkareng Jakarta dan mengalungi bunga terhadap penerus nabi palsu tersebut. Kehadiran penerus nabi palsu dari London ke Indonesia tahun 2000 masa pemerintahan Gu Dur itu oleh Sang Profesor bisa dimuluskan jalan berbagai upacaranya. Sampai-sampai penerus nabi palsu itu dipertemukan dengan Presiden Gus Dur dan ketua MPR Amien Rais. Dalam catatan perjalanan Tahir Ahmad penerus nabi palsu yang disebarkan lewat majalah khususnya di London, dipujilah perjuangan Sang Profesor yang sangat mengagumkan bagi mereka atas lancarnya seluruh jalannya acara. Namun tidak lama setelah pujian kepada Sang Profesor itu beredar di kalangan Ahmadiyah, tiba-tiba hasilnya sangat mengejutkan. Dengan “perjuangan” Sang Profesor itu, kini hasilnya, banyak rumah-rumah orang Ahmadiyah di berbagai tempat di Indonesia dihancurkan massa, karena orang-orang Ahmadiyah dikomandoi penerus nabi palsunya telah sesumbar, Indonesia akan dijadikan negeri Ahmadiyah terbesar di dunia.Sesumbar itu disambut oleh umat Islam dengan perlawanan, di antaranya terjadilah penghancuran rumah-rumah para pengikut nabi palsu yang makin nglunjak itu. “Nah, lhu!” kata orang Betawi/ Jakarta.

Sekarang Sang Profesor menghadapi banyak sekali masalah. Yang dibela itu ada yang sudah struk berlama-lama di usia tuanya dan tidak jadi petinggi negara lagi. Ada yang dianggap kafir dan murtad karena “mengkampanyekan” untuk tidak shalat, ada yang menafikan hukum Tuhan, ada yang disebut sebagai gatoloco (faham menafsirkan Islam seenak perutnya), ada yang menjadi pengikut nabi palsu namun sesumbar untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri terbesar pengikut nabi palsu, hingga rumah-rumah orang-orang sesat yang sesumbar itu dihancurkan massa, dan ada yang diancam mati alias mau dipites orang.

Sang Profesor mestinya tanggap. Ketika berbicara di depan ahlinya, sedang dirinya tidak ahli, lalu ditertawakan, betapa malu dan sakit hati. Lebih-lebih ketika mempertanggung jawabkan pembelaannya di akherat kelak, kepada Allah SWT yang hukum-Nya mau ditegakkan oleh hamba-Nya, tahu-tahu Sang Profesor itu adalah pembela dari para penentang hukum-Nya, maka betapa klimpungannya di hadapan Allah SWT kelak. Tidak sekadar klimpungan seperti menghadapi orang yang dituduh tanpa bukti, lalu malah Sang Profesor minta bukti (makalah) kepada wartawan yang dituduhnya seperti tersebut di atas, lalu diberi bukti yang justru menghantam Sang Profesor sendiri.

Sebelum umur Sang Profesor habis untuk hal-hal yang merugikan umat dan diri sendiri, lebih baik kembali kepada hukum Allah, dan bertaubat dari pembelaan-pembelaan yang menjerumuskan diri dan umat. Inilah sekadar kronologi “perjuangan” Profesor Dawam Rahardjo, bekas rektor Universitas Islam 45 di Bekasi Jawa Barat, Ketua III T Indonesia, dan unsur pimpinan dalam Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Indonesia (belakangan kabarnya dia dipecat dari Muhammadiyah). Selayaknya beliau bertaubat sebelum habis masa edarnya di dunia ini.

Saat Ahmadiyah gonjang-ganjing dia bungkam

Saat ramai-ramainya kasus Ahmadiyah –16 April 2008– dinyatakan oleh Bakor Pakem Kejaksaan Agung bahwa Ahmadiyah menyimpang dari pokok-pokok agama Islam dan direkomendasikan untuk menghentikan kegiatannya, Dawam Rahardjo tidak terdengar suara pembelaannya.

Kenapa?

Kabarnya, Dawam selama setahun belakangan ini sakit-sakitan, hingga sering berobat kepada dukun Lia Eden di dalam penjara –yang selama ini senantiasa Dawam bela–.

Lia Eden semula bernama Lia Aminuddin, wanita dukun, perangkai bunga kering, tokoh murtad. Kenapa murtad? Karena dia mengaku mendapat wahyu, menjadi isteri Malaikat Jibril, tidak percaya akherat, mengaku dirinya unsure Tuhan bersama Jibril, dan menghalalkan daging babi, maka divonis penjara 2 tahun. Perempuan ini senantiasa Dawam bela kesesatannya, maka tak segan-segan Dawam ketika mengidap sakit selama setahun belakangan sering berobat ke Lia Eden di dalam penjara, kabarnya.

Terakhir, kabarnya Dawam menderita sakit ginjal dan harus dioperasi. Makanya tidak terdengar pembelaannya terhadap aliran sesat Ahmadiyah. Padahal biasanya, dia di barisan paling depan untuk membela kesesatan lebih-lebih Ahmadiyah. Mungkin gonjang-ganjing Ahmadiyah kali ini justru menambah derita bagi Dawam. Sudah upayanya selama ini seakan muspra tak bermakna, sekarang pas waktunya harus berteriak justru tak mampu berteriak. Barangkali saja kasus ini menambah-nambah deritanya, apalagi kalau sakitnya harus dibawa-bawa ke negeri orang.

Ini mengingatkan kisah pendahulunya, Nurcholish Madjid. yang meninggal dunia di rumah sakit Pondok Indah Jakarta, Senin 29 Agustus 2005 jam 14.10. Nurcholish sebelumnya, 13 bulan sebelum meninggalnya, hatinya dicangkok (diganti) dengan hati orang Cina di Tiongkok, kemudian dirawat di Singapura selama sekitar 7 bulan. Dua hari menjelang meninggalnya Nurcholish Madjid, Koran Indopos (Sabtu, 27 Agustus 2005) memberitakan, Nadia binti Nurcholish Madjid, dan Akbar Tanjung teman Nurcholish mengatakan bahwa wajah Nurcholish Madjid tampak lebih hitam. “Dibandingkan sebelumnya (wajahnya) kelihatan lebih hitam,” ujar Akbar.

Dawam membela Nurcholish Madjid sampai setelah matinya

Dawam Rahardjo juga membela Nurcholish Madjid sejadi-jadinya. Sehari setelah meninggalnya Nurcholish Madjid, tulisan Dawam di halaman depan harian Media Indonesia 30 Agustus 2005 terpampang judul SANG PEMBARU. Dawam menegaskan, “agar terjadi penyegaran pemikiran, Cak Nur mengusulkan dilakukannya liberalisasi dan sekulerisasi.” Juga menurut Dawam, lahir gagasan Nurcholish Madjid mengenai pluralisme agama. Dawam tidak malu-malu menjunjung Nurcholish Madjid dengan sekulerisasinya, liberalisasi, dan pluralisme agama yang diusung Nurcholish Madjid. Padahal itu semua telah diharamkan oleh Fatwa MUI dalam Munas ke-7 di Jakarta 26-29 Juli 2005, karena paham itu menurut Fatwa MUI bertentangan dengan Islam.

Di antara pembela Nurcholish Madjid adalah Luthfi Assyaukanie yang bekerja di Paramadina Mulia yang rektornya adalah Nurchlish Madjid, setelah itu diganti oleh Anies Baswedan, sedang yang tampil membela Ahmadiyah saat gonjang-ganjing adalah Yudhi Latief dari Paramadina.

Luthfi membela Nurcholish di antaranya kami kutipkan tulisannya sebagai berikut:

Penyakit “mensetankan orang” juga menghinggapi sebagian kaum terpelajar Muslim di Indonesia, yang merasa terkejut dan tak aman karena berhadapan dengan dunia di sekelilingnya yang dianggap mengancam. Dalam sebuah artikel pendek, saya menemukan seorang pelajar Muslim (yang sebetulnya tidak bodoh, karena terbukti telah menggondol gelar PhD), yang membuat tulisan sangat provokatif, berjudul “Diabolisme Intelektual” (Intelektual Pemuja Iblis).

Dalam tulisan itu, ia mengerahkan seluruh energi amarahnya untuk mensetankan siapa saja yang dianggapnya sesat. Dengan memilih potongan-potongan ayat Al-Qur’an (yang pasti diseleksi dengan tidak jujur), dia menganggap para tokoh pembaru Islam seperti Nurcholish Madjid, sebagai setan dan iblis. Tak sampai di sini, dia juga mensetankan beberapa ulama besar Islam seperti Suhrawardi dan Hamzah Fansuri, karena dianggap sebagai orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam.(Demonisasi Oleh Luthfi Assyaukanie Editorial JIL, 20/06/2005).

Cendekiawan Iblis

Luthfi menulis seperti itu gara-gara ada tulisan yang menyoroti tentang adanya cendekiawan Iblis. Cuplikannya sebagai berikut:

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur’an sebagai berikut.
Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, zulman wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-‘inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-‘Aqa’id, dalam Majmu, min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba’ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): “Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)”. Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur’an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis. Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’).

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an (7:146): “Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya.”

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.

Sebaliknya, yang haq digunting dan di-‘preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur’an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma’tsur dari ayat-ayat tersebut. Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada.

Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur’an 3:71, “Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta’lamun?” Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani ‘syatan’, yang artinya lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur’an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang (‘asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai (istah’wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta’uzz), menyeru (yad’u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum a’malahum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan memberikan iming-iming (ya’iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi’u l-‘adawah wa l-baghda’), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’mur bi l-fahsya’ wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-insani-kfur).

Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya’ al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun penyegaran. Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir’aun dan ada Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri, namun datang ar-Raniri, dan seterusnya. Al-Qur’an pun telah mensinyalir: “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa “sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik” (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahu a’lam.

(Syamsuddin Arif, Diabolisme Intelektual, Kamis, 30 Juni 2005, hidayatullah.com, penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman).

Pembela Nurcholish dibantah

Luthfi yang dari Paramadina rupanya disahut Adian Husaini dari INSIST, cuplikannya sebagai berikut:

Tulisan “Diabolisme Intelektual” sangat bagus, jelas, jernih, dan punya sikap. yang salah katakan salah. Perlu disebut bagian mana dari tulisan itu yang salah. Iblis tidak malu-malu dan bersikap fair menyatakan dirinya sebagai Iblis dan terus terang berjanji akan menyesatkan manusia. Yang repot jika pengikut Iblis justru mengaku sebagai penyeru kebenaran dan kemaslahatan. Tapi, al-Quran sudah mengingatkan dan memberi ciri-ciri yang gamblang makhluk jenis ini yang disebut sebagai “munafik”. Jadi, tidak usah ragu-ragu melakukan demonisasi, meskipun juga harus hati-hati. Saran saya, agar tidak rumit, yang Iblis, ngakulah Iblis, yang memang setan, katakan setan, siapa yang kafir, ngakulah kafir. Tidak usah ragu-ragu, masing-masing sudah ada tempatnya. Yang paling ditakutkan oleh Rasulullah saw adalah “kullu munafiqin ‘aliimul lisaan.” (insistnet@yahoogroups.com, adian husaini <ADIANH@Y…)

Sebenarnya Syamsuddin Arif tidak menulis secara eksplisit nama Nurcholish Madjid. Tetapi justru Luthfi yang menulis nama itu. Adian Husaini pun hanya menyarankan agar mereka mengaku saja, karena iblis juga mengaku akan menyesatkan orang.

Polemik ini cukup sengit di saat Nurcholish Madjid sedang sakit, yang dua bulan kemudian dia meninggal dunia di rumah sakit Pondok Indah Jakarta, Senin 29 Agustus 2005 jam 14.10. Nurcholish sebelumnya, 13 bulan sebelum meninggalnya, hatinya dicangkok (diganti) dengan hati orang Cina di Tiongkok, kemudian dirawat di Singapura selama sekitar 7 bulan. (lihat laporan Abu Qori dalam Mengenang Nurcholish Madjid, di Media Dakwah).

Hendaknya bertaubat

Sepak terjang Proffessor Dawam Rahardjo (dan kawan-kawannya yang masih hidup) yang selama ini mengusung dan membela aneka kesesatan hendaknya ditaubati. Mumpung masih hidup, sebelum menyusul tokoh yang dibela dan sudah meninggal di antaranya Nurcholish Madjid dan Ahmad Wahib (penyebar kesesatan pluralisme agama dalam buku catatannya yang kemudian disunting Djohan Effendi dan Ismet Natsir dan diterbitkan dengan judul Catatan Harian Ahmad Wahib Pergolakan Pemikiran Islam oleh LP3ES Jakarta pimpinan Dawam Rahardjo 1981 dan dinyatakan oleh KH Hasan Basri dari MUI bahwa Ahmad Wahib dengan tulisannya itu murtad).

Imbauan Allah dalam firman-Nya berikut ini perlu disimak:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(53).

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53).

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُونَ(54).

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS Az-Zumar: 54).

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُونَ(55).

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS Az-Zumar/ 39: 55).

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ(56).

“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (QS Az-Zumar/ 39: 56).# (Hartono Ahmad Jaiz).[4]

Added on 5 May 2008/ nahimunkar.com

[1] Istilah Jawa dan Betawi/ Jakarta yang artinya dibunuh dengan cara menekan kepala pakai jempol tangan dan jari telunjuk. Yang biasa dipites adalah binatang-binatang kecil seperti belalang, jangkrik dan lain-lain, yaitu dimatikan dengan cara kepalanya ditekan pakai jempol tangan dan jari telunjuk.

[2] rupanya Sang Profesor sudah ragu-ragu tentang hukum Tuhan, sehingga perlu diberi tanda kutip, karena “cucunya”, Ulil Abshar Abdalla pengomando JIL, tidak mempercayai adanya hukum Tuhan.

[3] secara cepat

[4] Makalah ini disebarluas di Daurah Mahasiswa se Jawa Timur tentang Kewaspadaan Ummat, di Surabaya, 15/3 2003; juga di Tabligh Akbar tentang Sesatnya JIL (Jaringan Islam Liberal) di Masjid Al-Istiqomah Bandung, 16/3 2003; dan dimuat di Majalah Media Dakwah, April 2003. Yang dimuat sekarang ini ditambahi dengan data-data terutama yang baru.

(nahimunkar.com)

***

Mengenang Bahaya

Harun Nasution dan Ahmad Wahib

Dua Buku yang Menghebohkan

Ada dua buku tentang agama Islam yang merusak aqidah Islam dan merusak generasi muda Islam. Pertama, buku yang ditulis oleh Dr. Harun Nasution dengan judul  “Islam ditinjau dari berbagai aspeknya”. Penerbit, Bulan Bintang, 1974. Tetapi penerbitnya agak menyesalmenerbitkannya karena reaksi yang hebat menentang buku itu timbul dalam masyarakat. Buku ini mendapat tantangan danreaksi yang sangat keras dan tajam dari Prof. Dr. H. M.Rasjidi, karena beliau khawatir akan pengaruh buku tersebut bagi angkatan muda Islam, mengingat buku itu konon menjadi buku wajib pada tingkat I IAIN (Institut Agama Islam Negeri). Dan mengingat pula buku itu dikarang oleh Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sendiri. Dr. Harun Nasution adalah keluaran Mc. Gill University, Montreal, Canada. Dan masuknya di universitas itu adalah antara lain karena bantuan dari Prof. Rasjidi sendiri. Tetapi beliau kaget melihat hasil karya Dr. Harun tersebut. Dan tanpa ragu-ragu sedikitpun juga Prof. Rasjidi mengasah penanya yang sudah tajam itu untuk menghadapi dan mengoreksi Dr. Harun Nasution, dengan judul“Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution” antara lain berkata seperti di bawah ini:

“Terdorong oleh rasa faidah mengetahui hal-hal yang baru yang dapat saya manfaatkan dalam mengabdi kepada Islam dan Umat Islam Indonesia, saya merintis jalan untuk berusaha menyalurkan para sarjana tamatan IAIN dan lain-lain untuk memasuki alam fikiran orientalisme; dalam hal ini saya tidak bertindak sebagai perintis. Saya mengetahui bahwa banyak ulama dari Al-Azhar di Cairo dikirim ke Jerman atau London atau Paris oleh satu panitia yang memakai nama Almarhum Syekh Muhammad Abduh.

“Akan tetapi entah karena suatu hal yang tak terduga, di antara yang saya usahakan belajar di Instintute of Islamic Study  ada yang memberikan hasil yang mengecewakan. Dalam menyelami alam fikiran orientalisme, mereka bukan mendapatkan sumber kekeliruan para sarjana Barat tentang Islam, akan tetapimalah menelan segala sesuatu yang mereka katakan dengan tidak memakai daya kritis.”

“Memang kemegahan Barat dalam keuletan cara meneliti dan berfikir dapat dibanggakan, akan tetapi bagi orang yang bijak, di celah hal-hal yang mengagumkan itu sering terdapat kekeliruan-kekeliruan yang besar.”

“Di antara mereka yang terpengaruh dengan cara berpikir orientalisme yang merugikan Islam adalah teman saya sendiri, Dr. Harun Nasution yang saya bantu untuk datang ke Canada pada tahun 1963.”

“Beliau mendapat MA pada tahun 1965 dan Ph. D. pada tahun 1968 sebagai putra Indonesia pertama yang mendapat gelar tersebut.”

“Akan tetapi cara berpikir beliau dan konsepsi beliau tentang Islam sangat merugikan kepada Islam dan Umat Islam di Indonesia sehingga perlu dikoreksi.”

“Mula-mula saya tidak mau melakukan koreksi tersebut di muka umum,pada tanggal 3-12 tahun 1975 saya menulis laporan Rahasia kepada Sdr. Menteri Agama dan beberapa orang staf eschelon tertinggi di Kementerian Agama. Laporan Rahasia tersebut berisi kritik terhadap buku Dr. Harun Nasution yang berjudul: Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Saya menjelaskan kritik saya pasal demi pasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Menteri Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut yang oleh Kementerian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.”

“Karena lebih dari satu tahun tidak ada respon dari Departemen Agama, maka saya menggambarkan dua kemungkinan:

  1. Pihak Departemen Agama, khususnya Diperta (Direktorat Perguruan Tinggi Agama) setuju dengan isi buku tersebut dan ingin mencetak sarjan IAIN menurut konsepsi Dr. Harun Nasution tentang Islam.
  2. Atau pihak-pihak tersebut di atas tidak mampu menilai buku tersebut dan bahayanya bagi existensi Islam di Indonesia serta umatnya.

Kedua kemungkinan tersebut di atas tidak memberikan harapan yang baik.”

“Dengan begitu maka satu-satunya jalan yang dapat saya tempuh adalah menyiarkan koreksi saya itu dalam bentuk buku untuk umum, sehingga pendapat umumlah yang akan memberi penilaian kepada dua pandangan yang berlainan ini.”

Demikian Prof. Dr. H. M. Rasjidi dalam kata pendahuluannya. Dan setelah memberikan koreksi dan kritiknya pasal demi pasal dan bab demi bab, pedas, asam , pahit, lincah dan ilmiah itu, makaRasjidi sampai kepada kesimpulan dan menutup pembahasannya seperti tertera di bawah ini:

“Telah agak lama saya menerima pengaduan dari mahasiswa dan dosen-dosen tentang kuliah-kuliah Dr. Harun Nasution. Ketika saya membaca bukunya yang berjudul: Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, saya menjadi yakin akan keluhan-keluhan yang saya dengar.

Karangan Dr. Harun Nasution yang diwajibkan untuk dipelajari mahasiswa IAIN adalah buku yang penuh fikiran kaum orientalis yang beragama kristen.

  1. Pernyataan bahwa Tuhan tidak perlu ditakuti tetapi dicintai, adalah kata Kristen.
  2. Agama monotheisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Protestan dan Katolik) dan Hindu adalah fikiran comparative religious yang ditimbulkan oleh orang-orang yang mengaku berdasar ilmiyah dengan tidak berguna sedikitpun.

III. Orang-orang yang kotor tidak akan diterima kembali ke sisi yang Maha Suci, adalah expresi Kristen, pengaruh dari Neo Platonisme dan Gnosticisme.

  1. Injil adalah teksnya bukan wahyu, yang wahyu adalah isi atau arti yang terkandung dalam teks itu. Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang lebih Kristen dari pada teolog-teolog Kristen. Orang Kristen mengatakan bahwa wahyu adalah yang mendorong penulis-penulis Injil untuk menulis Injil masing-masing, adapun isinya banyak yang salah, karena manusia tak luput dari kekhilafan.
  2. Tidak dapat diketahui dengan nama pasti mana Hadits yang betul berasal dari Nabi dan mana yang dibuat-buat. Ini adalah pendapat Goldziher, seorang Yahudi dari Hongaria.
  3. Istihsan yang dibawa oleh Abu Hanifah, Al Masalih Al Mursalah yang dicetuskan oleh Malik bin Anas ditolak oleh Al-Syafi’i, Qiyas yang dicetuskan oleh Al- Syafi’i ditolak oleh Ibn Hazm Al-Zahiri. Pintu ijtihad ditutup. Semua itu merupakan gambaran suram tentang hukum Islam ditulis oleh seorang sarjana Islam. Sedang ahli hukum di Prancis mengeluarkan pernyataan dalam konperensi hukum Islam di Paris sebagai berikut:

“Para peserta Kongres merasa tertarik oleh problema-problema yang dilontarkan dalam Minggu Hukum Islam dan oleh diskusi mengenai problema tersebut, serta mendapat kesimpulan yang terang bahwa prinsip Hukum Islam mempunyai nilai yang tak dapat dibantah, dan bahwa variasi aliran-aliran dalam hukum Islam mengandung kekayaan-kekayaan ilmu hukum yang istimewa yang memungkinkan hukum ini untuk melayani  hajat penyesuaian dalam kehidupan modern, (dikutip dari “Hukum Islam dan Pelaksanaannya dalam Sejarah”, terbitan Bulan Bintang 1976).

VII. Sementara itu Islam dalam sejarah mengambil bentuk ketatanegaraan”. Ini adalah konsep Kristen yang dibawa oleh Nabi Isa tak mengandung konsepsi tentang negara Kristen.

VIII. Pemikiran pembahasan modernisasi mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah faham-faham, adat istiadat, institusi-institusi lama agar disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaan-keadaan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan modern. Pembaharuan dapat dilakukan mengenai interpretasi atau penafsiran aspek teologi, hukum dan seterusnya dan mengenai lembaga-lembaga.” “Ini semua berarti bahwa yang ada di Barat itu semua benar dan sempurna. Dan oleh karena Umat Islam tak dapat meninggalkan Al-Qur’an dan Hadits, maka diperlukan interpretasi baru tentang ayat-ayat, apalagi ayat-ayat itu banyak yang dubious.”

“Dengan begitu maka yang mutlak adalah yang terjadi di Barat yang beragama Kristen. Kita yang beragama Islam hanya dapat memberikan interpretasi baru kepada ayat-ayat Al-Qur’an.”

“Hal tersebut adalah fikiran orang yang belum yakin  akan keunggulan isi Al-Qur’an dan belum sadar akan kelemahan dan bibit-bibit kehancuran yang sekarang tumbuh di Barat.”.

Akhir kata

“Semula kita, Umat Islam Indonesia menginginkan generasi muda yang mahir dalam ilmu ke-islaman, bahasa Arab, Al-Quran, Syari’ah, Tauhid, dan lain-lain. Di samping itu mereka harus mengetahui ilmu-ilmu baru: Sosiologi, Hukum dan Filsafat dan lain-lain.”

“Buku Dr Harun Nasution menunjukkan bahwa sekarang ada di antara kita yang terpengaruh oleh metode orientalis Barat sehingga menganggap Islam sebagai suatu gejala masyarakat yang perlu menyesuaikan diri dengan peradaban Barat.”

Dengan begitu akan hilanglah identitas Islam kita, dan akan hilanglah kekuatan jiwa yang kita peroleh dari Al-Qur’an.

“Buku Dr Harun Nasution telah membantu terciptanya masyarakat semacam itu, masyarakat modern yang segala-galanya di dalamnya benar, dan Agama Islam harus diubah penafsirannya sehingga sesuai dengan peradaban Barat itu.”

Aku berdo’a kepada Allah SWT mudah-mudahan tulisan ini dapat menghindarkan bahaya yang besar itu!”

Ya Allah, janganlah Engkau menyesatkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisiMu, sungguh Engkau Maha Pemberi!” (Prof Dr HM Rasjidi,Koreksi terhadap Dr Harun Nasutiontentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, halaman 150, Bulan Bintang, Jakarta, 1977).

Buku kedua, yang lebih menghebohkan tetapi kurang berisi dan berbobot ialah buku dengan judulPergolakan Pemikiran Islam karya Ahmad Wahib,diterbitkan oleh LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), Jakarta.

Buku ini mendapat reaksi demikian ramainya dari kalangan tua dan muda dari pusat sampai daerah. Disunting oleh dua orang aktivis Pemuda Islam, Djohan Effendi dan Ismed Natsir.

Reaksi Rasjidi

Prof Dr HM Rasjidi tidak begitu bersemangat berbicara tentang isi buku tersebut, karena itu hanyalah catatan harian pribadi Ahmad Wahib yang tidak pantas diterbitkan untuk umum.

Itu suatu tragedi yang merupakan halaman yang suram dalam kehidupan Islam di zaman Orde Baru ini. (Panji Masyarakat, No. 346, Jakarta). Yang diserang dan disesalkannya ialah penyuntingnya, Djohan Effendi dan pembuat kata pengantarnya, Prof Dr H Mukti Ali. Serangan kepada Mukti Ali lebih keras dan lebih tajam, karena beliau itu bekas Menteri Agama RI yang sama sekali tidak patut menyambut dan turut menghidangkan buku itu ke tengah masyarakat Islam yang sudah diserang dari segala penjuru itu. Cuma ada sesuatu yang baru bila Prof Dr Rasjidi menyebut dan menuliskan nama Mukti Ali. Tidak kurang dari 8 kali nama Mukti Ali disebut-sebut dengan variasi yang berbeda-beda. Empat kali tanpa memakai gelar Prof. Dr. Empat kali pula dengan menyebutkan Prof. Dr. , di antaranya dua kali diberi keterangan dalam kurung seperti ini: Prof. (DR) HA Mukti Ali. (Sekali lagi, DR dalam tanda kurung saya pinjam dari tuan Husserl), kata Rasjidi. Apakah barangkali beliau meragukan titel DR nya Mukti Ali? Wallahu a’lam. Sebagaimana diketahui,  bahwa Mukti Ali pernah kuliah di Canada, sedangRasjidi pernah lima tahun menjadi dosen di sana.

Rasjidi sendiri memang sengaja begitu. “Yang saya serang itu ‘kan kata pengantarnya,” katanya kepada Tempo. “Saya sendiri tidak apa-apa dengan almarhum Wahib. Ia sudah meninggal, dan mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosa-dosanya, sudah begitu saja. Saya hanya mau bikin kapok orang yang melindungi cara berfikir seperti Wahib itu.” Dan yang dimaksudnya, tak lain tak bukan, Prof. Mukti Ali. Ialah yang memberi kata pengantar dan “pelindung”.(Tempo, No. 48, 1982).

Tentang penyutingnya, Johan Effendi oleh Rasjidi dikatakan “seorang doktorandus dari IAIN yang naik tinggi kedudukannya dalam kalangan sekretariat negara, yang juga salah seorangtokoh muda Ahmadiyah Lahore. (Panji Masyarakat, No.346, 1402 H.).

Apakah benar Johan Effendi sebagai seorang Ahmadiyah? Penulis (K.H. Firdaus A.N.) sendiri pernah bertanya kepadanya tentang hal itu. Tetapi ia agak malu-malu menjawabnya; dan saya tidak mau mendesaknya lagi.

Tetapi yang sebenarnya aktif menyunting buku Wahib itu adalah Ismed Natsir (alumni kampus Katolik STF –Sekolah Tinggi Teologi –Filsafat–Driyarkara Jakarta sebagaimana tokoh JIL –Jarigan Islam Liberal–  Ulil Abshar Abdalla yang fahamnya mengacak-acak Islam, pen).

(K..H. Firdaus A.N. Mutiara Dakwah, C.V Pedoman Ilmu Jaya, cet: pertama 1993, hal:101-107.)    (Media Dakwah, Oktober 2003/ Sya’ban 1424H).

Demikianlah kasus lama yang sampai kini aksi pembusukannya masih tetap berlangsung dan semakin menjadi-jadi.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.089 kali, 1 untuk hari ini)